
"Kau berbicara sesuatu, James ?" tanya William saat asistennya itu menggerutu.
"Tidak tuan." sahut James, pria itu tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya di depan Elena perihal nyonya mudanya itu.
Baik Natalie maupun Elena tidak boleh mengetahui siapa gadis itu sebenarnya, karena menurutnya kedua wanita itu begitu terobsesi pada sang tuan dan tentu saja mereka pasti akan melakukan segala cara untuk melenyapkan sang nyonya di kemudian hari.
Lebih baik untuk sementara waktu biar dirinya yang akan mengatasi istri tuannya itu, pikir James.
Lalu sembari mengemudi James nampak mengirim pesan pada Dalle dan Dallas, namun sepertinya ponsel mereka sedang tidak aktif.
"Sial, kemana mereka ?" gerutu James.
"Kamu baik-baik saja, James ?" tanya William saat melihat asistennya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Saya baik, tuan." sahut James.
William nampak menangkap ketidakberesan pada asistennya itu namun pria itu enggan berkomentar di depan Elena maupun putrinya.
"Sayang, kamu turun dulu ya. Daddy ada urusan sebentar." ucap William setelah mobilnya berhenti di sebuah Mall.
"Daddy cepat kembali kan ?" tanya balik Emely.
"Tentu saja sayang, kamu bisa menunggu Daddy sambil bermain sepuasnya di dalam sana." sahut William menatap putri kecilnya itu.
"Hm." angguk Emely kemudian.
"El, aku titip Emely ya." William beralih menatap Elena yang duduk di samping Emely.
"Sudah hampir lima tahun aku menjaganya Will, kamu tidak perlu khawatir." sahut Elena dengan nada datar.
"Aku percaya padamu." ucap William dengan menekankan kata-katanya dan tentu saja Elena mengerti maksud pria itu.
Lagipula wanita itu juga tidak mungkin bersikap ceroboh dan akan membuat seorang William murka padanya.
Setelah memastikan mereka masuk ke dalam mall tersebut, William nampak menatap asistennya yang sedang duduk di balik kemudi itu.
"Ada yang mau kau laporkan, James ?" ucapnya kemudian.
James nampak menelan ludahnya, sudah ia duga jika tuannya itu pasti mengetahui apa yang ingin ia coba sembunyikan.
William selalu peka dengan keadaan di sekelilingnya dan sangat sulit untuk membohonginya. Namun sepertinya pria itu bodoh mengenai urusan cinta.
"Ini perihal nyonya muda, tuan." sahut James sedikit ragu untuk mengatakannya, karena bisa di pastikan tuannya itu akan murka saat mendengarnya.
__ADS_1
"Katakan !!" William nampak memicing, pria itu selalu sensitif jika berhubungan dengan sang istri.
"Saya melihat nyonya mengendarai mobil anda tuan." terang James yang langsung membuat William menggeram, seketika pria itu mengingat mobil sport yang melewatinya tadi dengan ugal-ugalan.
"Sial, kenapa aku baru menyadari." umpat William, kemudian segera turun dari mobilnya.
"Pindah dudukmu, James !!" perintah William kemudian.
Setelah James pindah ke kursi sebelahnya, William lantas duduk di balik kemudinya lalu segera melajukan kendaraannya itu dengan kencang.
Bermodal GPS yang ia pasang di ponsel sang istri, membuat William mudah mencari keberadaan gadis itu.
Istrinya itu sudah terlalu jauh meninggalkan kotanya dan itu membuat William nampak sangat geram.
"Astaga, ini sangat menyenangkan." seru Merry saat mengemudikan mobilnya seorang diri.
Namun saat berada di jalanan yang lumayan sepi tiba-tiba sebuah mobil langsung menghadang hingga membuatnya langsung mengerem mendadak.
"Apa dia mau cari mati ?" Merry yang kesal langsung turun dari mobilnya, namun saat mendekat gadis itu langsung melebarkan matanya ketika menyadari yang menghadangnya adalah mobil sang suami.
"Wi-William." lirihnya saat melihat pria itu yang nampak duduk di balik kemudinya dengan kaca mata riben bertengger di hidung mancungnya.
"Masuk !!" perintah William dengan nada dingin.
"Ta-tapi mobilnya...."
Merry nampak ragu untuk masuk apalagi saat melihat wajah suaminya yang seakan ingin memakannya hidup-hudup.
"Masuk atau hukumanmu akan lebih berat !!" perintah William kemudian yang langsung membuat Merry segera masuk lalu duduk di sebelah pria itu.
Setelah itu William segera melajukan mobilnya kembali.
"Maafkan aku, sudah memakai mobilmu tanpa izin. Tapi percayalah aku tidak merusaknya, aku hanya ingin membantumu memanasi mesinnya." Merry berkilah namun William langsung menatap dengan tajam dari balik kaca mata ribennya.
"Apa kamu tahu, berkendara dengan ugal-ugalan itu sangat berbahaya?" tegur William kemudian.
"Tapi aku tidak ugal-ugalan....."
"Satu bantahan akan menjadi satu hukuman buatmu, honey." tegas William tanpa perasaan yang langsung membuat Merry mencebikkan bibirnya.
Selanjutnya gadis itu nampak terdiam, dari pada mendapatkan banyak hukuman nantinya.
"Sekarang jelaskan kenapa melakukan ini semua ?" William nampak menatap istrinya itu sejenak.
__ADS_1
"Selama satu minggu ini aku sudah belajar dengan keras, jadi aku hanya ingin bersenang-senang sebentar saja." terang Merry.
"Tapi tidak harus dengan membahayakan nyawa." sela William.
"Aku tidak merasa membahayakan siapa-siapa." keukeh Merry, gadis itu merasa mengendara dengan sangat hati-hati meski agak laju saat jalanan mulai sepi.
"Sepertinya kau memang sangat hobby di hukum." cibir William yang nampak gemas dengan tingkah istri kecilnya itu.
Beberapa saat kemudian pria itu nampak membelokkan mobilnya masuk ke dalam sebuah area perkantoran dengan gedung pencakar langit berdiri kokoh di sana.
Sebuah gedung mewah yang baru pertama kali Merry lihat, karena baru kali ini wanita itu pergi ke kota ini seorang diri.
"Sepertinya aku tadi sudah pergi terlalu jauh." gumamnya saat menyadari dirinya sudah berada di kota lain yang memang berbatasan dengan kota yang ia tinggali bersamaan suaminya itu.
"Turun !!" perintah William kemudian.
Merry yang enggan mendebat langsung turun dari mobilnya tanpa banyak tanya, nampak seorang pria bertubuh kekar segera membukakan pintu untuknya.
"Terima kasih." ucap Merry dengan mengulas senyumnya, namun pria yang berprofesi sebagai penjaga keamanan di kantor tersebut hanya membalasnya dengan mengangguk sopan.
William segera membawa istrinya itu masuk ke dalam gedung tersebut.
Beberapa karyawan yang berpapasan dengan pria itu langsung menyapa dengan ramah.
Entah apa jabatan suaminya di kantor itu hingga membuat semua orang sangat menghormatinya.
"Selamat sore tuan, hari ini seluruh karyawan akan lembur sampai pukul 9 malam." lapor seorang pria saat berpapasan dengan William.
"Penuhi semua kebutuhan mereka !!" perintah William kemudian.
"Baik tuan." sahut pria tersebut.
Sedangkan Merry nampak tak berhenti tersenyum saat beberapa karyawan menyambutnya dengan ramah.
Kemudian mereka segera masuk ke dalam sebuah lift. "Selamat sore tuan William." sapa beberapa orang karyawan yang baru keluar dari lift, mereka nampak menatap Merry sejenak kemudian berlalu pergi.
Setelah lift berhenti di lantai paling atas, mereka nampak di sambut oleh seorang wanita cantik dengan dandanan menor dan pakaian yang menonjolkan setiap lekukan tubuhnya.
"Selamat sore tuan William, laporan keuangan yang anda minta untuk bulan ini sudah saya letakkan di ruangan anda." ucap wanita tersebut yang tak lain adalah sekretarisnya William.
Rupanya gedung perkantoran tersebut adalah milik pria itu, pikir Merry yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan mereka.
"Tuan, ponakan anda sangat cantik." puji Camela saat William hendak membuka pintu ruangannya, namun pria itu enggan menanggapi dan langsung masuk ke dalam ruangannya tersebut.
__ADS_1
"Saya membawamu kesini bukan untuk menggoda setiap karyawan lelaki di sini." tegur William setelah menutup pintu ruangannya.
Pria itu nampak mengingat bagaimana istrinya itu selalu mengulas senyumnya membalas sapaan para karyawannya dan pria itu tidak menyukainya.