
"Kamu benar-benar tak bisa menjaga putriku dengan baik." geram Martin kepada William saat mengetahui Merry telah pergi bersama dengan Arthur.
"Aku sedang tidak ingin berdebat, keselamatan istriku lebih penting." sahut William, kemudian segera melangkahkan kakinya meninggalkan Martin dan Alex.
"Kau..." Alex terlihat geram saat melihat William berlaku kurang sopan kepada Martin namun ayahnya itu langsung menahannya untuk tak mengejar.
"Biarkan saja dia pergi, fokus kita sekarang mencari keberadaan Arthur." terang Martin.
"Bagaimana kalau Arthur mencelakai Merry? aku pasti tidak akan memaafkan diriku sendiri karena telah gagal menjaganya." Alex nampak sangat merasa bersalah, sebagai saudara tertua harusnya ia bisa melindungi adik-adiknya.
Terutama Merry, bagaimana pun juga Alex mempunyai hutang budi pada Martin maupun Sera karena telah merawatnya hingga ia sukses seperti saat ini.
"Tenanglah, Arthur tidak akan mencelakai Merry. Karena ia tahu jika sampai terjadi apa-apa dengan putriku maka tujuannya yang sebenarnya tidak akan tercapai." sahut Martin.
"Jadi Daddy tahu apa tujuan pria itu ?" Alex nampak mengernyit menatap ayahnya tersebut, selama ini Alex tak banyak ikut campur urusan ayahnya itu mengingat ia dan adik-adiknya tinggal di luar negeri.
"Dia menginginkan ladang minyak yang Daddy kelola." sahut Martin seraya melangkah keluar dari kampus putrinya tersebut.
"Apa Daddy akan memberikannya ?" Alex terlihat penasaran dengan keputusan sang ayah.
"Tentu saja tidak, itu bukan milik Daddy. Itu milik tuan Smith dan sesuai amanatnya aku akan memberikannya pada pewarisnya." sahut Martin.
"Tapi bukannya Daddy pernah bilang, jika separuh harta tuan Smith akan menjadi milik Daddy jika William dan Merry menikah ?" Alex mencoba mengingatkan sang ayah perihal sebuah wasiat yang di tinggalkan oleh tuan Smith.
Tuan Smith adalah ayah dari ibunya William, pria itu menjadi sahabat sekaligus ayah angkat Martin sejak Martin kabur dari Indonesia puluhan tahun silam.
Tuan Smith yang waktu itu di tinggalkan oleh putrinya demi menikah dengan pria pilihannya, akhirnya menyerahkan seluruh hartanya pada Martin saat sebelum meninggal.
Tuan Smith juga menjanjikan separuh hartanya akan menjadi milik Martin, jika pria itu berhasil mencari keberadaan cucunya lalu menikahkannya dengan putrinya.
Tapi bagi Martin harta tak penting lagi baginya sekarang, pria itu sudah selesai dengan tujuan hidupnya dan saat ini kebahagiaan anak-anaknya yang lebih utama.
"Aku tidak akan menukar putriku dengan harta, Lex. William mempunyai penyakit mental yang sulit sembuh dan aku tidak akan membahayakan putriku sendiri." tegas Martin.
"Setelah menemukan Merry, aku akan membawanya pulang ke Indonesia. Kita semua akan tinggal dan memulai hidup baru di sana." imbuh Martin lagi.
"Baik, Dad. Perusahaan Daddy yang ku kelola di sana juga mulai berkembang pesat." Alex menceritakan keberhasilannya selama memegang Perusahaan ayahnya di Indonesia.
Martin yang menyadari hidupnya selalu bersinggungan dengan bahaya, maka ia mengirim seluruh anak angkatnya untuk tinggal jauh darinya.
__ADS_1
Bagaimana pun juga Martin telah mempunyai banyak hutang budi pada tuan Smith maka ia harus menjalankan amanat pria itu untuk menjaga hartanya sampai William benar-benar bisa di andalkan.
Sementara itu di tempat lain Arthur nampak membawa Merry ke sebuah Apartemen milik pria itu yang berada di luar kota.
"Kenapa kita kesini, bukankah kau akan membawaku menemui ayahku ?" tanya Merry saat baru masuk ke dalam Apartemen Arthur.
"Untuk sementara waktu kita akan tinggal di sini." sahut Arthur dengan suara tegasnya dan itu baru pertama kali Merry dengar karena biasanya pria itu selalu berkata dengan sopan dan lembut.
"Tapi kenapa ?" Merry nampak tak mengerti.
"Kamu tidak mempunyai paspor maupun visa jadi kita tidak bisa melakukan perjalanan jauh." sahut Arthur.
"Aku punya, aku akan mengambilnya di mansion." terang Merry kemudian, namun itu justru membuat Arthur langsung geram.
"Dan di saat itu William pasti sudah mengurungmu." sinis Arthur mengingat William pasti takkan tinggal diam saat Merry tiba-tiba saja menghilang.
"Lalu bagaimana ?" Merry nampak bingung, bersama dengan Arthur ia menemukan secercah harapan untuk bisa bertemu dengan kedua orangtuanya.
Apalagi Arthur adalah orang kepercayaan ayahnya jadi tidak mungkin pria itu membohonginya.
"Sementara waktu diamlah di sini, aku akan mengurus segalanya." tegas Arthur yang langsung di angguki oleh Merry.
Namun ia akan menjadikan kesempatan ini untuk membuat Martin menyerahkan hartanya, ia tahu Martin sangat menyayangi putrinya dan pasti akan melakukan segala hal untuk gadis itu.
"Aku harus benar-benar membuat rencana matang, karena William dan Martin pasti tidak akan tinggal diam." gumam Arthur sesampainya di dalam kamarnya.
"Seandainya aku tahu William akan seberbahaya ini, mungkin dari dulu aku sudah melenyapkannya."
Arthur mengingat bagaimana dulu Martin memungut William yang tak berdaya dari jalanan lalu memberikan pria itu kehidupan dan bahkan memberikan separuh ladang minyaknya.
Meski Arthur tahu itu memang haknya William tapi ia cukup iri dengan itu, karena dirinya yang bertahun-tahun ikut dengan Martin posisinya tetap menjadi bawahan pria itu.
Sejak saat itu Arthur mulai menghianati Martin dan merencanakan untuk melenyapkan pria itu dan keluarganya.
"Bedebah !!"
Praang
Merry yang baru keluar dari kamarnya langsung terlonjak kaget saat mendengar barang jatuh dari dalam kamar Arthur.
__ADS_1
"Arthur, kau baik-baik saja ?" teriak Merry.
Gadis itu tak lagi memanggil Arthur dengan Artha setelah mengetahui identitas pria itu.
Praaang
Pecahan sebuah benda terdengar lagi dari kamar Arthur dan itu membuat Merry langsung ketakutan, ia tahu Arthur saat ini sedang marah dan entah marah karena apa.
Kemudian Merry segera kembali ke kamarnya lalu mengunci pintunya dari dalam, entah kenapa tiba-tiba ia merasa takut pada Arthur.
Gadis itu terlihat waspada lalu mencari sesuatu di dalam kamarnya untuk ia jadikan sebagai pelindung dirinya.
Di tempat lain, William yang baru pulang ke Mansionnya malam itu nampak sangat berantakan.
Pria itu telah mencari istrinya di setiap sudut kotanya namun sama sekali tak menemukan jejak gadis itu dan kini dengan langkah gontai William naik ke kamarnya.
Mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamarnya berharap istrinya itu ada di sana, senyum manja yang biasanya menyambutnya saat pulang kini tak lagi ia lihat.
"Honey, maafkan aku yang tak bisa menjagamu dengan benar." gumamnya penuh dengan penyesalan.
Kemudian William keluar dari kamarnya lalu melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya.
"Tuan." James terlihat khawatir saat melihat William akan membuka pintu ruang kerjanya, lalu pria itu segera mendatanginya.
"Cari terus istriku, James !!" perintah William seraya melangkah masuk dan di ikuti oleh asistennya itu.
"Baik, tuan. Saya sudah mengerahkan anak buah saya untuk mencari nyonya muda." sahut James.
"Baiklah, tinggalkan aku sendiri !!" perintah William kemudian seraya berjalan menuju rak buku yang ada di sana, mengetuknya beberapa kali hingga rak tersebut bergeser lalu menampakkan sebuah pintu rahasia di sana yang selama ini sukses membuat sang istri penasaran.
"Tuan...." James terlihat keberatan saat sang tuan akan masuk ke dalam sana.
"Saya perintahkan tinggalkan saya, James !!" ulang William dengan nada dingin yang langsung membuat James terpaksa meninggalkan tuannya itu.
Namun pria itu tak sepenuhnya pergi, James nampak menyandarkan tubuhnya di balik pintu setelah keluar dari ruang kerja sang tuan.
.
Yang penasaran dengan masa mudanya Martin dan kenapa ia kabur dari Indonesia, bisa baca di novel MENGGENGGAM RINDU di mulai dari PART 197, di sana menceritakan kisah Martin dan Sera.
__ADS_1