
Nyonya Agatsa dan nyonya Morgan menatap kepintu yang sudah tertutup rapat.
Sementara Tuan Morgan, Harry dan asisten Rudi kembali melanjutkan perbincangan mereka.
Bibi Nur duduk seorang diri pada kursi didekat para pengawal jaga bediri.
"Nyonya besar mari kita duduk disana." Ajak nyonya Morgan pada nyonya Agatsa.
Keduanya melangkah menuju kursi taman yang letaknya disisi kiri taman mini itu.
"Nyonya besar, apa yang membuat anda memperlakukan menantu anda begitu keras. Saya dapat melihat anda sangat tidak menyukainya. Maafkanlah saya, bila telah lancang menanyakan hal yang pribadi ini." Nyonya Morgan membuka obrolan mereka.
Nyonya Agatsa tidak langsung menjawab. ia mengambil botol air mineral dari dalam tasnya, lalu meminumnya untuk membasahi tenggorokkannya yang terasa kering.
"Anda tahu, kita telah sepakat menikahkan anak - anak kita. Untuk semakin mengeratkan hubungan persahabatan keluarga kita. Tapi, Yurina datang dengan keadaan yang telah hamil, sehingga Moranno harus menikahinya karena tanggung jawab. Semenjak Yurina masuk dalam kelurga Agatsa, banyak hal yang terjadi dalam keluarga Agatsa diluar dugaan."
Nyonya Morgan mendengarkan penuturan nyonya Agatsa dengan penuh perhatian.
"Mulai dari pernikahan mereka yang dilakukan secara tertutup. Keberadaan Yurina yang tidak diterima oleh sebagian besar pemilik saham dan dewan direksi. Lalu mencuatnya pemberitaan - pemberitaan miring dimedia masa. Hingga terjadinya musibah kecelakaan yang menimpa putraku." Nyonya Agatsa menghentikan sejenak ucapannya. Ia terlihat sedikit mendesah.
"Aku merasa, wanita itu menjadi sumber malapetaka dalam keluarga Agatsa. Belum lagi asal usulnya yang tidak jelas. Dibesarkan dipanti asuhan." Tuturnya panjang lebar. Pandangannya lurus kedepan, memperhatikan beberapa suster dan dokter yang sesekali terlihat melintas dilorong - lorong rumah sakit.
"Mengenai pernikahan anak - anak kita.... kami sudah tidak mempermasalahkannya lagi. Kami memang menginginkan Moranno menjadi menantu kami, menjadi suami Gandis putri kami. Tapi Gandis tidak layak mendapatkan Moranno. Karena kenakalannya ia membubuhkan obat itu pada minuman Moranno, sehingga Yurina menantumu menjadi korban. Nyonya besar, anda tahu kan bagaimana kisah itu sebenarnya?" Kata nyonya Morgan sambil menatap wajah nyonya Agatsa yang duduk disebelahnya.
"Mak... Maksud anda apa nyonya Morgan?" Sahut nyonya Agatsa tergagap.
"Waktu dikantor polisi, Gandis telah mengakui semuanya pada kami, bahwa dia yang membubuhkan minuman Moranno dengan obat. Dan anda menyetujui idenya. Namun saat melakukan klarifikasi pembersihan nama baik Yurina menantu anda di media masa, Gandis tidak menyebutkan nama anda, supaya nama baik anda tetap terjaga."
Sambil mengatakan hal itu nyonya Morgan menatap kearah nyonya Agatsa yang terlihat salah tingkah.
__ADS_1
"Gandis memang putri semata wayang kami, rasa sayang kami membuat ia terlalu manja dan sering melakukan hal - hal diluar kendali. Dengan adanya kejadian penculikan yang ia lakukan pada Yurina menantu anda, menyebabkan dia harus mendekam dipenjara. Kami sengaja tidak berusaha mengeluarkannya dari sana. Biarlah ia bertanggung jawab atas segala yang telah ia lakukan. Harapan kami, Gandis putri kami bisa menjadi seorang yang lebih baik saat ia bebas nanti."
"Menikahi Yurina adalah sikap terpuji yang dilakukan Moranno. Putra anda itu memang laki - laki yang bertanggung jawab, anda sepatutnya bangga atas keputusan putra anda itu nyonya. Moranno dan Yurina memang berjodoh, sekalipun putri kami berlaku curang untuk mendapatkan Moranno."
"Yurina menantu anda, menurut saya dia adalah isteri dan menantu yang baik. Saya baru dua kali ini bertemu dengannya. Sikap, tutur katanya yang menghormati dan menghargai orang tua sangat menyentuh hati saya. Setiap kali anda mencelanya, tidak satu katapun saya pernah mendengar ia membantah anda nyonya."
"Apalagi anda, yang hidup bersama setiap hari dengan anda, anda pasti tahu bahwa perkataan saya ini benar. Itu pun bila nyonya mau membuka hati anda buat menantu anda itu nyonya."
"Saya membayangkan, seandainya Gandis putri kami seperti menantu anda, tentu akan membuat saya dan suami saya sangat bahagia." Ucap nyonya Agatsa sambil memandang lurus kedepan.
Nyonya Agatsa terdiam mendengar penuturan nyonya Morgan. Ia merasakan bahwa apa yang diucapkan sahabat keluarganya itu keluar dari hatinya.
Selama ini ia memang menutup hatinya dari menantinya itu, sehingga semua yang dilakukan Yurina selalu salah dimatanya.
"Bagaimana nyonya besar, apakah yang saya ungkapkan tadi benar menurut anda?" Ujar nyonya Morgan ditengah keheningan mereka berdua.
Hooeekk...
Hooeekk...
Hooeekk...
Hooeekk...
Nyonya Agatsa dan nyonya Morgan saling berpandangan sesaat lamanya.
"Apa anda mendengar suara itu nyonya besar." Nyonya Morgan memastikan pendengarannya.
"Iya aku mendengarnya. Dari mana suara itu?" Nyonya Agatsa balik bertanya.
__ADS_1
"Dari ruangan itu." Tunjuk nyonya Morgan kearah dimana ruang rawat khusus keluarga Agatsa berada.
Sementara tuan Morgan, Harry dan asisten Rudy pun turut mencari arah datangnga suara.
Bibi Nur nampak kegirangan, ia berdiri dari duduknya dan mendekat pada pintu ruang rawat Moranno dan Yurina.
Setelah memastikan pendengarannya, bibi Nur berbalik menghadap kearah nyonya Agatsa dan nyonya Morgan yang menatap kearahnya.
"Nyonya besar, suara tangisan itu.... tangisan bayi nyonya muda. Saya mendengar suaranya berasal dari dalam nyonya." Teriak bibi Nur tanpa sadar karena girangnya.
Nyonya Agatsa tiba - tiba terpaku, suara tangisan bayi yang begitu ramai seolah menggema ditelinganya. Suara tangisan bayi - bayi itu mengingatkannya pada dua puluh delapan tahun silam, disaat Moranno dan Margareth lahir. Saat itu hatinya begitu bahagia. Perasaan hatinya dua puluh delapan tahun lalu itu kini ia rasakan kembali. Ia tak sanggup berucap, matanya sedikit berkaca - kaca.
"Nyonya... Nyonya besar... Apakah anda baik - baik saja?" Suara nyonya Morgan menyadarkan nyonya Agatsa dari lamunannya.
"I... Iya... Anda bicara apa nyonya Morgan?"
Nyonya Morgan tersenyum melihat sahabat dirinya dan suaminya itu.
"Selamat ya nyonya besar... Hari ini anda telah resmi menjadi seorang nenek." Ucap nyonya Morgan sambil memeluk hangat nyonya Agatsa yang masih terlihat sedikit canggung dan bingung.
"Benarkah itu bayi yang dilahirkan Yurina, bayi putraku Moranno juga?" Tanya nyonya Agatsa masih terlihat bingung.
"Apa maksud pertanyaan anda nyonya besar?" Nyonya Morgan ikut bingung mendengar pertanyaan nyonya Agatsa. Senyumnya hilang seketika. Ia melepaskan pelukannya dari nyonya Agatsa.
"Maksud saya... Yurina tidak berteriak - teriak kesakitan, saya tidak mendengarnya sedari tadi. Jadi mungkin saja itu suara bayi dari para pasien yang lain nyonya Morgan.' Jelasnya.
"Ohh.... Itulah menantu nyonya besar, bukankah dia berbeda, dia tahu bagaimana mengendalikan dirinya. Memang sebagian wanita yang melahirkan akan berteriak - teriak kesakitan, tapi ada juga yang tidak. Yurina menantu anda salah satunya. Bukankah anda juga mendengar saat bibi Nur mengatakan bahwa suara tangisan bayi - bayk itu ada bayi - bayi yang dilahirkan nyonya muda." Ujar nyonya Agatsa bersemangat.
"Ayo kita mendekat, sambil menunggu dokter Rosalie menyelesaikan pekerjaannya didalam sana."
__ADS_1