
Anne yang baru saja membuka pintu ruangan James, tiba-tiba tangannya di tarik oleh pria itu lalu di dorongnya ke dinding.
"Katakan, apa sebenarnya rencanamu melamar pekerjaan di sini ?" geram James menatap wanita itu.
"Kenapa? apa kau ada masalah jika aku bekerja di sini ?" sahut Anne dengan tersenyum sinis, ia ingin melihat sejauh mana pria itu bertindak. Lagipula ia masih mempunyai Merry yang akan membelanya mengingat wanita itu memberikannya misi untuk mengawasi sang suami.
"Apa uang bulanan yang ku berikan kurang? katakan berapa yang kau inginkan ?" tegas James.
"Kau pikir uang 10 juta cukup untuk kehidupan di Amerika tuan James ?" sindir Anne mengingat sejak menikah pria itu hanya memberikan 10 juta perbulan di rekeningnya.
"Itu hanya sekedar uang jajan dan jika kurang bukankah kau bisa memintanya padaku." sahut James.
"Tapi sayangnya aku bukan seorang pengemis tuan James dan apa kau lupa berapa hutangku padamu? bukankah aku harus bekerja keras untuk melunasinya ?" tukas Anne dengan wajah menantang pria itu.
"Baiklah, mulai hari ini aku anggap semua hutangmu lunas tapi lupakan keinginanmu bekerja di sini." James langsung memberikan penawaran dan tentu saja itu di sambut baik oleh sang istri.
"Kau memang tuan suami yang sangat pengertian." Anne nampak mengulas senyum termanisnya lalu mengangkat tangannya untuk menyentuh dada bidang pria itu.
Mengusapnya dengan lembut lalu ia kembali berkata. "Baiklah, terima kasih banyak sudah menganggap lunas hutang-hutangku. Tapi setelah melihat keadaan kantor ini, apalagi banyak sekali para lelaki tampan yang bekerja di sini membuatku berpikir untuk tetap menerima pekerjaan ini." terangnya kemudian yang tentu saja membuat James langsung mengeraskan rahangnya.
"Jadi kau menerima pekerjaan itu hanya untuk menggoda para pria di kantor ini ?" cibirnya, entah kenapa ia tiba-tiba tak menyukai dengan rencana gila wanita itu.
"Tuan James, apa kau pernah mendengar sebuah pepatah berenang sambil minum air? begitulah kira-kira tujuanku bekerja di sini." sahut Anne dengan tersenyum mengejek.
"Kau !!" James terlihat geram, sepertinya wanita di hadapannya itu memang harus di beri pelajaran.
James langsung mendekatkan wajahnya, namun tiba-tiba pintu ruangannya di buka dari luar. "Astaga, tidak bisakah kalian bermesraan di rumah saja ?" tegur William saat melihat sepasang suami istri di hadapannya itu hendak berciuman.
"Maaf, ini semua tidak seperti yang anda lihat tuan." James langsung melangkah menjauh.
Sedangkan Anne nampak merapikan penampilannya lalu tersenyum menatap William, pria itu memang benar-benar dewa penyelamatnya dari sang iblis bermuka datar.
__ADS_1
Anne nampak terkikik dalam hati saat menyematkan panggilan pada kedua pria tampan di hadapan itu dan suaminya memang sangat cocok ia panggil iblis, mengingat perilakunya yang selalu membuat tekanan darahnya naik.
"Aku bukan Ariel yang bisa kau tipu, James." cibir William seraya menghempaskan bobot tubuhnya di atas sofa di ruangan asistennya tersebut
"Saya tidak pernah menipu Ariel, tuan." timpal James.
"Bukan tidak pernah tapi belum berhasil saja." sahut William, mengingat putranya itu sangatlah cerdik.
"Oh ya Anne, saya percaya dengan kemampuanmu karena istriku pasti tidak akan merekomendasikan orang sembarangan." tukas William seraya menatap ke arah Anne.
"Saya akan berusaha dengan sebaik mungkin, tuan." Anne meyakinkan.
"Tapi saya kurang yakin dengan kemampuannya." James yang baru duduk di seberang William langsung menimpali, biasanya pria itu selalu percaya padanya semoga kali ini juga begitu.
"Apa kau meragukan istrimu sendiri, James ?" William menaikkan sebelah alisnya menatap asistennya tersebut.
"Saya hanya ingin bekerja dengan profesional, tuan." sahut James.
"Ya aku tahu itu, tapi kali pengecualian. Istriku yang merekomendasikannya jadi tolong mengertilah." tukas William.
"Baiklah, kalau begitu aku percayakan padamu untuk membimbing dia dan nanti sore ada petemuan dengan mitra bisnis kita dari jepang ku harap Anne kamu siap melakukan tugasmu." ucap William seraya beranjak dari duduknya.
"Tentu saja tuan William, saya akan bekerja dengan baik." sahut Anne dengan tegas.
"Aku percaya padamu." William menatap Anne sejenak kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut.
Begitu juga dengan Anne, karena sudah tak ada hal penting untuk di bicarakan lagi ia juga segera berlalu pergi dari sana.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi ?" hardik James hingga membuat langkah Anne terhenti.
"Apalagi sih tuan James, bukankah perkataan tuan William sudah jelas dan untuk urusan dengan orang Jepang itu aku bisa mempelajarinya lewat proposal kerja sama sebelumnya." terang Anne dengan kesal.
__ADS_1
"Ku harap kau kerja profesional dan tidak macam-macam di perusahaan ini." James memperingatkan.
"Aku selalu profesional dan kamu tenang saja aku akan menyembunyikan hubungan kita di sini agar tidak mengurangi sikap profesionalku." tegas Anne, ia ingin membuktikan jika ia mampu tanpa nama besar pria itu.
"Begitu lebih baik." ucap James seraya menyerahkan selembar kertas setelah ia tanda tangani.
Anne menatap sekilas kertas di tangannya itu. "Baiklah wakil direktur, saya undur diri dulu." ucapnya kemudian seraya menekankan kata 'wakil direktur' seakan memperjelas posisi mereka.
Ada rasa kecewa saat suaminya itu menyetujui idenya untuk menyembunyikan hubungan mereka, tapi ia cukup tahu diri jika ia hanyalah istri di atas kertas.
Anne segera keluar dari ruangan suaminya lalu ia kembali menemui kepala HRD untuk mengurus kontrak kerjanya.
"Sudah ku bilangkan kamu tidak di terima, tuan James memiliki standar tinggi dalam mencari karyawan bahkan tuan William sendiri pun tak bisa ikut campur." ucap nyonya Darrien saat berpapasan dengan Anne.
"Jadi ku harap segera tinggalkan tempat ini !!" perintah wanita itu lagi dengan tegas.
Anne hanya menanggapinya dengan senyuman. "Kadang terlalu percaya diri itu juga kurang bagus nyonya dan ku harap selanjutnya kita bisa bekerja sama dengan baik." ucapnya seraya menyerahkan selembar kertas yang telah di tanda tangani oleh James yang menyatakan jika dirinya di terima di kantor tersebut.
Nyonya Darrien nampak terbelalak melihat kertas yang di berikan oleh Anne, wanita itu seperti tak rela jika wanita muda di hadapannya kini menduduki posisi manager pemasaran yang sebenarnya sudah ia incar sejak lama.
"Di mana ruanganku, karena aku harus segera bekerja ?" ucap Anne kemudian.
"Ikuti aku." Nyonya Darrien segera melangkah yang langsung di ikuti oleh Anne.
Anne yakin pekerjaannya kali ini takkan mudah, karena sejak awal ia sudah mencium aroma persaingan yang sangat ketat saat melihat wajah-wajah para karyawan yang menatapnya dengan tak suka.
Sesampainya di ruangan departemen pemasaran, Anne segera memperkenalkan dirinya pada seluruh karyawannya. "Ku harap kita bisa bekerja sama dengan baik hingga bisa melampaui target pasar." ucapnya seraya menatap satu persatu bawahannya tersebut.
Setelah memimpin rapat pertamanya Anne kembali ke ruangannya lalu mempelajari proposal kerja sama dengan pengusaha Jepang, ia harus membuktikan pada pria bermuka datar itu jika ia mempunyai kemampuan.
"Nyonya Anne, tuan James sudah menunggu anda." ucap Andrew asisten Anne yang baru saja masuk.
__ADS_1
Anne sengaja memilih asisten seorang pria yang multifungsi, selain bisa membantu pekerjaannya dengan cekatan pria itu juga bisa melindunginya saat ia menghadapi relasi kerja yang kurang ajar.
"Ck, bahkan di hari pertamanya bekerja dia sudah menggoda seorang pria." cibir James saat melihat istrinya itu baru keluar dari ruangannya bersama sang asisten.