Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~91


__ADS_3

"Selamat pagi, tuan." sapa James pagi itu saat William baru datang ke kantornya.


"Sepertinya anda kurang tidur semalam." imbuh James lagi ketika melihat wajah lelah sang tuan.


"Hm." sahut William seraya berlalu ke ruangannya dan langsung di ikuti oleh James di belakangnya.


"Apa jadwalku hari ini, James ?" tanya William seraya menghempaskan bobot tubuhnya di atas kursi kerjanya.


Di usianya yang matang membuat pria itu terlihat semakin mempesona, garis rahangnya yang tegas serta tatapannya yang dingin membuat pria itu di gilai oleh banyak wanita yang penasaran padanya.


"Pagi ini anda ada meeting dengan model yang akan menjadi brand ambasador produk kita yang baru tuan, lalu siang harinya anda akan bertemu dengan beberapa klien hingga sore hari dan malam harinya ada undangan pesta dari tuan Gilbert." terang James membacakan jobdesk pria itu.


"Jam berapa model itu akan datang ?" tanya William seraya mengecek berkas-berkas di tangannya.


"Mungkin sebentar lagi, tuan." sahut James sambil melihat jam di pergelangan tangannya dan benar saja tak berapa lama pintu ruangannya di ketuk dari luar.


"Maaf tuan, nona Celine dari agensi X sudah datang." ucap Camela memberi tahu.


"Suruh masuk !!" perintah James kemudian.


"Baik, tuan." sahut Camela dan detik selanjutnya nampak seorang wanita cantik berwajah Asia melangkah masuk dengan anggun.


"Selamat pagi tuan William." sapanya dengan ramah, tubuhnya yang tinggi semampai dan kakinya yang jenjang terlihat seksi dengan rok mini yang di kenakannya.


William langsung menatap wanita cantik di depannya tersebut, sejenak ingatannya melayang pada mantan istrinya.


Mantan istrinya itu dan Celine sama-sama berwajah Asia, hanya saja wanita yang berada di hadapannya itu postur tubuhnya lebih tinggi dan make upnya pun lumayan tebal.


"Hm, silakan duduk." perintah William kemudian.


"Terima kasih." Celine mengulas senyumnya dengan lebar, selama ini ia hanya bisa melihat William dari kejauhan namun kini ia bisa menatapnya dari jarak tak kurang dari dua meter bahkan selanjutnya mereka akan terlibat dalam kerja sama.


"Perkenalkan dirimu dengan jelas !!" perintah William lagi.


"Baik tuan, nama saya Celine Wijaya, usia saya 27 tahun, kewarganegaraan Indonesia dan saya single." sahut Celine memperkenalkan dirinya.


"Baiklah, James akan menjelaskan pekerjaanmu dan ku harap bekerjalah dengan profesional." tegas William menatap wanita di depannya itu sejenak, lalu pandangannya kembali ke layar komputernya.


"Baik tuan, saya selalu bekerja dengan profesional." sahut Celine, rupanya benar dari gosip yang ia dengar jika pria di hadapannya itu adalah pria yang sangat dingin dan penuh misteri namun itu justru membuatnya semakin tertantang untuk mengenalnya lebih jauh.

__ADS_1


"Nona, mari ikut saya." ucapan James langsung membuyarkan lamunan Celine, hingga membuat wanita itu segera beranjak dari duduknya karena sepertinya William sudah tak menganggapnya ada di sana.


Tak berapa lama terdengar ketukan pintu lagi dari luar dan nampak seorang wanita cantik membuka pintu ruangannya.


"Apa aku mengganggumu ?" tanya wanita cantik tersebut yang kini berdiri di ambang pintu ruangan William.


"Tidak, masuklah." perintah William setelah menatapnya.


"Terima kasih." wanita itu segera melangkah mendekati William lalu mencondongkan tubuhnya untuk memeluk pria itu, namun William langsung menghindar saat pintu ruangannya di buka lagi oleh seseorang.


"Hei, sayang." ucap William saat melihat putrinya itu nampak melangkah tak semangat ke arahnya.


"Daddy, kapan kau ingin mengajakku liburan? Aku sudah cari tahu tentang negara Singapore dan aku sudah tak sabar ingin kesana." ucap Emely dengan nada manja, gadis kecil berusia 12 tahun itu kini tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.


"Daddy masih banyak pekerjaan." sahut William.


"Selalu saja seperti itu." gerutu Emely, karena ayahnya itu selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan dan tak ada waktu untuknya.


"Kasihan dia Will, bagaimana jika aku saja yang mengajaknya kesana ?" timpal seorang wanita memberikan saran yang langsung membuat William menatapnya.


"Itu tidak mungkin Vi, Emely tidak akan kemana-mana tanpa aku." tegas William pada wanita yang bernama Vivian tersebut.


Sedangkan Elena yang merasa lelah mengejar William dan tak ada kepastian dari pria itu, akhirnya menyerah dan pergi tanpa pamit dengan membawa sebagian harta William.


Namun William membiarkannya begitu saja mengingat jasa Elena yang selama ini mengasuh Emely.


Sejak saat itu Emely tinggal bersamanya dan ia kerap mengajaknya menemui beberapa klien bisnisnya.


Dan saat itulah pertemuan Emely dan Vivian terjadi, William yang sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan di mana Vivian bekerja membuat putrinya menjadi dekat dengan wanita itu.


Gadis kecil itu selalu mendekatkan ayahnya dengan wanita itu hingga mau tak mau William menuruti kemauan putrinya meskipun hatinya telah tertutup rapat.


Entah hubungan apa yang sebenarnya mereka jalin, namun Vivian selalu ada di antara William maupun Emely hingga kini.


"Ayolah Will, apa kau tidak mempercayaiku ?" mohon Vivian lagi.


William nampak terdiam sejenak, 4 tahun terakhir ini ia memang menenggelamkan dirinya pada pekerjaannya hingga tak banyak waktu bersama sang putri.


Ia lakukan itu semua juga demi melupakan mantan istrinya yang mungkin kini sudah hidup bahagia bersama keluarga dan suami barunya.

__ADS_1


"Minggu depan James akan menghadiri peresmian kantor cabang, kalian bisa ikut kesana." sahut William pada akhirnya yang langsung membuat Emely dan Vivian nampak girang.


"Daddy akan ikut juga kan ?" tanya Emely kemudian.


"Daddy banyak kerjaan sayang." sahut William, meski sebenarnya ia juga ingin namun jarak Singapore dan Indonesia tidaklah terlalu jauh ia takut tak bisa mengendalikan diri lalu mencari mantan istrinya itu.


"Baiklah, terima kasih Dad." ucap Emely kemudian.


"Tante Vivian, bukankah kita harus melakukan persiapan ?" imbuhnya menatap wanita cantik tak jauh darinya itu.


"Tentu saja, ayo." ajak Vivian lalu bergegas membawa Emely meninggalkan ruangan ayahnya tersebut.


Sedangkan William kembali sibuk dengan pekerjaannya yang sudah menumpuk di atas mejanya.


Tak berapa lama James kembali masuk ke dalam ruangannya. "Tuan Weslyn mengabarkan jika persiapan peresmian sudah mencapai 90 persen, tuan." lapornya seraya menyerahkan ipadnya pada pria itu.


William langsung melihat beberapa gambar yang ada di ipad asistennya tersebut.


"Emely dan Vivian akan ikut bersamamu, awasi mereka James aku tidak ingin terjadi apa-apa pada putriku." perintahnya kemudian.


"Anda yakin tidak akan ikut tuan ?" James memastikan.


"Tidak." sahut William dengan yakin.


"Liburan sebentar akan membuat anda sedikit rilex tuan, sepertinya selama 4 tahun ini anda terlalu bekerja keras." saran James, mengingat tuannya itu tak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri sejak 4 tahun lalu.


"Nona Vivian pasti senang jika anda ikut, tuan." imbuh James saat tuannya itu tak menjawabnya.


"Pikirkan saja dirimu James, paling tidak aku sudah pernah menikah sedangkan kau seperti tak laku saja." balas William dengan setengah mencibir asistennya itu.


"Setelah anda bahagia, saya juga pasti akan melakukannya tuan." sahut James.


"Ck." William berdecak kesal mendengar penuturan asistennya itu.


"Memberikan nona Vivian atau wanita lain kesempatan sepertinya itu lebih baik tuan, anda sudah 100 persen sembuh jadi tak ada alasan lagi untuk tidak mendekati seorang wanita." terang James mengingat tuannya itu telah sembuh dari penyakit mentalnya setelah hampir satu tahun menjalani pengobatan dan terapi.


"Tolong pikirkan sekali lagi tuan, nona Emely sangat membutuhkan figur seorang ibu." imbuh James, setelah itu berlalu meninggalkan ruangan atasannya tersebut.


Sementara itu William nampak memijit pelipisnya yang sedikit nyeri. Haruskah ia mengikuti saran asistennya tersebut ?

__ADS_1


__ADS_2