
Tatapan Margareth kembali menyapu seisi ruang makan, ditatapnya satu demi satu kursi yang sudah dihuni semua anggota keluarga, namun sosok yang ia cari tidak ia temukan lagi dimeja makan saat jam makan malam.
Serasa ada yang hilang disudut hatinya yang tersembunyi, membuat perasaannya begitu hampa. Rasanya ingin sekali bertanya, tapi rasa malu, gengsi, dan apalah itu membuatnya mengurungkan niatnya.
Margareth menyuap isi piring makan malamnya dengan malas, ia terlihat lebih banyak hanya membolak - balikkan isi piringnya hingga terlihat kacau dan menjijikkan. Yah, sekacau hatinya memikirkan seseorang yang tidak ia lihat sejak makan siang tadi.
"Margareth..... Kenapa makan malammu terlihat menjijikan seperti itu?" Nyonya Agatsa menegur putrinya yang terus membolak - balikkan makanannya tanpa memasukkannya kemulutnya.
"Aku..... sudah kenyang mom......" Sahut Margareth lemes.
"Sudah kenyang?? Sedari tadi mommy perhatikan isi piringmu tidak berkurang...... memangnya kau makan apa sehingga membuatmu kenyang sayang?" Tanya nyonya Agatsa bingung melihat tingkah putrinya.
"Makan hati......" Jawab Margareth bergelora dalam hatinya.
"Margareth banyak makan snack mom sebelum makan malam tadi." Sahut Margareth asal saja pada ibunya.
"Mommy 'kan sering memperingatkanmu, jangan makan apa - apa dulu sebelum makan siang ataupun makan malam.... Itulah akibatnya kau tinggal seorang diri, tidak disiplin...." Omel nyonya Agatsa.
"Iya mom..... maaffff......" Ucap Margareth manja dengan wajah memelas.
"Maklum anak muda nyonya besar...... tidak masalah kalau sekali - kali...... cucuku Harry juga sering seperti itu, sering melewatkan makan siang ataupun makan malamnya." Ucap nyonya Naomi dengan senyum ringannya sambil memegang jus yang siap diminum.
"Ngomong - ngomong dengan tuan Harry...... Sejak jam makan siang hingga makan malam sekarang, aku tidak melihatnya nenek..... Kemana dia?" Tanya Moranno.
Margareth dengan sigap memasang telinganya lebar - lebar. Ia harus berterima kasih pada inisiatif kakaknya itu, yang sudah bertanya mewakili dirinya, yang begitu penasaran tentang keberadaan pria yang sudah mengisi hari - harinya belakangan ini.
"Ada sedikit masalah...... Gandis ngamuk di LP...... Harry diminta untuk datang melihatnya." Jelas Nyonya Morgan sedikit ragu, saat nyonya Naomi terdiam tidak menjawab pertanyaan Moranno.
Semua yang mendengar penjelasan nyonya Morgan hanya mengangguk - anggukan kepala saja, tidak berani bertanya lebih lanjut ataupun berkomentar, takut salah bicara.
"Tuan Moranno, bolehkah setelah dari liburan ini nanti, kami meminta ijin mengajak Yurina untuk menengok Gandis putri kami di LP?" Tanya nyonya Morgan hati - hati.
"Mama..... bolehkah saya memanggil seperti itu, sama seperti Yurina isteri saya memanggil mama?" Tanya Moranno pada nyonya Morgan.
"Iya...... dengan senang hati tuan Moranno....." Ucap nyonya Morgan menatap suaminya, dan dibalas anggukan oleh tuan Morgan, lalu ia kembali menatap Moranno menantunya dengan senyum hangatnya.
__ADS_1
"Terima kasih mama..... dan tolong, panggil saya Moranno saja....." Ucap Moranno lagi dan membalas senyum hangat sang ibu mertua.
"Mengenai permintaan mama tadi, saya tidak keberatan, hanya saja.... saya harus ikut mendampingi Yurina. Saya khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan..Karena Gandis pernah melakukan tindak kejahatan pada isteri saya. Jadi saya harus selalu waspada padanya." Ungkap Moranno menyatakan alasannya.
"Iya..... Saya mengerti nak Moranno..... nanti bila kami akan menjenguk Gandis, satu hari sebelumnya, kami akan memberi kabar, supaya nak Moranno bisa bersiap bersama Yurina.
...***...
Malam itu, Margareth kembali tidur dengan ibunya, nyonya Agatsa. Banyak hal yang mereka bicarakan sebelum tidur, hingga akhirnya nyonya Agatsa tertidur pulas karena kelelahan.
Margareth bolak - balik memeriksa ponselnya, namun tidak ada satu pesanpun yang masuk membuat dirinya tambah frustrasi.
Jam menunjukkan jam tiga pagi, akhirnya Margareth tidur dalam penantiannya.
Pukul lima pagi, Mrgareth terbangun dari tidurnya, rasa haus memaksanya harus bangun untuk minum demi menghilangkan dahaga ditenggorokannya.
"Aku lupa mengisi teko air minum ini....." Keluh Margareth sambil memegang teko air minum yang kosong.
Margareth menatap ibunya yang masih tertidur lelap, udara dingin perbukitan begitu menusuk tulang. Margareth lalu mengubah suhu AC supaya lebih hangat.
Hawa dingin perbukitan itu membuat Maegareth cepat - cepat meninggalkan dapur setelah meminum segelas air dan membawa teko yang sudah terisi penuh.
Langkah Margareth terhenti saat melewati kamar Harry yang sedikit terbuka.Ia menoleh kiri kanan, tidak ada siapapun, suasana nampak sepi. Tentu saja, karena semuanya masih terbuai mimpi, hanya dirinya yang terbangun karena kehausan dimalam yang dingin.
Pintu kamar nyonya Naomi tertutup rapat, begitu pula dengan pintu kamar tuan dan nyonya Morgan disebelahnya.
"Kok pintunya terbuka dan lampu tidur menyala? Bukankah tuan Harry tidak ada disini? Mungkin pelayan lupa mematikan lampu dan menutup pintunya." Gumam Margareth.
Ia mendekati pintu kamar Harry, berniat untuk mematikan lampu dan menutup kamarnya yang terbuka.
Margareth mendorong pintu, lalu masuk perlahan. Ia kembali mendorong daun pintu namun tidak sampai tertutup rapat.
Maegateth semakin jauh masuk kedalam, ia sedikit terkejut saat melihat tubuh sesorang sedang terbaring diatas ranjang tidur. Hampir saja ia menjatuhkan teko kaca ditangannya.
Ia sempat menahan napasnya, karena berpikir ada orang asing masuk kekamar itu.
__ADS_1
Dengan bantuan lampu tidur yang remang - remang, Margareth bisa melihat wajah seorang pria yang sedang tertidur pulas itu.
Degg.....
Jantung Margareth berpacu begitu kencang, ternyata pria itu adalah Harry. Bukankah pria itu sudah pulang kekota tadi siang? Dan kapan ia kembali? Tanya Margareth didalam hatinya.
Margareth melihat pria itu sepertinya tidak sempat melepaskan alas kakinya karena kelelahan. Margareth meletakkan teko yang ia bawa diatas nakas, lalu mendekati Harry yang tertidur lelap.
Dengan Hati - hati, dirinya menyentuh sepatu Harry dan melepaskannya lalu meletakkannya dibawah tempat tidur.
Selanjutnya, Margareth melepaskan kaos kaki pria itu, juga dengan hati - hati dan memasukkannya pada sepatu yang ada dibawah tempat tidur.
Margareth memperhatikan posisi tidur Harry yang tidak menggunakan bantal sebagai alas kepalanya.
Kembali dengan hati - hati, Margareth naik keatas tempat tidur, berniat memberikan bantal pada kepala Harry.
Margareth mengangkat kepala Harry dengan sangat hati - hati supaya tidak membangunkannya, dan meletakan bantal dibawah kepala pria itu.
Margareth tersenyum, saat berhasil melakukannya.
Ditariknya selimut tebal yang tidak terlalu berat untuk menutupi tubuh Harry dari hawa dingin.
Tangan Harry tiba - tiba menggapai tubuh Margareth hingga jatuh terbaring disampingnya.
Tangan kokoh itu memeluk erat tubuhnya bagaikan guling, membuat Margareth hampir saja memekik karena kaget.
Napas Harry terdengar halus dan beraturan, menandakan pria itu masih tertidur pulas.
Jantung Margareth berdetak semakin tidak berirama. Bagaimana tidak, ia berada dalam pelukan pria yang sudah mengisi hari - harinya.
Jangan salahkan dirinya, bila merasa nyaman dalam pelukan pria yang hampir membuatnya patah hati karena tidak bertemu dalam waktu tujuh belas jam dihari itu.
Margareth berusaha melepaskan dirinya dengan hati - hati supaya Harry jangan sampai terbangun. Namun pelukan Harry semakin dipererat pada tubuh Margareth hingga ia sudah tidak bisa bergerak lagi.
"Bagaimana ini.....?? " Desah Margareth didalam hati. Tentu saja ia sangat khawatir bila ada orang yang memergoki dirinya dan Harry dalam posisi seperti ini. Orang - orang pasti akan salah paham.
__ADS_1