
Mendengar Elsa memohon membuat gairah Alex semakin terpacu, kemudian menyingkap rok wanita itu ke atas lalu menurunkan kain segitiga yang masih menjadi penghalangnya.
"Astaga, kau melakukannya tanpa mengunci pintu ruanganmu terlebih dahulu ?" protes Elsa saat pria itu telah berhasil membenamkan keperkasaannya di dalam miliknya.
Menghentaknya dengan posisi berdiri, membuat Elsa harus memeluknya dengan erat jika tak ingin terjatuh. Pria itu benar-benar gila saat sedang marah.
Mendengar perkataan Elsa, Alex segera meraih gagang telepon di atas meja kerjanya lalu menghubungi sang sekretaris.
"Saya tidak ingin di ganggu, jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruanganku jika tidak maka pekerjaanmu menjadi taruhannya !!" tegasnya pada sekretarisnya lantas mengakhiri panggilannya sepihak sebelum karyawannya itu memberikan jawaban.
"Dasar pemaksa." gerutu Elsa dan detik selanjutnya hanya d3s4h4n dari keduanya yang terdengar di ruangan tersebut.
Keesokan harinya.....
"A-apa yang kau lakukan di sini ?" Elsa yang baru keluar dari kamar mandi langsung terkejut saat melihat Alex sudah berada di kamarnya pagi itu, bahkan pria itu telah merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya.
"Aku hanya ingin istirahat sebentar." sahut Alex yang terlihat sangat lelah sepertinya pria itu kurang tidur semalaman.
"Jika lelah tidurlah di rumahmu, bukan di sini." sungut Elsa, pria itu pikir rumahnya tempat persinggahan.
"Hanya sebentar, kenapa kau pelit sekali." sahut Alex dengan suara lirih serta mata terpejam dan tak berapa lama terdengar dengkuran halus napasnya, sepertinya pria itu benar-benar telah tidur.
"Secepat itu ?" Elsa nampak melebarkan matanya tak percaya, lalu wanita itu segera melangkah mendekat dengan perlahan.
Mengangkat tangannya lalu menggerakkannya di hadapan wajah pria itu berulang kali yang nyatanya tak membuat pria itu bereaksi dengan gerakannya tersebut.
"Sepertinya capek sekali, apa dia semalaman tidak tidur? ya tentu saja pasti dia habis bercinta dengan istrinya itu sepanjang malam. Dasar maniak." gerutu Elsa kemudian, mengingat kemarin sorenya mereka juga bercinta sampai menjelang petang.
Pria itu sungguh tak ada lelahnya hingga membuat tulang-tulangnya hampir remuk di buatnya, bahkan sampai sekarang ia masih merasa kelelahan.
Jika saja ia tak ada janji dengan Marco untuk bertemu pagi ini, mungkin Elsa lebih memilih bergelung dengan selimutnya hingga siang hari.
Namun ia harus secepatnya menyelesaikan misinya lalu kembali ke Jerman untuk memulai kehidupan barunya, mengubur dalam-dalam masa lalunya hingga tak bersisa.
Dan pria malang ini tentu saja akan Elsa lupakan begitu saja, meskipun bagian dari pria itu akan selalu bersamanya yaitu sang putra.
__ADS_1
Seorang anak lelaki yang mungkin sepanjang hidupnya takkan mengetahui siapa ayah kandungnya, mempunyai dirinya itu sudah cukup dan ia tak ingin mendapatkan masalah baru hanya karena seorang pria itu.
"Aarrgghh !!"
Elsa langsung berteriak saat tiba-tiba Alex menarik tangannya hingga ia terjatuh di atas dada bidang pria itu, mendekatinya rupanya sebuah kesalahan.
"Lepaskan aku !!" Elsa langsung meronta saat Alex memeluk pinggangnya dengan kedua lengan kekarnya.
"Apa aku terlalu tampan hingga membuatmu begitu intens menatapku ?" ujar Alex yang kini telah membuka matanya.
Elsa nampak melotot, ia memang menatap pria itu namun ia juga sedang melamun tadi.
"Jangan terlalu percaya diri, tuan Alex." cibir Elsa dengan memalingkan wajahnya, posisi mereka yang terlalu intim membuat Elsa takut terlena.
"Jadi aku kurang tampan, hm ?" tanya Alex lagi hingga membuat Elsa kembali menatapnya, tak di pungkiri pria di bawahnya ini memang sangat tampan tak jauh berbeda dengan sang putra yang memang mewarisi ketampanannya.
Matanya, hidungnya, bibirnya dan alisnya yang tebal pun sama persis dengan sang putra. Benar-benar pahatan yang sempurna dari Sang Maha Pencipta.
"Tatapanmu sudah mengatakan segalanya." imbuh Alex hingga membuat Elsa langsung tersenyum mengejek.
"Aku memang selalu percaya diri, jika aku tampan dan juga kaya." tukas Alex dengan jumawa dan itu membuat Elsa langsung mencibir.
"Tapi bodoh." ucapnya dengan lirih, namun masih terdengar jelas di telinga Alex hingga membuat pria itu langsung membalikkan tubuhnya dan kini berganti posisi dengan wanita itu di bawahnya dan tentu saja itu membuat Elsa langsung panik.
Ia hanya membungkus tubuhnya dengan kimono mandi, semoga saja pria itu tak melakukan apapun yang membuatnya kelelahan.
Menghadapinya saja sudah menguras tenaganya, apalagi melakukan hal yang membuatnya berkeringat. Tidak-tidak, Elsa langsung menggelengkan kepalanya dan itu membuat Alex nampak menarik sudut bibirnya ke atas. Pria itu seakan bisa membaca pikiran wanita itu.
"Aku memang bodoh dalam hal percintaan, mungkin karena aku terlalu setia sebagai seorang pria." ujar Alex lalu segera menjauhkan tubuhnya dari wanita itu dan itu membuat Elsa nampak lega.
"Jadi kapan kamu akan kembali ke Jerman ?" tanya Alex kemudian, kini pria itu duduk di tepi ranjang.
"Secepatnya." Elsa langsung beranjak dari tidurnya, kemudian merapikan kimononya yang sedikit berantakan lantas menghempaskan bobot tubuhnya di kursi depan meja rias.
Ia harus segera bersiap-siap untuk bertemu dengan Marco sebelum pria itu berubah pikiran, karena kesempatan takkan datang dua kali dan pria itu akan menjadi kunci menjatuhkan Celine sejatuh-jatuhnya.
__ADS_1
"Kapan ?" tanya Alex ingin tahu.
"Jangan terlalu ikut campur urusanku." timpal Elsa seraya menatap pantulan pria itu dari cermin belakangnya.
Alex yang sedang duduk di ranjang belakangnya nampak menatap wanita itu dengan intens. "Aku hanya ingin tahu, apa kau keberatan ?" tukas pria itu kemudian.
"Tentu saja." sahut Elsa yang mulai fokus dengan merias wajahnya yang selalu cantik meski tak make up.
"Bagaimana jika aku menyukaimu ?" ucap Alex yang sontak membuat Elsa menghentikan polesan lipstik di bibirnya, bibirnya yang sudah merah nampak semakin memerah saat ini dan itu membuat Alex tak berpaling menatapnya dari pantulan cermin.
"Omong kosong." Cibir Elsa, ia takkan mempercayai perkataan manis pria manapun karena baginya hanya bualan semata.
"Aku tak memintamu untuk percaya, tapi aku akan membuktikannya." tegas Alex kemudian.
"Aku tak peduli dan sekarang cepat pergi dari rumahku, kau benar-benar membuang waktuku saja !!" usir Elsa tak berperasaan dan itu membuat Alex segera beranjak dari duduknya.
"Baiklah, tapi beri aku energi untuk menghadapi hari ini." ucapnya seraya menarik pinggang wanita itu tiba-tiba, sedikit membungkukkan badannya lalu m3lum4t bibir merahnya yang sedari tadi mengganggu konsentrasinya.
Alex semakin merapatkan tubuh Elsa seiring ciumannya yang sedikit kasar dan menuntut itu semakin dalam, memporak-porandakan rongga mulut wanita itu dengan lidahnya yang begitu lincah hingga membuat Elsa mengerang tertahan.
Setelah merasa wanita itu kehabisan napas, Alex baru melepaskan tautan bibirnya dan membiarkan wanita itu menghirup udara sebanyak mungkin.
"Bibirmu sangat nikmat, tapi ku harap jangan memakai perona si4l4n itu lagi. Karena itu akan membuat pria brengsek di luar sana tak tahan untuk merasakannya juga dan aku tak rela jika itu terjadi." ucap Alex seraya mengusap lembut sudut bibir Elsa yang basah dan berantakan akibat ulah nakalnya tadi.
"Ingat kamu milikku dan siapapun pun yang berani menggodamu akan ku lenyapkan tanpa ampun." tegas Alex dengan rahang mengeras dan tatapan tajam, setelah itu pria itu segera berlalu pergi dari sana.
Sementara Elsa yang masih terduduk di kursinya nampak terdiam dengan ucapan pria itu, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat dan darahnya berdesir hebat yang membuatnya bertanya-tanya ada apa dengan dirinya.
"Ah si4l4n."
Elsa langsung mengingkari perasaannya sendiri lalu mengambil tisu untuk mengelap bekas lipstiknya yang berantakan.
"Bibirmu sangat nikmat, tapi ku harap jangan memakai perona si4l4n itu lagi. Karena itu akan membuat pria brengsek di luar sana tak tahan untuk merasakannya juga."
Elsa langsung mengurungkan mengoles lipstiknya kembali saat perkataan Alex tiba-tiba terngiang di kepalanya, kemudian wanita itu segera beranjak dari duduknya untuk berganti pakaian dan siap bertemu dengan Marco.
__ADS_1