JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 120 "Kakak menggelikan."


__ADS_3

"Bagaimana adik ipar?" Tanya Yurina, saat Margaret baru saja menyelesaikan pemeriksaan pada Moranno.


"Keadaan kak Moranno semakin membaik, apalagi sekarang kakak sudah mulai tidak muntah lagi saat makan. Jadi infus ini sudah bisa dilepas." Kata Margareth sambil mencabut jarum infus dari tangan Moranno dan membereskannya.


"Kakak harus banyak makan dan banyak istirahat, itu sangat membantu pemulihan kakak. Dan setiap pagi usahakan olah raga ringan ditempat tidur misalnya melatih gerakan - gerakan tangan dan kaki supaya otot - otot saraf kakak yang kaku bisa rileks juga cepat beefungsi normal." Jelas Maegareth.


"Siap dokter....." Kata Moranno dengan wajah jenaka pada adiknya.


"Aku serius kakak....." Cemberut Margareth.


"Iyaa.... Aku juga serius dokter....." Katanya lagi sambil tertawa ringan.


Margareth tersenyum senang saat melihat Moranno mulai bisa tertawa.


"Kakak sudah lebih baik, sudah mulai bisa tertawa. Syukurlah. Itu pertanda saraf - saraf kakak sudah mulai berfungsi normal termaauk saraf tulang belakang kakak." Ucapnya sambil tersenyum lebar.


"Ini semua berkatmu Margareth. Terima kasih banyak." Kata Moranno menatap wajah adiknya itu.


"Tidak kakak, ini semua karena kerja keras dokter Rogen dan teamnya, juga tiga dokter yang didatangkan dari luar negeri itu. Aku hadir hanya jadi pelengkap saja." Sahut Margareth seraya mennggenggam tangan Moranno.


"Kau benar Margaret, dokter Rogen dan teamnya, juga ketiga dokter dari luar negeri itu memang banyak membantu kesembuhanku. Saat aku mendengar suaramu dihari pertama kau datang, aku sangat merindukanmu, aku berusaha bangun, apa lagi mendengar suara Yurina yang memaksaku membuka mataku."


"Kumohon..... Kembalilah Margareth. Aku dan mommy sangat merindukanmu. Jangan pergi lagi." Kata Moranno balas menggenggam tangan adiknya itu.


"Tapi kakak..... mommy sangat tidak menyukaiku. Ia selalu berlaku kasar seolah aku ini musuhnya. Ia hanya sayang pada kakak. Kakak adalah anak yang penurut, sedangkan aku selalu dikatakan anak yang tidak patuh dan pembangkang."


"Margareth.....Itu tidak benar, mommy sayang pada kita berdua. Buktinya, kau bisa lihat bahwa pigura fhoto keluarga kita berempat bersama mendiang daddy masih terpasang diruang keluarga. Juga kamarmu, masih tersusun rapi, masih sama seperti saat kau pergi meninggalkan rumah ini. Mommy melarang para pelayan menggeser sedikitpun barang - barangmu dari tempatnya saat mereka membersihkannya."


"Bahkan, saat aku maaih menempati kamar atasku, aku sering melihat mommy masuk kekamarmu dan berlama - lama disana." Jelas Moranno panjang lebar.


Margareth termenung mendengar semua penuturan Moranno kakaknya. Ia merasa bingung, harus percaya atau tidak. Kenyataan yang ada, saat bertemu sang ibu, ibunya itu masih tetap sama, memperlakukannya seperti orang lain.


"Entahlak kakak.... Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana mendengar semuanya ini dari kakak." Ujar Margareth dengan wajah sedihnya.


Tok....


Tok....

__ADS_1


Tok....


Ketiganya sama - sama mengarahkan pandangan mereka kearah daun pintu kamar yang diketuk.


"Saya bibi Nani..... Tuan dan nyonya muda...."Terdengar suara dibalik pintu yang masih tertutup.


"Masuklah bibi Nani......! " Sahut Yurina.


"Perimisi tuan dan nyonya muda, dan juga nona Margareth....." Kata bibi Nani saat pintu sudah terbuka.


"Iya, ada apa bibi?....." Tanya Yurina lagi masih menatap kearah bibi Nani yang masih bersiri didepan pintu masuk.


"Makan malam sudah siap..... Nyonya besar sudah menunggu dimeja makan nyonya muda." Sahut bibi Nani dengan sikap hormatnya.


"Baik bibi, kami akan segera kesana. Tolong bawakan nampan ini kembali kedapur, tuan sudah memakan semuanya." Ucap Yurina sambil mengambil nampan dari atas nakas.


"Baik nyonya muda." Bibi Nur masuk dan membawa nampan berisi peralatan makan Moranno keluar dari kamar itu.


"Suamiku..... Kami tinggal dulu ya, kau beristirahatlah. Nanti aku akan segera kembali setelah makan malam bersama mommy juga adik ipar." Yurina lalu menyelimuti tubuh Moranno dengan selimut.


"Iya sayang.... Tapi beri aku kecupan dulu sebelum kau pergi....." Ucap Moranno pada isterinya itu.


"Kau kenapa Margareth?" Tanya Moranno khawatir.


"Tidak.... tidak apa - apa kakak.... Sepertinya gendang telingaku sedikit sensitip saja mendengar perkataan kakak. Sehingga tenggorokanku terasa gatal. Terus terang aku geli melihat kakak begitu romantis pada kakak ipar. Kakak kan tidak pernah.dekat pada wanita selain aku, mommy dan Rosalie. Kakak menggelikan." Ledek Margareth sembari keluar dari kamar Moranno dengan tawanya.


"Anak itu.....!" Moranno nampak malu diledek Margareth.


"Sudahlah suamiku.... Cup.... Cup....Cup...." Ucap Yurina sambil mengecuo kening suaminya itu tiga kali.


"Terima kasih sayang..... Pergilah, nanti mommy lama menunggu." Ucap Moranno mengembangkan senyumannya.


"Hmmm...." Yurina menganggukkan kepalanya lalu beranjak pergi.


Moranno menatap kepergian Yurina hingga menghilang dibalik pintu kamar mereka.


Langkah Yurina sejenak terhenti, saat mendengar suara pertengkaran yang datang dari ruangan makan.

__ADS_1


"Yah.... Aku heran saja dengan mommy..... Hanya kakak ipar saja yang bisa bertahan menghadapi mommy yang seperti nenek sihir."


"Kenapa kau tidak bisa mengendalikan setiap ucapanmu Margareth. Kau anggap mommy mu ini apa... hahh...." Suara nyonya Agatsa meninggi.


Margareth menahan ucapannya saat tangan Yurina tiba - tiba menggenggam tangannya dan memberi isyarat untuk tidak menjawab ibunya lagi.


"Kakak ipar duduklah." Kata Margareth mempersilakan Yurina duduk didekatnya.


"Selamat malam nyonya besar, maaf saya terlambat." Ucap Yurina sambil membungkuk hormat seperti biasanya pada nyonya Agatsa sebelum duduk dikursinya.


"Duduklah....." Sahut nyonya Agatsa datar.


Margareth membelalakkan matanya melihat adegan itu. Ia menatap wajah Yurina dan ibunya secara bergantian.


"Apa kak Moranno mengetahui ini? Kakak ipar bersikap seperti seorang pelayan dirumah ini, bukannya sebagai seorang menantu." Ucap Margareth dengan nada sarkasnya.


Nyonya Agatsa pura - pura tidak mendengar ucapan Margareth, sedangkan Yurina pokus pada makan malam yang baru saja dimulainya.


"Ckckckkkk.....Sungguh mommy keterlaluan....." Ucap Margareth masih tak terima melihat apa yang terjadi didepan matanya.


"Apakah kepergianmu yang memakan waktu cukup lama dari rumah ini telah membuatmu melupakan etika makan malam kita dirumah ini Margareth?....." Ucap nyonya Agatsa datar tanpa memandang wajah Margareth.


"Lebih tidak beretika lagi... Saat menantu dirumah ini diperlakukan sama seperri seorang pelayan...." Balas Margareth tak kehabisan peluru.


"Yurina, ajari Margareth.... yang kau sebut adik iparmu. Sepertinya kau lebih cepat menangkap pelajaran etika dirumah ini dibandingkan dirinya yang adalah seorang dokter." Ucap nyonya Agatsa sambil berdiri dan meninggalkan meja makan.


"Mommy.....!" Panggil Margareth masih tak terima atas perlakuan ibunya itu.


"Cukup adik ipar..... Selesaikan makanmu dahulu....." Ucap Yurina menegur Margareth.


"Tapi kakak ipar..... mommy menyamakanmu seperti seorang pelayan dirumah ini." Sanggah Margareth masih tidak terima.


"Bila aku sendiri saja tidak berkeberatan akan hal itu mengapa dirimu yang harus keberatan adik ipar?" Kata Yurina menatap wajah Margareth datar.


"Baiklah..... Maafkan aku....." Ucap Margareth tak membantah lagi, walau raut wajahnya terlihat sangat terpaksa.


"Ayo, sekarang kkta selesaikan makan malam kita...." Ucap Yurina lagi lalu pokus pada makan malamnya kembali.

__ADS_1


Margareth menatap Yurina sejenak, kemudian ia melanjutkan makan malamnya tanpa berbicara lagi hingga menyelesaikannya.


***


__ADS_2