Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~283


__ADS_3

"Putramu? apa kau sedang mengigau? di kehidupanku sebelumnya aku bahkan tak pernah mengenal pria sepertimu." tegas Elsa seraya melepaskan diri saat merasakan pelukan pria itu sedikit mengendur, kemudian wanita itu segera menjauh dari sana.


Alex nampak menggeram, bagaimana bisa wanita itu tak mengakuinya padahal ia sudah yakin jika gadis yang pernah ia nodai dulu adalah wanita itu.


"Mommy, kenapa tak menjawab ucapanku ?" ucap Axel seraya melangkah keluar dari kamarnya yang di ikuti oleh Carla di belakangnya.


"Mommy sedang di dapur sayang." sahut Elsa dengan santai seolah tak terjadi sesuatu.


Alex nampak tercengang saat menatap Axel, ini kali kedua ia bertemu dengan bocah kecil itu. Namun sekarang ia semakin yakin jika anak itu adalah putranya, darah dagingnya.


"Paman yang waktu itu kan ?" ucap Axel seraya berjalan mendekati Alex.


"Kau masih mengingatku, hm ?" balas Alex kemudian.


"Tentu saja." sahut Axel dengan yakin.


"Paman juga masih megingatku kan ?" imbuh Axel kemudian.


"Tentu saja, mana mungkin aku lupa dengan bocah tampan sepertimu." sahut Alex sembari terkekeh.


"Bohong, paman bilang waktu itu aku terlalu percaya diri dengan ketampananku." sela Axel mengingatkan seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


"Baiklah aku minta maaf, tapi kau memang benar-benar sangat tampan." puji Alex, wajah bocah di hadapannya itu benar-benar sangat mirip dengan pahatan wajahnya dan ia yakin 100% jika anak itu memang darah dagingnya.


"Boleh aku memelukmu ?" ucap Alex dengan penuh harap yang langsung di angguki oleh putranya tersebut.


"Perasaan apa ini? aku tak pernah merasakan hal membahagiakan seperti ini."


Alex nampak sangat terharu begitu juga dengan Elsa, entah kenapa wanita itu juga rasanya ingin sekali menangis saat melihat pemandangan di hadapannya itu. Hanya saja ia tak mungkin melakukannya di hadapan mereka semua.


"Apa paman kekasihnya tante Carla ?" ucap Axel tiba-tiba setelah mengurai pelukannya yang tentu saja membuat Alex langsung melebarkan matanya, namun saat akan menyangkalnya tiba-tiba Elsa menyelanya.

__ADS_1


"Tentu saja sayang, bukankah mereka pasangan yang serasi? bukan begitu Carla? sungguh kalian terlihat sangat cocok." ucapnya seraya menatap Carla yang nampak tersipu malu, sedangkan Alex terlihat mengepalkan tangannya.


"Sebenarnya apa rencanamu ?" geram Alex dalam hati.


"Bukan begitu tuan Alex? selain cantik dan tampan kalian juga seorang pebisnis yang hebat, jadi ku rasa kalian pasangan yang sangat serasi." kali ini Elsa menatap Alex dengan tegas.


Ia bisa saja mengatakan jika Axel adalah darah daging pria itu namun Elsa tak yakin jika pria itu nanti takkan mengambil anaknya dari sisihnya.


Meski ia sangat sadar jika Alex tertarik padanya dan mungkin saja mereka bisa membina sebuah keluarga kecil yang bahagia, tapi Elsa sudah terlanjur memiliki rasa krisis kepercayaan terhadap seorang pria.


Ia takut jika nasibnya akan sama seperti mendiang kakaknya, di hancurkan oleh seorang pria yang dahulu pernah sangat memujanya. Bahkan ia juga di besarkan dalam keluarga broken home hingga membuatnya memiliki trauma yang mendalam akan sebuah pernikahan.


Lagipula Carla wanita yang sangat baik, ia yakin jika wanita itu bisa menjadi ibu sambung bagi putranya jika suatu saat mereka telah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Mendengar penuturan Elsa, Alex terlihat sangat geram. Apa wanita itu tidak pernah sedikitpun menyadari perasaannya selama ini hingga membuatnya harus menjodohkannya dengan wanita lain.


Alex benar-benar murka pada wanita itu, rahangnya nampak mengeras dan tatapannya begitu tajam menusuk.


Apa secara tidak langsung pria itu telah mengakuinya sebagai kekasihnya? rasanya Carla tak percaya itu, namun tangan kekar yang melingkar di pinggangnya kini membuktikan jika ia sedang tidak bermimpi.


Sementara Elsa nampak mengulas senyumnya, namun entah kenapa sudut hatinya terasa nyeri saat melihat keintiman mereka.


Kemudian wanita itu langsung memalingkan wajahnya. "Bagaimana jika kita merayakan hubungan kalian dengan makan siang bersama, aku akan memasak untuk kalian." tawarnya seraya melangkah mendekati sang putra.


"Kamu bisa memasak ?" Carla nampak tak percaya.


"Terakhir memasak kamu hampir membakar apartemenku, El." imbuhnya saat mengingat kejadian beberapa tahun silam.


"Aku mulai belajar memasak semoga saja tidak mengecewakan." tukas Elsa membela diri.


"Masakan Mommy sangat enak dan aku sangat menyukainya." timpal Axel memuji sang ibu.

__ADS_1


"Benarkah? baiklah aku ingin mencobanya, bukan begitu...." Carla menjeda ucapannya lalu menatap Alex.


"Boleh aku memanggilmu dengan kata sayang? maksudku bukankah kamu baru saja memplokamirkan hubungan kita, jadi aku ingin melakukan apa yang biasanya sepasang kekasih lakukan." mohonnya pada pria itu.


"Terserah padamu saja." ucap Alex namun pandangannya tak sedikit pun berpaling dari Elsa.


"Terima kasih, sayang." Carla langsung bergelayut manja di lengan kekar pria itu.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memasak dahulu untuk kalian." Elsa segera berlalu ke dapur, rasanya canggung sekali melihat kemesraan pasangan kekasih itu.


"Aku akan membantu Mommy." Axel ikut melangkah mengikuti sang ibu tapi Carla langsung mencegahnya.


"Tidak sayang, kau di sini saja temani tante." ucapnya kemudian, sepertinya wanita itu sedikit salah tingkah jika harus di tinggal berduaan dengan pria yang baru saja menjadi kekasihnya tersebut hingga menjadikan Axel sebagai pencair suasana di antara mereka.


Ini terlalu tiba-tiba dan Carla seperti belum mempercayai jika pria yang ia kagumi sejak lama kini telah menjadi kekasihnya.


Sembari menunggu Elsa selesai memasak, kemudian Carla mengajak Alex untuk menunggu di kamar Axel. Mereka nampak menghabiskan waktunya bermain dengan bocah kecil itu.


Sementara Elsa yang sedang sibuk di dapur nampak berkali-kali meyakinkan dirinya jika keputusannya sudah benar.


Sampai tiba-tiba ia berteriak saat tak sengaja mengiris jarinya sendiri dengan pisau hingga membuatnya langsung menitikkan air matanya saat melihat darah segar menetes dari jarinya tersebut.


"Apa kamu tidak bisa berhati-hati ?" ucap Alex seraya menarik tangan wanita itu lalu membawanya ke wastafel, setelah mencuci jarinya yang terluka lalu pria itu langsung menyesap darahnya agar berhenti keluar.


Melihat jarinya berada di dalam mulut pria itu Elsa langsung menariknya namun tak berhasil.


"Kamu tak perlu melakukan itu darahnya akan berhenti sendiri, lebih baik kembalilah nanti Carla mencarimu." mohon Elsa kemudian.


Namun sepertinya pria itu tak menghiraukkan perkataannya dan kini justru meniup-niup lukanya yang sudah kembali tertutup.


"A-aku baik-baik saja, pergilah !!" mohon Elsa lagi pandangannya nampak sesekali melirik ke pintu kamar putranya yang masih tertutup rapat, berharap Carla tak melihat kejadian ini.

__ADS_1


"Katakan, apa sedikit pun kamu tak pernah menyukaiku ?" ucap Axel kemudian dengan menatap tajam wanita di hadapannya itu.


__ADS_2