JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 116 "Kenapa keras sekali seperri batu?"


__ADS_3

Sore itu Yurina membersihkan tubuh Moranno seperti biasanya dan dibantu oleh Margareth.


Moranno tak henti - hentinya menatap wajah Yurina, hingga membuat isterinya itu salah tingkah.


"Mengapa kau menatapku seperri itu suamiku?" Kata Yurina sambil membantu Moranno mengenakan pakaiannya.


Sayang, aku merindukanmu?" Sahutnya dengan suara lemah tanpa tenaga.


Wajah Yurina memerah. Namun hatinya begitu bahagia mendengar ucapan Moranno.


"Aakkkhhh......" Suara Yurina kesakitan, saat tangan Moranno tak sengaja tersentuh pada bagian dadanya saat ia membantu Moranno mengenakan pakaiannya.


Margaret dan Moranno menatap bingung kearah Yurina yang nampak kesakitan.


"Kau kenapa sayang?" Tanya Moranno khawatir.


"Ituu.... kenapa keras sekali seperti batu?" Tanya Moranno lagi sambil menunjuk dengan wajahnya kedada Yurina.


"Tidak.... tidak ada apa - apa suamku...." Ucap Yurina berpura - pura tidak merasa sakit lagi karena merasa malu.


Margareth yang melihat Moranno menunjuk kearah dada Yurina segera mengerti karena melihat ada air yang merembes dibalik baju Yurina.


"Kak Moranno sekarang jadi nakal ya..... Baru saja terbangun, tangannya langsung saja menyentuh diarea itu?" Kata Margareth tersenyum menggoda.


Mendengar perkataan Margareth, wajah Yurina memerah karena malu dan membuatnya semakin salah tingkah.


Moranno hanya tertawa kecil mendengar celotehan adiknya itu.


"Ituuu.... Kenapa keras seperti batu? Moranno mengulang pertanyaannya. Yurina pura - pura tidak mendengar.


"Kakak ipar..... ??" Panggil Margareth sedikit ragu.


Yurina dan Moranno sama - sama menoleh kearah Margareth yang nampak kikuk.


"Bolehkah aku memanggilmu seperti itu?" Tanyanya sambil memainkan jari - jari tangannya sendiri.


Yurina menganggukkan kepalanya mengiyakan. sambil melemparkan senyumannya pada Margareth.


"Maafkan aku.... atas sikapku yang kurang sopan diawal kita bertemu." Kata Margarerh lagi.


Yurina kembali menganggukkan kepalanya sambil membuka kedua belah tangannya sambil tetap tersenyum hangat kearah Margareth.


Margareth segera menghambur kedalam pelukan Yurina. Kedua wanita itu saling berpelukan erat sekian lamanya, hingga Yurina berbisik ditelinga Margarerh.

__ADS_1


Dadaku sakit sekali adik ipar....." Kata Yurina dengan wajah sedikit meringis.


Margareth segera melonggarkan pelukannya dan melihat dada Yurina yang basah.


"Maafkan aku kakak ipar, aku lupa kalau itunya kakak ipar sakit....." Katanya sambil ikut meringis seolah - olah ikut merasakan apa yang dirasakan Yurina.


"Tidak masalah....." Ucap Yurina berusaha tersenyum.


"Kenapa harus minta maaf, memangnya salah apa?" Tanya Moranno menatap kedua wanita didepannya yang saling berpandangan.


"Ini urusan wanita.... tak perlu tahu, dan dilarang banyak bertanya." Sela Margareth pada Moranno.


"Tapi kalian itu kan wanita - wanitaku. Isteriku dan adik perempuanku, kenapa harus main rahasia - rahasiaan padaku." Ucapnya penasaran.


"Huuuhhh...." Margareth mendengus dan dibalas senyuman oleh Yurina.


"Kakak ipar harus segera menyusui dua putra kakak dirumah, kalau tidak dadanya akan bertambah sakit." Ucap Margareth menjelaskan.


"Kenapa bisa sakit sayang?" Tanya Moranno kurang mengerti.


"Huuuhhhh......"Margareth kembali mendengus kesal, dan dibalas tertawa kecil Yurina yang melihat adik iparnya itu tidak sabar mendengar pertanyaan demi pertanyaan Moranno.


"Aduuuhhh.... Harus detail gitu ya ngejelasinnya. Harusnya dari dulu kakak cepat bangun biar tahu. Lihat tuh baju kakak ipar basah." Ucap Margaret dengan wajah mengarah ke tubuh bagian depan Yurina.


"Terus kenapa kalau basah.....bukannya tadi habis membersihkan tubuhku?" Ucap Moranno cepat menjawab, walau suaranya masih terdengar lemah.


Moranno langsung tersenyum mendengar penjelasan adik perempuannya itu yang terlihat senewen.


"Kenapa tersenyum, pasti pikirannya aneh - aneh, baru juga bangun." Ucap Margareth memperhatikan wajah Moranno curiga.


Moranno semakin tersenyum lebar dan nyaris tertawa melihat wajah Margareth yang mulutnya terus mengoceh namun dirinya tidak punya cukup tenaga untuk tertawa.


"Kakak ipar, pulanglah segera, susuilah keponakan - keponakanku." Kata Margareth pada Yurina yang masih berdiri disisi pembaringan Moranno.


"Iyaa, tapi bagaimana dengannn...." Ucap Yurina ragu.


"Dengan kak Moranno?? Aku yang akan mengasuhnya disini, tenang saja...tak perlu khawatir. Kakak ipar pulang saja sekarang, nanti bertambah sakit itunya." Sahut Margareth meyakinkan sambil mengerlingkan matanya pada Moranno.


"Mengasuh??... Aku ini kakakmu Margareth....Bukan adikmu atau anakmu." Protes Moranno.


"Mengasuh atau menjaga itu sama aja pengertiannya..." Sahut Margareth tidak terima diprotes.


"Berbeda....." Sahut Moranno berusaha menjelaskan.

__ADS_1


"Stop...... Stop..... Stop.....! Sudahlah, orang sakit yang baru bangun jangan banyak bicara, nanti sarafnya terganggu lagi. Istirahat saja dulu." Ucap Margareth yang sudah tidak mau meladeni protes sang kakak.


"Memang bisa begitu??" Tanya Moranno serius.


"Yaahhh....Mungkin saja.....Aku ini kan dokter spesialis saraf." Sahutnya


"Pake mungkin segala, seperti tidak meyakinkan saja kata - katamu itu dokter Margareth...." Kata Moranno dengan senyum menggodanya.


"Baiklah.... aku titip suamiku dulu ya adik ipar." Kata Yurina disela - sela perdebatan kedua kakak beradik itu.


"Iya kakak ipar..... aku akan menjaga suami kakak ipar dengan baik disini." Sahut Margareth sambil menyunggingkan senyumannya.


"Suamiku.... Aku pulang dulu ya? Adik Ipar akan menemanimu disini sementara aku pulang. Besok, pagi - pagi aku akan kemari lagi." Ucap Yurina pada Moranno


"Tapi aku masih merindukanmu sayang.... Bisakah aku ikut pulang sekarang, aku juga ingin bertemu bayi - bayi kita, aku merindukan mereka juga." Ucap Moranno yang masih terbaring dipembaringannya.


Yurina menatap kearah Margareth lalu kembali beralih menatap pada Moranno.


"Besok, aku akan coba berbicara dulu dengan dokter Rogen suamiku, semoga saja kau sudah diperbolehkan pulang. Jadi sekarang kau harus beristirahat dan usahakan memakan makananmu ya, jangan dimuntahkan terus." Kata Yurina berusaha membuat suaminya itu tetap bersemangat untuk sembuh.


Moranno mengganggukan kepalanya.


Yurina lalu membungkukkan sedikit tubuhnya untuk mencium kening Moranno.


"Apa ini sangat sakit rasanya?" Tanya Moranno menyentuh sedikit dada Yurina.


Yurina yang sedang mencium kening Moranno mengangkat sedikit wajahnya menatap mata suaminya itu.


"Hmmmm" Sahut Yurina menganggukan sedikit kepalanya.


"Atau aku saja yang menyusuinya supaya tidak terlalu sakit sayang." Kata Motanno dengan senyum menggoda. Wajah Yurina langsung memerah.


"Apa kau masih punya cukup tenaga untuk menyusui....." Sahut Yurina balas menggoda suaminya.


"Tentu saja.... apa kau sudah lupa kekuatanku bisa muncul tiba - tiba saat dibutuhkan." Sahut Moranno tak mau kalah.


"Ehemm..... Ehemmmm....." Bicara apa kalian?? Memangnya hanya kalian berdua saja yang ada disini.... Terus aku dianggap apa .... huhhh....!"


Yurina dan Moranno hanya bisa tersenyum malu mendengar ucapan Margareth pada keduanya.


"Baiklah aku pulang dulu suamiku, besok aku akan kemari lagi sekalian bertemu dokter Rogen membicarakan kepulanganmu. Jangan lupa istirahat, makanannya dimakan dan jangan dimuntahkan, dan semangat untuk sembuh." Ucap Yurina dengan senyum hangatnya.


"Iya sayang, terima kasih. Beri aku ciuman lagi...." Pinta Moranno.

__ADS_1


"Baiklah....." Yurina lalu memberi ciuman pada kening Moranno. Yurina lalu berpamitan dengan Margaret.


Moranno dan Margareth memandang kepergian Yurina hingga menghilang dibalik pintu.


__ADS_2