
"Kalau begitu ayo kita buat sekarang bi..." Kata Yurina sambil melihat kearah wajah bjbj Nur.
"Iya nyonya." Ujar bibi Nur setuju. Ia lalu bergegas mendekati lemari pendingin diikuti Yurina dibelakangnya.
Bibi Nur lalu mengeluarkan daging ayam kampung, sayuran dan bahan-bahan lainnya yang sudah dibersihkan oleh bibi Nani.
"Apakah semua bahan ini sudah cukup nyonya?" Tanya bibi Nur.
"iya bi, tolong di potong-potong semuanya, saya yang buatkan bumbunya ya." Kata Yurina
"Baik nyonya."
Yurina dan bibi Nur yang berbagi tugas segera melakukan pekerjaan memasaknya dengan cekatan.
"Bibi Nur, apakah bibi Nur memiliki anak?" Tanya Yurina disela-sela kesibukan mereka memasak.
"Iya nyonya, bahkan saya memiliki dua orang cucu, mereka laki-laki dan perempuan dari putra tunggal saya." Kata bibi Yurina sambil tersenyum.
"Mereka sekarang tinggal dimana bi?" Tanya Yurina sambil pokus pada kegiatan masaknya.
"Masih dikota ini juga nyonya. Putra saya seorang guru Sekolah Dasar. Ia ingin seperti mendiang ayahnya."
"Oh, almarhum suami bibi seorang guru juga..."
"Iya nyonya mendiang suami saya seorang guru dan sangat mencintai pekerjaannya itu, juga kami keluarganya."
__ADS_1
"Pasti bibi sangat bahagia." Kata Yurina saat melihat wajah bibi Nur tersenyum seakan teringat masa lalunya yang indah.
"Tentu saja nyonya. Saya dan suami, kami sama-sama saling mencintai, itu sebabnya sepeninggal suami saya, saya tidak ingin menikah lagi, saya lebih memilih menjadi orang tua tunggal bagi putra saya, membesarkannya dan menyekolahkannya seorang diri."
"Bibi hebat sekali. Mendiang suami bibi pasti seorang suami dan ayah yang istimewa. Bi, bagaimana ceritanya bibi bisa jatuh cinta pada mendiang suami bibi itu?" Tanya Yurina sambil memasukan semua bahan kedalam panci diatas kompor.
"Iya nyonya, mendiang suami saya dia sangat berbeda dari kebanyakan pria yang mendekati saya." Kata bi Nur bercerita sambil mengenang masa lalunya.
"Dia tidak suka merayu, tapi suka memberi bantuan pada saya tanpa saya ketahui. Suka mengirimkan hadiah-hadiah yang sederhana, hingga suatu ketika saya mengetahui bahwa semuanya itu dilakukan suami saya secara diam-diam, saya mulai jatuh cinta padanya, siang malam teringat selalu padanya. Mau makan, seakan melihat wajahnya dipantulan piring. mau BAB juga masih ingat sama dia. Bahkan surat cinta pertama yang ia kirim dua halaman saya menghapal kata demi kata hingga titik komanya nyonya." Kata bibi Nur dengan wajah senangnya mengingat apa yang pernah ia rasakan.
"Wah bibi, ternyata pernah merasakan bucin juga ya pada masanya." Yurina dan bibi Nur lalu tertawa bersamaan. Bibi Nur lalu melanjutkan kembali ceritanya.
Setelah kami menikah dan dikarunia seorang putra, mendiang suami saya tetap berusaha membahagiakan saya dan putra saya, walau terkadang ia sangat lelah dan sibuk tapi selalu berusaha menyempatkan waktunya bersama kami. Sebenarnya saya juga tidak banyak menuntut pada suami saya, karena saya tau dia sangat sibuk, maklumlah suami saya guru yang ditugaskan di kampung, dan pada saat itu masih banyak kekurangan tenaga guru yang mengajar disana, jadi untuk menutupinya suami saya mengajar beberapa kelas sekaligus."
"Tapi, saat suami saya meninggal semuanya serasa sangat berbeda, hidup saya terasa hampa, separuh jiwa saya serasa juga ikut pergi." Wajah bibi Nur terlihat sedih mengenang suaminya. Yurina yang melihat perubahan wajah bibi Nur mengusap-usap punggung sang bibi dengan lembut.
"Waktu itu tuan Moranno dan saudari kembarnya nona Margareth masih batita dan putra saya SD kelas enam. Walau usia mereka cukup jauh, tapi nyonya besar memperbolehkan anak saya dekat dengan tuan Moranno dan nona Margareth. Beliau tidak membedakan antara putra saya dengan anak-anaknya, walau saya hanya sebagai pelayan yang bekerja dirumah ini. Bahkan nyonya dan mendiang tuan besar sering memberikan putra saya hadiah." Tutur bibi Nur.
Yurina sempat tertegun saat mendengarkan penuturan bibi Nur tentang ibu mertuannya yang begitu baik dan perduli. Tidak seperti yang diceritakan bibi Nur sang kepala pelayan, Yurina merasakan ibu mertuanya sangat tidak menyukainya. Mungkin ada alasan tertentu mengapa mertuanya bersikap demikian padanya. Yurina hanya bisa mendesah dan tetap berusaha berpikir positip akan sikap ibu mertuanya padanya.
"Jadi tuan Moranno memiliki saudari kembar yang bernama Margareth? Apakah anak perempuan yang seusia tuan Moranno dipoto keluarga yang sempat saya lihat beberapa bulan lalu itu adalah nona Margareth?" Tanya Yurina yang baru mengetahui kebenaran itu.
"Iya benar nyonya."
"Sekarang dimana keberadaannya bi, waktu saya menikah dengan tuan Moranno nona Margareth tidak hadir?" Tanya Yurina penasaran.
__ADS_1
"Maaf nyonya saya juga tidak tahu keberadaan nona Margareth sekarang." Kata bibi Nur terlihat menyembunyikan sesuatu. Yurina pun tak bertanya lebih jauh lagi.
"Sup nya sudah matang bi, ini tolong bibi cicipi, apakah cita rasanya sudah cukup atau bagaimana?" Kata Yurina sambil menyodorkan mangkuk kecil pada bibi Nur untuk dicicipi.
"Rasanya sudah cukup nyonya. Sepertinya sedikit ada perbedaan cita rasanya dengan buatan saya. Buatan nyonya lebih gurih dari buatan saya, mungkin itu yang membuat nyonya besar lebih menyukai buatan nyonya. Padahal bahan dan bumbunya sama." Kata bibi Nur setelah mencicipi hasil masakan Yurina.
"Benarkah?" Yurina lalu mencicipi masakannya dan membandingkannya dengan masakan bibi Nur sebelumnya.
"Tapi hanya sedikit saja beda rasanya bi." Kata Yurina setelah nerasakan kedua masakan itu.
"Iya nyonya, walau sedikit tapi tetap ada bedanya. Memang rasa tak pernah bohong" Kata bibi Nur seraya tersenyum dan menyiapkan mangkuk saji untuk nyonya Agatsa.
"Nyonya saya siapkan makan malam untuk nyonya ya dimeja makan."
"Ah tidak perlu bi, saya akan melakukannya sendiri."
"Tapi nyonya, ini adalah tugas saya melayani nyonya."
"Tidak apa bi, lebih baik bibi segera mengantarkan makanan itu untuk nyonya besar, beliau kan sedang sakit, supaya bisa segera minum obat setelah makan jadi bisa segera istirahat."
"Kalah begitu saya permisi dulu ya nyonya mau kekamar nyonya besar untuk mengantarkan ini." Kata bibi Nur sambil memegang nampan berisi makan malam nyonya Agatsa ditangannya.
"Iya bi."
Bibi Nur dengan hati-hati membawa nampan ditangannya ke kamar nyonya Agatsa yang berada dilantai tiga.
__ADS_1
Yurina yang tinggal seorang diri lalu menyiapkan makan malamnya sendiri. Bayangan Moranno kembali melintas dikepalanya. Sambil menikmati makan malamnya, Yurina tersenyum-senyum sendiri saar mengingat cerita bibi Nur. Sepertinya ia juga sedang jatuh cinta pada Moranno, pria yang wajahnya selalu terbayang dalam pikirannya. Seperti saat ini seolah-olah Moranno sedang duduk dikursinya yang ada dihadapan Yurina menemaninya makan malam.