JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 107 "Aku akan mengikhlaskan putraku itu pergi."


__ADS_3

Yurina keluar dari kamar bayi hendak mengambil sesuatu di kamarnya.


Langkahnya terhenti didepan pintu kamar. Ruang kerja Moranno yang tampak terang - benderang.


Dengan rasa penasaran Yurina melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Moranno.


Pintu ruang kerja Moranno sedikit terbuka, Yurina memasang telinganya didekat pintu, namun tidak terdengar suara apapun, sepi dan senyap.


Yurina mulai mengintip disela pintu yang sedikit terbuka, namun tidak terlihat seorangpun disana.


Yurina berbalik, ia hendak kekamarnya sesuai rencananya semula.


"Masuklah Yurina...." Tiba - tiba terdengar suara seseorang wanita memanggilnya dari dalam.


Yurina mengurungkan niatnya kembali kekamar saat mendengar suara yang amat ia kenal. Ya, siapa lagi kalau bukan ibu mertuanya, nyonya Agatsa.


Ia merasa heran, bagaimana mertuanya bisa mengetahui kehadirannya, sedangkan ia tidak tahu dimana posisi mertuanya itu berada.


Walau sedikit ragu, Yurina akhirnya memberanikan dirinya untuk mendorong pintu yang sudah sedikit terbuka.


Dari depan pintu, Yurina melihat nyonya Agatsa sedang duduk dikursi meja kerja biasanya Moranno berkerja. Wanita paruh baya itu sedang pokus pada monitor komputer didepannya.


"Selamat malam nyonya besar. Anda memanggil saya?" Kata Yurina sambil membungkuk hormat seperti biasanya.


"Duduklah...." Ucap nyonya Agatsa datar, matanya masih pokus pada layar monitor didepannya.


"Terima kasih nyonya besar." Sahut Yurina lalu mendudukkan dirinya dikursi sofa.


Untuk beberapa saat nyonya Agatsa masih setia menatap layar didepannya dan membiarkan Yurina menunggu.


Yurina mengatur napasnya, ia siap dengan apapun yang akan dikatakan ibu mertuanya nanti.


"Kenapa kau belum tidur?" Tanya nyonya Agatsa mengalihkan pandangannya memandang kearah Yurina.


"Saya ingin mengambil sesuatu dikamar saya nyonya besar, namun saat saya melihat ruang kerja ini terlihat begitu terang, saya kemari unruk memeriksanya." Jelas Yurina.


Nyonya Agatsa bangkit dari kursinya, ia menuju sofa dimana Yurina duduk.

__ADS_1


Tepat dihadapan Yurina, nyonya Agatsa mendudukkan dirinya. Yurina sempat menahan napasnya. Namun ia berusaha untuk tidak tegang.


"Mengapa kau masih bertahan disini?" Tanya nyonya Agatsa dengan wajah dan suara yang sama datarnya.


Yurina tidak segera menjawab, pertanyaan ibu mertuanya itu membingungkan baginya.


"Mungkin kau telah mendengar, perusahaan keluarga Agatsa, terancam bangkrut, terjadi banyak masalah, khusunya di Agatsa Properti Grup."


"Juga putraku, sampai sekarang belum sadarkan diri dari komanya, walaupun kita sudah mendatangkan dokter saraf dari luar negeri dalam tiga bulan ini."


"Hari ini, ketiga dokter itu telah kembali kenegaranya masing - masing."


"Para dokter mengatakan bahwa Moranno hanya bertahan karena alat - alat medis yang menempel pada tubuhnya itu saja." Nyonya Agatsa menjedah perkataannya, menghirup udara masuk sebanyak - banyaknya kedalam paru - parunya lalu menghembuskannya dengan perlahan.


"Yurina.... setiap hari kau melihat dan membersihkan tubuh Moranno, kau pasti jelas melihat bahwa tubuhnya sangat kurus sekarang. Tubuhnya itu hanya mengandalkan asupan dari selang yang masuk ketubuhnya melalui hidung."


"Sebagai ibunya, aku tidak rela melihatnya menderita begitu lama." Nyonya Agatsa kembali menjedah ucapannya. Dari raut wajahnya ia berusaha menahan gejolak perasaannya.


"Apa maksud nyonya besar?" Yurina memberanikan diri menatap nyonya Agatsa yang duduk dihadapannya.


"Tidak.... tidak....tidak boleh.... Nyonya besar tidak boleh menyerah." Suara Yurina mulai bergetar. Air matanya sudah berurai tanpa bisa ia tahan lagi.


"Kita tidak bisa membiarkan Moranno menderita begitu lama Yurina...." Suara nyonya Agatsa pun mulai ikut bergetar.


"Jangan nyonya besar, anda jangan sampai menyerah. Tuan Moranno, putra anda masih hidup, anda tidak boleh menyerah begitu saja nyonya besar." Yurina tetap bersikeras dengan air matanya yang berlinang.


"Justru karena dia adalah putraku, maka aku tidak rela membiarkan dia menderita begitu lama. Moranno bertahan hanya karena alat - alat medis yang membantunya. Mengertilah Yurina...." Suara nyonya Agatsa sedikit tertekan karena menahan gejolak keaedihan didadanya.


"Saya tidak bisa mengerti.... kenapa nyonya besar bisa menyerah. Dia putra nyonya, dia masih hidup nyonya besar." Nada suara Yurina terdengar sesikit tinggi.


"Walaupun ia bergantung pada alat - alat medis ditubuhnya, jantungnya masih berdetak. Masih ada harapan nyonya besar."


"Berapa banyak Yurina, berapa banyak harapan bagi Moranno untuk bertahan hidup, hampir semua sarafnya sudah tidak berfungsi." Ucap nyonya Agatsa berusaha menjelaskan.


"Tuan Moranno adalah suami saya, ayah anak - anak saya. Sekalipun hanya sedikit harapan, saya akan tetap memanfaatkan kesempatan itu. Sama seperti operasi pada waktu itu, yang kesempatan untuk berhasilnya saja hanya satu persen."


"Jangan pernah kita sia - siakan kesempatan yang ada ini, kalau sampai sekarang tuan Moranno masih bertahan, itu tandanya, tuan Moranno masih punya semangat untuk hidup. Jangan sampai tindakan kita memupuskannya. Kecuali bila mesin pendeteksi jantung itu sudah tidak dapat mendeteksi denyut jantung tuan Moranno." Ucap Yurina dengan penuh semangat walau diiringi air matanya yang masih berderai.

__ADS_1


Nyonya Agatsa terdiam, ia merasa bahwa menantunya itu lebih tangguh dan memiliki pendirian yang lebih kuat dari dirinya dalam mempertahankan Moranno dibandingkan dirinya sebagai ibu putranya iti.


***


Pagi itu, seperti biasanya, nyonya Agatsa sudah berangkat pagi - pagi setelah sarapan paginya.


Yurina dan bibi Nur menyiapkan bayi Billy dan juga bayi Willy.


Hari itu adalah jadwal imunisasi ketiga bulan bagi kedua bayi gembul itu.


Pak Karso mengantarkan mereka menuju rumah sakit Agatsa Hospital untuk menemui dokter Rosalie yang akan memberi imunisasi pada keduanya.


Bibi Nur tidak henti - hentinya tersenyum saat melihat mata kedua bayi itu yang melihat kesana - kemari dari kereta mereka saat diturunkan dari mobil.


Yurina dan bibi Nur mendorong kereta bayi Billy dan bayi Willy menunju ruang dokter Rosalie.


Setelah mengambil nomor antrian, Yurina menunggu diruang tunggu bersama bibi Nur dan kedua bayi kembarnya.


Suasana pagi itu nampak masih sepi, masih sedikit yang ikut mengantri. Dokter Rosalie pun belum tiba.


Kedua bayi itu sudah mulai pandai berceloteh, walau hanya bisa mengeluarkan suara oeeeee..... aaaaa..... oooo.....uooooo...


Yurina dan bibi Nur dengan telaten menjawab obrolan bayi Billy dan bayi Willy, walau mungkin banyak perkataan yang tidak nyambung dengan kedua bayi itu.


Kedua bayi itu merasa bahagia, terlihat dari wajah mereka yang tersenyum dan tertawa - tawa setelah mendengar jawaban Yurina ataupun bibi Nur yang terkesan asal - asalan.


"Mamah.... mamah......mamah......" Seorang anak perempuan kecil dengan suara cadelnya tiba - tiba sudah berdiri didekat bayi Billy dan bayi Willy. Ia menunjuk - nunjuk kedua bayi kembar yang sedang menatap kearahnya sambil tertawa kegirangan.


Yurina dan bibi Nur sama - sama menoleh kearah anak perempuan yang belum genap berusia satu tahun itu.


"Dimana mamahmu sayang?" Tanya Yurina lembut.


Anak perempuan itu menunjuk kesatu arah. Yurina memperhatikan jari telunjuknya mengarah pada dokter Rosalie yang berjalan menuju kearah mereka.


"Itukah mamah mu sayang? Tanya Yurina memastikan.


Anak perempuan itu menganggukkan kepalanya mengiyakan. Yurina tertegun melihat anggukan anak kecil itu. Bagaimana tidak? Setahunya dokter Rosalie belum menikah, apalagi sampai memiliki anak.

__ADS_1


__ADS_2