JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 99 "Apakah ibu Mira belum mendapatkan gaji terakhir dan santunan dari kami?"


__ADS_3

"Nyonya besar, bolehkah saya menemui bu Mira disudut sana?" Kata Yurina pada nyonya Agatsa yang baru menyelesaikan makan siangnya.


Nyonya Agatsa melihat kearah sudut ruangan seperti yang ditunjukan Yurina.


"Pergilah...." Sahut nyonya Agatsa mengijinkan.


Yurina bangkit dengan hati - hati dan menuju sudut ruangan.


"Selamat siang ibu Mira...." Sapa Yurina saat sudah berada didekat bu Mira dan putranya.


"Ehhh.... nyonya muda.... Selamat siang...." Buru - buru bu Mira berdiri dari duduknya sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat diikuti putranya.


"Duduklah bu Mira, tidak perlu seperti itu. Lanjutkan makan ibu dan juga Raffi." Kata Yurina.


"Kami sudah selesai nyonya..." Kata ibu Mira.


"Tambah lagi bu Mira, Raffi..." Tawar Yurina.


"Kami sudah kenyang nyonya muda..." Sahut ibu Mira sambil mengelus perutnya.


"Bu Mira...." Kata Yurina menatap kearah ibu Mira yang terlihat sungkan duduk semeja dengannya.


"Iya, ada apa nyonya muda...? Sahut ibu Mira.


"Saya mohon maaf tidak bisa hadir dipemakaman pak Kasan bu..." Kata Yurina dengan sedikit sedih terpancar diwajahnya.


"Ohhh... Tidak apa - apa nyonya muda. Ada nyonya besar yang turut hadir, asisten Rudi dan teman - teman kerja mendiang suami saya yang bekerja dirumah besar ini juga hadir nyonya besar." Jelas bu Mira.


"Bagaimana keadaan ibu dan juga Raffi?" Tanya Yurina lagi.


"Saya, dan juga Rafii anak saya, kami berdua baik - baik saja nyonya muda. Hanya saja... " Ibu Mira.


"Hanya saja apa buu....?" Tanya Yurina sambil memperhatikan wajah ibu Mira yang nampak gelisah.


"Itu nyonya....." Ibu Mira nampak semakin ragu.

__ADS_1


"Katakan saja bu Mira, tidak usah sungkan, mungkin saja saya bisa membantu." bujuk Yurina.


"Besok saya dipanggil kekantor polisi, berkaitan dengan musibah kecelakaan yang menimpa mendiang suami saya nyonya muda. Saya takut. Saya orang yang tidak berpendidikan, Sekolah Dasar saja saya tidak lulus. Nanti kalau ditanya - tanya pak Polisi bagaimana? Saya takut tidak mengerti apa yang akan ditanya, terus mau jawab apa juga saya tidak mengerti nyonya muda." Jelasnya jujur.


Yurina memandang ibu Mira dengan perasaan kasihan pada wanita itu.


"Bu Mira tidak perlu takut. Pak Polisi hanya akan bertanya mengenai mendiang pak Kasan saja. Apa yang ibu Mira tahu, katakan saja. Bila tidak tahu, katakan juga tidak tahu." Kata Yurina.


"Mendengar saya dipanggil polisi saja, saya sudah takut nyonya, apalagi sampai harus berbicara." Ibu Mira masih terlihat khawatir.


Yurina terdiam sejenak mendengar perkataan ibu Mira. Wanita itu memang terlihat sangat khawatir.


"Begini saja ibu Mira, besok saya akan minta asiaten Rudi untuk menemani ibu Mira kekantor polisi. karena asisten Rudi yang sering dimintai keterangan oleh pihak kantor kepolisian berkaitan dengan musibah kecelakaan suami saya bersama suami ibu Mira." Kata Yurina memberi jalan keluar.


"Terima kasih nyonya. Tapi saya tidak punya ongkos taksi berangkat ke kantor polisi. Saya hanya punya uang ini" Kata ibu Mira membuka dompet dan memperlihatkan satu lembar lima puluh ribu. Yurina terperangah.


"Apakah ibu Mira belum mendapatkan gaji terakhir dan santunan dari kami?" Tanya Yurina hati - hati.


"Sudah nyonya. Tapi itu dikasih lewat bank, uang ini hanya sisa uang belanja yang suami saya beri sebelum musibah kecelakaan itu.


"Iya nyonya muda, ada apa memanggil saya?" Kata bibi Nur sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


"Gaji terakhir dan santunan mendiang pak Kasan apakah sudah diberikan pada ibu Mira bibi?" Tanya Yurina pada bibi Nani.


"Sudah saya transfer ke nomor rekening sebelum pemakaman pak Kasan nyonya muda. Dan saya juga telah memberitahu ibu Mira." Jelas bibi Nani.


"Sudah ditransfer ibu Mira. Ibu sudah bisa menggunakannya sesuai kebutuhan ibu Mira dan Raffi." Kata Yurina memperjelas.


"Tapi saya tidak mengerti cara mengambilnya nyonya muda, suami saya biasanya mengambilnya dengan menggunakan alat ini, lalu memberikan uangnya pada saya." Kata ibu Mira menunjukan benda pipih yang ia keluarkan dari dompetnya.


"Jadi, apakah pak Kasan selama ini tidak pernah mengajari ibu bagaimana cara menggunakannya?" Tanya Yurina sambil memegang kartu ATM yang diberikan ibu Mira.


"Pernah nyonya muda. Tapi karena saya agak bingung, jadi salah tekan, akhirnya kartunya tertelan waktu itu. Sejak itu saya tidak mau lagi mencoba, jadi bila perlu apa - apa, suami saya yang mengambilnya menggunakan kartu ini, dan saya hanya tinggal menerima uangnya saja." Jelas ibu Mira.


"Begini saja, nanti tolong bibi Nani mengajari ibu Mira lagi. Didekat pos jaga security ada ATM." Kata Yurina.

__ADS_1


"Bagaimana kalau anak saya Raffi saja nyonya muda, apakah boleh?" Tanya bu Mira.


"Raffi juga boleh belajar, nanti catat dikertas supaya tidak lupa caranya ya..." Ujar Yurina.


"Iya nyonya muda." Sahut Raffi sambil mengangguk saat namanya disebut.


"Permisi nyonya muda, anda dipanggil nyonya besar." Kata bibi Salu yang sudah berdiri didekat mereka sambil membungkuk hormat.


"Iya bibi, saya akan segera kesana." Sahut Yurina.


Setelah mendengar perkataan Yurina, bibi Salu kembali menuju kearah nyonya Agatsa.


"Ibu Mira... Raffi... bibi Nani... Saya permisi dulu ya... nyonya besar memanggil saya. Nanti tolong bibi Nani mengajari ibu Mira dan juga Raffi." Kata Yurina pamit.


"Iya nyonya muda" Sahut bibi Nani.


"Terima kasih banyak nyonya muda." Ucap ibu Mira.


Bibi Nani, ibu Mira dan Raffi segera berdiri sambil membungkuk hormat saat Yurina pergi.


Yurina membungkuk hormat, saat sudah berada dimeja, dimana sebelumnya ia dan nyonya Agatsa makan siang bersama.


"Duduklah...." Nyonya Agatsa mempersilahkan Yurina duduk disebelahnya.


"Katakanlah apa yang menjadi tujuanmu kemari asisten Rudi." Kata nyonya Agatsa pada asisten Rudi yang duduk berseberangan dengan mereka.


"Dikantor, setelah tuan Moranno tidak turun bekerja karena sakit, ada banyak masalah yang terjadi, beberapa pekerjaan dilapangan juga tidak beres nyonya besar." Kata Asisten Rudi memulai pembicaraannya.


"Saya tidak mampu menghadapi seorang diri nyonya besar. Saya tidak berhak memutuskan apa - apa, sebab saya hanya seorang asisten saja."


"Hari ini saja, saya sudah didesak para pemegang saham dan dewan direksi untuk membuat rapat penting. Mereka semua merasa khawatir akan kelangsungan Agatsa Properti Grup. Itu sebabnya saya terpaksa kemari untuk menyampaikan semuanya ini nyonya besar."


"Besok, ada panggilan dari kantor kepolisian, sepertinya saya tidak bisa hadir. Karena pembangunan rumah sakit mengalami kendala. Ada retakkan pada dinding yang baru terpasang dua puluh hari. Jadi saya harus kesana memeriksanya nyonya besar." Asisten Rudi menyelesaikan laporannya. Terlihat wajahnya begitu kusut sepeninggal Moranno.


Nyonya Agatsa tidak langsung menanggapi. Ia terlihat sedang berpikir.

__ADS_1


Sementara asisten Rudi terlihat gelisah, ia membuka ponsel pintarnya membuka beberapa e-mail yang masuk.


__ADS_2