
"Suamiku.... kau seperti bayi kita saja....." Ucap Yurina yang sudah menyelesaikan kegiatannya melepaskan pakaian Moranno dan memberikan handuk pada suaminya itu. Lalu melenggang menuju kamar mandi menyiapkan air hangat suaminya itu didalam bak mandi.
"Sayang.... kalau kau menyamakanku dengan bayi kita, kenapa tidak kau lepaskan semuanya, kenapa masih menyisakan CDku, hmm.....??" Moranno mulai memancing, sambil mengekor dibelakang Yurina menuju kamar mandi. Yurina pura - pura tidak mendengar.
Moranno memeluk pinggang isterinya yang masih menyiapkan air mandinya.
"Suamiku...... tanganmu membuatku untuk sulit bergerak." Keluh Yurina yang belum menyelesaikan pekerjaannya itu.
"Aku suka seperti ini sayang....." Ucap Moranno masih memeluk sambil memejamkan mata, menghirup aroma tubuh isterinya yang membuatnya menghayalkan sesuatu.
"Tapi aku tidak suka, kau sangat bau suamiku..... cepat lepaskan, supaya aku bisa segera menyelesaikan pekerjaanku menyiapkan air mandi ini untukmu, jadi kau bisa segera mandi untuk membersihkan tubuhmu itu...." Moranno terkesiap. Matanya langsung terbuka lebar, perkataan Yurina membuyarkan khayalannya.
"Sayang..... kau serius mengatakan aku bau.....?" Moranno mengendus - ngendus tubuhnya sendiri sambil mengangkat tangannya.
"Iya...... apakah kau tidak merasakannya suamiku??" Ucap Yurina merasa heran sambil menumpahkan air sabun dalam bak mandi suaminya.
"Tidak...... tapi mungkin karena keringatku.... kita 'kan baru pulang berpergian......" Ucap Morano menduga. Ia lalu masuk ke bak mandi yang sudah disiapkan Yurina dan berendam disana.
"Sayang..... kau tidak mandi bersamaku?" Moranno memandangi isterinya yang hendak keluar dari kamar mandi.
"Tidak suamiku, tubuhku terasa dingin menyentuh air dimalam hari....." Ucap Yurina segera menjauh dan keluar dari kamar mandi.
Moranno tidak bertanya lagi, ia segera menyelesaikan ritual mandinya dalam bak mandi yang sudah dicampur sabun cair dengan aroma kesukaan isterinya itu.
Saat membuka kamar mandinya, nampak Yurina sudah membalut tubuhnya dengan selimut tebalnya.
"Kau sakit sayang??" Tanya Moranno khawatir sambil mendekati Yurina, ia menempelkan punggung tangannya pada dahi isterinya itu.
"Tidak suamiku, aku merasa dingin saja malam ini...." Ucap Yurina sedikit menggigil.
Moranno segera mengambil remote pengatur suhu ruangan diatas nakas.
"Bagimana kalau seperti ini.....??" Tanya Moranno memandang wajah Yurina yang tersembul dari balik selimutnya.
"Iya.... cukup..... terima kasih suamiku....." Ucap Yurina memejamkan matanya
Moranno meletakan kembali remote ditanganya keatas nakas lalu naik ketempat tidur. Ia masuk keselimut Yurina dan berbaring merapat dengan isterinya itu.
__ADS_1
Rasa sejuk pada tubuhnya setelah mandi membuat Moranno segera mengantuk.
"Suamiku......" Panggil Yurina. Moranno yang baru memejamkan matanya segera membuka matanya kembali dan memandang wajah Yurina.
"Iya sayang....." Ucapnya setengah mengantuk.
"Waktu dikamar mandi tadi, apa kau benar - benar membersihkan tubuhmu suamiku??" Tanya Yurina yang nampak sedikit menjauhkan wajahnya dari tubuh suaminya itu.
"Iya..... aku mandi dengan benar..... malah berendam dalam bak mandi yang kau siapkan sayang..... kenapa?" Sahut Moranno sambil menguap.
"Kenapa kau masih bau.... aku mual mencium aroma tubuhmu...." Ucap Yurina dengan mata menyipit menatap Moranno yang kebingungan melihatnya.
"Mungkin kau salah penciuman sayang.... Kau lihat 'kan kalau aku masuk ke bak mandi tadi untuk merendamkan tubuhku....?" Moranno mengendus - enduskan hidungnya mencari aroma yang dimaksud Yurina.
Yurina mendekatkan wajahnya pada Moranno untuk memastikan indera penciumannya tidak salah.
"Iya..... ini memang bau dari tubuhmu suamiku, itu membuatku mual menghirup aromanya...." Yurina duduk dari berbaringnya sambil menutup hidungnya dengan kedua belah tangannya.
Moranno terpaksa ikut duduk, kembali ia mengendus - endus tubuhnya.
"Tapi aku tidak menyukainya, sekarang juga kau harus mamdi lagi, cepat.....!" Setelah berkata demikian, Yurina cepat - cepat turun dari tempat tidur dan berlari masuk kekamar mandi dengan sedikit sempoyongan.
Moranno segera mengejarnya takut isterinya itu terjatuh dikamar mandi.
"Sayang, kau kenapa?" Moranno mendekati Yurina yang memuntahkan semua yang telah dimakannya dipesta pernikahan Lisa sahabatnya.
"Kepalaku terasa pusing....." Wajah Yurina terlihat sedikit pucat, ia bersandar di dinding dekat wastafel.
"Kau sakit sayang?" Moranno kembali menempelkan punggung tangannya pada dahi isterinya itu. Yurina menggeleng.
"Cepat mandi, bau tubuhmu membuatku pusing dan memuntahkan semua steak yang sudah kumakan...." tuduh Yurina tiba - tiba kesal pada Moranno.
"Sayang..... ini sudah sangat larut. Lagi pula tadi aku sudah mandi....." Moranno merasa tidak terima dengan permintaan isterinya yang mengharuskannya untuk mandi ditengah malam yang seharusnya dirinya sudah tidur lelap di ranjang empuknya.
"Atau kau sengaja untuk membuatku merasa mual dan muntah - muntah lagi suamiku.... kau sungguh - sungguh membuatku mabuk......" Keluh Yurina kembali menutup hidung dan mulutnya dengan satu tangannya secara bersamaan, sementara tangannya yang lain memegang perutnyanya yang kembali mual.
"Baiklah..... baiklah..... aku akan mandi lagi ISTERIKU.... Sekarang aku akan mengantarkanmu ketempat tidur dulu" Ucap Moranno mengalah, ia terpaksa mengikuti kemauan isterinya itu. Moranno memapah isterinya itu ketempat tidur, setelah berbaring, Moranno menyelimutinya dengan selimut tebalnya.
__ADS_1
"Ganti sabunnya, aku tidak suka aromanya terlalu menyengat....." Ungkap Yurina saat suaminya itu beranjak dari tempat tidur kembali menuju kamar mandi.
"Siappp.... ratuku....." Ucapnya sambil membawa handuk ditangannya kekamar mandi.
Moranno mengguyur tubuhnya menggunakan air hangat dari shower.
Dengan teliti ia memperhatikan beberapa sabun cair yang telah tersedia dikamar mandi. Diciumnya aromanya satu persatu, hingga menemukan aroma yang biasa dipergunakan oleh Yurina. Kali ini ia harus selektif memilih aroma sabun supaya tidak disuruh mandi berulang - ulang lagi oleh isterinya itu.
Setelah selesai membalur tubuhnya dengan sabun cair, Moranno membilas tubuhnya kembali dengan air hangat dari shower. Hal itu ia ulangi sekali lagi supaya tubuhnya tidak dikatakan bau lagi oleh Yurina pikirnya.
Moranno menggerak - gerakkan tangannya untuk mencium aroma tubuhnya sendiri yang sudah wangi. Setelahnya ia keluar kamar mandi dengan rasa percaya diri.
"Sayang.... aku sudah selesai mandi, dan sudah menggunakan sabun yàng berbeda." Ucap Moranno dengan senyum diwajahnya, ia mendekati Yurina yang sudah setengah mengantuk. Ia masuk kedalam selimut dan berbaring dengan merapatkan tubuhnya pada tubuh Yurina isterinya.
Baru saja hatinya merasa lega, tiba - tiba Yurina menggerakkan tubuhnya.
"Suamiku......"
"Iya sayang ada apa?"
"Kau tidak marah ' kan padaku ?" Ucapnya menatap suaminya dengan wajah lemasnya.
"Memangnya marah kenapa?" Tanya Moranno heran mendengar pertanyaan Yurina.
"Karena memintamu mandi semalam dan selarut ini...." Jelas Yurina.
"Tentu saja tidak sayang.... aku sayang padamu..... aku akan melakukan apapun supaya kau merasa nyaman dan bahagia....." Ucap Moranno berusaha menyenangkan hati isterinya itu.
"Benarkah? Terima kasih suamiku, kau memang yang terbaik......." Ucap Yurina memaksakan senyumnya dibalik wajah lemasnya.
"Iya sayang..... sama - sama." Moranno tersenyum, hatinya bahagia karena isterinya itu sudah tidak protes lagi sambil mengusap pucuk rambut isterinya itu.
"Suamiku....... Bisakah kau mandi lagi?" Pinta Yurina menatap wajah Moranno dengan sedikit ragu.
"Apaaaa??" Moranno tampak kaget, ia menatap wajah Yurina tidak percaya bila isterinya itu meminta hal yang sama seperti sebelumnya.
"Maafkan aku..... aku sungguh - sungguh tidak sanggup mencium aroma sabun ditubuhmu suamiku...." Ucap Yurina sambil menekan hidungnya dengan jari telunjuk dan jari jempolnya.Perut Yurina yang bergolak terdengar oleh Moranno.
__ADS_1