
Malam itu untuk ketiga kalinya Anne dan James menghabiskan waktunya sebagai pasangan suami istri, nampak beberapa pakaian berserakan di atas lantai dan juga sofa kamarnya.
Suhu dingin di kamar tersebut seperti tak terasa bagi Anne ketika seluruh tubuhnya terasa panas dan berkeringat akibat ulah sang suami.
Pria itu belum juga memasukinya namun tenaganya seperti terkuras habis akibat puncak kenikmatan yang baru ia dapatkan. Suaminya itu pandai sekali membuatnya melayang meski hanya dengan sentuhannya saja, pria itu sengaja membuatnya tak berdaya lebih dulu agar selanjutnya tak mampu melawannya lagi.
Napas Anne nampak terengah-engah dan tubuhnya bergetar hebat ketika mendapatkan pelepasannya, belum sempat menormalkan detak jantungnya tiba-tiba rasa ngilu kembali melandanya saat pria itu tanpa rasa jijik menghabiskan cairannya di bawah sana.
"Sudah stop tuan James." Anne nampak menjauhkan kepala suaminya, ketika pria itu enggan beralih dari inti tubuhnya.
"Kau menyukainya ?" ucap James seraya menatap istrinya itu, suaranya mulai berat dan wajahnya memerah seiring gairah yang semakin melandanya.
Anne memalingkan wajahnya, rasanya malu sekali untuk mengakui jika sentuhan pria itu sempat membuatnya melayang bahkan rasanya masih tertinggal hingga kini.
"Itu hanya permulaan, karena setelah ini kau akan merasakan hidangan yang sesungguhnya." ucap James seraya melepaskan sisa kain yang menutupi keperkasaannya.
"Tidak, ku mohon jangan lakukan." Anne rasanya sangat lelah sekali untuk melawan, namun saat melirik sejenak milik pria itu yang panjang dan berurat membuatnya langsung menelan ludah.
Baru kali ini Anne memperhatikannya dan itu tak luput dari pengawasan pria itu yang terlihat menyeringai menatapnya. "Rupanya kau sudah tak sabar untuk lebih mengenalnya." ucap James seraya menggesek-gesekkan miliknya pada liang basah milik wanita itu.
Anne langsung menggeleng cepat. "Kita tidak saling mencintai tuan James, tolong jangan lakukan itu lagi." mohonnya berkeras untuk menolak, namun tidak dengan tubuhnya karena kini ia merasakan miliknya mulai lembab kembali.
James tersenyum miring. "Setidaknya tubuhmu tidak pernah menolakku." ucapnya seraya memasukkan miliknya dengan sekali hentakkan dan itu membuat Anne langsung meringis kesakitan namun juga nikmat, karena miliknya memang sudah sangat siap untuk di masuki pria itu.
Wajah James semakin memerah saat merasakan miliknya di jepit oleh milik wanita itu, sangat sempit hingga membuatnya ingin mengumpat karena saking nikmatnya.
"Kamu gila, kita tidak saling mencintai kenapa kamu selalu melakukannya." Anne menatap kesal suaminya itu lalu memalingkan wajahnya ketika pria itu dengan perlahan mulai menggerakkan pinggulnya.
"Ya aku tergila-gila dengan tubuhmu tak peduli kamu menyukainya atau tidak."
James bermonolog dalam hati, karena ia tak mungkin mengatakannya langsung. Harga dirinya terlalu tinggi untuk hal itu, namun ia rela menukar seluruh dunianya hanya untuk sebuah rasa yang wanita itu berikan.
"Seorang pria tidak membutuhkan cinta untuk melakukannya." ucapnya pada akhirnya yang tentu saja membuat Anne merasa sakit hati, karena ia benar-benar di jadikan budak nafsu oleh suaminya sendiri.
James tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap wanita itu, awalnya ia melakukannya hanya untuk membalas dendam atas penghianatan Grace. Namun rasa yang wanita itu berikan membuatnya candu, ia menyukai saat darahnya berdesir karena memasukinya.
Tidak, ini bukan hanya tentang sebuah nafsu semata. James melakukannya dengan perasaan, karena setiap pria itu menatap mata sang istri hatinya selalu bergetar. Ia menyayanginya dan ia tidak ingin kehilangannya, apa ini sebuah rasa cinta?
__ADS_1
James kembali m3lum4t bibir wanita itu dengan rakus seiring dengan hentakkannya yang sedikit lebih cepat hingga sebuah d3s4h4n panjang keluar dari bibirnya yang menandakan pria itu telah sampai pada puncaknya.
Lagi-lagi pria itu menumpahkan seluruh cairan percintaannya di rahim wanita itu, kemudian ambruk di atas tubuhnya dengan napas terengah-engah.
Sementara Anne hanya bisa menitikkan air matanya, sampai kapan ia akan seperti ini. Menjadi pelampiasan nafsu pria itu.
Keesokan harinya.....
Pagi itu James terlihat rapi dengan setelan kerjanya, wajahnya nampak segar dan berseri-seri setelah semalam bisa memasuki istrinya itu kembali. Tidak hanya sekali, namun ia melakukannya hingga puas dan lelah.
"Aku terlambat bekerja." ucap Anne yang membuat James yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin langsung berbalik, pria itu menatap jam di pergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul 6 pagi.
"Lebih baik kamu beristirahat saja." ucapnya saat melihat istrinya itu duduk di ranjangnya dengan wajah mengantuk, tangannya menahan selimut di dadanya untuk menutupi tubuh polosnya.
Melihat itu James rasanya enggan sekali untuk pergi dan ia ingin kembali bergelung dengan wanita itu sepanjang hari, namun pagi ini ia ada meeting penting dan juga harus melihat Grace di rumah sakit.
"Aku banyak pekerjaan di kantor." sahut Anne seraya berusaha untuk turun dari ranjangnya.
"Jika aku bilang istirahat, maka beristirahatlah. Perusahaan tidak akan bangkrut hanya karena kamu tidak masuk kerja." tegas James seraya mencegah wanita itu untuk turun dari ranjangnya.
"Masalah ?" James menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.
"Tidak, lupakan. Baiklah aku tidak bekerja hari ini tapi biarkan aku pindah ke kamarku saja." mohon Anne kemudian.
"Mulai hari ini, kamu tidur di sini dan barang-barangmu semua sudah bik Ester pindah ke sini." tegas James yang tentu saja langsung membuat Anne melotot.
"Ba-bagaimana bisa, aku tidak mau. Aku ingin tidur di kamarku sendiri." tolak Anne seraya turun dari ranjangnya.
"Tidur saja di sana jika kamu mau tidur dengan para tikus, karena kamarmu sudah menjadi gudang tempat menyimpan barang-barang yang tidak di gunakan." James tersenyum miring menatap istrinya itu.
"Kamu benar-benar keterlaluan." Anne kembali duduk di pinggir ranjang, rasanya kesal sekali menghadapi sikap sesuka hati pria itu.
James mengulurkan tangannya untuk memegang dagu wanita itu lalu mengarahkan wajahnya padanya. "Aku yakin kamu juga menginginkan tidur di sini bukan? jika tidak, tidak mungkin semalam kamu menyelinap seperti seorang maling." ucapnya, lalu mengecup sejenak dahi wanita itu.
"Baiklah, aku harus segera berangkat karena ada meeting pagi ini." imbuhnya seraya berlalu menjauh, mengambil tas kerjanya dan segera keluar dari kamarnya tersebut.
Anne yang di tinggal begitu saja, terlihat sangat kesal. Apa mulai hari ini ia akan benar-benar menjadi budak nafsu pria itu?
__ADS_1
"Sayang, kamu layani tuan James dengan baikkan? ingat nasib kami ada di tangan pria itu, jika tidak maka rumah kita akan melayang dan kami akan berakhir di jalanan."
Anne nampak memijit kepalanya yang tiba-tiba nyeri saat membaca pesan yang di kirim oleh ibu tirinya itu, ada masalah apalagi?
"Aku tidak mengerti maksudmu ?" balas Anne kemudian.
"Mama kalah judi dan terpaksa meminjam uang suamimu dengan jaminan rumah kita. Ingat pokoknya kamu harus patuh dengan suamimu itu."
Anne nampak meradang setelah membaca pesan balasan dari ibu tirinya itu.
"Benar-benar keterlaluan." ucapnya dengan kesal.
"Berapa yang mama pinjam ?" balasnya kemudian.
Ia mempunyai 100 juta di tabungannya semoga saja cukup untuk menggantinya, karena ia tidak ingin terus terikat dengan pria itu.
"2 milyar."
"Apa ?" Anne langsung menelan ludahnya saat melihat nominal yang tertera di layar ponselnya, kemudian ia segera membuat panggilan.
"Mama benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa mama lakukan itu semua padaku ?" protesnya setelah panggilan teleponnya di angkat oleh sang ibu.
"Dasar anak tak mengerti sopan santun apa seperti itu balasanmu untuk orang yang telah membesarkanmu? lagipula uang segitu tak seberapa buat suamimu itu. Jadi tidak usah perhitungan pada kami, kamu cukup menjadi istri yang penurut agar papamu tidak tinggal di jalanan." ucap sang ibu tiri lalu menutup panggilannya secara sepihak.
Anne yang frustasi nampak menenggelamkan wajahnya di kasurnya, menangis sejadi-jadinya memikirkan nasibnya yang malang.
Setelah merasa lebih baik, wanita itu segera membersihkan dirinya. Ia harus pergi bekerja, mulai hari ini waktu baginya adalah uang. Ia harus bekerja lebih keras lagi untuk membayar semua hutang keluarganya itu.
"Bu, anda baik-baik saja sepertinya sangat lelah ?" tanya Andrew saat managernya itu baru datang.
"Hm, aku baik-baik saja." dusta Anne seraya melangkah masuk ke dalam ruangannya, tubuhnya memang sangat lelah setelah percintaannya semalam. Suaminya itu benar-benar memiliki gairah yang luar biasa hingga membuatnya kewalahan menghadapi.
Ehmm
"Kau pikir ini perusahaan nenek moyangmu hingga bisa datang sesuka hatimu ?" ucap nyonya Darrien tiba-tiba hingga membuat Anne urung masuk, lalu segera berbalik badan menatap wanita dewasa tak jauh darinya itu.
Nyonya Darrien yang memang terkenal sangat killer itu nampak menatapnya dengan angkuh seakan siap menelannya hidup-hidup.
__ADS_1