
Suasana tegang menyelimuti keluarga besar Agatsa. Yurina baru saja tiba pukul tiga dini hari bersama ibu Mertuanya, nyonya Agatsa. Nyonya Naomi, tuan dan nyonya Morgan segera menghampiri Nyonya Agatsa.
"Suamiku..... siapa yang menemani adik ipar didalam?" Tanya Yurina menghampiri suaminya yang sedang berbincang bersama tuan Hartawan yang menggendong Rosalia yang tengah tertidur lelap.
"Harry...... sayang......" Sahut Moranno.
"Anak - anak bagaimana??" Tanya Moranno saat mengingat putra - putri mereka yang ditinggal dirumah.
"Sudah tertidur suamiku..... dan ada para pengasuh yang menemani mereka....." Sahut Yurina.
Samar - samar terdengar suara erangan - erangan dari dalam ruang persalinan. Semua keluarga saling berpandangan, termasuk Yurina dan Moranno. Semakin lama suara erangan itu semakin jelas terdengar.
"Suamiku..... apakah kau ingin ikut denganku kedalam untuk menemani kak Harry dan adik ipar......?? Aku khawatir terjadi sesuatu pada kak Harry seperti saat aku melahirkan beberapa bulan lalu, yang mana dirinya hampir saja pingsan, kasihan adik ipar." Ucap Yurina merasa khawatir.
"Sayang..... maafkan aku..... aku tidak bisa ikut masuk, jujur saja..... aku masih merasa trauma saat menyaksikan dirimu melahirkan waktu itu, kakiku gemetaran dan hampir saja pingsan sayang." Sahut Moranno. Masih segar dalam ingatannya, detik - detik dimana bayi - bayi perempuannya itu lahir. Sampai dirinya tidak jemu - jemu mengingatkan Yurina isterinya untuk tidak lupa menggunakan kontrasepsi, supaya tidak cepat mengandung dalam waktu dekat.
"Baiklah suamiku, aku akan masuk sendiri kesana." Yurina dapat mengerti, karena saat itu, walaupun ia sedang konsentrasi pada dirinya sendiri untuk bersalin, ia masih sempat melihat bagaimana paniknya suaminya itu.
"Tuan Hartawan...... Rosalia sedang tertidur?" Tanya Yurina saat melihat suami dokter Rosalie itu masih setia menggendong putri semata wayangnya.
"Iya nyonya muda......" Sahut tuan Hartawan sambil bergerak lembut ditempat ia berdiri untuk membuai putrinya yang ada dalam gendongannya.
"Apakah tidak lebih baik kalau Rosalia dibaringkan diatas tempat tidur saja tuan Hartawan, supaya lebih nyaman tidurnya. Dan tuan Hartawan juga tidak merasa lelah." Ucap Yurina yang merasa tidak tega melihat gadis kecil itu tertidur karena kelelahan.
"Tidak mengapa nyonya muda...... saya masih sanggup menggendongnya. Lagi pula Rosalia menunggu mamahnya......" Sahut tuan Hartawan beralasan.
"Isteri saya benar tuan Hartawan, kasian putri anda.... Ada tempat istirahat diruang sebelah sana. Bagaimana kalau kita kesana saja.....?" Ucap Moranno menawarkan. Ia menunjukan ruangan khusus keluarga Agatsa yang ada disebelah ruang bersalin Margareth.
__ADS_1
Tuan Hartawan berpikir sejenak, ia melihat wajah Rosalia yang lelah dalam gendongannya. " Baiklah tuan Moranno......" Akhirnya tuan Hartawan menyetujui tawaran Yurina dan Moranno.
"Sayang, kau masuklah untuk menemani Margareth dan Harry didalam, aku akan mengantarkan tuan Hartawan masuk keruangan itu, supaya putrinya bisa beristirahat disana.
Aaagggghhhhhhhh..........
Teriakan panjang itu sungguh mengejutkan semua orang yang sedang menunggu didepan ruang bersalin Margareth. Suasana tegang yang sebelumnya sudah menghinggapi mereka, kini menjadi bertambah tegang. Moranno segera memegang erat tangan Yurina yang hendak masuk keruangan itu, keduanya saling berpandangan sesaat dengan wajah penuh tanya sambil mencerna apa yang sedang mereka dengar barusan.
Oooeeekkkk............... Oooeeekkkkk.......... Oooeeekkkk.........
Belum terjawab apa yang ada didalam kepala keduanya, tiba - tiba terdengar suara kencang tangisan bayi, membuat jantung Yurina seolah akan melompat keluar dari dalam dadanya.
Wajah tegangnya berubah seketika. "Adik ipar.......!!! Sudah melahirkan bayinya suamiku......!!!"Teriak Yurina kegirangan dengan suara kencang.
Tanpa sadar Yurina mengibaskan tangan Moranno yang tengah memegang erat tangannya. Dengan langkah cepat setengah berlari, Yurina menerobos ruang bersalin dengan wajah yang sangat gembira.
Nyonya Agatsa, nyonya Naomi, tuan dan nyonya Morgan pun tidak mau ketinggalan. Dengan wajah yang diliputi kebahagiaan mereka bergegas menyusul Yurina dan Moranno yang telah masuk lebih dulu.
Didalam ruang bersalin, suasana nampak kacau. Entah apa yang telah terjadi, busa bantal berhamburan dilantai. Yurina tidak terlalu memperdulikan hal itu, dirinya sibuk mencari dimana keberadaan Margareth yang tidak ada diranjang bersalinnya, hanya ada Harry yang terbaring disana.
"Suster..... dimana nyonya Harry, saya tidak melihatnya diruang bersalin." Tanya Yurina pada seorang perawat yang sedang membereskan kain - kain kotor.
"Dikamar mandi nyonya, sedang membersihkan diri ditemani dua perawat." Jelas suster itu.
"Tuan Harry kenapa??" Tanya Yurina yang sedari tadi melihat kakak sepupunya itu terbaring dikepala ranjang pasien dengan tidak sadarkan diri.
"Tuan Harry...... beliau pingsan nyonya muda, sesaat setelah bayi - bayi mereka lahir." Sahut suster itu.
__ADS_1
Yurina menatap sekilas kearah Harry lalu mendekati kakak sepupunya itu.
"Harry kenapa sayang??" Tanya Moranno yang baru saja menyusul Yurina.
"Kak Harry pingsan suamiku......"Sahut Yurina. Moranno tiba - tiba langsung terkekeh, membuat Yurina memelototkan matanya menatap suaminya itu. Bukannya diam, Moranno malah semakin tergelak.
Yurina langsung membekap mulut suaminya itu. "Suamiku, simpan tawamu itu, tidak ada yang lucu disini. Kau salah tempat.....!" Tegur Yurina.
"Apa yang kau tertawakan Moranno??" Tanya nyonya Agatsa yang tiba - tiba muncul diruang bersalin bersama nyonya Naomi, tuan dan nyonya Morgan dibelakangnya.
"Tidak ada mommy......" Moranno berusaha menahan tawanya dengan sekuat tenaga, namun tidak berhasil, ia memegang perutnya yang terasa keram akibat tertawa.
"Kenapa suamimu Yurina??" Tanya Nyonya Agatsa beralih pada menantunya, saat Moranno belum mampu menjawab pertanyaannya karena terus tertawa.. Yurina langsung menunjuk kearah Harry yang terkulai diatas ranjang dengan wajah kusut yang sangat memprihatinkan. "Suamiku...... dia mentertawakan kak Harry mommy...." Sahut Yurina.
Para orang tua itu, tidak berencana untuk tertawa, namun keadaan Harry yang tidak karuan, dengan bajunya yang banyak terdapat sobekan disana - sini membuat mereka tidak dapat menahan gelak. Entah apa yang telah terjadi padanya sampai keadaannya seperti itu.
Harry tiba - tiba terbangun karena kebisingan disekitarnya, ia menatap aneh pada semua orang yang tertawa lepas memandang kearah dirinya. Hanya Yurina saja yang tidak tertawa, bukannya ia tidak ingin tergelak, namun Yurina masih berusaha keras menahan tawanya, karena dirinya turut berempati pada kondisi sang kakak sepupunya itu.
"Nenek..... kalian terlihat sangat bahagia sekali?" Ucap Harry disela - sela rasa herannya.
"Iya Harry..... kami memang sangat bahagia....... " Sahut nyonya Naomi berusaha menghentikan gelak tawanya.
"Kak Harry, ayo..... aku bantu untuk membersihkan diri dikamar mandi sebelah, sekalian mengganti pakaian kakak disana. Tadi aku sudah membawa pakaian kak Harry dan adik ipar juga untuk bayi - bayi yang baru dilahirkan itu." Ucap Yurina pada kakaknya itu. Harry yang sepenuhnya belum mengingat apa yang telah teejadi padanya tanpa banyak bicara mengikuti Yurina. Dalam hatinya, hanya satu yang ia pikirkan, segera bertemu dengan isterinya dan bayi - bayinya.
...•••...
Senyum bahagia tergambar diwajah Margareth dan Harry pagi itu. Saat - saat menegangkan sudah mereka lewati bersama. Rasa bahagia memenuhi hati keduanya
__ADS_1
"Selamat ya buat nyonya dan tuan Harry...... atas kelahiran anak kembar kalian. Bayi laki - laki dan perempuan ini sangat sehat." Ujar dokter Rosalie yang baru saja mengantarkan kedua bayi itu menggunakan kereta - kereta bayi yang didorong oleh dua suster.