
"Nyonya Besar.... Anda disini??" Sapa Yurina sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat saat ibu mertuanya muncul bersama dokter Rosalie didepan lobi rumah sakit.
"Iya, dokter Rosalie ingin bertemu dan berbicara denganku. Lagi pula aku juga mau menjemput cucu - cucuku pulang. Apa tidak boleh?" Kata nyonya Agatsa datar, sedatar wajahnya memandang Yurina.
"Bu... bukan begitu maksud saya nyonya besar. Tentu saja anda boleh menjemput cucu - cucu anda nyonya." Yurina agak gugup, karena ia merasa selalu salah saat berbicara pada ibu mertuanya itu.
"Bibi Nur, bawa cucu - cucuku masuk ke mobil." Perintah nyonya Agatsa.
Pak Karso dan beberapa pengawal keluarga Agatsa turut membantu memasukan barang - barang Yurina dan bayinya di dua mobil yang telah disiapkan.
"Nyonya Yurina...." Panggil dokter Rosalie.
"Iya..... Ada apa dok...?" Yurina menghentikan langkahnya menuju mobil.
"Ambillah ini nyonya....." Dokter Rosalie menyerahkan benda ditangannya pada Yurina.
"Apa ini dokter?" Tanya Yurina sambil menerima kotak berwarna biru langit.
"Ini... video saat kau melahirkan, apa kau ingat telah memesannya padaku?" Kata dokter Rosalie.
"Iya, saya ingat dokter. Terima kasih banyak dokter. Saya akan menyimpannya dengan baik untuk Moranno suami saya." Ujar Yurina merasa senang. Ia hampir melupakan hal penting itu.
"Saya harap begitu nyonya. Anda memang harus menjaganya dengan baik, jangan sampai jatuh ketangan orang yang tidal bertanggung jawab. Saya khawatir akan disalah gunakan." Pesan dokter Rosalie dengan bersungguh - sungguh.
"Iya dokter, saya mengerti. Saya permisi dulu dok." Pamit Yurina.
"Iya nyonya, bila ada sesuatu yang anda perlukan, baik itu tentang menyusui, ataupun tentang bayi - bayi anda, silahkan berkonsultasi dengan saya. Saya siap membantu." Pesan dokter Rosalie lagi.
"Pasti dok, saya pasti akan berkonsultasi dengan anda." Sahut Yurina.
Mobil yang ditumpangi Yurina segera berangkat meninggalkan rumah sakit Agatsa Hospital dan dua mobil lainnya yang membawa barang - barang mereka.
Suasana dalam mobil nampak senyap. Nyonya Agatsa duduk dijok depan dekat pak Karso yang sedang mengemudi. Yurina duduk dijok tengah bersama bibi Nur dan dua bayi kembarnya.
Ruang tengah mobil sudah diatur sedemikian rupa supaya luas karena untuk menjemput Yurina dan bayi kembarnya.
__ADS_1
Selama dalam perjalanan, dua bayi mungil itu tertidur pulas. Goyangan - goyangan mobil seolah membuat mereka berayun - ayun dan terbuai.
Tak terasa, menit - menit yang berlalu menghantarkan mereka memasuki area mansion mewah milik keluarga Agatsa. Rumah mewah itu terlihat seperti puri dalam cerita - cerita dongeng.
Security yang melihat mobil majikannya datang lalu membuka pintu gerbang dengan lebar menggunakan remot control.
Mobil yang dikemudikan pak Karso melambat dan akhirnya berhenti dihalaman luas rumah besar itu.
Pak Karso segera turun dan membukakan pintu buat nyonya Agatsa. Selanjutnya Pak Karso membukakan pintu belakang untuk Yurina dan bibi Nur juga para bayi.
"Ayo segera masuk, aku sudah menyediakan penyambutan bagimu dan cucu - cucuku." Kata nyonya Agatsa masih datar.
"Terima kasih banyak nyonya besar...." Yurina hampir tak percaya, bila ibu mertunya yang ia kenal sangat tidak menyukai dirinya, mau membuat penyambutan bagi dirinya.
Bila bagi cucu - cucunya, Yurina sudah tidak meragukan lagi, mertuanya memang terlihat menyayangi bayi - bayi itu.
"Ayo, tunggu apalagi??" Kata nyonya Agatsa yang melihat Yurina masih belum mengikutinya masuk.
"I... Iya nyonya besar....." Yurina segera mengikuti nyonya Agatsa yang mendorong kereta bayi kembar itu didepannya.
Seluruh pelayan yang bekerja di mansion mewah itu berdiri berjejer membungkuk hormat sambil mengucapkan selamat pada Yurina dan nyonya Agatsa saat mereka melewati para pelayan itu.
Dua bayi yang sudah terbangun itu mengerjap - ngerjapkan mata mereka yang seolah - olah silau akan cahaya walau sudah dilindungi penutup kereta.
Dua bayi kembar itu nampak menggemaskan, sehingga membuat para pelayan itu sangat ingin menyentuh kedua bayi mungil itu, namun tidak berani dengan nyonya Agatsa yang terkadang nampak galak.
Alunan musik lembut khas anak - anak terdengar saat mereka memasuki ruang pesta penyambutan yang ada dilantai satu, bersebelahan dengan ruang tamu.
Semua pelayan yang berbaris berjejer dihalaman ikut masuk ruangan pesta, dan duduk di kurşi - kursi yang telah disediakan.
Bibi Nani sebagai kepala pelayan, memimpin acara penyambutan. Acara berjalan khidmat.
Tak terasa, Yurina meneteskan air matanya. Ia tidak menyadari bila nyonya Agatsa yang duduk disebelahnya memperhatikannya.
"Mengapa kau menangis, apakah kau tidak menyukai apa yang kulakukan ini?" Kata nyonya Agatsa, masih dengan gaya datarnya.
__ADS_1
"Maafkan saya nyonya... Saya hanya terharu diperlakukan seperti ini. Ini terlalu istimewa buat saya." Kata Yurina sambil menghapus air matanya menggunakan tissue yang tersedia diatas meja mereka.
Nyonya Agatsa tiba - tiba tersentuh hatinya. Tidak salah bila Yurina berkata demikian. Selama ini ia memang merasa selalu memperlakukan menantunya itu dengan buruk.
Ini untuk kedua kalinya ia berusaha berlaku baik pada isteri putra kesayangannya itu.
"Walaupun Moranno masih sakit dan tidak ada disini. Aku akan tetap melakukan kewajibanku sebagai seorang nenek." Ucapnya masih datar.
"Bibi Nani, bawakan makanan yang telah kupesankan padamu untuk nyonya muda."
"Baik nyonya besar." Bibi Nani segera melakukan apa yang diperintahkan nyonya Agatsa.
Sementara para pelayan yang lainnya sedang menikmati makan siang dimeja mereka masing - masing.
Bibi Nani segera menyajikan makanan yang ia bawa diatas meja.
"Makanlah... Ini khusus untukmu yang sedang menyusui. Makanlah yang banyak. Aku tidak ingin cucu - cucuku kekurangan ASI yang harus mereka terima darimu." Kata nyonya Agatsa.
"Terima kasih nyonya besar. Mari makan bersama saya..." Ucap Yurina berusaha bersikap baik dam sopan pada ibu mertuanya itu.
"Aku sudah memesan makananku sendiri. Kau makanlah saja." Kata nyonya Agatsa mempersilahkan masih dengan nada datarnya.
Tak lama bibi Nani membawa nampan berisi makanan pesanan nyonya Agatsa.
Yurina memperhatikan isi nampan yang telah ditaruh bibi Nani diatas meja. Ada piring sayuran, dan beberapa potong buah - buahan segar.
Hampir mirip dengan menu makanan dirinya, pikir Yurina. Namun nasi sebagai sumber karbohidrat hanya sedikit saja. Tidak ada daging atau apun yang ada lemaknya.
Yurina teringat, bahwa ibu mertuanya itu sempat kambuh jantungnya saat mendengar musibah kecelakaan yang menimpa Moranno putranya.
Mungkin itu sebabnya, ibu mertuanya itu menjaga pola makannya, pikir Yurina.
Yurina memang terasa sangat lapar, sehingga dengan sekejap, makanannya yang diatas meja sudah habis dengan cepat.
"Apakah kau ingin menambah lagi?" Tanya nyonya Agatsa sambil menghentikan sejenak kegiatan makannya.
__ADS_1
"Cukup nyonya besar. Saya sudah sangat kenyang." Sahut Yurina.
Yurina mengedarkan pandangannya menyapu seluruh isi ruangan pesta penyambutan dirinya dan bayi kembarnya. Sementara nyonya Agatsa melanjutkan makan siangnya kembali.