
"Apa yang terjadi kakak ipar?" Tanya Margareth lagi sambil menatap layar televisi dihadapan mereka.
"Entahlah adik ipar..... Aku juga belum tahu....." Sahut Yurina sambil memperhatikan layar televisi yang sedang menayangkan siaran langsung.
"Mommy..... mommy.... Bagaimana kakak ipar??" Tanya Margareth nampak khawatir saat mengingat ibunya yang sudah berangkat kekantor pagi itu.
Yurina kembali meraih ponselnya dan segera menelpon seseorang.
"Halloo nyonya muda....." Terdengar suara pria diseberang sana.
"Asisten Rudi, apakah nyonya besar ada dikantor, lalu bagaimana keadaannya?"
"Nyonya besar ada dikantor, diruangan tuan Moranno. Tadi sempat tidak sadarkan diri, dan sudah ada dokter Herman yang menanganinya nyonya muda."
"Nyonya muda.... Apakah anda bisa datang kemari, keadaan semakin kacau dan memanas dibawah sana nyonya, mereka butuh pihak owner bertemu mereka langsung nyonya muda, itu pernintaan yang saya dengar." Jelas asisten Rudi.
"Baiklah......" Yurina langsung menutup ponselnya kembali.
"Bagaimana keadaan mommy kakak ipar??" Tanya Margareth dengan wajah sangat khawatir.
"Nyonya besar sempat pingsan, namun dokter Herman sudah ada disana untuk menanganinya adik ipar." Jelas Yurina.
"Syukurlah.....Aku ingin kesana, tapi hari ini jadwal kak Moranno untuk terapi, dan ini tidak bisa ditunda kakak ipar." Ucap Margareth merasa dilema.
"Begini saja adik ipar. Aku akan kekantor sekarang, kau.... tolong urus kakakmu Moranno terapi sesuai jadwal yang sudah diatur." Kata yurina membagi tugas.
"Aku rasa untuk sementara waktu kita tidak perlu memberi tahu dulu padanya tentang masalah ini." Ucap Yurina menatap kearah Margareth.
"Iya, kau benar kakak ipar, dalam proses terapi ini, kak Moranno memang tidak boleh berpikir terlalu berat, apalagi stres, karena itu sangat menentukan keberhasilan terapi ini kakak ipar." Sahut Margareth setuju.
"Jadi kalau begitu aku percayakan suamiku padamu adik ipar, tolong jangan sampai ia menonton televisi untuk sementara waktu ini."
"Baik kakak ipar."
Yurina segera berlalu menuju kekamarnya. Dikamar, ia melihat Moranno sudah terbangun.
"Maafkan aku sayang, aku bangun kesiangan." Kata Moranno menatap Yurina yang mendekatinya.
"Tidak apa - apa suamiku.... Kau memang harus banyak istirahat supaya lekas sembuh, dan tenagamu juga bisa lekas pulih." Ucap Yurina lalu duduk ditepi tempat tidur.
"Ayo aku bantu kau kekamar mandi, kau harus membersihkan tubuhmu sekarang suamiku." Ucap Yurina kembali berdiri dari duduknya.
"Hmmm....." Moranno mengangguk tanda setuju.
Yurina membantu memindahkan tubuh Moranno yang masih belum kuat berdiri kekursi roda.
"Sayang, kau tak perlu melakukan semuanya ini seorang diri. Pelayan dapat melakukannya untukku." Kata Moranno yang merasa kasihan pada isterinya itu.
"Tidak suamiku, aku masih sanggup melakukannya sendiri. Tubuhmu masih terasa ringan, jadi aku tidak merasa kesulitan membantumu." Ucap Yurina sedikit menggoda sambil tersenyum.
"Apakah aku masih sangat kurus? Tanya Moranno menatap isterinya yang sedang melepaskan pakaiannya satu persatu didalam kamar mandi.
"Kau masih sangat kurus suamiku, lihatlah tulang - tulang rusukmu sangat jelas terlihat." Tunjuk Yurina dengan wajahnya pada tubuh Moranno dihadapannya.
__ADS_1
"ini tubuh yang ideal sayang.....Sulit mendapatkan postur tubuh seperti ini, perlu pengorbanan besar, harus koma beberapa bulan lamanya." Seloroh Moranno.
Yurina tertawa kecil mendengar ucapan suaminya itu, entah apa maknanya.
"Apakah kau berkata seperti itu untuk menghibur dirimu sendiri suamiku?" Kata Yurina masih tertawa kecil.
"Yahh.... Bisa dibilang seperti itu juga sayang." Sahut Moranno ikut tertawa kecil bersama Yurina. Menurutnya, itu adalah ucapannya yang konyol.
"Tapi aku ingin kau lebih banyak makan lagi suamiku. Jujur saja, aku ingin tubuhmu lebih berisi, supaya kau juga lebih bertenaga. Aku merindukan tangan kuatmu ini menggendongku lagi seperti dulu." Ucap Yurina sambil membersihkan dan membalurkan tangan Moranno dengan sabun.
"Baiklah..... Aku janji, akan makan yang banyak. Supaya tubuhku tidak sekurus ini lagi. Sekarang kan aku sudah tidak muntah - muntah lagi. Aku akan bisa menggendong tubuhmu lagi sayang."
Yurina tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. Ia lalu menghidupkan kran air hangat untuk membersihkan tubuh Moranno yang penuh dengan busa sabun.
Tok....
Tok....
Tok.....
"Masuklah......" Teriak Yurina sambil membawa Moranno yang baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi.
"Nyonya muda, saya membawakan sarapan untuk tuan Mkranno...." Bibi Nani masuk membawa nampan ditangannya.
"Terima kasih bibi..... Letakan saja ditempat biasa....." Kata Yurina sambil mengambil pakaian ganti Moranno dilemari pakaian.
"Iya nyonya muda....." Bibi Nur lalu meletakan diatas nakas.
"Iya bibi, terima kasih...." Ucap Moranno sambil tersenyum pada bibi Nani.
"Iya tuan....." Bibi Nani lalu bergegas keluar meninggalkan kamar itu.
Yurina lalu membantu Moranno mengenakan pakaiannya setelah pintu kamar mereka kembali tertutup rapat.
"Suamiku, hari ini jadwal imunisasi bayi - bayi kita, aku akan membawa mereka bertemu dokter Rosalie kembali hari ini." Kata Yurina sambil menyuapi suaminya itu.
"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menemani kalian bertiga. Karena kondisiku masih seperti ini" Ucap Moranno nampak sedih.
"Iya suamiku tidak apa - apa. Lagi pula hari ini kau juga ada jadwal terapi dengan adik ipar bukan?"
"Iya sayang......" Sahut Moranno berusaha tersenyum.
"Semoga terapi hari ini berjalan dengan baik. Dan kau bisa segera pulih suamiku."
"Terima kasih sayang....." Moranno menghabiskan sarapannya pagi itu lalu segera meminum obat yang disodorkan Yurina padanya.
Yurina lalu mengganti pakaiannya untuk segera bersiap. Ia memoles wajahnya didepan meja riasnya.
Moranno memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan isterinya itu dari atas kursi rodanya hingga membuat Yurina jadi salah tingkah.
"Ada apa suamiku? Apa ada sesuatu yang kurang?" Tanya Yurina seakan tidak percaya diri.
"Kau sangat cantik hari ini sayang." Puji Moranno.
__ADS_1
Wajah Yurina bersemu merah mendengar ucapan Moranno.
"Benarkah??" Ucap Yurina pura - pura tak percaya.
"Iya benar.... Ingat ya, jangan hiraukan laki - laki lain yang mungkin saja akan menggodamu nanti diluar sana. Masih ada diriku yang kurus ini menunggumu dirumah." Seloroh Moranno namun dengan wajah datar.
Yurina tertawa kecil mendengar ucapan Moranno yang terdengar menggelikan dengan wajahnya yang nyaris tanpa ekspresi itu.
"Suamiku.... Tidak ada yang berani menggodaku, isteri dari tuan Moranno Agatsa...." Ucap Yurina ikut berseloroh.
"Bisa saja itu terjadi, aku kan tidak ada disisimu. Apa lagi orang - orang mengetahui jika aku sedang sakit." Ucap Moranno masih dengan wajah tanpa ekspresinya.
Yurina mendekati Moranno yang duduk dikursi rodanya. Ia berjongkok didepan suaminya itu. Diraihnya kedua tangan suaminya itu lalu menciumnya dengan lembut.
"Apa ini suatu pertanda bahwa kau cemburu padaku?" Ucap Yurina menggoda.
"Entahlah..... Tapi bisa juga dibilang seperti itu." Ucap Moranno masih datar.
"Terima kasih suamiku.... Kau membuat hatiku berbunga - bunga. Aku merasa sangat tersanjung bila seorang suami seperti dirimu merasa cemburu padaku yang bukan siapa - siapa ini." Ucap Yurina kembali mencium kedua tangan Moranno.
"Berhentilah mengatakan dirimu bukan siapa - siapa. Kau adalah isteriku, wanitaku, ibu dari anak - anakku. Kau sangat berharga dan istimewa dihatiku."
"Aku mau, dirimu.... hatimu.... semuanya selalu menjadi milikku...." Ucap Moranno memandang lekat wajah Yurina yang masih berjongkok dihadapannya.
"Aku.... berjanji..... akan selalu menjaga hatiku untukmu.... Suamiku, pria yang sangat istimewa dalam hidupku...." Yurina turut menatap lekat wajah suaminya itu.
Moranno menundukkan wajahnya mendekati wajah Yurina.
Bibirnya mendarat dibibir merah Yurina. Yurina hanya bisa memejamkan matanya, merasakan sentuhan bibir Moranno yang hangat.
Perlahan, kedua bibir itu saling menyesap lembut, menyiratkan kerinduan yang begitu lama terpendam.
"Ehem.... Ehemmm......" Margareth tiba - tiba masuk tanpa mengetuk pintu.
Moranno dan Yurina buru - buru melepaskan ciuman mereka dengan wajah memerah.
"Anak nakal...... Kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu." Omel Moranno kesal.
"Yaaa.... maaffff..... Aku lupa kalau kak Moranno sudah punya isteri.... heheheee......" Ucap Margareth cengar - cengir tanpa merasa bersalah.
"Itulah.... kebiasaan burukmu dibawa sampai jadi dokter......" Ucap Moranno meledek.
"Nah.... nah.... jangan bawa - bawa profesiku kakak. Itu memang kebiasaan burukku sejak dari orok...." Ucap Margareth tak terima.
"Itu..... Kak Moranno kok pake lipstik. Menjijikkan.....Laki - laki kok pake lipstik...." Ucap Margareth menunjuk bibir Moranno.
Moranno lalu menyentuh bibirnya dengan tangan kirinya. Nampak noda merah disana.
"Kau memang masih kecil Margaret.....Sini kakak beri tahu padamu. Ini lipstik kakak iparmu yang menempel pada bibirku, karena kami baru saja berciuman. Kau saja yang datang tanpa permisi mengganggu kegiafan kami." Ucapnya blak - blakkan.
Yurina dan Maegareth terperangah, mulut kedua wanita dewasa itu ternganga, mereka tidak menyangka Moranno sanggup mengatakan hal seperti itu dengan begitu gamblang.
***
__ADS_1