
"Mer, kamu baik-baik saja ?" Alex yang baru datang nampak terengah-engah, pria itu seperti baru saja berlari kiloan meter.
"Kak Alex." melihat kedatangan sang kakak, Merry langsung berteriak histeris.
Alex menatap William sejenak kemudian pria itu berjalan mendekati sang adik.
"Maafkan aku karena terlambat menyadari siapa Alan yang sebenarnya." ucapnya dengan nada menyesal, sebelumnya pria itu mendapatkan rumor miring tentang Alan.
Kemudian untuk memastikannya Alex segera mencari tahu dan pria itu sangat terkejut karena dua tahun terakhir ini sahabatnya itu telah menggeluti bisnis kotor tanpa sepengetahuannya.
Tak ingin terjadi apa-apa dengan sang adik, pria itu segera terbang langsung dari Amerika.
Sementara itu William yang melihat mantan istrinya sudah mulai tenang dalam pelukan Alex, pria itu segera meninggalkan mereka.
Saat melewati kamar sebelahnya William nampak tersenyum menyeringai, pria itu seakan tahu apa yang sedang pemilik kamar itu lakukan di tengah malam begini.
Lalu pria itu langsung mengarahkan senjata apinya dan...
Dorr
Dorr
Pintu di depannya tersebut sontak terbuka setelah William menembak acces cardnya dan nampak dua orang berbeda jenis yang sedang dalam penyatuannya di atas ranjang itu langsung terkejut.
"Kau ?" Alan yang sedang berada di atas tubuh seorang wanita langsung beranjak dan segera memakai celana boxernya.
Sementara sang wanita yang kedua tangannya terikat keatas nampak tak berkutik, meski kini tubuh polosnya terpampang nyata.
"Mer, aku bisa menjelaskan. Ini semua tak seperti yang kamu pikirkan." ucap Alan saat melihat Merry yang berdiri di ambang pintu.
Wanita itu kini sudah kembali memakai gaun pesta yang sebelumnya ia kenakan.
"Semua sudah jelas jadi tak ada yang perlu di jelaskan lagi." ucap Merry menatap sejenak mantan tunangannya tersebut, ya mulai detik ini wanita itu tak sudi menganggap pria brengsek itu sebagai tunangannya.
Lantas pandangannya beralih ke arah wanita yang masih berada di atas ranjang, melihat keadaan wanita itu beserta kasur yang berantakan bisa di pastikan betapa panasnya percintaan yang baru saja mereka lakukan.
"Tangkap mereka semua !!" tiba-tiba beberapa polisi datang dan memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Alan dan wanitanya.
"Tuan William, terima kasih atas kerja samanya." ucap polisi tersebut pada William.
William yang sebenarnya ingin mengadili Alan dengan tangannya sendiri, urung pria itu lakukan mengingat janjinya pada sang putra jika ia akan menjadi seorang ayah yang baik.
Demi putranya tersebut, pria itu takkan lagi mengotori tangannya lagi.
__ADS_1
Setelah Alan di amankan dari sana, William nampak menghela napas panjangnya.
"Will..." Merry langsung menahan lengan mantan suaminya itu sebelum pria itu hendak pergi.
"Tolong maafkan aku." mohon Merry bersungguh-sungguh.
"Pulang dan beristirahatlah." ucap William menatap sejenak mantan istrinya tersebut, lantas pria itu berbalik badan lalu pergi dari sana.
"William pasti marah padaku." lirih Merry seraya menatap punggung pria yang sebenarnya masih ia cintai itu.
"Dia benar, lebih baik kita segera pulang. Kamu bisa menemuinya lagi nanti." bujuk Alex kemudian.
Di tempat lain William yang baru datang langsung masuk ke dalam ruangan bawah tanah yang ada di kantornya.
"Apa kau sudah memberikannya pelajaran ?" tanyanya pada James saat pria itu menyambut kedatangannya.
"Sudah tuan." sahut James.
William terus saja menuruni anak tangga kemudian melanjutkan langkahnya melewati lorong panjang lalu tibalah di sebuah ruangan yang sangat luas.
Di sana nampak tuan Weslyn sedang duduk di atas kursi dengan kedua tangan terikat ke belakang.
Kedua kakinya yang terkena tembakan nampak di ikat kain oleh James, tubuhnya sudah babak belur dan wajahnya pun sulit di kenalin.
"Harusnya kau ku kirim langsung ke neraka tapi itu terlalu mudah bagimu jadi sepertinya membusuk di penjara seumur hidupmu itu lebih pantas." ucap William dengan senyuman menyeringai lalu menghempaskan kepala pria yang sudah tak berdaya tersebut.
"A-ampun tuan." lirih tuan Weslyn di sisa tenaganya.
William nampak menahan emosinya saat mengingat bagaimana tubuh mantan istrinya itu telah di j4m4h oleh pria itu hingga membuatnya naik pitam dan ingin mencincangnya .
Namun William berusaha keras mengendalikan emosinya. "Bawa dia ke kantor polisi beserta cctv di hotel itu !!" perintahnya kemudian.
"Baik, tuan." sahut James.
Setelah itu William berlalu pergi dari sana, pria itu berharap setelah ini mantan istrinya itu akan mengambil hikmah dari kejadian tersebut.
Beberapa hari kemudian.....
Beberapa hari ini Merry tak pergi ke kantornya, wanita itu masih sangat trauma dengan kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu.
Andai saja ia mendengarkan ucapan William mungkin ia takkan mengalami kejadian naas itu.
Kini penyesalan tinggallah penyesalan dan yang harus ia lakukan adalah segera meminta maaf pada pria itu.
__ADS_1
Mungkin saat ini William sedang marah padanya dan tak ada salahnya jika ia sedikit menurunkan egonya hanya untuk sekedar mendapatkan maafnya.
Ia juga ingin berterima kasih, berkat pria itu tuan Weslyn tak sampai memperkosanya.
"Apa kita akan ke lumah Daddy ?" tanya Ariel saat sang ibu baru saja menggantikannya pakaian.
"Hm, tentu saja. Apa kamu senang ?" tanya balik Merry.
"Hm, atu tangen Daddy." sahut Ariel, mengingat beberapa hari ini ayahnya itu tak datang ke rumah maupun sekolahnya.
"Apa mommy tangen Daddy juga ?" tanya Ariel kemudian.
"Hm." Merry mengangguk cepat, entah ia masih pantas atau tidak jika merindukan pria itu.
"Yaudah mommy buluan ganti baju." perintah Ariel yang nampak tak sabar ingin bertemu sang ayah.
"Baiklah anak mommy yang gemesin, tunggu di sini ya." ucap Merry seraya beranjak dari duduknya, setelah itu ia segera keluar dari kamar putranya tersebut.
"Mau ku antar ?" tanya Alex, rupanya pria itu sedari tadi berdiri di ambang pintu kamar sang ponakan.
Merry menggelengkan kepalanya. "Ada Anne yang menemaniku." sahutnya kemudian.
"Baiklah, jika ada apa-apa segera hubungi aku." ujar Alex, kini pria itu nampak lebih protektif pada sang adik.
"Aku baik-baik saja kak, kamu tenang saja. William tidak mungkin menyakitiku." timpal Merry, kemudian ia pamit untuk pergi ke kamarnya.
Alex yang melihat Ariel sedang bermain seorang diri di kamarnya langsung pria itu datangi.
Beberapa saat kemudian mobil yang Anne kemudikan nampak membelah jalanan siang itu yang sedikit macet.
"Apa lumah Daddy macih jauh mommy ?" tanya Ariel yang nampak mulai bosan, bocah kecil itu lebih memilih mendiamkan mainannya lalu merebahkan tubuhnya di kursi belakang dengan botol susu di tangannya.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi sampai." sahut Merry seraya mengamati beberapa rumah mewah yang berada di sisi kanan dan kirinya.
Rupanya selera mantan suaminya memang tak main-main, rumah yang besarnya tiga kali lipat dari rumahnya nampak berjejer rapi di kompleks perumahan tersebut.
"Apa kamu yakin rumahnya di sekitar sini ?" tanya Merry pada asistennya tersebut.
"Saya yakin bu, orang suruhan saya memastikan rumah tuan William ada di daerah sini." sahut Anne.
"Sepertinya di depan itu bu." imbuh Anne lagi seraya menunjuk sebuah rumah tak jauh dari sana dan....
Deg!!
__ADS_1
Merry langsung melebarkan matanya saat melihat mantan suaminya itu sedang berpelukan dengan kekasihnya di depan gerbang rumahnya.