
"Saat Moranno koma dan kritis karena kecelakaan, ia berani - beraninya ia menanda - tangani berkas operasi putraku, membuatku semakin tidak menyukainya, dan aku memarahinya didepan tuan dan nyonya Morgan, orang tua kandungnya." Nyonya Agatsa memandang kearah tuan dan nyonya Morgan yang masih berdiri ditempatnya semula dengan tetap memperhatikan penuturan nyonya Agatsa dengan sabar.
"Aku merasa, segala kemalangan yang terjadi dalam keluarga kami adalah disebabkan kehadirannya. Sekalipun cucu - cucuku telah dilahirkannya, aku masih berusaha menutup hatiku." Nyonya Naomi terlihat menahan napasnya mendengar perlakuan nyonya Agatsa pada putrinya.
"Hingga akhirnya, terjadi perdebatan antara aku dan dirinya..... Dokter Rogen mengatakan bahwa Moranno dapat bertahan hidup karena alat - alat medis yang terpasang pada tubuhnya. Jadi aku berpikir untuk menghentikan perawatan putraku supaya ia bisa pergi dengan tenang, karena sudah beberapa bulan berlalu ia tidak bangun - bangun juga. Namun Yurina bersikeras menentangku melakukan niatku itu, sampai - sampai ia harus menjemput sendiri putriku Margaret yang tidak pernah ia kenal sebelumnya."
"Aku pikir Moranno terbangun dari komanya karena Margareth yang melakukannya, ternyata itu karena Yurina yang berteriak - teriak dan mengguncangkan tubuh Moranno begitu hebat, untung saja tidak ada diriku saat ia melakukan perbuatan yang terbilang membahayakan itu, aku pasti akan memarahinya lagi. Ternyata perbuatannya itu dapat membangunkan putraku sehingga bisa berdiri ditengah - tengah kita pada malam hari ini....." Nyonya Agatsa menghentikan sejenak uraiannya yang begitu panjang. Semua yang hadir mengalihkan pandangan mereka pada wajah Moranno yang masih menyandarkan Yurina dibahunya.
"Sikap beraninya itu kembali ia tunjukkan saat terjadi demo besar - besaran yang dilakukan oleh para pegawai perusahaan kami. Saya sempat meremehkannya hingga menyuruhnya menghadapi langsung para pendemo itu, karena saya tahu dia tidak punya pengalaman, apalagi kemampuan mengatasi masalah sebesar itu."
"Sungguh diluar dugaan saya, saya melihatnya sendiri melalui layar televisi dan layar CCTV, ia menyelesaikan masalah itu hanya dengan hitungan menit dengan caranya yang sederhana yang tidak saya pikirkan. Sejak saat itu saya merasa dia bukan perempuan yang biasa - biasa saja."
"Sampai ketika nyonya Naomi datang bersama tuan dan nyonya Morgan untuk meminta saya melakukan test DNA pada Yurina, saya langsung menyanggupinya. Saya bahkan sangat yakin bahwa hasilnya pasti menunjukkan adanya hubungan darah antara ibu dan anak, juga nenek dan cucu."
"Dihadapan semua yang hadir diruangan ini, aku mau meminta maaf padamu...... menantuku...... atas semua kesalahan yang telah aku lakukan, mulai yang terbesar hingga yang terkecil sekalipun padamu selama ini." Ucap nyonya Agatsa melembut.
"Jika bukan karena dirimu, mungkin saja Moranno sudah meninggalkan kita semua. Dan jika bukan karena dirimu, mungkin aku belum berbaikkan dengan putriku yang sama keras kepalanya dan egoisnya seperti diriku......" Nampak beberapa yang hadir menahan senyumnya.
"Sudah beberapa waktu yang lalu aku ingin mengungkapkannya, tapi aku terlalu malu untuk mengutarakannya langsung. Berkenaan dengan acara temu keluarga dan makan malam bersama, aku memberanikan diri untuk meminta maaf padamu menantuku......" Ucap nyonya Agatsa seraya mendekati Yurina yang masih menunduk bersandar dibahu Moranno.
"Mom..... Yurina pingsan lagi..... seperti dipanti waktu itu....." Kata Moranno memeluk pinggang Yurina erat.
Nyonya Agatsa dan yang lainnya langsung panik mendengar perkataan Moranno. Mereka langsung datang mendekat berusaha membantu.?
"Tuan Moranno, ijinkan saya membantu anda menggotong nyonya muda kesofa itu." Harry yang berdiri dekat Moranno menawarkan diri.
__ADS_1
"Tidak perlu tuan Harry.... Aku masih sanggup menggendong isteriku seorang diri." Tolak Moranno.
"Aduh..... mom...... sakit......" Moranno meringis kesakitan saat telinganya tiba - tiba dijewer ibunya.
"Saat seperti ini kau masih saja menunjukkan rasa cemburumu. Biarkan tuan Harry membantumu !" Nada suara nyonya Agatsa meninggi pada putranya itu tanpa melepas tangannya dari daun telinga Moranno.
"Aduh sakit...... Suamiku kenapa kau tidak memegangku dengan kuat....." Kata Yurina yang tiba - tiba terjatuh kelantai terlepas dari pelukan Moranno.
"Maafkan aku sayang..... mommy menjewer telingaku dengan sangat kencang jadi terasa begitu sakit." Kata Moranno sambil membantu Yurina bangkit dari lantai.
Mata nyonya Agatsa membola, hampir saja keluar dari tempatnya menatap putra dan menantunya itu, demikian pula dengan yang lainnya, yang berusaha membantu menggotong tubuh Yurina.
"Mom..... maafkan kami....." Kata Moranno yang merasa tertangkap basah.
"Iya nyonya besar, maafkan kami..... saya disuruh tuan Moranno untuk pura - pura pingsan, agar nyonya besar panik....." Aku Yurina dengan wajah takut.
Moranno yang berniat hanya menggoda ibunya itu kini menjadi salah tingkah dihadapan semua yang hadir. Yurina yang berlindung dibalik punggung Moranno tidak berani melihat kearah ibu mertuanya itu.
Nyonya Agatsa mendekati Moranno dan Yurina dengan wajahnya yang masih terlihat marah.
Sementara Moranno dan Yurina hanya bisa pasrah dengan apa yang akan menimpa mereka.
"Aduh sakit mom......."Kata Moranno dengan wajah meringis, Yurina tidak berani mengeluarkan suaranya seperti yang dilakukan Moranno, hanya wajahnya saja yang ikut meringis.
"Itu hukuman kalian, karena sudah berani menggoda orang tua yang lagi sangat serius dengan ucapannya." Ucap nyonya Agatsa sambil berkacak pinggang setelah selesai memberi hukumannya.
__ADS_1
"Kapan lagi kalian bisa melihat CEO dari Agatsa Properti Grup terlihat seperri ini bersama isterinya. Ayo kita menuju meja makan, aku sudah puas membalas keusilan mereka berdua yang membuatku menjadi sangat lapar." Ucap nyonya Agatsa memimpin semua keluarga menuju meja makan sambil tertawa lepas.
Semua leluarga yang hadir ikut tertawa lepas sambil mengikuti nyonya Agatsa menuju meja makan.
Sèmentara Moranno dan Yurina hanya bisa ikut tertawa menahan malu sambil mengusap daun telinga yang memerah atas perbuatan mereka pada nyonya Agatsa.
"Ayo sayang..... kita kemeja makan....." Moranno menuntun Yurina menuju meja makan.
"Semua keluarga sudah duduk rapi dikursinya masing - masing. Para pelayan pun sudah siap melayani.
Moranno dan Yurina menuju dua kursi kosong yang berada disebelah nyonya Agatsa. Dengan perlahan Moranno menarik kursi untuk Yurina dan mempersilahkan isterinya itu duduk. Lalu menarik kursi untuk dirinya sendiri.
Semua yang duduk dimeja masih menatap mereka dengan senyum tertahan.
"Mom..... maafkan kami..... kami hanya bercanda." Kata Moranno yang duduk diantara ibunya dan Yurina.
"Iya nyonya besar...... maafkan kami yang sudah bercanda tidak pada tempatnya....." Tambah Yurina yang duduk disebelah Moranno.
" Mommy tidak marah pada candaan kalian, mommy hanya ingin membalas apa yang kalian berdua lakukan, bagaimana rasanya? Tidak nyaman kan?" Ucap nyonya Agatsa tersenyum menang.
"Dan kau Yurina......" Nyonya Agatsa melihat kearah Yurina yang langsung tegang saat mendengar namanya disebut oleh sang ibu mertua.
"Iya.... saya nyonya besar....." Sahut yurina sedikit kikuk.
"Jangan panggil nyonya besar lagi. Mulai sekarang panggil saja mommy seperti Moranno dan juga Margareth."
__ADS_1