
"Nona, kami terpaksa menutup lagi beberapa butik milik anda karena akhir-akhir ini sangat sepi pengunjung bahkan nyaris tidak ada sama sekali." lapor Sam siang itu yang membuat Elsa semakin frustasi.
Kini hanya tersisa beberapa butik di kotanya dan hampir tak ada pemasukan yang ia dapatkan bahkan untuk membayar beberapa karyawannya pun masih kurang.
"Apa kamu sudah menemukan siapa dalang di balik ini semua, Sam ?" tanya Elsa dengan tak sabar.
Sam langsung menggeleng. "Keberadaannya sangat sulit di lacak Nona dan saya yakin pasti bukan orang sembarangan." timpalnya kemudian.
"Sungguh sangat licik, siapapun itu aku pasti akan membalasnya." Elsa benar-benar tak habis pikir dengan pecundang yang hanya berani bermain di belakangnya.
"Tapi beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan kita sebelumnya kini mereka beralih ke perusahaan X, apa kemungkinan ini semua ada hubungannya dengan perusahaan itu ?" terang Sam dari hasil penyelidikannya.
"Perusahaan X ?" Elsa nampak mengernyit.
"Perusahaan milik nona Carla Hamilton, seorang model yang akhir-akhir ini menjadi seorang designer." terang Sam.
"Kita tidak bisa menuduh sembarangan Sam sebelum mendapatkan bukti yang akurat, tapi siapa pun itu pelakunya aku tidak akan memaafkannya." tegas Elsa.
"Carla Hamilton, siapa wanita itu ?"
Elsa nampak berpikir keras, benarkah wanita itu dalang di balik semua ini?
...----------------...
Malam itu Alex yang sedang berada di sebuah bar nampak menghabiskan beberapa gelas wiskey, sejak hubungannya dengan Elsa berakhir pria itu memang kerap menghabiskan waktunya di sana.
"Wow, aku tidak menyangka rupanya anda seorang peminum handal." ucap seorang wanita hingga membuat Alex langsung menoleh.
"Kau ?" timpalnya saat melihat Carla sudah berdiri tak jauh darinya.
"Apa kamu sendirian? boleh aku duduk ?" ucap Carla kemudian.
"Hm, tentu saja ini tempat umum." sahut Alex tak keberatan.
__ADS_1
"Terima kasih." Carla langsung menghempaskan bobot tubuhnya di sebelah pria itu, kemudian mengangkat tangannya memanggil seorang pelayan untuk memesan minuman.
"Kau minum juga ?" ucap Alex saat melihat Carla memesan minuman yang sama sepertinya.
"Bukankah itu tujuan kita datang kesini ?" timpal Carla seraya mengambil segelas wiskey yang baru saja di hidangkan oleh seorang pelayan, kemudian wanita itu segera menyesapnya dengan penuh perasaan.
Dan itu membuat Alex ingat pada Elsa, wanita penggoda itu juga sangat pandai minum. "Sial !!" umpatnya kemudian karena bayangan wanita itu selalu hadir setiap saat di pikirannya.
"Kamu mengatakan sesuatu ?" tanya Carla saat tak sengaja mendengar pria itu nampak mengumpat.
"Tidak ada, lupakan." sahut Alex lalu kembali meneguk minumannya hingga tandas.
"Di hianati oleh orang yang kita cintai itu memang sangat berat tuan Alex, tapi bagaimana pun hidup terus berjalan dan aku yakin suatu saat kamu akan kembali menemukan seorang wanita yang benar-benar menyukaimu dengan segenap hatinya." tukas Carla memberikan semangat mengingat pria itu baru saja bercerai.
Namun Alex sepertinya enggan untuk menanggapi, pria itu terus saja meneguk minumannya sampai suasana hatinya membaik.
"Kau mau berdansa, kadang menari juga bisa membuat pikiran lebih baik." tawar Carla saat mendengar alunan musik yang mulai melambat, beberapa pasangan pun mulai terlihat turun ke lantai dan mulai berdansa.
"Tidak, terima kasih. Sepertinya aku harus pergi." tolaknya kemudian, lalu segera beranjak dari duduknya.
"Tapi....." Carla langsung menggantung ucapannya saat Alex tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkannya hingga membuat wanita itu nampak kesal, rupanya Alex pria yang berbeda dan ia semakin menyukainya.
"Cepat atau lambat kau akan menjadi milikku, tuan Alex." Carla nampak tersenyum miring, ia yakin pria itu takkan bisa terus-menerus menolak pesonanya. Ia cantik dan sukses, semua pria pasti menginginkannya.
Sesampainya di rumahnya Alex segera masuk ke dalam kamarnya, kamar di mana ia pernah menghabiskan waktunya bertahun-tahun dengan Celine namun justru percintaannya yang singkat dengan Elsa di sana selalu saja membayangi pikirannya.
Bagaimana wanita itu menggodanya dan mendesah nikmat saat berada di bawah tubuhnya. Sial, Alex benar-benar merindukan wanita itu saat ini hingga membuatnya langsung mengambil ponselnya lalu melihat beberapa video panas milik wanita itu yang masih tersimpan rapi di galeri ponselnya.
Tanpa sadar pria itu nampak memegang keperkasaannya sendiri lalu memainkannya, seakan jika yang menyentuhnya adalah tangan lembut Elsa. hingga membuatnya nampak beberapa kali mendesah.
Wanita itu benar-benar sudah mencuci otaknya hingga hanya ada dia seorang, seharusnya Alex membawa wanita lain ke ranjangnya untuk memuaskan hasratnya atau bermain bersama Carla yang terang-terangan menggodanya namun justru pria itu lebih memilih bermain dengan bayangan wanita masa lalunya tersebut.
"Sial, aku akan membuatmu mengemis padaku j4l4ng." umpatnya saat cairan putih dan kental miliknya telah membasahi tepi ranjangnya.
__ADS_1
Elsa benar-benar membuat Alex gila dan pria itu takkan melepaskan wanita itu begitu saja.
Setelah itu Alex segera membersihkan dirinya, mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar meredakan efek minuman yang membuatnya selalu hilang akal.
"Apa ada informasi lagi ?" ucapnya saat menghubungi asistennya tersebut, kini pria itu nampak duduk di atas sofa dengan kimono mandi membungkus tubuh kekarnya.
"Saya sudah membuat semua butik wanita itu tutup tuan hingga menyisakan beberapa butik di kotanya dan beberapa hari ke depan saya yakin beliau akan mengalami kebangkrutan." lapor sang asisten yang langsung membuat Alex tersenyum menyeringai.
"Bagus, buat wanita itu tak mempunyai apa-apa lagi !!" perintahnya kemudian.
"Baik tuan, seperti keinginan anda."
Alex terlihat sangat puas dengan kinerja asistennya tersebut, ia sudah tak sabar melihat kehancuran Elsa dan membuat wanita itu mengemis padanya.
"Persiapkan perjalananku ke Jerman, aku ingin memastikan wanita itu benar-benar hancur !!" perintah Alex kemudian.
Sementara itu di tempat lain Elsa terlihat begitu frustasi, bagaimana bisa usaha yang ia bangun selama bertahun-tahun kini di ambang kehancuran hanya dalam waktu yang singkat.
Apa ini karma atas perbuatannya karena telah melakukan balas dendam? tidak, Elsa tak mempercayai hal itu bukankah perbuatan jahat juga harus di balas.
Waktu sudah menjelang dini hari namun wanita itu masih berkutat di ruang kerjanya, ia harus mencari cara untuk mempertahankan beberapa usahanya yang tersisa saat ini.
Wanita itu nampak menyandarkan kepalanya di sandaran kursinya, memejamkan matanya sejenak untuk mengistirahatkan pikirannya yang terlalu lelah.
Tiba-tiba sosok pria datang dalam pikirannya, pria dengan tubuh kekar dan senyum yang manis itu nampak membelai rambutnya hingga membuatnya merasa lebih baik.
"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu." gumamnya, lalu Elsa langsung membuka matanya.
"Sial, ada apa denganku ?" gumamnya saat tanpa sadar ia menginginkan sosok Alex berada di sisihnya saat ini.
Jujur ia merindukan pria itu, merindukan senyumnya saat sedang menatapnya. Merindukan sentuhannya dan juga pelukannya yang sering membuatkannya lupa jika ia hanyalah menjadikan pria itu sebagai pion balas dendamnya.
"Tidak, aku tidak mungkin menyukainya. Dia hanya sosok masa lalu yang harus ku lupakan." gumamnya saat menyadari jantungnya selalu berdetak kencang saat memikirkan pria itu.
__ADS_1