
"Bagaimana keadaan mommy?" Tanya Yurina sejenak setelah Moranno menyelesaikan makan siangnya.
"Sudah lebih baik, hanya masih diperlukan istirahat yang cukup untuk pemulihan."
"Syukurlah bila demikian." Kata Yurina sambil membereskan peralatan makan diatas nakas.
Moranno memandang Yurina, memperhatikan semua gerak gerik yang dilakukan isterimya itu.
"Mengapa memandangku seperti itu? Apa ada yang kau pikirkan?" Tanya Yurina mendekati Moranno yang duduk disofa didepan jendela kaca.
"Duduklah disini bersamaku." Kata Moranno sambil memberi cukup ruang buat isterinya untuk duduk disebelahnya. Yurina mendudukkan dirinya perlahan disamping Moranno sambil memandang kearah luar jendela kaca yang menyajikan pemandangan taman riumah besar mereka.
"Aku memiliki satu apartemen dekat dengan Agatsa Properti Grup, aku membelinya beberapa tahun lalu.
Bagaimana bila kita tinggal berdua diapartemen itu?" Kata Moranno memulai pembicaraannya saat Yurina telah duduk disebelahnya.
"Apakah kau merasa rumah kita ini terlalu jauh kekantormu?" Tanya Yurina dengan hati-hati.
"Ya, itu salah satunya, jalan terlalu macet setiap berangkat dan pulang berkerja, waktuku banyak habis dijalan. Selain itu... aku ingin merasakan kita tinggal berdua saja, sebagai keluarga kecil." Kata Moranno menyampaikan maksudnya dengan hati-hati pula.
"Lalu mommy bagaimana?" Tanya Yurina memandang lekat Moranno yang duduk disebelahnya.
"Kita akan sering mengunjungi mommy kemari." Jawab Morsnno memandang keluar jendela kaca.
"Kenapa aku merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan. Apa kau bertengkar lagi dengan mommy karena aku? Sehingga kau berniat mengajakku pindah dari rumah ini." Selidik Yurina menatap lekat mata Moranno.
"Tidak... aku dan mommy baik-baik saja..."
"Tapi aku bisa merasakan kesedihan yang terlihat dari matamu." Kata Yurina masih menatap lekat wajah Moranno yang berusaha menghindar dari tatapan matanya. Moranno hanya terdiam, mulutnya tertutup rapat.
"Berarti benar?" Tanya Yurina lag. Moranno masih terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia berusaha supaya Yurina tidak ikut memikirkannya.
"Bila benar begitu, maafkanlah aku yang membuat hubunganmu dengan mommy menjadi tidak baik akhir-akbir ini."Kata Yurina sambil menggenggam kedua tangan suaminya itu.
"Tapi bila kita harus pergi dari rumah ini karena masalah itu, aku takut mommy bisa terluka karena keputusan kita untuk pindah dari rumah ini. Karena aku tahu mommy sangat menyayangimu, begitu juga denganmu. Aku mau saat kita meninggalkan rumah ini bukan karena menghindari masalah ini. Kita harus tetap memiliki hubungan yang baik dengan mommy, karena dia ibumu dan ibu mertuaku. Walau aku belum tahu bagaimana caranya mengambil hati mommy." Kata Yurina tiba-tiba menjadi ikut sedih.
__ADS_1
Moranno memeluk isterinya yang duduk disampingnya itu, dibelainya perlahan rambut hitam panjang Yurina dengan lembut.
"Aku hanya ingin kau dan mommy tidak bertengkar saja, mungkin saja bila kita tinggal dirumah yang terpisah, kau dan mommy akan jarang bertemu dan membuat kalian tidak ada kesempatan untuk bertengkar." Kata Moranno mengemukakan sedikit alasannya.
"Mungkin kau benar. Tapi bila kita pergi, tidakkah mommy akan tembah membenciku? Dan aku yak mau itu terjadi." Kata Yurina merasa cemas.
"Aku akan berusaha lebih baik lagi menjadi isteri dan menantu yang baik dirumah ini. Misalnya saja tadi, mommy memarahiku karena bangun kesiangan, itu memang salahku, tidak ada isteri yang seperti itu." Kata Yurina jujur. Moranno memandang wajah isterinya yang terlihat polos menceritakan penyebab ibunya memarahi isterinya itu, hatinya tiba-tiba menjadi terharu dan sedikit geli. Moranno tersenyum melihat mimik wajah Yurina yang cemas namun terlihat menggemaskan.
"Bukankah itu salahku juga, yang membuatmu kelelahan semalam, hmmm?" Moranno tersenyum menggoda. Wajah Yurina merona ia langsung terdiam, sementara Moranno semakin erat memeluk tubuh isterinya yang sudah tidak ramping lagi.
"Huff.... aku kesulitan bernapas." Kata Yurina dengan napas terengah-engah. Moranno merenggangkan pelukannya.
"Baiklah, bila kau belum setuju. Kita akan membicarakannya lagi lain waktu saja, sekarang aku akan kembali kekantor. Kau baik-baik dirumah, beristirahatlah dan harus makan lagi, karena tadi kau makannya sedikit. Jaga kesehatanmu dan bayi-bayi kita sayang." Moranno mencium pucuk rambiut Yurina dengan kasih sayang lalu melepasakan pelukannya dan segera berdiri.
"Aku akan mengantarkanmu sampai kemobil." Kata Yurina ikut berdiri dari duduknya.
"Tidak perlu, kau dikamar saja." Cegah Moranno.
" Baiklah...." Yurina lalu mengantarkan suaminya hanya kepintu kamar. Setelah Moranno pergi Yurina menutup pintu kamarnya dengan rapat.
Yurina melangkah kearah jendela kaca. Ia memandang keluar jendela, sambil mengelus-elus perutnya yang semakin membesar. Tak lama, ia melihat mobil Moranno meninggalkan halaman rumah besar mereka.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Yurina.
"Silahkan masuk." Kata Yurina sambil memandang kearah pintu yang diketuk.
"Maafkan saya nyonya, tuan meminta saya membawakan sup hangat ini lagi untuk nyonya." Kata bibi Nani.
" Terima kasih bibi... Letakkan diatas nakas, saya akan segera memakannya." Yurina melangkah mendekati bibi Nani
"Apa perlu saya membantu menyuapi nyonya?" Bibi Nani menawarkan bantuannya.
"Ah tidak perlu bi, saya masih bisa nelakukannya sendiri. Bibi boleh pergi, dan tolong bawakan peralatan makan yang telah kosong ini." Kata Yurina menunjuk peralatan makan kotor diatas nakas.
" Baik nyonya." Bibi Nani meletakkan sup yang ia bawa diatas nakas dan membawa peralatan makan yang telah digunakan Yurina dan Moranno sebelumnya keluar kamar menuju dapur.
__ADS_1
Yurina kembali menikmati sup yang dibawa bibi Nani, walau tak banyak, setelah dirasanya cukup, Yurina segera beristirahat ditempat tidurnya. Tak lama ia pun terlelap.
***
Sore itu seperti biasanya Yurina berjalan-jalan mengitari taman hanya untuk berolah raga bagi dirinya yang sedang mengandung. Para pelayan sibuk melakukan pekerjaannya masing-masing. Yurina terus berjalan beberapa waktu lamanya sambil sesekali mengelus perutnya yang semakin membesar.
Ponsel disakunya tiba-tiba berbunyi. Yurina meraihnya dan melihat siapa yang menelponnya, ia buru-buru menggeser menggunakan jempolnya untuk menerima panggilan masuk.
"Hallo Lisa, apa kabarmu?...." Kata Yurina girang.
"Baik. Maafkan aku baru menelponmu. Beberapa waktu lalu saat kau menelponku aku lupa menelponmu kembali setelah selesai meeting. Apa yang ingin kau katakan saat itu?" Terdengar suara Lisa dari seberang sambungan telepon.
"Ah tidak ada apa-apa, aku hanya merindukanmu?" Yurina mengurungkan niatnya menyampaikan pada Lisa apa yang ia rasakan pada Moranno saat itu.
"Benar, kau tidak ada apa-apa yang ingin disampaikan."
"Benar...."
"Serius..." Tanya Lisa memastikan.
"Iya serius...." Kata Yurina meyakinkan sambil tertawa kecil.
"Apa yang kau lakukan sekarang?"
"Aku sedang jalan-jalan sore disekitar rumah saja , untiuk berolah raga sesuai saran dokter supaya aku dan bayi didalamnya juga sehat." Kata Yurina yang menceritakan kegiatannya pada Lisa sahabatnya.
" Wah aku jadi ingin melihatmu, pasti tubuhmu banyak perubahan sekarang. Besok pagi jam sembilan aku akan berkunjung ke panti kita dulu, Kebetulan besok aku ada waktu, apa kau ingin pergi kesana bersamaku?
"Nanti aku ijin dulu pada suamiku, bila diijinkan aku akan ikut bersamamu. Sudah lama juga kita tidak berkunjung kesana."
""Baiklah aku menunggu kabar darimu ya?
"Ok, aku akan mengabarimu nanti."
Yurina memasukan ponselnya kembali kedalam sakunya, sesaat setelah Lisa memutus sambungan teleponnya.
__ADS_1