
"Nyonya muda Yurina Moranno Agatsa....." Ucapnya menyeringai, tatapannya begitu lekat, seakan menembus jantung Yurina.
Yurina menatap wanita didepannya tak berkedip. Wanita didepannya adalah seorang dokter spesialis saraf, wajah cantiknya seakan tersembunyi akibat sikapnya yang sedikit menakutkan dimata Yurina.
Bagi Yurina wanita dihadapannya ini lebih menakutkan dari pada ibunya. Apakah mungkin profesinya sebagai ahli saraf membuatnya seperti orang yang terkena gangguan saraf pikir Yurina.
"Apa tujuanmu datang kemari?" Tanyanya lagi.
"Aku tidak yakin, kalau kau tidak mengetahui tujuanku datang kemari. Namaku saja sanggup kau sebut dengan lengkap.... Nona Margareth Agatsa, dokter spesialis saraf yang sangat dikenal dikota ini." Ucap Yurina tanpa mengalihkan pandangannya.
Dokter wanita didepannya melempar senyum yang dipaksakan dan terlihat sinis.
"Kau salah..... aku bukan nona dari keluarga Agatsa lagi. Aku mampu berdiri diatas kakiku sendiri. Aku tidak memerlukan nama besar keluarga Agatsa dibelakang namaku." Ucapnya sarkas.
"Tapi kau tidak bisa membuang darah keluarga Agatsa yang mengalir dalam tubuhmu. Sekuat apapun kau menolak keluarga Agatsa, dan sejauh mungkin kau pergi meninggalkan keluarga mu sendiri, kau pasti akan selalu terhubung dengan cara apapun." Sahut Yurina menatap lurus kedalam mata dokter wanita itu.
"Buktinya.... kau bisa mengenaliku dengan baik, walau kita baru pertama kali bertemu. Kau diam - diam menghimpun informasi semua yang berkaitan dengan keluargamu, keluarga Agatsa." Ucap Yurina yang tak sedikitpun mengalihkan tatapannya dari dokter wanita dihadapannya.
"Kau terlalu percaya diri dengan ucapanmu. Aku sudah melupakan semuanya yang kuanggap tak penting." Wanita itu tersenyum sinis.
Yurina lalu melemparkan satu bandel berkas keatas meja yang ada dihadapan dokter wanita tersebut.
"Apa itu...." Tanyanya menatap Yurina tak senang.
"Semua tentang dirimu.... semuanya ada disitu. Mulai kau lahir hingga sekarang kau ada disini." Jelas Yurina.
Dokter wanita itu mengambil berkas diatas mejanya dan membuka lembaran demi lembaran. Raut wajahnya terlihat berubah, namun ia berusaha tenang.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan semuanya ini?" Tanyanya menyelidik.
"Itu bukan perkara sulit bagiku. Aku adalah anggota keluarga Agatsa, aku dapat melakukan apapun tanpa kau sanggup memikirkannya. Termasuk atas dirimu." Ucap Yurina penuh tekanan.
"Aku memberimu kesempatan untuk berkemas, termasuk mengajukan cuti kerjamu, selesaikanlah semuanya itu dihari ini. Besok jam sepuluh pagi kau sudah dijemput. Aku tidak menerima penolakan apapun." Pungkasnya.
"Satu lagi.... Kita ini keluarga. Panggil aku kakak ipar, tunjukan kesopananmu padaku adik ipar." Yurina mengenakan kembali jas panjangnya, kacamata dan juga topi lebarnya yang semuanya berwarna gelap.Yurina bangkit lalu pergi begitu saja.
Dokter wanita itu menatap Yurina yang pergi tanpa memberi kesempatan padanya untuk menyela ucapannya.
__ADS_1
Setelah Yurina menghilang dibalik pintu, wanita itu lalu melemparkan berkas itu kedinding sehingga membuat isinya berhamburan diudara.
"Sial.....!!! Kupikir dia wanita muda yang lemah...!" Teriaknya seorang diri.
***
"Syukurlah kau patuh pada perkataanku adik ipar." Sambut Yurina saat Margareth turun dari mobil.
"Untuk apa kita disini? Kenapa tidak langsung kerumah sakit?" Ucapnya dengan wajah tak senang.
"Sebagai tuan rumah yang baik, tidak mungkin aku membiarkanmu kelaparan adik ipar. Ayo.... masuklah, aku sudah menyiapkan semuanya untukmu." Ajak Yurina.
Yurina berjalan mendahului Margareth memasuki restoran. Namun langkahnya terhenti saat mengetahui adik iparnya itu tidak mengikutinya.
Yurina berbalik dan kembali menghampiri Margareth yang masih berdiri ditempatnya semula.
Yurina mendekatkan wajahnya kewajah adik iparnya, membuat wanita itu sedikit memundurkan tubuhnya.
"Bersikaplah sebagai adik ipar yang manis. Keras kepalamu itu akan merugikan dirimu sendiri. Ingat, aku kakak iparmu sudah memegang semua kartu AS mu." Bisik Yurina dengan nada mengancam ditelinga Margareth.
Mendengar ucapan Yurina, mata Margaret langsung membola, hatinya begitu kesal. Entah apa saja yang diketahui kakak iparnya yang usianya terbilang jauh lebih muda dari dirinya itu pikirnya.
Margaret lalu segera mengekor dibelakangnya. Seorang pelayan mengantarkan keduanya keruang VVIP.
Margareth mengerutkan keningnya, melihat ada dua meja, dan diatas kedua meja itu telah tersaji banyak makanan.
"Aku bisa memesannya sendiri sesuai seleraku." Ucapnya sambil duduk berhadapan dengan Yurina.
"Aku sengaja memesannya lebih dulu supaya kita tidak lama menunggu." Sahut Yurina.
Margareth memandang menu - menu yang sudah tersaji diatas meja dengan rapi.
"Makanlah.... Aku tidak akan meracunimu seperti yang pernah kau alami." Kata Yurina sambil mengambil makanan dipiring saji dan memasukkannya dalam piring miliknya.
Margareth masih berdiam diri, matanya masih memandang kearah banyaknya makanan dihadapannya.
"Atau kau merasa bingung? Mengapa aku memesan makanan pavorit masa lalumu dan makanan pavoritmu yang sekarang? Atau lebih tepatnya, kau mengganti semua makanan kesukaanmu dimasa lalu, dan memaksakan menu yang baru kau makan dimasa sekarang, padahal kau sangat tidak menyukainya. Apa dengan begitu, kau berharap bisa melupakan semuanya begitu saja." Ucap Yurina lagi sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
Margaret menatap wajah Yurina yang terlihat begitu santai memakan makanannya.
"Sudahlah, makanlah apa yang kau sukai, jangan membuat lidahmu menderita karena trauma masa lalumu itu." Ucap Yurina sambil meminum air mineral dari gelasnya.
Sedemikian detailnyakah wanita ini tahu tentang diriku? Pikir Margareth dalam hatinya.
Ia mulai mengambil makanan yang tersaji diatas meja dan memasukkannya didalam piringnya.
Yurina yang diam - diam memperhatikan apa yang dilakukan Margareth hanya bisa tersenyum didalam hati.
Adik iparnya itu sungguh mirip dengan karakter ibu mertuanya. Hanya berbeda generasi saja.
***
"Selamat siang nyonya muda.... Dan selamat datang nona Margareth Agatsa." Ucap dokter Rogen bersama teamnya menyambut kedatangan Yurina dan Margaret dengan membungkuk hormat.
"Tidak usah terlalu pormal dokter. Disini saya datang bukan sebagai nona dari keluarga Agatsa, tetapi sebagai dokter saraf untuk tuan Moranno." Ucapnya datar.
"Bagaimana kalau kita langsung keruang rawat tuan Moranno." Kata Yurina memotong pembicaraan.
"Baik nyonya muda..... dokter Margareth..... Mari kita masuk." Ucap dokter Rogen.
Didalam ruangan, Yurina memperhatikan dokter Rogen dan teamnya memberikan penjelasan tentang kondisi Moranno pada Margareth, sambil melakukan pemeriksaan bersama. Beberapa kali mereka terlihat membuka file hasil pemeriksaan kesehatan Moranno dan memperlihatkannya pada Margarerth. Hingga tak terasa dua jam sudah berlalu.
"Saya rasa cukup sampai disini dulu dokter Margareth." Ucap dokter Rogen.
"Baiklah.... kita akan lanjutkan besok, sesuai jadwal yang sudah dokter buat." Sahut Margareth.
"Nyonya muda.... Kami pamit dulu." Ucap dokter Rogen menghampiri Yurina.
"Iya dok.... terima kasih....." Sahut Yurina dengan senyuman.
Doktet Rogen dan teamnya tidak lupa membungkuk hormat pada Yurina lalu bergegas pergi.
"Aku.... keluar dulu ketoilet." Pamit Margaret lalu meninggalkan Yurina seorang diri.
Sepeninggal Margareth, Yurina mendekati Moranno suaminya yang masih terbaring seperti orang yang sedang tertidur lelap.
__ADS_1
Dipandangnya wajah Moranno, wajah yang hanya bisa ia lihat beberapa jam saja setiap harinya. Itupun bila ia datang kerumah sakit.