
"Tidak.... Bayi- bayi ini tidak boleh lahir dulu, mereka akan lahir bila daddy nya sudah sembuh. Suamiku sudah berjanji padaku bahwa dia akan menemaniku saat aku melahirkan bayi - bayi kami dokter." Kata Yurina masih terisak.
"Suamiku pasti akan melewati masa kritisnya kan dok? Suamiku pasti sembuh dan menemaniku disaat aku melahirkan nanti kan dok??" Ucap Yurina sambil menggenggam kedua tangan dokter Rosalie. Tangisnya belum bisa berhenti.
Dokter Rosalie mengambil napas dalam dan menghembuskannya kembali. Dipandangnya wajah sembab Yurina, isteri sahabatnya itu. Ia bingung harus menjawab apa pada wanita yang sedang hamil tua itu yang terlihat sangat terpukul atas musibah yang menimpa Moranno suaminya.
Dokter Rosalie tahu bahwa keadaan Moranno sangatlah tidak baik. Rekan - rekan dokternya sekarang sedang berusaha melakukan yang terbaik buat sahabatnya itu. Yah, hanya suatu keajaiban dari Tuhan yang bisa mengubah semuanya.
"Dokter, anda memdengarkan saya kan?" Ucap Yurina saat ia melihat pandangan dokter yang menatap kearahnya seolah menerawang.
"Dokter.... Apa yang sedang anda pikirkan. Anda mendengarkan saya kan dokter?" Kata Yurina lagi sambil menggoyang - goyangkan tangan dokter Rosalie yang sedang dipegangnya.
"I... Iya.... Saya mendengarkan semua perkataan nyonya muda." Sahut dokter Rosalie agak tergagap, tangannya membalas genggaman tangan Yurina.
"Suami saya pasti akan baik - baik saja kan dokter?" Tanya Yurina lagi, dan tangisnya sudah mulai mereda.
"Tuan Moranno, dia pasti baik - baik saja. Dia adalah pria yang kuat. Kita berdoa saja semoga penanganan para dokter itu berjalan dengan baik dan lancar." Sahut dokter Rosalie berusaha menguatkan Yurina
"Amin.... Anda benar dokter Rosalie, suamiku itu....dia pria yang kuat, dia pasti dapat melewati masa - masa kritisnya ini." Ucap Yurina penuh keyakinan. Sambil berusaha memaksakan senyum disudut bibirnya.
"Nyonya muda, apakah perut anda masih terasa sakit?" Tanya dokter Rosalie.
"Masih dok, tapi tidak sesakit tadi." Yurina melepaskan genggaman tangannya pada dokter Rosalie lalu menyentuh pada bagian perutnya yang masih terasa sakit.
"Kalau begitu nyonya muda beristirahatlah dulu disini sampai sakit diperut nyonya menghilang."
"Tapi dok, saya harus menunggu suami saya didepan ruang tindakkan, saya harus mengetahui keadaannya."
__ADS_1
"Jangan nyonya, biarkan asisten Rudy dan para pengawal khusus tuan Moranno yang menunggu disana. Untuk saat ini, tolong dengarkan perkataan saya nyonya, ini semua demi kebaikkan nyonya muda dan kandungan nyonya. Bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada nyonya muda dan kandungan nyonya, tuan Moranno pasti sangat marah pada saya saat dia sadar nanti." Ungkap dokter Rosalie.
"Baiklah... Maafkanlah atas sikap saya dokter." Ucap Yurina merasa tak nyaman.
"Iya nyonya muda. Saya mengerti perasaan nyonya sekarang yang ingin mendampingi tuan Moranno. Namun sekarang bukanlah saat yang tepat. Yang terpenting untuk nyonya lakukan sekarang adalah beristirahat. Bila nanti keadaan nyonya sudah membaik, saya akan mengijinkan nyonya untuk melihat tuan Moranno." Tegas dokter Rosalie.
"Sekarang nyonya muda berbaringlah saja disini sampai keadaan nyonya membaik. Nanti bibi Nur akan menemani nyonya disini. Saya permisi dulu nyonya muda, saya harus menemui pasien saya yang lain."
"Iya dokter... Terima kasih banyak."
Sebelum beranjak pergi, dokter Rosalie tidak lupa memberi hormat terlebih dahulu.
Yurina memandang kepergian dokter Rosalie yang selama ini menjadi dokter kandungannya.
"Aku harus patuh pada perkataan dokter Rosalie. Aku harus sehat. Demi bayi - bayi ini, demi kau juga suamiku." Yurina berkata pada dirinya sendiri.
Tangannya mengusap perutnya yang masih terasa sakit, matanya menatap langit - langit ruang rawat dimana ia disuruh beristirahat oleh dokter Rosalie.
"Sayang.... Para babby mommy dan daddy, kalian harus jadi anak pintar ya.... ingat pesan daddy kalian tadi pagi...." Yurina berbicara pada bayi dalam kandunganya sambil terus mengusap lembut perutnya dimana ada pergerakan bayinya.
"Kita harus mendoakan daddy, supaya daddy cepat melewati masa kritisnya ya sayang, supaya saat kalian lahir, daddy juga bisa menemani kita." Yurina masih berbicara sendiri, sambil terus mengusap perutnya. Air matanya mengalir disudut - sudut matanya, namun suara tangisannya tidak terdengar.
Pintu terbuka perlahan, bibi Nur muncul dibalik pintu. Yurina memandang kearah bibi Nur yang membawa tas tenteng ditangannya untuk keperluan majikannya itu.
"Bibi Nur, bagaiman keadaan nyonya besar?" Tanya Yurina saat bibi Nur telah duduk disisi tempat tidurnya.
"Nyonya besar masih dirumah besar nyonya muda. Dokter Herman telah menanganinya. Nyonya besar memang mengalami gejala jantung. Selama ini memang tidak pernah kambuh lagi. Terakhir nyonya besar berobat keluar negeri ditemani tuan Moranno saat mendekati ulang tahun perusahaan mereka kembali ke Indonesia."
__ADS_1
"Tuan Moranno...., apakah bibi tahu bagaimana keadaannya sekarang?" Air mata Yurina kembali mengalir disudut - sudut matanya saat menyebut nama suaminya itu.
Bibi Nur meraih tangan Yurina, mengelusnya dengan lebmbut bagai seorang ibu.
"Nyonya muda, anda yang sabar ya... Tuan masih ditangani dokter. Kita semua mendoakan hal yang terbaik buat tuan. Berusahalah tenang nyonya....." Ucap bibi Nur lembut.
"Tapi bagaimana bisa tenang bibi, suamiku... dia sekarang masih kritis, aku tidak bisa bertemu dengannya, apalagi mengetahui keadaannya." Ucap Yurina dengan suara bergetar menahan tangis.
"Nyonya muda, saya tahu... ini sangat sulit buat nyonya muda. Walau tuan kritis, tapi... kita masih memiliki harapan untuk tuan Moranno akan selamat." Bibi Nur berusaha menghibur dan menguatkan.
"Berbeda dengan ibu Mira dan nak Raffi... Pak Kasan sudah pergi untuk selamanya." Bibi Nur turut menitikkan air matanya.
Yurina melihat bibi Nur mengusap air matanya yang hampir saja terjatuh.
Yurina menggenggam tangan bibi Nur, ia tahu wanita paruh baya itu pun sangat merasa kehilangan teman, sekaligus rekan kerjanya. Bagaimanapun juga, selama ini pak Kasan, bibi Nur dan pelayan - pelayan lainnya, mereka saling berkerjasama bagai keluarga dirumah besar keluarga Agatsa.
"Maafkan saya bibi Nur...."
"Mengapa anda meminta maaf pada saya nyonya muda...?" Tanya bibi Nur tidak mengerti seraya menatap kearah wajah Yurina.
"Maafkan saya.... saya bersikap seolah - olah saya adalah orang yang paling menderita, paling bersedih, dan paling terpukul dengan musibah kecelakaan yang menimpa suami saya. Sehingga hampir semua orang saya repotkan."
"Padahal.... Ibu Mira dan putranya bernama Raffi, mereka bahkan kehilangan orang yang paling mereka sayangi. Bibi benar... saya masih memiliki harapan, bahwa suami saya masih bisa tertolong. Suami saya pasti selamat." Yurina sudah tidak menangis lagi. Ia tiba - tiba terlihat kuat dimata bibi Nur. Bibi Nur terpana dibuatnya.
"Nyonya muda... Nyonya muda jangan berkata begitu. Nyonya muda tidak merepotkan kami. Sudah kewajiban kami membantu nyonya melakukan aktifitas, apalagi nyonya adalah majikan kami dan juga sedang mengandung."
"Sayalah yang meminta maaf, bila saya sudah salah berkata pada nyonya muda." Ucap bibi Nur.
__ADS_1
"Bibi tidak salah. Perkataan bibi justru membuat saya harus menjadi wanita yang kuat. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini. Saya sedang mengandung, dan suami saya sedang ditimpa musibah kecelakaan." Yurina berusaha menguatkan dirinya sendiri.
"Syukurlah nyonya muda. Saya sangat senang sekali. Nyonya muda sungguh luar biasa. Nyonya memang wanita yang sangat kuat." Tutur bibi Yurina merasa senang.