Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~299


__ADS_3

Pandangan Alex dan Elsa nampak bertemu sebelum pria itu melambaikan tangannya ke arah meja yang di tempati oleh beberapa orang pria yang sedang menunggunya.


Sepertinya pria itu akan mengadakan pertemuan dengan beberapa klien bisnisnya siang itu.


"Daddy !!" Axel yang melihat keberadaan sang ayah segera bangkit dari duduknya lalu menghampiri pria itu.


"Daddy pasti sedang bekerja ya ?" ucapnya setelah mendekat, karena seingatnya ayahnya itu sering meeting di restoran tersebut.


"Iya sayang, kamu sama Mommy dulu." sahut Alex dengan lembut.


"Apa bocah tampan ini putra anda, tuan Alex ?" tanya salah satu dari klien bisnisnya.


"Benar tuan." Alex mengangguk kecil.


"Sangat tampan sekali." timpal pria itu.


"Karena Mommy ku sangat cantik." celetuk Axel sebelum pergi.


"Benarkah ?" timpal pria lainnya.


"Benar paman, itu Mommy ku sangat cantik bukan ?" Axel menunjuk ke arah ibunya hingga membuat beberapa klien bisnis ayahnya itu langsung mengikuti pandangannya.


"Ya, kau benar Nak. Anda beruntung sekali tuan Alex memiliki istri yang sangat cantik." puji mereka hingga membuat Alex nampak tersenyum kecil dan itu tak luput dari pengawasan Lucy yang duduk di sebelahnya.


Sementara Elsa nampak ngobrol santai dengan Max di sela makan siang mereka.


"Aku ke toilet sebentar." ucap Elsa lalu beranjak dari duduknya.


Kemudian wanita itu segera masuk ke dalam toilet yang kebetulan sedang sepi.


"Akhirnya lega juga." gumamnya, lalu setelah keluar dari bilik toilet dan hendak mencuci tangannya ia melihat Lucy juga sedang berdiri di depan salah satu wastafel yang ada di sana.


Wanita itu nampak merapikan penampilannya, menyemprot parfum ke seluruh tubuhnya lalu mengoleskan lipstik di bibirnya.


Namun Elsa begitu tak peduli, ia tetap melangkahkan kakinya menuju wastafel di sebelah wanita itu.


Segera mencuci tangannya lalu mengeringkannya, sesaat kemudian ia mendengar helaan napas kesal dari wanita di sebelahnya itu.


Kemudian tanpa menyapanya wanita itu segera berlalu pergi dari sana, Elsa yang merasa di acuhkan nampak geram. Bagaimana pun juga ia adalah ibu dari putra bosnya wanita itu.


"Tunggu !!" ucapnya kemudian yang langsung membuat Lucy menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan menatap Elsa.


"Apa sedikit pun kamu tak bisa menghargaiku ?" tegurnya kemudian dan seketika membuat Lucy nampak tersenyum miring.


"Baguslah jika kamu menyadarinya." ucap wanita itu dengan ketus, sangat berbeda sekali ketika berbicara di hadapan Alex yang terlihat sangat lemah lembut.

__ADS_1


Rupanya wanita itu tak lebih dari seekor serigala berbulu domba, pantas dari awal ia kurang menyukainya.


"Jadi ini sifat aslimu yang sesungguhnya ?" cibir Elsa kemudian.


"Baguslah jika kamu sudah tahu, jadi aku tak perlu berbasa-basi lagi. Berhubung aku sangat tertarik pada tuan Alex, jadi lepaskan dia untukku. Bukankah kau juga tak menginginkannya ?" tegas Lucy dengan tersenyum sinis menatap Elsa.


Namun Elsa langsung tertawa mengejek. "Tidak usah panik, jika memang dia jodohmu pasti tidak akan kemana." ucapnya dengan wajah meremehkan, kemudian menepuk bahu wanita itu beberapa kali lantas segera melangkah pergi dari sana.


"Si4l4n !!" umpat Lucy.


Sementara Elsa, nampak melangkah dengan dada bergemuruh. Tidak, putranya itu tak boleh memiliki ibu sambung seperti wanita itu.


"Sudah selesai ?" tanya Max saat Elsa kembali duduk di kursinya.


"Hm." Elsa mengangguk kecil dan lagi-lagi pandangannya dan Alex tak sengaja bertemu lalu terkunci beberapa saat, namun pada akhirnya Elsa memalingkan wajahnya.


"Ayo kita pulang, bukankah kamu harus kembali ke kantor lagi." ajaknya kemudian seraya beranjak dari duduknya.


"Baiklah." Max menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lantas beranjak dari duduknya.


"Waktu cepat sekali berlalu." gumam pria itu.


...----------------...


Ia bisa bekerja sekaligus merawat sang putra yang sedang dalam masa tumbuh kembangnya.


"El, sore ini kita ada meeting penting dan semua karyawan di harapkan bisa datang semua."


Elsa nampak menghela napasnya saat membaca pesan yang baru saja di kirim oleh Max, kemudian ia segera membalasnya.


"Baiklah, akan ku usahakan datang." balasnya kemudian.


Hari minggu yang harusnya ia gunakan untuk mengajak putranya itu pergi jalan-jalan akhirnya gagal karena bocah kecil itu mengalami demam sejak semalam.


"Apa sudah merasa lebih baik, sayang ?" ucapnya seraya menatap lembut putranya itu.


"Aku kangen Daddy, Mommy. Apa Daddy belum kembali dari Amerika ?" timpal Axel kemudian.


"Sabar ya sayang, nanti Daddy pasti kembali." Elsa nampak mengusap puncak kepalanya dengan lembut.


Sudah hampir dua munggu ini Elsa tak pernah bertemu lagi dengan ayah dari putranya itu, pria itu seakan mengikuti perkataannya yaitu jangan ikut campur urusannya lagi.


Namun itu membuat sebagian hati Elsa terasa hampa dan ia benar-benar merasa kehilangan saat ini.


Biasanya setiap waktu pria itu akan datang mengganggunya dan kini bahkan bayangannya pun tak dapat ia lihat.

__ADS_1


Sore harinya setelah keadaan putranya membaik, Elsa meminta tolong pada Sam agar menjaga putranya sebentar. Karena ia ada meeting penting di kantornya yang tak bisa di tunda.


Harusnya ada Jack yang selalu setia mengantarnya namun berhubung sedang hari libur ia memerintahkan pria itu untuk tak datang ke Apartemennya dan kini ia terpaksa pergi ke kantor menggunakan taksi.


"Bagaimana keadaan Axel? apa sudah lebih baik ?" tanya Max saat Elsa baru sampai di kantornya.


"Sudah, dia selalu aktif meskipun sakit." timpal Elsa seraya menyiapkan beberapa berkas di meja kerjanya.


"Syukurlah." Max nampak menatap dalam wanita itu kemudian pria itu berlalu dari sana.


Sementara Elsa menghentikan pekerjaannya lalu menatap punggung Max yang semakin menjauh, Elsa sangat menyadari jika sampai sekarang pria itu masih mengharapkannya.


Beberapa saat kemudian meeting pun telah berlangsung bahkan hingga malam hari dan setelah meeting berakhir Elsa harus merevisi ulang beberapa pekerjaannya.


"Apa tidak lebih baik kamu kerjakan di rumah saja ?" timpal seorang wanita teman kerja Elsa yang sepertinya hendak pulang.


"Tidak, Max memintaku untuk merevisi sekarang karena harus segera di kirim." sahut Elsa yang masih nampak sibuk di depan layar komputernya.


"Baiklah, jangan terlalu malam." ucap wanita itu lalu segera meninggalkan ruangannya.


Elsa nampak menghela napasnya sejenak, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.


Tak terasa jarum jam telah menunjukkan pukul sembilan malam dan Elsa baru menyelesaikan pekerjaannya, kemudian wanita itu segera merapikan mejanya dan bersiap-siap untuk pulang.


"Sudah selesai ?" ucap Max tiba-tiba yang langsung membuat Elsa berjingkat kaget.


"Astaga, kau mengagetkan ku, Max." protes Elsa.


"Ada aku kenapa harus takut ?" Max yang tadi berdiri di ambang pintu kini melangkah masuk, kemudian segera menutup pintunya dari dalam.


"Max, kenapa di kunci pintunya ?" Elsa langsung memicing saat bosnya itu mencabut kuncinya lalu memasukkannya ke dalam kantong celananya.


"Biar tidak ada yang mengganggu kita." sahut Max seraya berjalan mendekati wanita itu.


"Sepertinya kamu terlalu banyak minum Max." Elsa segera menjauh dari pria itu, ruangannya yang biasa terisi oleh 6 karyawan kini nampak sepi karena semuanya telah pulang hingga menyisakan mereka berdua.


"Ayo kemarilah El, kenapa kamu selalu menghindariku !!" Max mengulurkan tangannya tapi Elsa segera menjauh ke ujung ruangan dan pria itu langsung mengejarnya.


"Jangan mendekat Max, sadarlah kamu sedang mabuk !!" teriak Elsa saat pria itu semakin mendekatinya dan Elsa mengguna beberapa meja karyawan sebagai penyekatnya.


"Aku mencintaimu El tapi kamu selalu mengabaikan perasaanku hanya karena pria brengsek itu, apa aku harus menghamilimu seperti apa yang pria itu lakukan padamu dulu, hm ?" ucap Max dengan tersenyum menyeringai menatap wanita itu.


Sementara Elsa terus menghindari pria itu dengan melewati beberapa meja milik karyawan lainnya.


"Siapa pun itu tolong selamatkan aku."

__ADS_1


__ADS_2