
Siang itu sepulang dari kampusnya Merry nampak terdiam di kamarnya, hari ini ia sengaja tidak datang bekerja di kantor suaminya dan mungkin ia tidak akan datang kesana lagi.
Dan semenjak kejadian kemarin pun sang suami tak pulang ke Mansionnya, entah di mana pria itu dan bersama siapa Merry tak peduli lagi.
"Daddy, mommy aku merindukan kalian." gumamnya seraya menatap langit cerah di depannya tersebut.
Sejak peristiwa pembantaian di rumahnya waktu itu hidup Merry begitu kacau, tak ada lagi masa depan impiannya dan semuanya hancur begitu saja.
Tak terasa air mata wanita itu pun meleleh di pipinya beriringan dengan luka hatinya yang mendera.
Sementara itu di tempat lain nampak sepasang suami istri sedang berjuang untuk hidup di sebuah ICU di salah satu rumah sakit swasta di Indonesia.
"Mommy, Daddy ?" seorang pria tampan nampak terkejut saat melihat jari-jari kedua orangtuanya bergerak bersamaan dalam tidur panjangnya selama beberapa bulan terakhir.
Pria tersebut yang di ketahui bernama Alex langsung menyuruh sang adik untuk memanggil dokter.
"Rik, panggil dokter sekarang juga !!" perintahnya pada pemuda bernama Erik tersebut.
Pemuda itu langsung berlari membuka pintu. "Dokter, cepatlah kemari Mommy dan Daddy saya menggerakkan jarinya !!" teriak Erik.
Dokter jaga yang sedang bertugas di ruang ICU bergegas masuk bersama dengan seorang perawat.
"Ada apa tuan Alex ?" tanya dokter pada pria berusia 24 tahun itu.
"Tadi Daddy dan Mommy menggerakkan jari-jarinya, dok." terang Alex.
Dokter tersebut segera memeriksa keadaan Martin maupun Sera. "Tuan Martin dan nyonya Sera masih belum ada perkembangan, tuan. Tetap seperti sebelumnya." ucapnya kemudian.
"Tapi tadi mereka menggerakkan jari-jarinya, dok. Benarkan Rik ?" terang Alex lalu menatap sang adik seakan meminta pemuda itu untuk membenarkan perkataannya.
"Benar dok, jari Mommy dan Daddy bergerak beberapa kali tadi." timpal Erik.
"Itu hal wajar tuan bagi pasien yang sedang koma, itu menunjukkan jika kemampuan motoriknya masih berfungsi dengan baik." sahut sang dokter menjelaskan.
"Jadi sampai kapan orang tua kami akan seperti ini, dok ?" Alex nampak frustasi menatap kedua orang tua angkatnya tersebut.
Berkat mereka lah hidupnya dan keempat adiknya tidak berakhir di jalanan.
Sera adalah sosok ibu yang sangat baik dan penyabar, begitu juga dengan Martin. Pria itu sukses menjadi sosok ayah yang baik dan tanggung jawab terhadap anak-anaknya.
__ADS_1
Sampai kejadian pembantaian waktu itu Alex baru menyadari jika sang ayah selama ini adalah seorang mafia kelas kakap.
Di mana banyak sekali musuh-musuhnya yang tak ia ketahui, karena dirinya dan adik-adiknya selama ini di kirim oleh sang ayah untuk menempuh pendidikan di luar negeri selama bertahun-tahun.
Hanya tinggal adik bungsunya yang selama ini tinggal bersama kedua orang tuanya itu dan keberadaannya pun kini tak di ketahui karena banyaknya cctv yang hilang di rumahnya saat pembantaian terjadi.
Waktu itu Alex yang baru pulang dari luar negeri sangat terkejut saat melihat kedua orang tuanya sudah terkapar di lantai dengan berlumuran darah.
Ia melihat beberapa pria yang ia duga sebagai pelakunya langsung kabur saat dirinya datang.
Kemudian Alex langsung membawa kedua orang tuanya ke rumah sakit namun saat akan melapor ke pihak berwajib dirinya mendapatkan sebuah teror jika melakukan hal itu mereka akan menghabisi sang adik perempuannya yang entah waktu itu tiba-tiba saja menghilang.
Bahkan saat dirinya kembali ke Mansion ayahnya setelah itu, Mansion tersebut nampak bersih dan rapi seakan sebelumnya tak ada peristiwa pembantaian terjadi di sana.
"Kita hanya bisa bersabar, tuan. Jika bisa, tolong sering-seringlah ajak mereka berbicara. Tuan dan nyonya Martin sangat membutuhkan orang-orang yang menyayanginya" saran sang dokter.
"Baik, dok." sahut Alex.
Setelah dokter tersebut pergi Alex nampak mendekati ranjang kedua orangtuanya itu.
"Sepertinya hanya Merry yang bisa membuat mereka bangun." ucap Alex dan tanpa sepengetahuannya jari Martin nampak bergerak kembali.
"Bagaimana kalau kita lapor polisi saja kak atau kita pasang foto Merry di media ?" saran Erik kemudian.
"Lalu kita harus bagaimana? hingga detik ini orang suruhan kita belum memberikan kabar." Erik terlihat putus asa.
"Aku akan segera kembali ke Amerika, aku yakin Merry masih ada di sana atau di kota-kota lainnya." ucap Alex kemudian.
"Kamu dan yang lainnya tolong awasi Daddy dan Mommy, kabarkan setiap saat keadaan mereka padaku." imbuh Alex lagi seraya menatap sang adik.
"Baik, kak." angguk Erik.
...----------------...
"Nyonya, tuan William memerintahkan anda untuk segera bersiap." ucap Hanna saat baru masuk ke dalam kamar Merry malam itu.
"Aku sedang tidak ingin kemana-mana." sahut Merry dengan malas, wanita itu nampak memunggungi Hanna dengan posisi berdiri menghadap jendela.
"Tuan ingin mengajak anda ke pesta jamuan makan malam, nyonya." terang Hanna yang langsung membuat Merry berbalik badan menatap pelayannya tersebut.
__ADS_1
"Kemana ?" tanyanya kemudian.
"Saya kurang tahu, nyonya. Saya hanya di minta untuk memberitahukan pada anda." sahut Hanna.
"Itu apa ?" Merry nampak menatap beberapa paper bag yang di bawah oleh Hannah.
"Ini gaun dan sepatu yang di kirim oleh tuan William untuk anda." Hanna menunjukkan 3 paper bag di tangannya.
"Baiklah, taruh saja di sana." perintah Merry kemudian.
"Baiklah kalau begitu saya keluar dulu nyonya." ucap Hanna kemudian segera berlalu keluar.
Merry nampak menghela napasnya, kemudian berjalan mendekati paper bag tersebut lalu mengeluarkan isinya.
"Baiklah Merry, waktunya bersenang-senang." gumam Merry menyemangati dirinya sendiri, kemudian segera bersiap.
Beberapa saat kemudian Merry nampak mematut dirinya di depan cermin, lalu pandangannya jatuh ke jari manisnya di mana sebuah cincin bertahta diamond melingkar di sana.
Cincin yang jarang sekali ia pakai karena sangat tidak cocok jika di gunakan untuk kegiatan sehari-hari seperti kuliah.
Beberapa saat kemudian Hanna kembali mengetuk pintu kamarnya.
"Nyonya, apa anda sudah bersiap? tuan James sedang menunggu anda di bawah." tanya pelayannya itu.
"Hm." Merry mengangguk kecil kemudian wanita itu mengambil tas pestanya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan kamarnya tersebut.
"Selamat malam, nyonya." sapa James saat Merry berjalan mendekati mobilnya, pria itu segera membuka pintu mobil untuk wanita itu.
"Hm." Merry mengangguk kecil, kemudian segera masuk ke dalam mobilnya.
Sepanjang perjalanan Merry nampak menutup mulutnya dengan rapat, selain tak ingin tahu kemana ia akan di bawa oleh asisten suaminya itu tapi wanita itu juga enggan berbicara dengan pria itu.
Mengingat pria yang sangat mirip James yang berada di rumahnya saat pembantaian kedua orangtuanya, membuat Merry membenci pria itu.
30 menit kemudian James nampak menghentikan mobilnya di sebuah hotel bintang 5.
"Silakan, nyonya." ucap James seraya membuka pintu mobilnya agar sang nyonya segera turun.
Merry nampak mengedarkan pandangannya, di lobby hotel tersebut terlihat beberapa pengunjung sedang berlalu lalang masuk.
__ADS_1
Kemudian pandangannya tak sengaja melihat beberapa karangan bunga yang bertuliskan 'congrats mr William', dan di papan karangan bunga lainnya tertulis 'congrat miss Natalie'.
Merry nampak menghela napasnya, kemudian tersenyum sinis lalu melangkahkan kakinya masuk dengan kepala tegak.