
Margareth membawa roti hasil panggangannya bersama dua gelas susu panas untuk dirinya dan juga ibunya keatas meja dimana ibunya sedang duduk menunggu.
"Margareth, apakah kau melakukan semuanya ini seorang diri setiap harinya?" Tanya nyonya Agatsa sambil memegang garpu dan pisau pemotong roti dikedua tangannya.
"Iya mom....." Sahut Margareth sambil mengunyah sarapannya.
"Kenapa tidak menyewa seorang asisten rumah tangga saja, supaya hidupmu lebih mudah, karena kau sudah mengerjakan banyak hal ditempat kerjamu. Dan tanggung jawab seorang dokter itu bukankah cukup berat Margareth?" Ucap nyonya Agatsa saat melihat kehidupan yang dijalani putrinya seorang diri diperantauan.
"Aku kan masih tinggal seorang diri mom, tidak banyak pekerjaan rumah yang harus kukerjakan. paling mencuci pakaian kotorku dan menyeterikanya saat sudah kering. Menyiapkan makanan ku sendiri dipagi hari dan malam hari saja. Membersihkan rumah dihari libur. Simpel banget kan mom....." Jelas Margareth sambil menghabiskan suapan terakhirnya.
"Lalu.... bagaimana bila kau menikah nanti..... apakah kau ingin melakukan semuanya seorang diri juga seperti sekarang ini?" Nyonya Agatsa meminum susu panasnya beberapa teguk.
"Tentu saja tidak mom..... Tapi aku akan menyuruh suamiku yang melakukan semua pekerjaan rumah tangga....." Ucap Margareth seenaknya saja membuat nyonya Agatsa tersedak dan membulatkan kedua bola matanya menatap putrinya yang acuh tak acuh itu.
"Apa katamu Margareth....!?"
"Bercanda mom..... Serius amat sih....." Ucap Margareth tersenyum lebar melihat respon ibunya saat mendengar candaannya.
"Cepatlah berkemas Margareth, hari ini juga kau harus ikut mommy pulang kerumah." Nyonya Agatsa meletakan gelas susu yang baru saja ia habiskan.
"Mom...... Aku tidak mau berkemas......dan aku tidak mau pulang....." Ucap Margareth masih duduk dikursinya.
"Kenapa?" Nyonya Agatsa menatap wajah putrinya.
"Sepertinya aku saja yang ingin menikah, tapi tuan Harry tidak!" Suara Margareth tiba - tiba ketus.
"Cukup Margareth......! Stop segala pikiran negatifmu tentang Harry!" Suara nyonya Agatsa menggema diruang makan itu.
"Itu kenyataan mommy, tuan Harry lebih mementingkan kesibukannya tanpa memperhatikanku sedikitpun. Apa jadinya kalau kami menikah nanti. Aku tidak mau mom.....! Sebelum semuanya terlanjur, dan nasi sudah menjadi bubur, lebih baik semuanya kita batalkan saja." Margareth berusaha membuat ibunya kembali mengerti.
Nyonya Agatsa menatap wajah putrinya yang nampak sangat menentang pernikahannya. Entah apa yang dialami putrinya itu, hingga pernikahan yang tinggal menunggu hari saja ingin ia batalkan begitu saja.
"Apa kau serius dengan perkataanmu Margareth?" Tegas nyonya Agatsa, dan menurunkan nada suaranya.
Margareth berusaha menelan salivanya dengan susah payah. "Iya.... Margareth serius mom......" suara Margareth terdengar parau, ia turut merendahkan suaranya dari sebelumnya.
"Baiklah.....mommy tidak bisa memaksamu..... kau berhak memutuskan apapun untuk hidupmu, kau sudah dewasa." Ucap nyonya Agatsa datar.
__ADS_1
Margareth bisa melihat banyak perubahan yang terjadi pada ibunya. Biasanya, jika ia menentang apa yang telah diputuskan keluarganya, ibunya itulah yang berada digaris depan untuk memaksanya melakukan apa yang sudah diputuskan.
Namun sekarang terlihat berbeda, ibunya sudah tidak sama lagi. dan ibunya tidak berargumen lagi.
"Baiklah, sekarang mommy akan kembali. Kau boleh tetap tinggal disini, lakukan saja apa yang kau anggap baik bagimu Margareth. Sebagai ibumu, mommy hanya ingin yang terbaik bagimu sayang." Nyonya Agatsa lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia terlihat sedang menelpon seseorang.
Margareth terpaku dikursinya menatap ibunya, ia tidak menyangka ibunya menyetujui sikap yang diambilnya.
Setelah menelpon, nyonya Agatsa berdiri dari duduknya dan menggeser kursi dibelakangnya.
"Margareth..... apa kau tidak memberikan pelukan pada mommy sebelum mommy pulang?" Margareth langsung menghambur kearah ibunya yang masih berdiri disisi meja makannya.
"Mommy pamit dulu.... kau baik- baik saja dirumahmu ini." Nyonya Agatsa balas memeluk Margareth dengan erat. Margareth dapat merasakan pelukan hangat kasih sayang dari ibunya itu.
"Mommy tidak marah padaku?" Tanya Margareth pada ibunya,.ia masih memeluk erat tubuh ibunya.
"Tidak ada gunanya mommy marah. Mommy menikahkanmu dengan Harry, agar kau hidup bahagia dengannya, bukan untuk melihatmu menderita dengan rencana pernikahan itu." Jelas ibunya.
"Mommy akan menarik semua undangan yang sempat tersebar. Demikian juga dengan keluarga Harry. Mommy pulang dulu." Nyonya Agatsa melepaskan pelukan Margareth darinya. Tangan Margareth seolah tidak mau melepaskan ibunya.
Air mata Margareth berlinang saat membiarkan ibunya keluar dari rumahnya. Ia tidak sanggup mengantarkan ibunya hingga kedepan rumah. Tubuh Margareth melorot kelantai saat mendengarkan pintu depan rumahnya dibuka dan ditutup kembali oleh ibunya.
Rasa sakit yang dirasakan Margareth begitu memilukan hatinya, saat teringat perkataan ibunya yang akan menarik semua undangan yang sempat keluarganya dan keluarga Harry sebarkan.
Margareth masuk kekamarnya dan menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidurnya. Ia membenamkan wajahnya disana dan menangis sejadi - jadinya, mengeluarkan segala energi negatif dalam hatinya. Hatinya terasa begitu hampa.
Seharian itu Margareth hanya menangisi dirinya dikamar tempat tidurnya. Ia tidak perduli dengan bunyi ponselnya yang sibuk berdering sepanjang hari itu juga beberapa notifikasi - notifikasi pesan yang masuk.
"Kenapa tuan Harry.... kenapa sesakit ini cinta yang kau tawarkan padaku?" Desah Margareth.
Ia bangkit dari tempat tidurnya dan duduk dimeja riasnya. Menatap wajahnya yang sembab dari pantulan cermin didepannya. Merah dan membengkak. Sungguh terlihat sangat menyedihkan.
Margareth meraih ponselnya yang terletak diatas meja rias dan memeriksanya. Ada banyak panggilan masuk dan pesan - pesan yang berderet disana. Rata - rata menyampaikan ucapan terima kasih atas undangan pernikahan dirinya dan Harry yang telah mereka terima. Perasaan Margareth kembali campur aduk.
Perut Margareth tiba - tiba terasa sangat lapar, ternyata jam dinding dikamarnya sudah menunjukan pukul 5 sore. Rupanya, selama itu dirinya hanyut dalam suasana hatinya yang kalut.
Ia bergegas menuju dapur. Mengolah beberapa bahan makanan yang masih tersedia didalam lemari pendinginnya.
__ADS_1
Selesai mengisi perutnya yang lapar. Margareth segera masuk kekamar mandi dan membersihkan dirinya disana.
Margareth merasa tubuhnya sudah kembali segar, tidak seperti sebelumnya. Matanya memang masih terlihat sembab karena menangis sepanjang hari.
Margareth memperhatikan barang - barangnya yang ada dibeberapa lemarinya. Ia mengemasi yang memang dibutuhkannya, seperti peralatan medisnya.
Setelah semuanya dirasa cukup, Margareth kembali kemarnya untuk mengistirahatkan dirinya dimalam itu. Rasa lelah fisik dan pikirannya akhirnya membuat Margareth mudah terlelap.
...•••...
"Adik ipar, syukurlah kau sudah datang......" Ucap Yurina begitu bahagia saat melihat Margareth muncul diruang keluarga siang itu. Ia segera memeluk Margareth.
"Bagaimana perjalananmu kemari adik ipar? Kenapa tidak memberitahu supaya kami menjemputmu...." Tanya Yurina sambil melepaskan pelukannya.
"Semuanya baik - baik saja kakak ipar. Aku sangat ingat jalan pulang, jadi tidak mungkin akan tersesat." Ucapnya sambil tersenyum.
"Kau sudah makan siang?" Tanya Yurina lagi.
"Sudah kakak ipar..... "
"Kalau begitu, kau istirahat saja dahulu dikamarmu. Karena malam ini kita akan menghadiri pernikahan dokter Rosalie dan tuan Hartawan." Margareth terkejut, saat mendengar sahabatnya itu akan menikah mendahuluinya.
...•••...
♡****♡♡
Terima kasih buat para readers setia novel JAGA HATIMU UNTUKKU yang sebentar lagi akan TAMAT. Yukz, mampir di novel 'HANARIA Wanita Sejuta Rasaku'. Mengisahkan tentang seorang wanita tangguh, dan pekerja keras, ulet, sehingga menjadi kesayangan pemilik perusahaan yang memperkerjakannya, jangan ditanya untuk pria - pria muda. Cucu kembar dari keluarga Agatsa pun ikut mengharapkan cintanya.
#HANARIA Wanita Sejuta Rasaku
Karya :
#Nama pena : Dewi Payang
#FB Indah Sosilawati
#IG Indah Sosilawati
__ADS_1
♡♡♡