
"Nyonya muda, bolehkah saya ikut, saya ingin menengok tuan Moranno juga." Kata ibu Mira saat telah tiba dirumah sakit.
"Tentu saja boleh, ayo bu Mira." Yurina bergegas melangkah melewati lorong rumah sakit menuju bangunan khusus untuk keluarga Agatsa diikuti oleh ibu Mira.
Yurina melemparkan senyuman setiap kali berpapasan dengan dokter maupun perawat. Demikian juga para dokter dan perawat itu selalu membungkuk hormat pada Yurina.
Beberapa pengawal yang ditugaskan untuk berjaga didepan bangunan khusus keluarga Agatsa membungkuk hormat saat melihat Yurina dan ibu Mira datang.
"Selamat siang nyonya muda." Sapa salah satu petugas jaga itu setelah membungkuk hormat.
"Selamat siang.....Saya akan menengok suami saya." Kata Yurina pada sang penjaga yang biàsa ia temui setiap kali menengok Moranno.
"Silahkan nyonya muda. Didalam juga telah ada nyonya besar." Kata penjaga itu.
"Sejak kapan nyonya besar tiba?" Tanya Yurina.
"Baru saja nyonya muda...." Terang penjaga itu.
"Baiklah, terima kaaih. Saya akan masuk dulu." Yurina melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang telah dibuka oleh sang penjaga. Sementara ibu Mira tetap mengikutinya dari belakang.
Saat mendekati ruang rawat Moranno, samar - samar terdengar seseorang berbicara sambil menangis pilu. Kata - katanya tidak terdengar jelas karena sambil menangis.
Yurina dan ibu Mira saling berpandangan. Seolah saling bertanya, suara siapakah gerangan yang mereka dengar.
Setelah beberapa detik kemudian.
"Ibu Mira, saya mohon maaf, ibu Mira tunggu diruang tamu sebelah sana dulu. Sepertinya itu suara nyonya besar. Saya akan masuk kesana dulu." Kata Yurina pelan.
Ia tidak mau ibu Mira mendengar kata - kata dan tangisan mertuanya itu. Bagaimanapun, sebagai seorang menantu dirumah keluarga Agatsa, walau tidak diakui sang mertua, ia berusaha menjaga privasi keluarga suaminya itu.
"Baiklah nyonya muda." Ibu Mira bergegas menuju ruang tamu yang ditunjukan Yurina.
Setelah ibu Mira menjauh, Yurina segera mandekati pintu masuk ruang rawat Moranno.
Beberapa saat lamanya Yurina berdiri didepan pintu. Tangan Yurina yang memegang gagang pintu nampak ragu untuk mendorongnya.
Kata - kata yang keluar dari mulut ibu mertuanya yang disertai dengan tangisan sudah lebih jelas terdengar dari dalam ruangan.
Untuk sekian lamanya Yurina masih setia berdiri didepan pintu. Ia mengumpulkan semua kekuatan yang ada pada dirinya.
Berulang kali ia mengambil napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, Yurina mengetuk pinru perlahan. Tidak ada jawaban. Namun suara tangis nyonya Agatsa masih terdengar.
Yurina mengetuk lagi. Kali ini sedikit lebih keras. Namun tidak ada jawaban. Hanya suara tangisan yang masih ia dengar seperti sebelumnya.
Yurina mengetuk lagi untuk kesekian kalinya. Dan kali ini agak lebih keras, terdengar lebih berisik. Masih tidak ada jawaban. Dan tangisan nyonya Agatsa pun masih terdengar.
Yurina terpaksa membuka pinru dengan pelan, tanpà suara, walau tidak ada jawaban. ia khawatir terjadi sesuatu pada Moranno, karena nyonya Agatsa hanya terus menangis tanpa menjawab ketukan pintu yang ia lakukan berkali- kali.
Dilihatnya ibu mertuanya itu sedang duduk seorang diri disisi tempat tidur.
Moranno masih belum sadarkan diri. Beberapa peralatan medis masih setia menempel pada tubuhnya yang terbaring tak berdaya.
Nyonya Agatsa masih terus menangis sambil mengeluarkan isi hatinya.
Yurina mendekati nyonya Agatsa dan Moranno. Hatinya deg - degan. Ia berdiri disisi dekat kaki Moranno. Sebenarnya ia sangat takut kalau kehadirannya akan menambah buruk suasana hati ibu mertuanya itu.
Nyonya Agatsa terlihat sangat terpukul melihat kenyataan yang dialami putranya Moranno. Ini kali pertama Yurina melihat ibu mertuanya itu menangis.
Lama- kelamaan suara tangis nyonya Agatsa berangsur -angsur berhenti.
Suasan nampak hening dan sedikit horror. Hanya terdengar suara mesin pendeteksi jantung.
"Untuk apa kau kemari?" Suara nyonya Agatsa terdengar parau karena banyak menangis, dan tanpa memandang kearah Yurina.
"Saya ingin menemui suami saya nyonya besar." Sahut Yurina dengan suara pelan.
"Untuk apa? Lihatlah putraku ini, masih belum sadarkan diri hingga hari ini. Jadi, jika kau ingin memperlihatkan padanya apa yang kau lakukan, dia tidak akan melihatnya." Katanya masih tak memandang kearah Yurina dengan suara paraunya.
"Saya tidak bertujuan untuk memperlihatkan apapun nyonya besar. Sebagai isteri tuan Moranno, saya hanya ingin berada disisinya, ini wujud dukungan saya untuk kesembuhannya." Sahut Yurina berusaha tetap menghargai mertuanya itu.
Hening sejenak diantara mereka.
"Kau boleh meninggalkan Moranno dan keluarga Agatsa. Kau masih muda. Kau tidak perlu menunggunya." Ujar nyonya Agatsa datar.
Yurina terhenyak. Ia memegang ranjang pasien dengan kuat untuk menahan bobot tubuhnya agar tidak terjatuh hingga menyentuh kaki Moranno yang hangat.
Pegangan Yurina membuat ranjang pasien Moranno bergoyang sehingga membuat nyonya Agatsa memandang kearahnya.
"Nyonya besar, mungkin hingga kini anda belum bisa menerima saya masuk dalam kehidupan keluarga Anda."
"Tapi saya tidak akan pernah meninggalkan suami saya tuan Moranno untuk alasan apapun. Dia sudah berjanji akan membesarkan anak - anak kami bersama saya."
__ADS_1
"Kelebihan apa, dan kekuatan apa yang kau miliki sehingga membuatmu begitu percaya diri untuk tetap bertahan dengan putraku?" Ucap nyonya Agatsa dengan nada meremehkan.
"Saya tidak punya kelebihan dan kekuatan, bahkan kebanggaan apapun seperti yang nyonya inginkan pada seorang wanita kelas atas."
"Tapi tuan Moranno menganggap saya seperti berlian dihatinya. Dan suatu hari nanti, saya akan menunjukkan pada nyonya besar, bahwa saya adalah memang berlian." Kata Yurina yang seolah-olah mendapat keberanian menjawab ucapan nyonya Agatsa.
"Teruslah bermimpi dan berkhayal sesuka hatimu." Kata nyonya Agatsa masih dengan nada meremehkan.
Tok...
Tok....
Tok...
Yurina dan nyonya Agatsa, sama - sama menoleh kearah pintu.
"Permisi nyonya besar dan nyonya muda, saya dokter Rogen." Terdengar suara dari luar pintu.
"Masuklah...." Sahut nyonya Agatsa.
Pintu dibuka, masuklah dokter Rogen diikuti satu perawat seraya membungkuk hormat pada kedua wanita yang berada didekat Moranno berbaring.
"Permisi nyonya besar dan nyonya muda, waktunya untuk pemeriksaa tuan Moranno.
"Baiklah, silahkan lakukan." Nyonya Agatsa dan Yurina segera memberi tempat pada dokter Rogen dan susternya.
Kedua tenaga medis itu segera mengeluarkan alat - alat medis dari dalam box yang mereka bawa. Untuk sekian lamanya dokter Rogen melakukan pemeriksaan itu, sedangkan sang suster sibuk mencatat hasil yang ditunjukan dokter Rogen.
"Bagaimana dokter, keadaan putra saya?" Tanya nyonya Agatsa saat melihat dokter Rogen dan susternya membereskan dan memasukkan kembali beberapa alat medis yang mereka gunakan kedalam box pertanda mereka telah menyelesaikan pemeriksaan.
"Untuk tuan Moranno, keadaannya masih belum ada perubahan nyonya besar." Ucapanya menatap nyonya Agatsa.
Nyonya Agatsa terlihat lemas.
"Dokter Rogen, bagaimana kalau kita membawanya berobat keluar negeri, saya siap berapapun biaya yang dibutuhkan." Ucap nyonya Agatsa dengan penuh harapan pada dokter Rogen.
"Nyonya besar dan nyonya muda, bagaimana kalau kita bicara diruangan saya saja, ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan disana."
"Baiklah, kita akan berbicara diruangan dokter." Kata nyonya Agatsa menyetujui.
Dokter Rogen segera berlalu bersama suster yang membantunya diikuti nyonya Agatsa dan Yurina.
__ADS_1
"Ibu Mira, tolong tunggu disini dulu, saya akan kembali lagi." Kata Yurina saat bertemu ibu Mira yang sedang menunggu diruang tamu.
"Baik nyonya muda." Sahut ibu Mira menurut.