JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 91 "Apa dokter Rosalie sudah gila."


__ADS_3

"Sakit sekali dok." Keluh Yurina diranjang pasiennya.


"Sabar ya nyonya muda. Tarik napas anda, lalu keluarkan lewat mulut perlahan - lahan. Lakukan demikian setiap kali anda merasakan sakit pada perut anda nyonya muda." Kata dokter Rosalie memberi pengarahan. Sambil memeriksa kandungan Yurina.


"Apa....kah masih lama dok..... mereka keluarnya?" Suara Yurina tersendat - sendat karena menahan rasa sakit.


"Perkiraanya masih empat puluh menit lagi dari sekarang." Kata dokter Rosalie yang baru menyelesaikan pemeriksaannya. Ia memberi senyuman pada Yurina, supaya pasiennya itu tidak merasa tegang.


"Dokter.... dimana..... suamiku?" Tanya Yurina masih berusaha menahan rasa sakitnya.


"Tuan Moranno telah dibawa keruang perawatan khusus keluarga Agatsa dimana nyonya muda menginap semalam." Jelasnya


"Boleh....kah aku melahir.....kan disana.... saja dok....."


"Nyonya muda, anda boleh kesana bila anda telah melahirkan, nanti suster juga akan mengantarkan anda kesana. Jadi anda akan melahirkan disini saja khusus ruang tempat bersalin."


"Dokter, saya mohon....., kabulkanlah permintaan ....saya ini. Saya mau.... melahirkan.... disisi suami..... saya." Suara Yurina masih tersendat - sendat menahan sakit diowrut ya akibat kontraksi.


"Tapi tuan Moranno sedang dalam keadaan koma nyonya muda, tuan tidak mungkin bisa melihat anda." Jelas dokter Rosalie lagi.


"Saya tahu....dok. Tapi dengan bersamanya saya yakin saya.... bisa melahirkan dengan lancar...." Yurina berusaha meyakinkan dokter Rosalie.


Dokter Rosalie terdiam sejenak, seolah sedang memikirkan apa yang harus ia lakukan dengan permintaan Yurina.


"Nyonya muda, apakah anda yakin saat melihat keadaan tuan Moranno anda akan merasa lebih baik. Karena kondisi saat ini.... ada banyak bantuan alat kesehatan pada tubuh tuan Moranno."


"Saya khawatir situasi hati nyonya muda nantinya malah menjadi buruk setelah melihat keadaan tuan Moranno yang sebenarnya. Ingat nyonya muda, anda sekarang sedang mempersiapkan diri anda untuk melahirkan dua bayi kembar." Dokter Rosalie berusaha memberi nasehatnya


"Saya yakin tuan Moranno tidak mengijinkan hal buruk terjadi pada anda dan bayi kembar yang akan anda lahirkan. Ini akan menjadi tanggung jawab saya nyonya muda. Saya mohon, pikirkanlah baik - baik apa yang anda minta ini nyonya muda." Jelas dokter Rosalie sambil memperhatikan raut wajah Yurina.


Yurina berpikir sejenak setelah mendengar perkataan dokter Rosalie. Perutnya yang sebelumnya terasa sangat sakit kini mulai mereda kembali.


"Dokter Rosalie.... Terima kasih atas penyampaian kemungkinan - kemungkinan yang bisa saja terjadi. Saya percaya semua yang dokter katakan itu adalah untuk kebaikan saya juga bayi - bayi dalam kandungan ini." Kata Yurina sambil mengusap perut besarnya.

__ADS_1


"Tapi saya tetap yakin dok. Saat saya melihat suami saya dan berada dekat dengannya, saya... juga bayi - bayi saya akan baik - baik saja." Ucap Yurina lagi.


"Benar, anda yakin nyonya muda. Saya ini dokter kandungan anda, saya tidak mau salah mengambil keputusan." Tegas dokter Rosalie.


"Iya, saya benar - benar yakin dok." Ucap Yurina mantap.


"Baiklah, apa yang anda inginkan akan saya penuhi nyonya muda." Akhirnya dokter Rosalie meluluskan permintaan Yurina, pasiennya itu.


"Terima kasih banyak dokter Rosalie, anda...... sungguh sangat baik." Ujar Yurina dengan menyunggingkan senyumnya. Ia membayangkan betapa bahagianya dirinya bisa bertemu dan ditemani Moranno, walau suaminya itu belum sadarkan diri.


"Sama - sama nyonya muda, sebagai dokter saya berusaha semaksimal mungkin membuat anda merasa nyaman dan aman saat melahirkan."


"Suster, waktu persalinan tinggal menunggu kurang lebih tiga puluh menit lagi. Tolong bawa nyonya muda keruang perawatan khusus keluarga Agatsa. Nyonya muda akan melahirkan disana. Persiapkan juga semua peralatan yang dibutuhkan untuk persalinan disana." Perintah dokter Rosalie.


"Baik dok Segera akan kami persiapkan." Para suster segera melakukan apa yang diperintahkan dokter Rosalie pada mereka.


Dua suster bergegas membawa Yurina dengan kereta pasien. Sementara suster lainnya sudah lebih dulu mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan untuk persalinan Yurina.


Tuan dan nyonya Morgan, juga Harry masih setia menemani nyonya Agatsa. Mereka duduk ditaman mini depan ruang perawatan keluarga Agatsa sambil mendengarkan asisten Rudi sedang menceritakan tentang kejadian kecelakaan yang menimpa Moranno.


Nyonya Morgan mendekati dua suster yang sedang melintas didepan mereka.


"Suster, nyonya muda mau dibawa kemana?" Tanya nyonya Morgan saat melihat para suster mendorong Yurina diatas kereta pasien.


"Dokter Rosalie memerintahkan kami membawa nyonya muda kedalam, sebentar lagi waktunya nyonya muda akan bersalin." Jelas salah satu perawat itu.


"Apa dokter Rosalie sudah gila. Putraku masih koma didalam. Bagaimana dia memerintahkan kalian membawa wanita ini kemari, dan mengijinkannya melahirkan disini." sergah nyonya Agatsa yang sudah berdiri didekat nyonya Morgan.


"Maafkan kami nyonya besar, kami hanya melakukan tugas." Kata kedua suster itu sambil membungkuk hormat.


"Dimana dokter Rosalie sekarang?" Tanya nyonya Agatsa pada dua suster itu.


"Sebentar lagi akan menuju kemari nyonya besar." Sahut seorang suster yang berdiri lebih dekat dengan nyonya Agatsa.

__ADS_1


"Kalau begitu, jangan dibawa masuk dulu." Perintah nyonya Agatsa.


"Tapi nyonya besar...." ujar salah satu suster itu tampak bingung.


"Turuti saja perintahku, aku pemilik rumah sakit ini. Kau mengerti !"


"Tapi nyonya besar, nyonya muda sudah mulai kesakitan lagi." Kata perawat itu lagi.


Yurina mulai terlihat gelisah, tubuhnya bergerak - gerak menahan rasa sakitnya, namun tidak satupun suara rintihan ataupun keluhan keluar dari mulutnya.


"Nyonya besar, ijinkanlah para perawat ini membawa menantu anda masuk, lihatlah... wajahnya terlihat pucat menahan rasa sakitnya." Nyonya Agatsa berusaha membujuk. Ia merasa sangat iba saat pada Yurina yang diperlakukan senaknya saja oleh mertuanya.


"Tidak aku ijinkan. Putraku sedang dalam perawatan didalam, aku tidak mau wanita ini mengganggunya nanti. Bukankah wanita yang melahirkan akan berteriak - berteriak tidak terkendali hingga bayinya lahir. Masih banyak ruangan lain bukan dirumah sakit ini? Kenapa harus diruangan dimana putraku berada." Ucapnya tetap bersikeras.


"Dokter Rosalie pasti punya alasan tersendiri nyonya besar, bila ia berani memutuskan ini. Kita juga pernah merasakan apa yang dirasakan Yurina menantu anda nyonya besar." Sanggah nyonya Morgan.


"Apapun alasannya, aku tetap tidak mengijinkan wanita ini dibawa kedalam untuk bersalin. Cepat, bawa wanita itu kembali dari mana ia dibawa." Perintah nyonya Agatsa pada dua suster itu.


"Bawa saja nyonya muda masuk sekarang suster." Kata dokter Rosalie yang tiba - tiba muncul didekat mereka. Sementara bibi Nur dan dua suster lainnya mengikutinya dari belakang.


Kedua suster itu nampak kebingungan harus mengikuti perintah siapa.


"Apa maksudmu dokter Rosalie, kau menentang perintahku. Disini aku adalah pemilik rumah sakit ini. Dan putraku sedang koma didalam sana. Apa kau sengaja membuat kericuhan ini?" Ujar nyonya Agatsa nampak geram namun tetap berusaha menenangkan dirinya.


"Maafkan saya nyonya besar. Saya tidak memiliki maksud membuat kericuhan seperti yang anda tuduhkan. Saya hanya berusaha melakukan tugas saya dengan baik sebagai seorang dokter." Sahut dokter Rosalie datar.


"Salah satu tugasmu sebagai dokter dirumah sakit ini adalah menuruti perintahku sebagai pemilik rumah sakit ini." Ujar nyonya Agatsa semakin geram.


"Anda benar nyonya besar. Tapi tugas utama saya adalah melayani pasien saya dengan baik. Suster, cepat bawa masuk nyonya muda, sebentar lagi kita akan melakukan tindakan." Perintah dokter Rosalie.


Kedua suster itu segera masuk, saat kedua pengawal yang berjaga didepan pintu membukakan pintu.


"Dokter Rosalie... berani - beraninya kau menentangku didepan para sahabat, kenalan, dan bawahanku. Aku akan membuat perhitungan denganmu." Nyonya Agatsa terlihat sangat marah, wajahnya memerah. Namun sekuat tenaga ia berusaha menguasai dirinya.

__ADS_1


"Maafkanlah sikap saya nyonya besar. Saya permisi dulu, pasien saya sedang memerlukan kehadiran saya sekarang juga." Selesai berbicara, dokter Rosalie masuk keruangan rawat khusus keluarga Agatsa, dan menutup pintunya dengan rapat.


__ADS_2