Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~45


__ADS_3

"Semoga dia cepat hamil." ucap Merry yang membuat William yang berada di ambang pintu langsung berhenti lalu berbalik badan menatap gadis itu.


"Kau mengatakan sesuatu ?" tanyanya dengan mengernyit saat mendengar suara sang istri yang tak begitu jelas.


"Tidak, kamu salah dengar kali." sahut Merry dari kursi belajarnya, gadis itu terlihat sedang membuka-buka bukunya tanpa melihat ke arah suaminya itu


William nampak menatap gadis itu sejenak, kemudian kembali melangkahkan kakinya pergi.


"Perasaan tadi dia mengatakan sesuatu." gumamnya kemudian.


"Tuan, bisa pergi sekarang ?" tanya James saat tuannya itu sedang memperhatikan jendela kamar istrinya dari dalam mobilnya.


"Hm, selama saya pergi awasi terus istriku James !!" perintah William kemudian.


"Baik tuan, saya pastikan nyonya akan baik-baik saja." sahut James lalu pria itu mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan mansion tersebut.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, William nampak turun dari mobilnya lalu melangkahkan kakinya memasuki sebuah rumah di mana sang putri tinggal di sana.


"Terima kasih sudah datang." Elena nampak mengulas senyumnya saat melihat kedatangan William di rumahnya malam itu.


"Apa putriku sudah tidur ?" tanya William seraya melangkah masuk.


"Sudah tapi dia minta di bangunin saat kamu datang." sahut Elena.


"Tapi lebih baik kita bangunkan tepat jam 12 malam saja, aku juga sudah mempersiapkan kue untuknya." imbuh Elena seraya menunjuk kue ulang tahun di atas meja makan.


"Terima kasih El, sudah merepotkanmu." ucap William.


"Jangan pikirkan hal itu." sahut Elena.


"Apa kamu sudah makan malam ?" imbuh wanita itu.


"Hm." sahut William seraya mendudukkan dirinya di sofa dan di ikuti oleh Elena yang menghempaskan bobot tubuhnya di sofa depan pria itu.


Elena nampak menaikkan sebelah kakinya di atas kaki satunya hingga membuat gaunnya sedikit tersingkap dan menampakkan paha mulusnya.


Gaun tidur dengan model leher rendah itu nampak memperlihatkan separuh belahan dadanya yang begitu menantang.


Elena memang sengaja ingin menggoda William dengan menonjolkan keseksiannya.


Wanita itu tahu dari dulu William adalah sosok pria yang tak bisa jauh dari urusan ranjang.


Bahkan jauh sebelum pria itu menikah dengan kakaknya dirinya lah yang pertama menjalin hubungan dengan pria itu.


Namun ayahnya justru menjodohkan William dengan sang kakak yang memang sudah menyukai pria itu sejak lama.


Saat sang kakak telah tiada tanpa Elena duga ternyata William menjalin hubungan dengan Natalie.


Padahal saat kematian sang kakak harapan Elena bisa menggantikan posisi wanita tersebut.

__ADS_1


Namun sudah hampir 5 tahun William sedikit pun tak berniat untuk menikah lagi baik itu dengannya maupun dengan Natalie.


Ehmm


Elena nampak berdehem kecil saat William fokus pada ponselnya, apa pria itu tak tertarik pada keseksian di hadapannya itu pikir Elena.


Namun sepertinya kode dari Elena tak membuat William merespon, pria itu justru nampak asyik melihat cctv yang ada di kamarnya.


Di mana Merry nampak ngedance di atas kasurnya, gadis itu terlihat mengikuti gerakan dance di layar televisi di hadapannya itu.


"Astaga apa dia gila ?" William nampak terkekeh saat melihat itu.


Bagaimana pun juga Merry adalah seorang gadis belia dan tentu saja gadis itu akan bersenang-senang sesuai usianya dan William tentu saja menyadari hal itu.


Karena ia paling mengerti tentang istrinya itu melebihi orang lain bahkan kedua orang tua gadis itu sekalipun.


"Will, kamu sedang menonton apa ?" tanya Elena, karena penasaran wanita itu langsung berpindah duduk di samping pria itu.


"Bukan apa-apa." William segera mematikan ponselnya.


"Sepertinya sudah hampir tengah malam, lebih baik ku bangunkan Emely." imbuh William seraya beranjak dari duduknya meninggalkan Elena.


Elena yang di tinggal begitu saja nampak kesal namun wanita itu segera beranjak mengejar William.


Setelah menyalakan sebuah lilin dengan tulisan angka 7, William segera membawa kue tersebut ke dalam kamar Emely.


"Daddy ?" Emely yang baru saja mengerjapkan matanya langsung tersenyum saat melihat sang ayah dengan membawa kue karakter favoritnya.


"Terima kasih Daddy." Emely nampak sangat senang.


"Ayo berdoa dulu sebelum tiup lilin, sayang." perintah Elena kemudian yang langsung di anggukin oleh Emely.


"Ya Tuhan semoga aku cepat punya adik bayi." doa Emely yang langsung membuat Elena mengulas senyumnya.


"Dan semoga aku bisa bertemu dengan Merry lagi, amin." imbuh Emely, kemudian ia langsung meniup kue ulang tahunnya tersebut.


"Sayang, siapa Merry ?" selidik Elena menatap putrinya itu.


Emely nampak saling berpandangan dengan sang ayah. "Dia teman terbaikku." sahut Emely kemudian.


Elena nampak berpikir sejenak, gadis kecil itu tidak mempunyai teman yang bernama Merry namun akhir-akhir ini Emely sering sekali menyebut nama itu saat bermain seorang diri.


Seketika Elena nampak bergidik, wanita itu berpikir putri kecilnya itu sedang bermain dengan makhluk tak kasat mata.


"Aku masih mengantuk, bisakah mommy dan Daddy menemaniku tidur ?" ucap Emely seraya mengucek matanya.


"Tentu saja, sayang." sahut William setelah meletakkan kue tersebut di atas meja.


Pria itu nampak menaiki ranjangnya lalu menyelimuti putrinya dan setelah itu merebahkan dirinya di sana.

__ADS_1


Begitu pun juga dengan Elena, wanita itu ikut tidur di sisih Emely.


"Will, kamu mau kemana ?" tanya Elena beberapa saat kemudian saat putrinya sudah tertidur pulas.


"Tidurlah, aku akan tidur di kamar lain." sahut William kemudian berlalu keluar dari kamar tersebut.


"Sial." Elena yang kesal nampak memukul kasur di sampingnya.


Keesokan harinya....


"Merr, apa kamu tahu ada dosen baru di kampus kita ?" ucap Sarah saat mereka baru menyelesaikan kelas paginya.


"Tidak." sahut Merry.


"Tadi pagi aku melihatnya, kamu tahu dia sangat tampan. Sebelas dua belaslah sama suamimu." ucap Sarah.


"Aku tidak peduli." sahut Merry.


"Yakin tak peduli? dia sangat ramah dan murah senyum loh." ucap Sarah lagi.


"Sudahlah, aku lapar." Merry nampak tak peduli, mood gadis itu memang kurang baik sejak kepergian suaminya tadi malam.


"Baiklah aku ambil uang dulu." Sarah nampak kembali masuk ke dalam kelasnya.


Sedangkan Merry yang sudah kelaparan nampak berlalu duluan menuju Cafe yang berada di area kampusnya tersebut.


Brukk


"Maaf, maaf saya tidak sengaja." ucap seorang pria yang tak sengaja menabrak Merry.


Merry nampak menatap pria tersebut sejenak. "Tidak apa-apa." ucapnya kemudian kembali melangkahkan kakinya pergi.


"Tunggu !!" ucap pria itu lagi hingga membuat Merry menghentikan langkahnya lalu berbalik badan.


"Ada apa ?" tanyanya kemudian.


"Kamu Merry kan ?" sahut pria tersebut memastikan.


"Anda siapa ?" tanya Merry seraya menatap pria dewasa di depannya itu, ia yakin pria tersebut bukanlah seorang mahasiswa di kampusnya.


"Kamu lupa padaku ?" ucap pria tersebut.


Sejenak Merry nampak memperhatikan pria berkaca mata dengan berpenampilan rapi layaknya seorang dosen tersebut.


"Maaf saya tidak tahu." sahut Merry seraya menggelengkan kepalanya.


Pria itu langsung melepaskan kaca matanya lalu sedikit mengacak rambutnya.


"Masih lupa padaku ?" ucap pria tersebut yang langsung membuat Merry nampak terperanjat.

__ADS_1


"Arthur ?" ujarnya tak percaya saat melihat pria yang pernah ia temui di pantai waktu itu.


__ADS_2