
Maragreth turun dari mobil berbalut gaun pengantin putih menjuntai dibantu oleh Moranno, Yurina, juga ibunya.
Margareth berdiri disana, dihalaman gereja yang cukup luas itu, menatap bangunan gereja bercat putih yang menjulang megah berdiri dihadapannya. Ia menarik napasnya yang tersasa begitu berat. Apakah didalam sana ia akan bertemu dengan mempelai prianya? Ataukah setelah ini, dirinya akan pulang dengan kepala yang tertunduk. Waktulah yang akan menjawab semua yang masih menjadi tanda tanya besar didalam hatinya.
"Margareth...... Apakah kau sudah siap?" Tanya Moranno menatap wajah adiknya itu.
Margareth mengangguk pasti, lidahnya terasa kelu untuk berucap.
Moranno menekukkan tangan kanannya untuk digandeng oleh adiknya itu. Moranno mengusap tangan Margareth yang terasa begitu dingin saat menyentuh kulit tangannya.
"Tenanglah..... semuanya akan baik - baik saja." Ucap Moranno mengulas senyum yang menguatkan hati adiknya itu.
"Terima kasih kakak....." Ucap Margareth dengan memaksakan senyum diujung bibirnya. Detik - detik itu, sangat sulit bagi Margareth untuk bisa tersenyum.
Moranno mulai melangkahkan kakinya pelan, mengimbangi Margareth yang ia dampingi menuju anak tangga gereja didepan mereka.
Yurina dan nyonya Agatsa mengikuti langkah Margareth dan Moranno dari belakang mereka.
Syair lagu Beutiful In White yang dilantunkan suara Shane Filan, mengalun lembut dari dalam bangunan gereja, saat kaki Margareth dan Moranno menapaki anak tangga pertama gereja itu.
Not sure if you know this
But when we first met
I got so nervous I couldn't speak
In that very moment
I found the one and
My life had found it's missing piece
So as long as I live I love you
Will heve and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'till my very last breath
__ADS_1
This day l"ll cherish
You lokk so beautiful in white
Tonight
Alunan lembut itu mengingatkan Moranno pada pernikahan dirinya dengan Yurina isterinya saat di villa miliknya. Ia turut hanyut dalam sayir lagu itu.
Langkah demi langkah Moranno dan Margareth menaiki anak - anak tangga akhirnya tiba di depan pintu gereja yang terbuka lebar.
Margareth dan Moranno menyapu pandangannya dengan mengulas senyum memandang kearah
semua jemaat yang hadir, dan berdiri tegak disisi kursinya masing - masing menatap kearah pintu menyambut mempelai wanita dan keluarganya yang datang.
Tubuh Margareth mendadak menjadi lemas ditempat ia berdiri saat matanya tidak sengaja beradu pandang dengan sepasang mata pria yang berdiri tegap didepan altar bersama bapak pendeta berambut putih. Pria itu mengenakan jas putih senada dengan gaun pengantin yang Margareth kenakan.
"Apakah kau baik - baik saja Margareth?" Tanya Moranno yang dengan sigap menahan tubuh Margareth yang hampir saja melorot kelantai.
"Aku..... aku tidak baik - baik saja kakak....."Suara Margareth sedikit berbisik. Jantungnya tiba - tiba saja berdetak tidak beraturan.
"Apa yang terjadi Margareth, apakah kau sakit?" Moranno nampak khawatir.
"Sepertinya begitu kakak......" Wajah Margareth nampak sedikit memucat. Moranno segera menempelkan punggung tangannya didahi Margareth. Ia mengernyitkan dahinya, karena tidak merasakan kulit adiknya itu memanas. Untungnya, Moranno cepat mengerti, apa yang sedang terjadi pada adiknya itu. Ia sedikit menahan senyumnya.
"Kakak..... bisakah kita kembali pulang.....aku merasa kurang enak badan....." Ucap Margareth lagi, wajahnya masih terlihat sedikit memucat.
Moranno Menatap sejenak kearah seluruh jemaat yang memperhatikan mereka sejak awal, begitu juga dengan pria berjas putih bersama bapak Pendeta yang berdiri di altar, tidak melepaskan sedikitpun tatapannya dari setiap gerak - gerik Moranno dan Margareth.
"Margareth..... kita tidak bisa pulang sekarang. Sebaiknya kau harus bisa menahan apa yang sedang kau rasakan sekarang, yang kau sebut 'kurang enak badan' itu." Ucap Moranno menatap wajah Margareth yang berdiri disisinya.
"Obat 'kurang enak badanmu' itu telah berdiri didepan altar sana dan sedang menunggumu datang." Tambah Moranno sambil menunjuk dengan isyarat wajahnya.
Detak jantung Margareth semakin berdetak tidak beraturan didalam dadanya. Seolah genderang perang yang dibunyikan bertalu - talu.
"Berpeganganlah yang kuat pada lenganku Margareth...." Margareth tidak punya pilihan. Ia hanya bisa menurut mendengar ucapan Moranno. Ia memegang lengan Moranno yang digandengnya dengan erat.
Syair lagu Beautiful In White yang dilantunkan suara Shane Filan masih dilantunkan merdu dan lembut mengiringi langkah pelan dan bersahaja mempelai wanita yang didampingi Moranno kakaknya.
"Tegakkanlah kepalamu Margareth.... Jangan menunduk seperti itu. Semua mata sedang memandangmu. Hari ini kau sedang menjadi pusat perhatian, karena kau adalah mempelai wanita yang sedang ditunggu mempelai pria didepan sana." Bisik Moranno pelan pada adiknya itu.
__ADS_1
Margareth memberanikan diri untuk menegakkan kepalanya menatap lurus kedepan. Perkataan Moranno, kakaknya itu memang benar. Ia dapat melihat dari ekor matanya, semua mata yang hadir didalam gedung bangunan gereja itu, yang duduk memenuhi kursi - kursi, sedang menatap kearahmya.
Begitu juga halnya dengan pria didepan sana, menatap lurus kearahnya tanpa mengalihkan sedetikpun pandangannya. Pria itu, pria yang sudah membuat hatinya merana sepanjang kurang dari empat minggu belakangan ini. Pria yang telah sengaja mengacuhkannya, tapi tetap dinantikannya. Pria yang mampu mengombang - ambingkan segenap perasaan dikalbunya, pria yang membuat debaran - debaran jantung yang tidak berirama. Pria yang membuatnya hampir pingsan saat melihatnya, pria yang membuatnya bahagia, karena sudah menepati janjinya untuk hadir dihari pernikahan mereka dengan mengenakan jas senada dengan gaun pengantin yang dirinya kenakan. Itu artinya, pria itu setuju dengan pilihannya.
Moranno dapat merasakan langkah Margareth yang semula terasa pelan dan berat, kini terasa lebih ringan dan cepat.
"Margareth....." Panggil Moranno setengah berbisik, namun matanya tetap mengarah kedepan, karena semua pasang mata masih melihat kearah mereka.
"Iya kakak......" Sahut Margareth ikut berbisik. Tatapan matanya tetap mengarah kedepan.
"Sepertinya kau sudah tidak sabar mencapai altar....." Goda Moranno dengan suara berbisik, membuat pipi Margareth merona. Wajah pucatnya pun kini sudah sirna.
Wajah Margareth sedikit tersipu, perkataan kakaknya itu memang benar. Tidak terasa, kaki jenjangnya melangkah lebar - lebar dibalik gaun pengantinnya, membuat Yurina dan nyonya Agatsa yang melangkah dibelakang Moranno dan Margareth saling berpandangan.
"Pelankan langkahmu Margareth..... aku khawatir kau akan tersandung dengan gaun pengantinmu itu." Tegur Moranno masih dengan suara setengah berbisik.
"Kau pasti akan sampai didepan sana, kau tidak perlu khawatir akan terlambat." Goda Moranno lagi membuat wajah Margareth semakin merona. Margareth yang kepalang malu mencubit lengan kakaknya yang terus menggodanya membuat wajah Moranno terlihat meringis.
Beberapa jemaat yang ada dikiri - kanan saat mereka lewat menuju altar menahan senyum melihat mempelai wanita dan kakak pendampingnya itu.
Harry yang semula nampak tegang, ikut menahan senyumnya saat melihat apa yang dilakukan Margareth pada kakanya.
Syair lagu Beautiful In White yang mengalun lembut dan syahdu turut berhenti saat Moranno dan Margareth sudah mencapai altar, berhadapan dengan bapak Pendeta dan Harry didepan mereka.
...•••...
♡♡♡
Terima kasih buat para readers setia novel JAGA HATIMU UNTUKKU yang sebentar lagi akan TAMAT. Yukz, mampir di novel 'HANARIA Wanita Sejuta Rasaku'. Mengisahkan tentang seorang wanita tangguh, dan pekerja keras, ulet, sehingga menjadi kesayangan pemilik perusahaan yang memperkerjakannya, jangan ditanya untuk pria - pria muda. Cucu kembar dari keluarga Agatsa pun ikut mengharapkan cintanya.
#HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Karya :
#Nama pena : Dewi Payang
#FB Indah Sosilawati
#IG Indah Sosilawati
__ADS_1
♡♡♡