
"Dokter Mories, Perkenalkan ini tuan Harry tunangan saya." Ucap Margareth saat tiba diruangan kepala rumah sakit itu.
"Harry Gunzerb......" Harry mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah.
"Mories Mandarta....."Kepala rumah sakit itu menerima uluran tangan Harry dan turut tersenyum ramah.
"Senang bertemu dengan anda tuan Harry.... Silahkan duduk....." Ketiganya duduk disofa tamu yang ada diruangan kepala rumah sakit itu.
"Maafkan saya tuan Harry, saat anda mengantarkan dokter Margareth dua bulan lalu, saya tidak berada ditempat." Dokter Mories membuka obrolan.
"Tidak mengapa dokter, saya mengerti. Dokter dan sekaligus kepala rumah sakit seperti anda pasti banyak sekali kesibukannya. Itu sebabnya hari ini saya datang kembali untuk bertemu dengan anda, meminta ijin membawa satu tenaga kesehatan anda dari rumah sakit yang anda pimpin." Ucap Harry masih dengan senyumnya, sementara Margareth yang duduk disampingnya hanya menyimak apa yang diobrolkam kedua pria itu.
"Sebenarnya saya ingin menahan dokter Margareth disini, karena sangat sulit mencari dokter saraf sepertinya. Banyak dokter yang pintar dan hebat, tapi tidak banyak dokter yang memiliki kemampuan psikologis yang tepat dalam membaca karakter pasiennya. Sehingga itu sangat membantu kesembuhan pasien yang ditanganinya. Dan dokter Margareth memilikinya." Ujarnya menatap Harry dan Margareth yang duduk dihadapannya.
"Kabarnya, dokter Mories sudah mendapatkan seorang dokter saraf yang baru untuk menggantikan dokter Margareth." Ucap Harry.
"Iya, anda benar tuan Harry. Hari ini dokter itu akan saya perkenalkan dengan dokter Margareth. Dia masih ada keperluan diluar setelah bertemu dengan saya tadi. Satu bulan kedepan dokter Margareth akan menikah dengan anda dan akan ikut anda ke Singapura. Untuk itu, saya meminta pada dokter Margareth, dalam dua minggu kedepan masih berkerja untuk mendampingi dokter saraf yang baru, karena ada empat pasien yang masih ada dalam penanganan dokter Margareth, dan akan dialihkan padanya nanti hingga sembuh." Jelas kepala rumah sakit itu.
"Saya juga sudah memberikan surat keterangan dari rumah sakit ini untuk dokter Margareth. Jadi itu bisa membantunya untuk dapat berkerja disalah satu rumah sakit di Singapura ataupun membuka praktek sendiri. Dan saya sangat senang pada anda tuan Harry, anda masih mengijinkan calon isteri anda untuk berkerja. Biasanya pria yang sudah banyak rupiahnya jarang melakukan hal itu, mereka lebih suka menjadikan isterinya ratu dalam rumahnya." Tambah dokter Mories sedikit berkelakar membuat Harry ikut terkekeh bersama dokter Mories.
"Saya bertemu calon isteri saya ini saat dirinya sudah menjadi seorang dokter. Pekerjaan sebagai seorang dokter adalah kehidupannya, dan kariernya. Sebagai suaminya nanti saya akan tetap mendukungnya. Bagi saya, profesinya sebagai dokter saraf adalah pekerjaan yang sangat mulia. Bagi kita yang hidup didunia ini, bukankah lebih membahagiakan kalau kita tidak saja bermanfaat bagi diri kita sendiri, tetapi bagi sesama kita juga yang membutuhkan pertolongan kita." Ucap Harry masih dengan senyum ramahnya.
__ADS_1
"Anda luar biasa sekali tuan Harry, saya kagum pada pola pikir anda." Ucap dokter Mories menatap pria yang menjadi tamunya itu.
Tok.... tok....tok....
Terdengar suara ketukan pintu. Dokter Mories, Margareth, dan Harry sama - sama menoleh kearah pintu yang tidak tertutup.
Dokter Mories tersenyum saat melihat siapa yang sedang mengetuk pintu seraya berdiri menghampiri pria yang ada didepan pintu itu.
Margareth mendadak tegang saat melihat siapa yang datang, ia menatap kearah Harry disampingnya yang tetap bersikap tenang, datar tanpa emosi diwajahnya.
"Mari silahkan masuk...." Dokter Mories membawa tamu yang ditunggunya itu masuk untuk menemui Margareth dan Harry.
Dokter Randiasa mengulas senyumnya, dengan sikap tenang, ia mengulurkan tangannya pada Harry dan Margareth yang berdiri dihadapannya.
Wajah Margareth masih terlihat tegang, ia sama sekali tidak menyangka bahwa dokter saraf yang akan menggantikannya kelak dirumah sakit ini adalah Randiasa. Bahkan dalam dua minggu kedepan ia akan bersama pria yang telah menjadi masa lalunya itu, apa dia sanggup. Semua tentang laki - laki itu, sudah ia kubur, dengan usaha yang tidak mudah, tapi kini ia datang dan akan menjadi rekan seprofesinya dirumah sakit itu, walau hanya dua minggu, apa dia sanggup. Semua itu menjadi pikiran yang campur aduk dan kusut dibenaknya.
"Tidak disangka, kita berjumpa lagi disini dokter Randiasa....." Harry menerima uluran tangan dokter Randiasa, ia pun melemparkan senyum ramahnya.
"Kalian sudah saling mengenal??" Dokter Mories nampak heran dan memandang wajah Harry dan dokter Randiasa secara bergantian.
"Iya, sebenarnya dokter Randiasa adalah sahabat calon isteri saya, dokter Margareth. Iya kan sayang??" Ucap Harry santai dan masih mempertahankan senyum ramahnya sambil melepaskan jabatan tangannya dari tangan dokter Randiasa lalu beralih menggenggam tangan Margareth yang terasa dingin.
__ADS_1
Dokter Randiasa menatap sekilas sepasang tangan yang saling bertautan itu, jakunnya terlihat naik turun menelan salivanya.
"I....iya.....itu benar. Tadi kami sudah bertemu didepan, tapi saya tidak tahu kalau dokter Randiasa yang akan menggantikan posisi saya dirumah sakit ini." Ucap Margareth berusaha tenang, namun dari suaranya ia terdengar sedikit gugup.
"Oh....baguslah kalau begitu. Ayo, silahkan duduk dulu....." Dokter Mories terlihat senang, dan mempersilahkan mereka semua duduk kembali untuk mengobrol lebih lanjut.
"Ini seperti suatu kebetulan saja. Dokter Margareth dan dokter Randiasa ternyata sudah saling mengenal bahkan adalah sahabat satu sama lain. Saya rasa ini sangat baik, karena mulai besok, dan dalam waktu dua minggu kedepan dokter Margareth dan dokter Randiasa akan saling berkerjasama menangani 4 pasien yang sedang ditangani oleh dokter Margareth sekarang." Lanjut dokter Mories lagi dengan senyum lebarnya.
"Iya dokter Mories, anda benar, saya percaya.... dokter Margareth calon isteri saya dan dokter Randiasa pasti akan berkerja secara profesional, apalagi mereka adalah sahabat baik." Sahut Harry, sikap ramah dan senyumnya membuat dokter Mories menyukainya karena menemukan lawan bicara yang menyenangkan.
Obrolan ringan mereka berlanjut, sementara dokter Randiasa dan Margareth hanya beberapa kali saja terlibat dalam obrolan santai siang itu, mereka berdua sama - sama saling menjaga sikap. Dokter Mories yang sudah mulai beruban itu merasa sedikit ada kejanggalan pada sikap dokter Randiasa dan Margareth, mereka bersahabat tetapi bahasa tubuh antara satu dengan lainnya tidak menunjukan sebagai pasangan sahabat, namun ia menyimpannya didalam hatinya.
"Dokter Mories..... senang sekali bisa mengobrol dengan anda hari ini, juga dengan anda dokter Randiasa, saya pamit dulu." Ucap Harry seraya berdiri diikuti yang lainnya.
"Kenapa harus buru - buru tuan Harry?" Ucap dokter Mories sambil berjabat tangan dengan Harry.
"Saya akan terbang kembali ke Singapura lagi sore ini pukul 15.40, saya kemari hanya sebentar saja, ingin bertemu langsung calon isteri saya. Walau sering berkominukasi lewat telepon, sepertinya rasa rindu hanya bisa terobati bila saling bertemu seperti ini dokter." Ucap Harry, ia kembali menautkan jarinya dengan jari Margareth disampingnya setelah melepaskan jabatan tangannya dari dokter Mories.
Wajah Margareth merona merah mendengar ucapan Harry yang terlalu manis ditelingannya, sementara dokter Randiasa hanya bisa mengangkat sedikit senyum diujung bibirnya yang tiba - tiba terasa kaku.
"Anda benar tuan Harry, keromantisan anda ini membuat saya ingat pada masa muda saya bersama dengan isteri. Anda membuat saya ingin segera pulang untuk bertemu isteri saya dirumah." Dokter Mories terkekeh dengan ucapannya sendiri.
__ADS_1