
"Kalau begitu.....serahkan saja padaku, aku akan membelikannya secara online malam ini." Kata Yurina sambil keluar dari lift dan disusul Moranno.
"Apakah besok pagi sebelum mas Arta berangkat belanjaan telah siap?" Tanya Moranno sambil melangkah disisi Yurina.
"Akan aku usahakan ya suamiku....."
"Baiklah.... aku percaya padamu sayang..... Butuh berapa? Nanti ku transfer......" Kata Moranno sambil terus mendorong bayi Billy dikeretanya.
"Nanti kuberitahu, bila aku sudah berbelanja....." Sahut Yurina. Ia berhenti sebentar saat tiba didepan pintu kamar bayi kembarnya, lalu memegang gagang pintu dan mendorongnya hingga terbuka lebar.
"Nah..... Kita sudah sampai baby - baby nya mommy dan daddy....."Kata Yurina sambil mendorong masuk kereta bayi Willy diikuti kereta bayi Billy yang didorong oleh Moranno.
Yurina dan Moranno mengangkat bayi Billy dan bayi Willy dari kereta dan meletakkan keduanya diatas kasur busa yang ada dilantai kamar.
Yurina dan Moranno sama - sama melepaskan pakaian kedua bayi itu. Tubuh gembul itu bergerak kesana kemari tak mau diam membuat Yurina dan Moranno bekerja ekstra.
"Yang mana duluan, bayi Billy atau bayi Willy sayang?" Tanya Moranno sambil menggendong bagi Billy yang sudah tanpa sehelai benang pun ditubuhnya.
"Kedua - duanya boleh sekalian..... Tolong perhatikan mereka sebentar ya suamiku, aku akan menyiapkan air mandi mereka." Kata Yurina meninggalkan bayi Willy di kasur busa.
" Tunggu sebentar ya baby - baby nya mommy dan daddy..... mommy siapkan air mandi dulu yaa......" Kata Yurina lagi sambil berjalan menuju kamar mandi bayi kembarnya.
Tak lama.berselang Yurina kembali dari kamar mandi.
"Ayoo.... baby - baby kesayangan mommy dan daddy, air mandinya sudah siaaappp......" Seru Yurina sambil meraih bayi Willy masuk dalam gendongannya dan membawanya masuk kedalam kamar mandi diikuti Moranno yang membawa bayi Billy dalam gendongannya.
"Nahhh.... Kalian belajar berenang disini ya....." Ucap Yurina sambil memasukkan bayi Willy ke dalam bak mandi bayi yang telah dimasukkan beberapa bola bayi didalamnya.
Bayi Willy terlihat begitu senang, ia mulai berceloteh girang sambil berusaha meraih dan menangkap bola - bola yang seolah - olah menghindar akibat gelombang air.
Bayi Billy yang masih dalam gendongan Moranno mulai meronta - ronta tidak sabar untuk ikut masuk dengan saudara kembarnya itu.
"Iyaa kakak Billy.... daddy pasti menurunkanmu sayang, kau pasti ikut mandi dengan adik Willy...." Kata Moranno memegang erat bayi Billy supaya tidak terjatuh dari gendongannya.
Bayi Billy yang baru saja bergabung didalam bak mandi itu langsung beraksi, tubuh gembulnya langsung kesana - kemari berusaha meraih dan menangkap bola - bola yang menghindari tangan - tangan gembul dan pendek itu.
Kedua bayi - bayi itu masing - masing berceloteh begitu riang sambil tertawa - tawa saat bola - bola itu tak berhasil mereka tangkap.
__ADS_1
Mereka terus berusaha tanpa kenal menyerah. Tubuh kedua bayi gembul yang membulat itu terus bergerak kesana - kemari di air mandi yang sengaja dibuat dangkal oleh Yurina.
Sering kali keduanya saling terlanggar satu sama lain hingga membuat mereka saling terpental di dalam bak, Moranno dan Yurina yang selalu mengawasi dengan sigap meraih dan membuat mereka kembali duduk tegak.
Tidak jarang air dari dalam bak bayi itu berkecipratan kesana - kemari hingga membuat Yurina dan Moranno yang menemani mereka dari pinggir bak mandi bayi itu sampai basah kuyup akibat ulah kedua bayi mereka.
Setelah dirasa cukup lama, Yurina dan Moranno mengangkat kedua bayi itu kepermukaan. Merasa belum puas, bayi Billy dan bayi Willy langsung menangis tak terima sambil kedua tangan bayi itu mengarah ke bak mandi mereka.
Yurina dan Moranno tertawa melihat keduanya.
"Baiklah, daddy kasih kesempatan sebentar saja ya, karena ini sudah terlalu lama sayang....." Kata Moranno, lalu menurunkan kembali bayi Billy kedalam bak mandi bayi, Yurina pun mau tak mau ikut menurunkan bayi Willy kedalam bak mandi itu pula.
Suamiku..... Balurkan sabun cair ini ditubuh bayi Billy." Kata Yurina sambil menyerahkan botol sabun cair pada Moranno.
Sambil kedua bayi itu asik bermain, Moranno dan Yurina membalurkan sabun cair bayi ketubuh keduanya dengan mengusap kulit lembut bayi - bayi itu.
Kedua bayi itu tidak merasa terganggu sedikitpun akan apa yang dilakukan kedua orang tuanya itu.
Mereka terlalu pokus pada bola - bola kecil yang begitu menyita perhatian keduanya. Bola - bola kecil yang terombang ambing oleh air bak mandi seakan berlari kesana - kemari membuat kedua bayi itu jatuh bangun mengejarnya tanpa lelah, bahkan keduanya begitu girang bila sempat terjatuh, lalu berusaha bangkit lagi, hal itu terjadi berulang - ulang beberapa kali.
***
"Suamiku.... terima kasih ya.... sudah membantuku memandikan mereka tadi sore. Tidur mereka sangat pulas karena kelelahan bermain disaat mandi tadi....." Ujar Yurina seraya tersenyum meandang kedua bayinya itu.
"Iyaa sayang..... Aku pun sangat senang bisa memandikan mereka. Dan menyaksikan langsung aksi mereka yang begitu lincah walau tubuh - tubuh mereka yang gembul itu terlihat berat saat berusaha bergerak kesana - kemari mengejar bola - bolanya." Sahut Moranno turut tersenyum dan memandang wajah - wajah bayi polos yang lucu dan sangat menggemaskan itu.
"Apakah tubuh mereka itu tidak terlalu berat untuk usia mereka sayang?" Tanya Moranno pada Yurina yang berdiri disebelahnya sambil melihat bayi - bayu yang tidur didalam ranjangnya masing - masing.
"Masih normal saja menurut dokter Rosalie. Apalagi sekarang mereka masih menyusui ASI ibunya. ASI ku hingga sekarang masih melimpah. Sejak usia mereka memasuki usia tujuh bulan dari beberapa bulan lalu, mereka sudah mulai makan makanan pendamping ASI. Jadi wajar saja bila tubuh mereka semakin terlihat semakin gembul. Nanti bila beratnya melewati batas normal, dokter Rosalie menyarankan mereka untuk berdiet, supaya tidak obesitas." Jelas Yurina sesuai yang dengarnya dari dokter Rosalie.
"Terima kasih sayang.... kau sudah melahirkan bayi - bayi yang lucu, sehat, juga menggemaskan ini untuk ku, sehingga aku bisa menjadi seorang daddy sekarang. Aku bahagia dan merasa sangat beruntung memiliki dua bayi kembar kita, juga memiliki dirimu isteriku." Ucap Moranno seraya meraih tubuh Yurina masuk kedalam pelukannya.
"Iyaa suamiku.... Aku juga begitu. Aku sangat beruntung bisa melahirkan anak - anakmu, mereka juga sangat tampan seperti dirimu. Aku juga merasa sangat beruntung menjadi isterimu. Semakin aku mengenalmu, semakin aku merasakan bahwa kau adalah pria yang sangat baik. Untung saja saat itu aku tidak menolakmu saat kau mengatakan ingin menikahiku didepan dokter Rosalie. Bila itu terjadi, pasti saat ini aku adalah wanita yang paling sangat menyesal. Pantas saja nona Gandis begitu mengejar dan tergila - gila padamu. Kau pria yang terlalu sempurna suamiku." Ucap Yurina membuat Moranno melayang mendengar pujian dari mulut isterinya itu.
"Jangan sebut nama itu lagi saat kita sedang berdua seperti ini. Walau dia kakakmu. Telingaku masih begitu sensitif mendengar namanya, orang yang hampir saja mencelakaimu dan juga bayi - bayi kita." Ucap Moranno semakin mengeratkan pelukannya.
"Aakkhh....." Desis Yurina saat bibir Moranno menyentuh daun telinganya. Hawa panas dari mulut Moranno membuat Yurina meremang.
__ADS_1
"Suamiku..... Jangan lupakan aturan dalam.kamar bayi kita....." Ucap Yurina dengan suara pelan mengingatkan Moranno supaya suaminya itu tidak bertindak lebih jauh.
"Baiklah.......baiklah...... Semenjak kau jadi ibu, kau terlalu banyak aturan. Tapi jangan khawatir, aku memahaminya sayang. " Ucap Moranno dengan napas yang sudah memburu namun tetap patuh pada perkataan Yurina.
"Maafkan aku suamiku...." Ucap Yurina memandang wajah Moranno.
"Iyaa sayang.... sudah kukatakan jangan khawatir, aku memahamimu sayang, semua ini demi pendidikan bayi - bayi kita." Ujar Moranno sambil menyentuh jari - jemari Yurina lalu mengecupnya dengan bibirnya lembut. Yurina begitu terbuai oleh sikap manis Moranno.
"Terima kasih suami tampanku.... kau sudah memperlakukanku begitu istimewa. Kumohon, jagalah hatimu itu selalu untukku, jangan ada wanita lain masuk kedalamnya, aku pasti tidak sanggup dan tidak bisa menerimanya." Ucap Yurina lalu kembali masuk kedalam pelukan Moranno.
"Pasti sayang....."Sahut Moranno sambil mencium pucuk rambut Yurina yang ada dalam pelukkannya.
"Walau aku tak memintanya, aku pun percaya, kau juga pasti akan menjaga hatimu untukku bukan...."
"Hmmm.... " Yurina pun hanya bisa menganggukkan kepalanya yang masih ada dalam pelukan hangat suaminya itu. Ia begitu menikmati belaian tangan Moranno dirambut panjangnya.
"Sayang.... Cukup dulu ya mesra - mesraannya, bukankah didalam kamar bayi dilarang mesum." Ucap Moranno menggoda Yurina.
"Apakah kau membalasku suamiku?" Kata Yurina dengan sedikit manyun.
"Tentu saja tidak sayang.... aku hanya membantumu menegakkan aturan didalam kamar bayi kita." Ucapnya merasa geli melihat wajah Yurina yang cemberut.
"Baiklah..... Lepaskan aku....." Kata Yurina berusaha melonggarkan pelukannya.
Moranno menuruti keinginan Yurina, namun matanya tetao menatap lekat wajah Yurina yang seakan tidak terima ucapannya.
"Wajahmu semakin terlihat cantik sayang saat selerti ini...." Ucap Moranno menahan senyum.
"Sudahlah.... jangan menggodaku.....Sekarang aku mau memesan oleh - oleh buat mas Arya dan keluarganya." Ucap Yurina sambil meraih ponselnya yang ada diatas meja.
"Baiklah..... Aku akan keluar sekarang, ada pekerjaan yang harus aku kerjakan. Nanti aku akan kembali lagi kemari. Berikan aku satu ciuman, kumohon sayang...." Ucap Moranno mendekati Yurina.
Yurina yang manyun akhirnya kembali tersenyum, lalu mencium pipi Moranno.
"Terima kasih sayang....." Moranno pun membalas mencium pipi Yurina dengan mesra. Setelahnya, ia pergi meninggalkan kamar bayi mereka dan menutupnya dengan rapat.
***
__ADS_1