
"Kalian satu mobil dengan saya !!" ucap James saat Andrew hendak membukakan pintu mobil untuk Anne yang terparkir di sebelah mobilnya.
Andrew sedikit terkejut dengan perintah pria itu, sejak kapan wakil direkturnya itu mau satu mobil dengan karyawannya, apalagi itu seorang perempuan. Karena selama ini pria itu terkenal sangat dingin dengan lawan jenis hingga beredar gosip jika pria itu penyuka sesama jenis.
Sampai pada akhirnya sebuah potret kebersamaan pria itu bersama seorang wanita berambut blonde tersebar di sebuah situs online, hingga membuat banyak orang berspekulasi jika wanita itu adalah kekasihnya.
"Baik tuan." Andrew segera melangkah mendekat lalu membuka pintu mobil bagian belakang untuk Anne.
"Silakan bu." ucapnya mempersilakan managernya itu untuk masuk, lalu di susul oleh dirinya namun tiba-tiba James yang sudah berada di balik kemudi kembali bersuara.
"Drew, duduk di depan saya bukan sopir kamu !!" perintahnya kemudian.
Andrew akhirnya urung duduk lalu pindah ke kursi samping wakil direkturnya tersebut.
Sepanjang perjalanan Anne selalu mengajak Andrew berbicara hingga pria itu mengetahui jika wanita itu baru tinggal di Amerika.
"Jika ibu mau saya bisa ajak ibu jalan-jalan ke tempat hiburan di kota ini." tawar Andrew dengan ramah hingga membuat James yang sedang fokus mengemudi nampak melirik sejenak ke arah pria itu.
"Boleh Ndrew, nanti kalau libur aku hubungi." sahut Anne dengan antusias dan itu juga tak luput dari pengawasan James.
"Kalian fokuslah ke pekerjaan, pikirkan bagaimana kalian mampu menggaet pasar asing yang lebih besar." sela James tiba-tiba dengan menekankan kata-katanya.
"Baik tuan." sahut Andrew.
Sementara Anne yang tak menjawab nampak di pelototi suaminya itu dari kaca spion depannya.
"Baik wakil direktur, aku akan berusaha sebaik mungkin." akhirnya Anne mengeluarkan suaranya meski terpaksa.
Sesampainya di tempat pertemuan rupanya pengusaha dari jepang yang menjadi mitra kerja mereka selama ini juga sudah datang.
"Selamat siang tuan James, senang bertemu anda kembali." ucap pria bernama Kenji tersebut seraya menjabat tangan James.
"Ini ?" imbuhnya saat beralih menatap ke arah Anne.
"Dia nona Anne, manager marketing baru kami." James langsung mengenalkan Anne saat pria bermata sipit itu menatapnya.
"Senang bertemu dengan anda nona Anne, sepertinya anda dari benua Asia juga." Kenji langsung menjabat tangan Anne.
__ADS_1
"Saya dari Indonesia, tuan." sahut Anne dengan tersenyum manis.
"Sudah saya tebak." timpal Kenji tanpa melepaskan tangan Anne dan itu membuat James langsung berdehem kecil.
Ehmm
"Mari silakan duduk, tuan." selanya yang langsung membuat Kenji menarik tangannya kembali, lalu segera duduk di kursinya.
"Baiklah tuan Ken, ngomong-ngomong saya boleh memanggil anda seperti itu? maksud saya biar lebih akrab." ucap Anne dengan ramah dan tentu saja itu membuat Kenji langsung terkekeh, namun tidak dengan James pria itu nampak duduk dengan angkuh di kursinya bahkan wajahnya terkesan tak suka saat istrinya berusaha mencairkan suasana dengan relasinya itu.
"Tentu saja nona Anne, lagipula kita juga berasal dari benua yang sama." timpal Kenji kemudian.
"Terima kasih, baiklah saya akan bicara perihal proposal yang anda ajukan. Sebenarnya akhir-akhir ini banyak sekali negara-negara tetangga yang menginginkan produk kami, Namun karena anda adalah mitra terbaik kami maka kami akan lebih mengutamakan anda dan kami juga berencana memberikan harga lebih rendah dari pasaran jika anda semakin banyak mengambil barang kami." terang Anne dengan detail, namun itu justru membuat James nampak memicing.
"Apa yang sedang wanita ini perbuat, apa dia mau membuat perusahaan menjadi bangkrut ?" gumamnya dengan geram, karena bisa-bisanya wanita itu menurunkan harga di bawah pasaran tanpa berunding dahulu dengannya.
"Baiklah, saya setuju nona Anne." tanpa berpikir panjang Kenji langsung menyetujui penawaran wanita itu.
"Kalau begitu saya akan mengambil tiga kali lipat dari yang tertulis di proposal itu." imbuh Kenji dan tentu saja membuat Anne nampak terkejut sekaligus senang, akhirnya ia berhasil menggaet klien kelas kakap di hari pertamanya bekerja.
"Maaf tuan Kenji, saya harus berbicara dengan nona Anne dahulu." tiba-tiba James langsung membuka suaranya.
"Apa kau ingin membuat perusahaan bangkrut ?" geram James menatap wanita di sebelahnya itu.
"Bangkrut bagaimana? justru aku berhasil menjual tiga kali lipat dari yang biasa tuan Kenji pesan." sahut Anne dengan wajah puasnya.
"Tapi kamu menjualnya di bawah harga pasaran kita." tegas James.
"Tuan James dengarkan aku baik-baik, kau lebih memilih mana menjual barang dengan harga mahal tapi laku hanya sedikit atau kau menjualnya dengan sedikit murah tapi sangat laku. Harusnya kau sudah paham soal itu, kau jangan melihat keuntungan yang kecil tapi dari yang kecil itu akan menjadi berkali-kali lipat jika yang terjual lebih banyak." terang Anne dengan panjang lebar.
"Kamu benar-benar merusak harga." Sepertinya James masih belum menerima dengan ide wanita itu yang menurutnya merusak harga pasar selama ini.
"Aku akan bertanggung jawab jika sampai perusahaan tidak mendapatkan keuntungan." tegas Anne kemudian.
"Tentu saja kau harus bertanggung jawab." sahut James tak kalah tegas.
Beberapa saat kemudian mereka sudah kembali ke kantornya. "Bu, selamat ya penjualan hari ini melebihi penjualan selama sebulan." ucap Andrew saat mereka baru masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
"Ini berkat kamu dan kalian semua yang sudah membantuku hari ini dan sepertinya bonus besar akan menanti kalian." sahut Anne namun bukannya senang para karyawannya nampak bersikap datar-datar saja.
"Ada apa, apa kalian tidak suka ?" tukas Anne kemudian, ia seolah mencium bau ketidakberesan di perusahaan ini.
"Berapa pun yang kami jual, kami tidak pernah mendapatkan bonus bu." sahut Andrew sang asisten.
"Bagaimana bisa ?" Anne nampak tak percaya.
"Tapi seperti itu kenyataannya, mungkin karena gaji kami termasuk paling tinggi dari perusahaan lain." sahut salah satu dari mereka.
"Kalian tenang saja, aku akan mengusahakan ada sedikit bonus untuk kalian." ucap Anne hingga membuat karyawannya semua nampak senang.
Sore itu setelah menyelesaikan pekerjaannya, Anne langsung mendatangi suaminya di ruangannya.
"Sayang, janji ya sabtu ini pulang dan jangan lupa apa yang ku minta." ucap Grace dari ujung telepon dengan manja.
"Akan ku usahakan." sahut James, lalu ia menatap pintu saat seseorang tiba-tiba membukanya dari luar.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dahulu sebelum masuk ?" tegur James dari kursinya.
"Aku sudah ketuk, kamu saja yang tidak dengar." sahut Anne, ia memang sengaja mengetuk pintu dengan pelan karena ia mendengar pria itu sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
"Aku sudah transfer 20 juta, baiklah aku harus kembali bekerja." ucap James lalu mengakhiri panggilan teleponnya.
Anne nampak tersenyum sinis saat melihat suaminya itu bertelepon mesra dengan wanita lain.
"Katakan ada perlu apa ?" ucap James seraya menatap istrinya itu.
"Aku memberikan laporan penjualan hari ini, kamu lihat bahkan keuntungannya lebih besar dari penjualan bulan lalu." ucap Anne seraya menyerahkan berkas laporan di atas meja pria itu.
"Baguslah, jika sudah tak ada keperluan lagi kau boleh pergi." sahut James yang tentu saja langsung membuat Anne menatapnya dengan sinis.
"Apa kau tidak ingin memberikan sedikit bonus pada para karyawanmu ?" ucapnya dengan wajah tak percaya saat melihat reaksi pria itu.
"Untuk apa? mereka sudah mendapatkan gaji tinggi bahkan dua kali lipat lebih tinggi dari perusahaan lain." sahut James.
"Kau benar-benar keterlaluan, kau bisa saja menghamburkan uangmu untuk kekasihmu itu yang bahkan nominalnya melebihi nafkah yang kau berikan padaku tapi kenapa sedikit saja kau tak bisa menghargai para karyawanmu yang telah bekerja keras." rutuk Anne berapi-api.
__ADS_1
"Omong kosong apa yang kau bicarakan ?" James nampak memicing menatap istrinya itu.
"Lebih baik kita bercerai saja." ucap Anne pada akhirnya, sungguh ia sudah muak dengan sikap pria itu.