
"Apa yang membuatmu malu sayang??" Harry menatap Margareth yang membelakanginya.
"Tutup tubuhmu..... kita akan segera sarapan bersama....." Ucap Margareth tidak menjawab pertanyaan suaminya itu. Harry mengangkat kedua bahunya, lalu berbalik kekamar untuk mengambil bajunya saat dilihatnya Margareth tidak mau melihat kearahnya.
Margareth merasa lega saat Harry menuruti permintaannya, ia kembali menyelesaikan menyiapkan sarapan yang sempat tertunda. Roti panggang sudah siap diatas meja. Margareth menyeduh dua cangkir teh herbal karena dirinya tidak menemukan susu yang biasa ia siapkan untuk sarapan pagi.
Saat berbalik untuk membawa dua cangkir teh herbal ditangannya kemeja makan, Margareth terkejut melihat Hary sudah duduk dengan rapi dan manis dimeja makan tanpa mengenakan bajunya dan sedang memperhatikannya dengan senyum penuh arti.
"Honey..... kenapa kau tidak mengenakan bajumu? Disini udaranya sangat dingin....." Margareth beralasan, ia buru - buru meletakan dua cangkir teh ditangannya dan hendak berlari kekamar untuk mengambil baju untuk suaminya.
"Mau kemana??" Tangan Harry segera menangkap lengan Margareth.
"Kekamar..... Sepertinya kau tidak menemukan bajumu." Ucap Margareth berusaha melepaskan diri.
"Tidak perlu sayang..... aku tidak kedinginan, aku suka seperti ini......" Ucap Harry.
"Apa kau tidak tahu tubuhmu itu penuh noda......" Ucapan Margareth terputus. Suara bel mengalihkan perhatian keduanya kearah pintu.
"Tunggu disini sebentar.... aku akan membukakan pintu." Harry langsung berdiri menuju pintu.
"Jangan honey..... kau belum mengenakan bajumu...." Harry pura - pura tidak mendengarkan, ia terus melangkah menuju pintu membuat Margareth kalang kabut meraih selimut yang ada dilantai dan mengejar suaminya itu kerah pintu depan.
Tepat saat pintu terbuka, tepat saat itu pula Margareth berhasil menutup tubuh Harry yang terbuka sambil memeluk suaminya itu dari belakang untuk menahan selimut supaya tidak melorot kebawah.
"Selamat pagi tuan Harry......maafkan saya bila telah mengganggu pasangan pengantin baru." Sapa seorang laki - laki berpakaian seorang kapten kapal sambil tersenyum ramah memperhatikan sepasang pengantin baru yang begitu mesra.
"Selamat pagi juga Kapten Andrew.....Tidak masalah tuan, kami tidak merasa terganggu sama sekali." Ucap Harry balas menyapa dan turut tersenyum ramah.
"Perkenalkan sayang, ini kapten Andrew sahabatku..... kapten Andrew ini isteriku, dokter Margareth. Tapi aku lebih suka kalau orang - orang memanggilnya nyonya Harry." Ucap Harry berkelakar. Kapten Andrew ikut tertawa bersama Harry. Ia tahu, sahabatnya itu sedang merasa bahagia.
"Salam kenal dariku nyonya Harry." Ucap kapten Andrew sambil sedikit membungkukkan tubuhnya, demikian juga dengan Margareth.
__ADS_1
"Bagaimana......?? Apakah tuan dan nyonya Harry menyukai dan merasa nyaman dalam pelayaran ini?" Tanyanya sambil menatap kedua pasangan didepannya.
"Tentu saja, saya sangat menyukainya kapten Andrew, begitu juga dengan isteri saya." Sahut Harry.
"Syukurlah kalau begitu. Saya sangat senang mengetahuinya, juga senang melihat kemesraan tuan dan nyonya Harry. Anda pasti sangat luar biasa hingga nyonya Harry tidak sedikitpun mau melepaskan pelukannya dari anda." Ucap kapten Andrew yang tidak sengaja melihat sepasang tangan Margareth yang melingkar di tubuh Harry.
Margareth tersentak mendengar perkataan kapten Andrew, ia lalu melihat kearah tangannya yang masih memeluk suaminya, dengan serta merta melepaskan tangannya yang menahan selimut tebal yang menutupi tubuh Harry.
Tanpa aba - aba selimut tebal itu langsung melorot dengan sempurna kelantai kabin membuat tubuh Harry terekspos. Tak ayal lagi, kapten Andrew berusaha keras menahan senyumnya saat menatap tubuh Harry yang penuh dengan noda merah disana sini dengan tidak beraturan.
"Saya pikir..... hanya anda yang luar biasa tuan Harry. Ternyata..... nyonya Harry jauh lebih luar bisa lagi dari anda.... mampu memberikan stempel kepemilikan sebanyak itu disetiap bagian tubuh anda tuan Harry....." Goda kapten Harry mengulum senyum. Wajah Margaret langsung merona merah, ia tidak sanggup berkata - kata. Sementara Harry tersenyum bangga sambil memeluk pinggang Margareth dengan mesra.
"Anda sangat benar kapten. Ayo, mari masuklah dulu, kita berbincang - bincang didalam sambil minum secangkir teh buatan isteriku kapten." Ucap Harry menawarkan pada kapten Andrew.
"Tidak... terima kasih banyak tuan Harry atas tawaran anda..... saya hanya sekedar menyapa, kemarin tidak sempat menemui anda dan nyonya." Tolaknya halus.
"Silahkan dilanjutkan...... semoga hari anda dan nyonya menyenangkan. Saya permisi dulu." Kapten Andrew berlalu, ia masih mengulum senyumnya.
"Honey..... apakah kau tidak tahu kalau ditubuhmu penuh noda - noda itu?" Tanya Margareth dengan isyarat wajahnya, saat Harry baru saja mengunci pintu dari dalam.
"Aku tahu......" Sahut Harry seraya memeluk erat tubuh langsing dihadapannya.
"Lalu kenapa kau tidak segera menutup tubuhmu itu. Apa kau tahu, aku sangat malu saat kapten Andrew melihatnya dan mengatakan itu tadi....." Margareth menatap wajah Harry yang makin mengeratkan pelukannya pada tubuhnya.
"Kau tidak perlu malu sayang......itu wajar, kita berduakan sudah menjadi suami isteri sekarang."
"Tapi kau tidak perlu memperlihatkannya seperti itu honey......" Ucap Margareth semakin malu.
"Aku mencintaimu isteriku...... aku sengaja melakukannya sayang..... supaya orang lain juga tahu betapa aku mencintaimu......"
"Aku juga..... mencintaimu....tapi kita tidak perlu memperlihatkan apapun pada orang lain......" Sahut Margareth menatap wajah Harry yang masih memeluknya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau kau tidak suka.... aku mengerti, maafkan aku sayang..... kalau begitu berikan aku satu ciuman selamat pagi." Pinta Harry menatap lekat wajah isterinya itu."
Margareth memandang bibir Harry sesaat lalu menatap wajah suaminya itu. Harry mengisyaratkan dengan wajahnya supaya isterinya itu melakukan dengan segera apa yang menjadi permintaanya.
Margareth menempelkan sedikit bibirnya pada bibir suaminya itu dan segera hendak melepaskannya kembali. Harry dengan sigap menahan tengkuk isterinya itu. Disesapnya lembut dengan penuh perasaan, namun tidak ada pergerakan dari Margareth. Harry tidak menyerah, ia berusaha membuat Margareth bereaksi, namun Margareth hanya diam saja tanpa memberi respon layaknya sesosok patung yang tak bernyawa.
"Kau kenapa sayang..... tidak seperti semalam, penuh gairah." Ucap Harry sesaat setelah dirinya melepaskan ciumannya sambil menatap lekat wajah Margareth yang juga sedang menatapnya.
"Bukankah kau hanya meminta ciuman selamat pagi saja..... Aku melakukannya sesuai request saja honey....." Goda Margareth sambil mengulas senyumnya.
"Oh begitu..... Jadi kalau begitu, aku mau minta ciuman yang plus - plus..... bagaimana??" Ucap Harry merasa kalah mendengar godaan sang isteri.
"Tidak mau......!" Sahut Margareth tegas, namun tetap dalam senyumannya.
"Kenapa??" Harry mengernyitkan keningnya
"Kau belum mamdi dan sikat gigi honey....aku tidak mau bercinta dengan suamiku yang belum membersihkan tubuhnya. Selain itu, kita sudah melupakan sarapan pagi yang sudah aku siapkan sejak tadi honey....." Jelas Margareth membuat Harry menatap kearah meja makan yang tidak jauh dari tempat mereka berdua berdiri.
"Oh..... iya..... maafkan aku sayang..... kau membuatku lupa segalanya.... " Harry tertawa kecil setelah mengingat dirinya dan Margareth sebelumnya akan sarapan bersama.
"Kalau begitu, aku mandi dulu, lalu kita berdua sarapan." Harry melepaskan pelukannya dari tubuh Margareth dan bergegas menuju kamar mandi yang ada dikamar mereka. Margareth segera meraih selimut yang masih tergelatak begitu saja dilantai dan membawanya kekeranjang kotor.
Tidak lama kemudian, Harry sudah kembali dengan berpakaian rapi dan dengan wajah yang segar berada dimeja makan, sesaat setelah Margareth menghangatkan kembali roti panggangnya yang sempat dingin, demikian pula teh herbal diseduh dengan yang baru.
"Aku sudah membuatkan teh untuk kita, kenapa kau masih membuatkan susu lagi honey.....?" Ucap Margareth sambil mengunyah roti dalam mulutnya saat melihat Harry menyeduh segelas susu.
"Ini buat dirimu sayang..... susu untuk wanita yang sedamg mempersiapkan dirinya untuk mengandung. Aku mau, setelah pulang dari berbulan madu kita, kau sudah mengandung anak kita sayang." Harry meletakkan gelas susu yang baru dibuatnya dihadapan Margareth lalu mencium pucuk rambut isterinya itu dengan sayang.
"Terima kasih Honey untuk semua perhatianmu..... kau terlihat tampan sekali....." Ucap Margareth lalu meminum gelas susunya. Harry mengulas senyumnya saat mendengar pujian dari isterinya itu, wanita yang dicintainya, yang diperjuangkannya bertahun - tahun lamanya.
...•••...
__ADS_1