
PERINGATAN !!!
AREA DEWASA !!!
+ 21 TAHUN !!!
"Tapi sayang, aku merasa tidak tega melihat dirimu seperti ini....." Ungkap Moranno sambil mencium tangan Yurina yang ia genggam dengan kedua tangannya.
Yurina menatap wajah Moranno yang dipenuhi kecemasan akan dirinya, dielusnya rambut kepala Moranno yang sudah berantakan, menggambarkan kepanikan dalam diri suaminya itu. Yurina masih berusaha tenang menahan rasa sakit yang kian mendera. Disaat - saat seperti itu hanya hal itu yang bisa ia lakukan dan berdoa didalam hatinya supaya diberikan kekuatan untuk menjalaninya. Rasa sakit yang ia rasakan sekarang tidak akan sebanding dengan rasa kebahagiaan yang akan ia rasakan nanti, saat bayi - bayinya itu lahir. Mengingat hal itu, Yurina tetap berusaha kuat.
"Suamiku..... aku pasti bisa, bisa melewati ini semua..... apalagi saat ini kau ada disisiku....." Ucap Yurina lirih, rasa sakit diperutnya sedikit mereda. Yurina menghirup udara sebanyak - banyaknya untuk memenuhi paru - parunya disaat rasa sakitnya sedikit mereda, dan menghimpunkan semua tenaganya. Moranno menatap wajah isterinya itu dengan seribu satu rasa yang bercampur baur jadi satu. Seumur hidupnya, inilah kali pertama kepanikan yang dirinya rasakan tanpa batas, dirinya sendiri bahkan ingin menyerah, namun isterinya itu, walau wajahnya sudah pucat - pasi masih terlihat teduh dan tenang.
Moranno segera mendatangi dan mencengkram lengan dokter Rosalie yang baru saja tiba. "Dokter Rosalie, kenapa kau lama sekali, kau seolah - olah mengabaikan isteriku." Ucap Moranno dengan nada ketus pada sahabatnya itu. Dua suster yang datang bersama dokter Rosalie terlihat ketakutan melihat sikap Moranno pada dokter Rosalie.
"Tuan Moranno, kau menyakitiku..... Maafkan aku, itu tidak disengaja, beberapa pasienku juga harus kubantu untuk melahirkan." Jelas dokter Rosalie dengan wajah meringis kesakitan.
"Apakah dirumah sakit ini kekurangan dokter kandungan, sampai - sampai harus kau semua yang menangani ibu - ibu yang melahirkan itu??? hmm???" Moranno semakin emosi karena rasa panik yang masih menguasai dirinya.
"Bukankah kau sudah tahu..... jadwal isteriku melahirkan, seharusnya teammu harus mempersiapkan beberpa dokter untuk menangani ibu - ibu yang lain itu, karena jauh - jauh hari sebelumnya, aku sudah memintamu secara khusus menangani isteriku....." Suara Moranno terdengar menggeram. Dokter Rosalie tidak berkomentar lagi. Dirinya mengerti, situasi seperti ini memang sering membuat suami dan keluarga pasien akan bersikap seperti yang dilakukan Moranno sekarang.
"Moranno..... kendalikan dirimu, lepaskan lengan dokter Rosalie, ia bisa cedera akibat ulahmu itu. Ingat, Yurina sekarang sedang membutuhkan bantuan dokter Rosalie untuk melahirkan bayi - bayi kalian." Tegur nyonya Naomi mengingatkan suami cucunya itu.
Moranno akhirnya melepaskan cengkraman tangannya pada lengan dokter Rosalie. "Maafkan aku dokter Rosalie....."
Dokter Rosalie memijit - mijit lengannya yang terasa keram akibat cengkraman Moranno dengan tangannya yang lain." Tidak masalah tuan, saya memakluminya." Sahut Margareth sambil mendekati Yurina yang berbaring lemas diranjang pasien.
__ADS_1
"Nyonya muda..... bagaimana perasaan anda sekarang?" Tanya dokter Rosalie sambil meraba dan mengusap perut Yurina yang mengeras dan terlihat gerakan - gerakan bayi kian kemari.
"Rasa mules itu.... sudah semakin kuat terasa dokter.....dan panggul saya terasa seperti ditekan." Jelas Yurina terputus - putus sambil menahan rasa sakit yang semakin kuat dan lebih lama terasa.
"Suster persiapkan semua peralatan persalinan." Perintah dokter Rosalie pada kedua suster yang membantunya.
"Baik dokter....." Kedua suster itu segera melakukan seperti apa yang diperintahkan pada mereka.
"Tuan Moranno, apakah anda akan tetap ada disini menemani nyonya muda?" Tanya dokter Rosalie menatap sekilas kearah Moranno yang masih terlihat panik dan cemas sambil mengacak rambutnya kasar.
"Tentu saja saya harus selalu ada disisi isteri saya dokter." Sahut Moranno yang merasa kesal pada pertanyaan dokter Rosalie.
"Tolong, bantu saya untuk membenarkan posisi nyonya muda." Tanpa bicara, Moranno dengan sangat hati - hati membantu dokter Rosalie membalikkan tubuh Yurina yang miring menjadi terlentang diranjang pasiennya, dirinya tidak lupa membenarkan letak selimut Yurina supaya isterinya itu merasa lebih nyaman.
"Untuk apa?" Tanya Moranno bingung.
"Supaya nyonya muda bisa bersandar pada anda tuan, itu dapat membantunya lebih tenang dan rileks."
Moranno langsung menurut, Ia duduk dibagian kepala Yurina dan menyandarkan kepala isterinya itu padanya.
"Bantu mengelus perut nyonya muda tuan....." Perintah dokter Rosalie lagi. Moranno menurut, tidak banyak bicara.
"Sayang..... kau isteriku yang kuat......" Bisik Moranno ditelinga isterinya itu, sambil meraba perut Yurina yang semakin mengeras. Tangan Moranno terlihat gemetar saat merasakan gerakan - gerakan hebat bayi dalam perut Yurina yang seakan meronta - ronta ingin cepat keluar dari rahim ibunya. Yurina terus berusaha mengatur napasnya yang terasa semakin sesak akibat kontraksi dan rasa sakit yang semakin tidak tertahankan.
Dokter Rosalie melakukan beberpa pemeriksaan dengan cekatan. Sementara Yurina terus mengalami kontraksi.
__ADS_1
"Dokter......" Ucap Yurina dengan lirih hampir tidak terdengar, ia sudah tidak sanggup melanjutkan kata - katanya.
"Tarik napas..... keluarkan perlahan - lahan nyonya muda......." Yurina mengikuti arahan yang diberikan dokter Rosalie padanya.
"Iya bagus nyonya muda...... lakukan lagi seperti yang saya katakan tadi." Yurina kembali melakukan seperti yang diarahkan dokter Rosalie.
"Sedikit lagi nyonya muda..... tarik napas..... keluarkan pelan - pelan...... yaa bagus nyonya muda....." Yurina terus mengikuti arahan dokter Rosalie tanpa membantah, keringat dingin keluar membasahi seluruh tubuhnya, tidak terkecuali rambut panjangnya yang juga sudah basah oleh keringat.
Moranno sesekali mencium wajah Yurina, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengatasi rasa panik dan cemas dihatinya.
Suasana semakin tegang saat Yurina membenarkan posisi tubuhnya, ia mencengkram tangan Moranno dengan sekuat tenaganya, hingga akhirnya Moranno mendadak lemas saat melihat seorang bayi meluncur dan mendarat dengan sempurna ditangan dokter Rosalie yang menggunakan sarung tangan, suara tangisan bayi itu langsung pecah, begitu kencang dan memekakan gendang telinga yang mendengarnya. Dokter Rosalie segera menyerahkan pada salah satu bidan yang membantunya.
"Lagi nyonya muda...... anda luar biasa..... masih ada satu lagi didalam......" Ucap dokter Rosalie memberi semangat.
Yurina kembali mencengkram kedua tangan Moranno dengan sekuat tenaga untuk mengumpulkan sisa - sisa kekuatannya. Mata Moranno tidak berkedip saat bayi kedua kembali meluncur dengan sempurna ditangan dokter Rosalie. Tidak terasa, air mata Moranno mengalir dengan deras setelah dirinya menyaksikan langsung betapa beratnya perjuangan isterinya dalam menghadirkan kedua bayi kembarnya kedunia.
Suara tangis kedua bayi itu terdengar bergemuruh memenuhi semua sudut ruang bersalin Yurina.
"Terima kasih sayang, kau isteriku yang luar biasa..... aku semakin mencintaimu sayang......" Moranno terus mencium wajah Yurina.
"Kau menangis suamiku??" Tanya Yurina dengan suaranya yang terdengar lemah, tangannya mengusap air mata yang mengalir dipipi Moranno.
"Ini air mata bahagia sayang....." Moranno memeluk isterinya itu dengan erat. Perasaan panik dan cemasnya kini berangsur - angsur pudar, dirinya sudah merasa lega, Yurina, wanita yang sangat dicintainya itu kini sudah melahirkan dengan selamat, demikian juga dengan bayi - bayi mereka.
Sementara itu, nyonya Naomi dan nyonya Agatsa begitu bahagia melihat dua bayi kembar perempuan yang sedang dibersihkan oleh kedua suster yang membantu dokter Rosalie.
__ADS_1