
Hari terus berganti, dan minggu-minggu kelahiran semakin mendekat. Yurina tetap melakukan kegiatannya seperti biasa.
Namun kehamilan Yurina yang semakin membesar membuat berat badannya juga semakin bertambah. Hal itu tentu saja membuatnya semakin kesulitan untuk bergerak.
Sore itu Moranno mengantarkan Yurina untuk memeriksakan kandungannya ke dokter sesuai jadwal yang telah diatur.
"Suster... Apa dokter Rosalie masih lama?" Tanya Moranno pada suster yang bertugas.
"Mohon tunggu sebentar tuan, dokter Rosalie sedang menangani pasiennya yang sedang kritis." Jelas sang suster dengan hormat.
Moranno melirik arlojinya sejenak, lalu kembali mendekati suster yang sedang sibuk membuat catatan dibuku daftar pasien.
"Suster, saya dan isteri saya akan keluar sebentar. Kami akan kembali lagi untuk memeriksakan kandungan. Tolong sampaikan pada dokter Rosalie." Pesan Moranno pada suster perugas.
"Baik tuan, akan saya sampaikan." Sahut suster, lalu kembali melanjutkan pekerjaan mencatatnya.
Moranno membantu Yurina berdiri dari duduknya. Keduanya melangkah menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari ruang tunggu.
Moranno mengemudikan mobilnya keluar dari area rumah sakit Agatsa Hospital yang juga merupakan tempat praktek dari dokter Rosalie dimalam hari.
"Kita mau kemana suamiku?" Tanya Yurina saat mereka sudah berada dijalan raya.
"Kita makan malam dulu sayang. Aku lapar." Ucap Moranno sambil memperhatikan jalan didepannya yang begitu ramai.
"Nanti bagaimana kalau dokter Rosalie tiba tapi kita tidak ada disana."
"Jangan khawatir, aku sudah meninggalkan pesan pada suster jaga tadi bila kita keluar sebentar dan segera akan kembali."
Moranno membelokkan mobilnya kerestoran yang tidak jauh dari rumah sakit Agatsa Hospital. Perlahan ia memarkirkan mobilnya diarea parkir.
Saat Moranno dan Yurina melangkah menuju pintu masuk, seorang pelayan menghampiri keduanya dengan sikap hormatnya.
"Selamat malam tuan dan nyonya. Ada yang bisa kami bantu."
"Kami perlu ruang VVIV." Ucap Moranno pada pelayan itu.
" Baik tuan. Tuan dan nyonya mari saya antar." Ucap pelayan itu lagi sambil berjalan mendahului mereka.
Moranno dan Yurina mengikuti pelayan restoran itu dari belakang.
Beberapa pasang mata pengunjung memperhatikan Yurina yang berjalan meliuk-liuk karena perut besarnya.
Moranno yang menyadari hal itu menggandeng Yurina. Ia tahu keberadaan dirinya dan isterinya akan mengundang perhatian pengunjung.
"Ini menu yang ada direstoran ini, silahkan tuan dan nyonya memilihnya. Saya akan menunggu diluar."
"Kau tidak perlu keluar. Kau bisa langsung mencatatnya. Kami tidak bisa menunggu lama."
__ADS_1
"Baik tuan." Ucap sang pelayan sambil menyiapkan buku pesanannya.
"Sayang kau ingin makan apa?" Tanya Moranno pada Yurina yang duduk disisinya.
"Aku ikut kau saja suamiku, apapun pasti kumakan." Sahut Yurina sambil tersenyum lebar.
Moranno ikut tersenyum mendengar ucapan Yurina. Ia lalu beralih pada pelayan dan menunjuk beberapa menu makanan lengkap dengan minumannya. Sang pelayan segera mencatat pesanan kedua tamu VVIV restoran mereka dan segera bergegas keluar untuk menyiapkannya.
Moranno meraih ponselnya. Tak lama ia terlihat sedang menghubungi seseorang.
"Hallo, kediaman keluarga Agatsa." Terdengar suara dari sambungan telepon.
"Bibi Nani, tolong sampaikan pada mommy. Kami tidak bisa ikut makan malam bersama, karena masih menunggu dokter Rosalie." Jelas Moranno.
"Baik tuan, segera akan saya sampaikan pada nyonya besar."
"Terima kasih bi...." Moranno lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Dari dalam ruangan Moranno bisa melihat beberapa pasang mata masih melihat keruangan VVIV dimana mereka berada. Ia tak heran karena berita tentang dirinya dan isterinya pasti telah diketahui masyarakat luas dinegeri ini. Karena hingga sekarang beberapa media cetak maupun media elektronik masih membahas tentang penculikan isterinya itu walau sudah berjalan beberapa bulan yang lalu.
Persidangan mengenai para pelaku penculikan itu juga yang disiarkan melalui televisi-televisi swasta menyita banyak perhatian publik.
"Permisi tuan dan nyonya, menunya sudah siap." Kata seorang pramusaji yang muncul dipintu masuk ruangan Moranno dan Yurina, dan diikuti dua orang pramusaji lainnya.
Moranno mempersilahkan mereka masuk. Ketiganya dengan cekatan menyajikan menu pesanan diatas meja.
Setelah selesai ketiga pramusaji itu segera undur diri mempersilahkan kedua tamu VVIV mereka menikmati makan malamnya.
"Aku màkan sendiri saja suamiku. Kita juga buru-buru kan? Bukankah kau juga lapar tadi." Sahut Yurina sambil mengambil alih piring dari tangan Moranno.
Moranno hanya berdiam diri melihat Yurina memasukan satu persatu menu yang tersaji diatas meja kedalam piring ditangannya.
Yurina lalu meletakkan piring yang telah ia isi kehadapan Moranno.
"Makanlah suamiku." Ucap Yurina lalu mengambil satu piring lagi dan mengisinya untuk dirinya sendiri.
Keduanya makan dengan tenang. Dalam sekejap piring-piring saji sudah dalam keadaan kosong. Keduanya saling menatap satu sama lain.
"Ternyata kita memang sangat lapar ya suamiku." Ucap Yurina tertawa kecil.
"Iya sayang, kau benar. Ayo kita kekasir." Ajak Moranno seraya membantu Yurina berdiri.
"Sepertinya tubuhku bertambah berat suamiku setelah kita makan." Kata Yurina yang merasa sempoyongan saat akan melangkah keluar dari ruang VVIV mereka.
"Apakah kau ingin aku menggendongmu? Hmmm?"
"Tentu saja tidak, malu dilihat orang." Ujar Yurina setengah berbisik.
__ADS_1
"Tidak akan ada yang berani protes sayang. Kau kan isteriku."
"Iya, aku tahu kau pasti berkata seperti itu suamiku. Tapi kau harus ingat saat aku dibawa kerumah sakit pada saat ditemukan waktu insiden penculikan itu. Kau hampir saja melepaskan gendonganmu karena aku terlalu berat. Apalagi sekarang, tubuhku lebih berat lagi. Tidak ada tuan Harry yang bisa kau marahi untuk membantumu suamiku." Ucap Yurina meledek suaminya.
"Apa kau ingat kejadian itu sayang?" Wajah Moranno memerah menahan malu.
"Tentu saja. Aku masih sadar, walau tubuhku begitu lemas saat itu." Ucap Yurina sambil tersenyum menggoda.
"Berapa tagihannya?" Tanya Moranno saat mereka sudah didepan kasir.
Kasir lalu menyodorkan struk pembayaran. Moranno menyerahkan kartu pembayaran non tunai pada kasir dan segera diproses.
Setelah selesai, kasir lalu menyerahkan kembali kartu yang ia pegang pada Moranno.
Dengan cepat Moranno meraih tubuh Yurina yang begitu besar. Menggendongnya dengan kedua tangannya.
Yurina yang tidak menyangka Moranno melakukan hal itu padanya merasa sangat kaget. Tanpa sadar ia berusaha meronta.
"Suamiku apa yang kau lakukan??" Ucap Yurina setengah berteriak membuat semua pengunjung dan para pelayan melihat kearah mereka yang terlihat gaduh.
"Sudah, diamlah. Kau lihatkan, kalau aku sanggup menggendongmu isteriku??" Ucap Moranno didengar semua orang.
"Ohh, anda membuat saya iri nyonya." Ucap kasir sambil menangkupkan kedua tangannya di kedua belah pipinya.
"Kalian sungguh pasangan yang romantis..." Ucap beberapa pengunjung saat melihat ulah Moranno.
Beberapa pelayan menepi memberi jalan pada Moranno yang membawa Yurina dalam gendongannya untuk keluar dari restoran itu.
Yurina hanya bisa memaksakan senyumnya pada para pengunjung hingga mereka keluar dari restoran.
"Turunkan aku suamiku." Kata Yurina saat mereka sudah berada diparkiran mobil.
Moranno lalu menurunkan tubuh Yurina perlahan.
"Ayo, masuklah....Kita akan segera menemui dokter Rosalie."
Yurina hanya menurut apa yang dikatakan Moranno, ia tak berani berbicara lagi. Karena suaminya itu sanggup melakukan hal-hal yang tidak ia duga.
Moranno melajukan mobilnya menuju rumah sakit Agatsa Hospital. Yurina sesekali melirik kearah Moranno yang sedang berkonsentrasi pada kemudinya.
"Kenapa kau sering curi pandang padaku? Apa kau ingin kugendong lagi? Hmmm?" Ucap Moranno masih berkonsentrasi pada kemudinya tanpa menoleh kearah Yurina.
Yurina tak menjawabnya, ia memalingkan wajahnya kearah kiri. Dari kaca mobil ia melihat bangunan-bangunan yang mereka lewati seakan berlari kencang. Tak lama mereka sudah tiba ditempat tujuan.
Moranno memarkirkan mobilnya diarea parkir. Ia segera keluar membukakan pintu untuk Yurina.
"Apa kau masih ingin ku gendong? Aku masih kuat menggendongmu kedalam sayang." Goda Moranno.
__ADS_1
"Aku percaya, kau adalah pria yang sangat kuat suamiku. Tapi aku ingin berjalan sendiri, aku masih sanggup." Ucap Yurina berusaha menjaga perkataannya.
Moranno tersenyum kecil, ia tahu isterinya masih merasa malu saat ia menggendongnya didepan banyak orang.