JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 119 "Tidak sekarang, tunggu kau sembuh."


__ADS_3

Yurina membantu Moranno berbaring lalu menyelimuti tubuh suaminya itu dengan selimut tebal.


"Sekarang waktunya kau tidur siang suamiku." Ucap Yurina sambil merapikan selimut Moranno.


"Aku sudah capek beristirahat sayang, aku mau keluar." Ucap Moranno lesu.


"Untuk duduk saja kau belum terlalu kuat suamiku, jadi tunggu kondisimu lebih baik dari ini. Lagi pula kau juga baru sadar suamiku. Kau perlu istirahat yang cukup juga asupan makanan yang bergizi supaya tenagamu cepat pulih." Yurina berusaha memberi pengertian.


"Aku akan menemanimu istirahat." Yurina lalu membaringkan tubuhnya disamping Moranno sambil memeluk tubuh suaminya yang terasa tipis.


"Sayang, terima kasih.... kau sudah melahirkan bayi - bayi kita yang lucu dan amat menggemaskan." Ucap Moranno membalas pelukan Yurina dan membelai rambut panjang isterinya itu.


"Maafkan aku, aku tidak bisa menemanimu saat kau melewati masa - masa sulit itu. Aku tidak bisa memenuhi janjiku padamu." Ucap Moranno nampak sedih sambil tetap membelai rambut panjang Yurina.


"Jangan bersedih suamiku. Aku tidak sendiri, kau sudah memenuhi janjimu untuk menemaniku saat aku melahirkan bayi - bayi kita." Ucapnya.


"Apa maksudmu, aku kurang mengerti." Tanya Moranno menatap wajah Yurina yang memeluknya.


Yurina melepaskan pelukannya lalu bangkit mengambil ponselnya yang berada diatas nakas.


Lalu kembali berbaring disamping Moranno sambil mencari sesuatu diponselnya.


"Lihatlah....." Yurina menunjukkan satu video yang ia simpan diponselnya.


"Apa ini?" Tanya Moranno sambil melihat kelayar ponsel milik Yurina.


"Nontonlah dulu, nanti kau pasti akan mengerti maksudku." Kata Yurina sambil kembali memeluk tubuh suaminya itu.


Moranno lalu mulai memperhatikan video yang sedang diputar. Ia melihat Yurina yang siap akan melahirkan berbaring berdampingan dengan dirinya mengunakan ranjang pasien yang berbeda. Selanjutnya adegan demi adegan didalam video ponsel Yurina terlihat begitu horor.

__ADS_1


Wajah Moranno berubah - ubah saat melihat adegan - adegan yang tak terduga itu.


Air mata Moranno menetes saat melihat adegan terakhir. Saat bayi - bayinya keluar satu - persatu dari rahim Yurina.


Setelah selesai menonton video diponsel Yurina, Moranno memeluk isterinya itu dengan erat begitu lama.


Ia tidak dapat mengungkapkan rasa terima kasihnya yang begitu besar pada isterinya itu.


"Bagaimana video itu bisa ada diponselmu sayang?" Tanya Moranno sambil mencium pucuk rambut Yurina.


"Sebelum aku melahirkan, aku sempat meminta dokter Rosalie membuatkanku video itu dengan kamera yang dibeli oleh asisten Rudi untukku. Awalnya ia menolak, namun karena aku memberikannya alasan untuk pribadi, supaya saat kau sadar, kau dapat menyaksikan detik - detik bayi - bayi kita lahir. Jadi saat aku pulang dari rumah sakit setelah melahirkan, dokter Rosalie memberikan video ini padaku, dan aku menyimpannya diponselku."


"Karena kau telah menontonnya, aku harus segera menghapusnya." Ucap Yurina langsung mendelet video itu diponselnya.


"Jangan dihapus sayang." Kata Moranno yang terkejut saat melihat Yurina mendelet video yang baru saja ia tonton.


"Bila kau ingin menontonnya lagi.... Sebaiknya kita membuat program adik bayi lagi untuk Billy dan Willy."


Yurina hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya menatap wajah Moranno.


"Tapi tidak sekarang, tunggu kau sembuh." Kata Yurina dengan senyum tertahan.


"Suamiku, bagaimana kau bisa tahu nama - nama bayi


kita? Seingatku, aku belum pernah memberitahumu semenjak kau sadar dua hari ini. Memang kau sudah menulisnya diamplop itu, dan aku juga menulis nama yang sama dikertasku. Tapi kita berdua belum sepakat untuk nama - nama itu, hingga musibah kecelakaan itu terjadi." Kata Yurina sambil mengenang saat - saat itu.


"Aku mendengar kau menyebut nama bayi - bayi kita saat aku koma sayang?" Ungkap Moranno.


" Bagaimana mungkin?" Wajah Yurina nampak tak percaya.

__ADS_1


"Iya.... Sebenarnya, selama aku koma, aku mendengar semua apa yang kalian percakapkan diruang rawatku."


"Seingatku, sore itu aku pulang bersama asisten Rudi dari proyek pembangunan rumah sakitnya tuan Harry. Setelah menurunkan asisten Rudi di lobby Properti Agatsa Grup, aku dan Pak Kasan langsung pulang kerumah, karena mengantuk aku tertidur dimobil."


"Aku melihat pak Kaaan pergi meninggalkanku. Aku memanggilnya berkali - kali tapi dia sepertinya tidak mendengarkanku."


"Sampai akhirnya aku merasa seperti orang terbangun. Ada suara orang bertengkar, namun aku tidak bisa melihat apa - apa. Setelah kuperhatikan baik - baik, ternyata suara mommy bertengkar dengan dokter Rosalie."


"Tak lama setelah itu, aku mendengar lebih jelas suara dokter Rosalie menyuruhmu mengejan. Aku tak mendengar suaramu berteriak kesakitan ataupun mengeluh saat melahirkan, aku berusaha melihat tapi tidak dapat melihat apapun, aku hanya bisa mendengar. Hingga akhirnya aku mendengar suara bayi - bayi menangis kencang. Ya, sama persis dengan apa yang telah kudengar divideo yang baru kau hapus itu sayang."


"Aku juga mendengar ada orang yang berbahasa jepang, berbahasa mandarin dan satunya lagi menggunakan bahasa Inggris. Saat aku mendengar mereka berkomunikasi dengan dokter Rogen, disitu aku menyadari bahwa mereka sedang merawat dan mengobatiku yang sedang sakit akibat kecelakaan."


"Setiap para dokter itu datang, aku berusaha untuk bangun, namun sangat sulit bagiku. Aku sering mendengar mommy dan dirimu yang menangis dan berdoa untukku setiap kali kalian mendekatiku."


"Ketika ku dengar suara baby Billy dan baby Willy untuk pertama kalinya kau bawa kembali menemuiku di rumah sakit, disitu aku bertekad untuk bisa bangkit dengan sekuat tenaga, namun hanya jari tanganku saja yang mampu kugerakkan. Sedangkan mataku dan yang lainya sangat sulit aku menggerakkannya. Semenjak saat itu kulitku sudah dapat merasakan setiap sentuhan yang mengenai kulitku."


"Hingga akhirnya, saat Margareth datang. Aku sangat rindu padanya, ditambah kau yang berteriak - teriak memanggilku dan memaksaku membuka mataku sambil menggoyang - goyangkan tubuhku dengan kencang. Saat itu aku berusaha sekuat tenaga untuk bangun, hingga aku tersedak air liurku sendiri. Saat terbatuk - batuk itulah aku bisa membuka mataku."


"Aku tidak tahu harus berkata apalagi. Rasanya lama sekali terjebak dalam kegelapan seakan membuatku hampir - hampir saja berputus asa sayang."


"Terima kasih, kalau bukan karena kau, mommy, Margareth, dan bayi - bayi kita, dan juga para dokter - dokter itu, mungkin aku sudah tidak ada lagi. Mungkin aku sudah dianggap mati, karena koma yang begitu lama."


"Kau isteriku yang hebat, hatimu kuat, dan kau sungguh luar biasa. Kau selalu berusaha melakukan semuanya untukku, walaupun mommy sering menentangmu."


"Mungkin kau ingat, diawal pernikahan kita, aku mengatakan kalau aku mempercayaimu. Itu karena aku merasakan kau adalah wanita yang tepat menjadi teman hidupku."


"Kau juga pasti ingat kan kalau aku pernah mengatakan padamu bahwa aku tahu semua tentangmu, mulai tujuh hari kau dititipkan dirumah sakit hingga kau menikah denganku. Aku memilihmu karena aku mempercayaimu, sekalipun mommy selalu menentang pernikahan kita."


"Bila bukan dirimu yang disisiku, aku rasa wanita itu akan menyerah menghadapi suami yang koma begitu lama sepertiku."

__ADS_1


"Aku mendengar mommy menangis dan meminta maaf padaku untuk menstop perawatanku karena kasihan akan kondisiku yang tidak ada perubahan, bahkan semakin hari semakin kurus. Pada saat itu aku berusaha mengatakan pada mommy bahwa aku masih hidup. Namun aku tak mampu melakukan itu."


__ADS_2