JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 80 "Aku... Agak merasa takut."


__ADS_3

Tok...


Tok...


Tok....


Yurina membuka pintu kamar.


"Selamat malam nyonya muda." Kata bibi Nur dengan sikap hormatnya.


"Selamat malam bi, ada apa bi... Apa yang bibi bawa itu?" Tanya Yurina saat melihat bibi Nur membawa sesuatu diatas nampan kecil ditangannya.


"Ini nyonya muda... Tuan meminta saya untuk datang memijat." Jelas bibi Nur.


"Memijat??" Yurina mengerutkan keningnya.


"Iya nyonya, katanya pinggangnya terasa sakit sudah dua hari ini." Jelas bibi Nur lagi.


"Berikan itu padaku bibi. Biar aku yang memijat suamiku."


"Tapi nyonya muda, nanti tuan marah. Nyonya sedang hamil besar. Lagi pula saya juga sudah biasa memijat tuan, sejak tuan masih kanak-kanak."


"Tidak apa-apa bibi, aku yang bertanggung jawab bila ia marah nanti."


"Tapi nyonya...."


"Sudahlah bibi tidak apa-apa. Bibi istirahat saja. Biar aku yang memijat suamiku."


"Baiklah nyonya." Bibi Nur menyerahkan nampan kecil ditangannya yang berisi minyak pijat.


Setelah kepergian bibi Nur, Yurina kembali menutup pintu kamar dengan rapat dan menguncinya.


"Siapa tadi yang mengetuk pintu?" Tanya Moranno yang baru saja keluar dari toilet.


"Bibi Nur...." Sahut Yurina sambil melangkah menuju tempat tidur dan meletakkan nampan kecil ditangannya keatas nakas disisi tempat tidur.


"Lalu kenapa bibi Nur tidak masuk?" Tanya Moranno sambil duduk disisi tempat tidur.


"Aku suruh bibi kembali untuk beristirahat." Sahut Yurina.


"Kok disuruh kembali sih sayang, aku yang minta bibi Nur kemari untuk memijat tubuhku yang lelah." Ucap Moranno memandang isterinya yang duduk dikursi meja riasnya.


"Memijat tubuhmu yang lelah atau pinggangmu yang sakit karena menggendongku dua hari yang lalu direstoran??" Kata Yurina lalu bangkit dari duduknya dan mendekati Moranno yang tengah duduk pinggir tempat tidur.


"Benar sayang, tubuhku lelah, jadi mau dipijat bibi Nur, bukan pinggangku." Kilah Moranno.


"Berbaringlah ditempat tidur. Aku akan memijatmu." Perintah Yurina.


"Sayang, kau sedang hamil besar. Apa kau lupa kata dokter Rosalie, kau harus banyak istirahat, dan mengurangi banyak aktifitas."


"Aku ingat. Tapi apa kau lupa, ini juga kegiatan olah raga buatku ditempat tidur seperti yang kau perbincangkan dengan dokter Rosalie tempo hari."


Moranno tertawa mendengar ucapan Yurina.


"Apa kau memancingku sayang, hmmm?? Bukan olah raga memijat yang ku maksud, tapi yang lainnya. Kau pasti memahami apa yang ku maksud sayang." Ucap Moranno memeluk pinggang Yurina yang berdiri dihadapannya.


"Kenapa kepalamu dipenuhi otak mesum seperti itu. Ayo cepat berbaring, aku akan segera memijatmu sekarang."


"Panggilkan bibi Nur saja sayang, biar dia yang melakukannya, kau itu tak boleh terlalu lelah, ingat kondisimu yang sedang hamil besar sekarang sayang. Lagi pula bibi Nur sudah terbiasa memijatku sejak aku masih kecil dalam asuhannya."


"Aku tidak mau. Biar jari-jemariku yang memijatmu. Kau itu suamiku, aku tidak mau ada wanita lain menjamah dan *******-***** tubuhmu."


Moranno kembali tertawa melihat wajah isterinya itu.

__ADS_1


"Tunggu.. Tunggu... Apa kau merasa cemburu pada bibi Nur? Bibi Nur itu wanita yang telah mengasuhku sejak kecil, masa kau cemburu."


"Kalau iya kenapa??"


"Sungguh... Kau benar-benar cemburu??" Moranno seolah tak percaya.


"Tentu saja tidak.... Mana mungkin aku cemburu pada bibi Nur, aku hanya ingin memijatmu saja. Lagi pula ini tidak berat dilakukan wanita hamil sepertiku. Ayo, cepat berbaringlah, buka pakaianmu." Perintah Yurina.


"Tapi sayang...."


"Tidak terima bantahan...."


"Baiklah... nyonya Moranno.... suamimu ini akan patuh."


Moranno lalu segera melepas pakaian tidur yang ia kenakan satu persatu, hingga yang terakhir pun ingin dilepasnya.


"Stop! Kau ingin dipijat atau yang lainnya. Hmmm?" Yurina menegur suaminya yang ingin membuka pakaian terakhirnya.


"Oh, kupikir harus dilepas semuanya." Kata Moranno sengaja mengusili isterinya itu.


Moranno membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan posisi telungkup.


Yurina mulai membalur punggung Moranno menggunakan minyak pijat. Jari - jemari Yurina mulai memijat.


Walau pijatan Yurina tidak senyaman pijatan bibi Nur, Moranno sangat menghargai usaha isterinya itu mengurus dirinya. Ia berusaha menikmatinya.


"Aduh... Pelan didaerah itu sayang, agak sakit." Keluh Moranno kesakitan, saat tangan Yurina turun kearea pinggang belakangnya.


"Uratmu sedikit terkilir disini, aku akan mengembalikannya ketempatnya semula." Kata Yurina sambil terus memijat.


"Ini pasti karena kau menggendong tubuhku yang berat tempo hari kan?" Katanya lagi sambil terus memijat.


"Iya sayang, aku kan hanya ingin membuktikan padamu sayang bahwa aku masih mampu menggendongmu seberat apapun tubuhmu."


"Kau tidak usah membuktikannya suamiku, aku sudah tahu kau suami yang kuat. Tahan ya suamiku...." Ucap Yurina sambil sedikit menekan pijatannya.


"Iya, ini juga pelan-pelan suamiku. Sekarang tahan ya..." Jari - jemari Yurina mulai menekan dan menarik.


"Aduh.... Cukup.... Cukup... Itu sakit sekali.... Biar bibi Nur yang melakukannya." Ucap Moranno menghentikannya tindakan isterinya itu.


"Sedikit lagi suamiku, urat terkillirmu itu akan kembali ke tempatnya semula." Jelas Yurina.


"Aku sudah tidak sanggup menahan sakitnya sayang, nanti saja, biar bibi Nur yang memijatku." Ujar Moranno sambil berusaha duduk.


"Aku akan lebih pelan - pelan."


"Sudahlah sayang, kau istirahat saja, kau pasti lelah."


"Tidak. Aku belum lelah. Ayo, cepat berbaring." Perintah Yurina sedikit memaksa.


"Tapi sayang, pijatanmu membuat pinggangku bertambah sakit... itu sakit sekali rasanya." Moranno berusaha membuat isterinya memahami ucapannya.


"Iya, kau tahan saja. Namanya juga urat terkilir, iya sakit bila dikembalikan ketempat semula. Nanti bila berhasil kembali, kau sudah tidak merasakan sakitnya lagi." Yurina tetap bersikeras pada keinginannya.


"Baiklah.... Jangan kencang - kencang ya sayang, aku bisa pingsan menahan sakitnya nanti." Ucap Moranno yang terpaksa menuruti keinginan Yurina.


"Iya, aku janji..." Ucap Yurina meyakinkan.


Moranno kembali membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, dengan posisi telungkup seperti sebelumnya.


Yurina kembali menambah baluran minyak pijat di daerah pinggang bagian belakang Moranno. Jari - jemarinya mulai mengusap supaya baluran minyak pijatnya merata.


Selanjutnya Yurina mulai memijat perlahan. Moranno merasakan pijatan Yurina yang tidak sekencang sebelumnya.

__ADS_1


Detik berikutnya, Yurina mulai menekan dan menarik dengan kencang membuat Moranno berteriak kencang kesakitan.


"Aakkkhhh....Sayang, sakit sekali...." Kata Moranno seraya membalikkan tubuhnya sambil memegang pinggang bagian belakangnya. Wajahnya meringis kesakitan.


"Yang penting kau tidak sampai pingsan kan suamiku." Ujar Yurina menahan senyumnya.


"Iya, pingsan sih tidak.... Tapi sepertinya ada yang basah dibawah sana." Ujar Moranno menunjuk dengan isyarat jarinya.


"Benarkah??" Mata Yurina mengikuti arah telunjuk suaminya.


Tangan Yurina segera meraba. dan memang terasa basah diarea yang ditunjuk Moranno.


Yurina tertawa geli karena pijatannya membuat suaminya terkencing dicelananya. Namun wajah Yurina segera berubah saat sesuatu yang dia pegang berubah mengeras. Dengan cepat ia melepaskan pegangannya.


"Ada apa sayang, kenapa kau melepaskan pegangan hidupmu, hmmmm?" Ucap Moranno sambil cepat meraih tubuh Yurina yang berusaha menghindar.


"Pinggangmu sudah tidak sakit lagi?" Tanya Yurina saat melihat Moranno bisa bergerak dengan leluasa.


Moranno yang baru menyadari pinggangnya yang sudah tidak sakit lagi segera meraba dan mengusap area pinggangnya yang sebelumnya terasa sakit.


"Iya, sudah tidak sakit lagi. Ternyata kau hebat juga memijatnya sayang, yah walau aku sempat terkencing karenanya." Ujar Moranno sambil tertawa mengingat apa yang telah terjadi padanya.


"Sekarang kita lanjutkan olah raga yang sebenarnya ya sayang." Ucapnya sambil memeluk tubuh besar Yurina.


"Pinggangmu baru saja pulih suamiku, nanti kambuh lagi bagaimana?" Yurina berusaha memberi alasan.


"Kan kau bisa memijatku lagi sayang." Kata Moranno dengan napasnya yang mulai memburu.


"Kau belum membersihkan.... " Yurina tak bisa melanjutkan kata - katanya lagi. Bibir Moranno telah ******* bibirnya dengan liar.


Yurina tak mampu menolaknya. Sentuhan Moranno selalu ia rindukan. ******* halus dari mulutnya mulai terdengar.


Bayi dalam perutnya juga turut bergerak merespon aktifitas panas yang dilakukan kedua orang tuanya.


Perut besar Yurina tidak menghalangi pergerakan keduanya.


Hingga akhirnya keduanya sama-sama terbaring kelelahan sambil menatap satu sama lain dengan senyum mengembang.


Moranno memeluk tubuh Yurina dengan erat.


"Terima kasih sayang... " Ucap Moranno lirih ditelinga Yurina.


"Mulai besok aku akan mengunjungi beberapa anak cabang perusahaan Agatsa Grup, juga beberapa proyek yang masih berjalan. Bila semua sudah kukunjungi, aku akan lebih tenang bila mengambil cuti untuk mendampingimu melahirkan bayi-bayi kita sayang."


"Iya suamiku, aku sangat berharap kau ada disisiku pada saat itu. Aku.... agak merasa takut." Ucap Yurina, lalu mengeratkan pelukannya.


"Tidak usah takut, aku akan ada disisimu sayang. Sekarang tidurlah, kau pasti sudah lelah."


Moranno membelai rambut Yurina dengan lembut hingga terridur. Dipandangnya wajah Yurina yang baru saja terridur, nampak begitu pulas.


Bayangan masa lalu mereka melintas begitu saja dibenaknya. Bermain memenuhi kepalanya.


Moranno memejamkan matanya, berusaha untuk tidur, namun pikirannya berkelana kemana - mana.


Moranno mencium pucuk rambut Yurina dengan lembut.


Perlahan ia melonggarkan pelukannya. Moranno bangkit dari tempat tidur menuju sofa dekat jendela kaca yang ditutupi tirai.


Ia menulis sesuatu dikertas, lalu tersenyum - senyum sendiri. Setelah dirasa cukup, Moranno memasukkan kertas yang telah ia tulis dan memasukkannya kedalam amplop yang diambilnya dari dalam tas kerjanya.


Moranno lalu menulis beberapa kata pada bagian depan amplop. Setelah selesai, ia menyandarkannya di vas bunga yang terletak diatas meja kaca.


Moranno kembali ketempat tidur lalu membaringkan tubuhnya disebelah Yurina yang masih tertidur pulas.

__ADS_1


Setelah merapikan selimut Yurina, Moranno memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur.


***


__ADS_2