
Margareth menatap kedua pria itu secara bergantian. Kedua pria itupun sama - sama menatap wajah Margareth, menanti apa yang akan dilakukan wanita itu selanjutnya.
"Tuan Harry..... perkenalkan, ini dokter Randiasa. Dia temanku, juga teman dokter Rosalie." Ucap Margarerth masih sedikit gugup.
"Perkenalkan.... saya Harry, tunangan dokter Margareth." Ucap Harry tiba - tiba sambil mengulurkan tangannya mendekati dokter Randiasa, masih dengan senyum ramahnya.
Wajah dokter Randiasa sedikit terkejut, ia memandang wajah Margareth sejenak seolah minta penjelasan. Margareth yang dipandang hanya menganggukan kepalanya pelan menatap dokter Randiasa dengan kikuk, semuanya tidak lepas dari pengawasan Harry.
Setelahnya, dengan cepat dokter Randiasa beralih memandang kearah Harry dan menyambut uluran tangan pria dihadapannya itu dengan membalas senyum ramahnya.
"Selamat, atas pertunangan kalian. Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" Tanya dokter Randiasa tulus, matanya menatap kearah Margareth.
Mulut Margareth sudah setengah terbuka untuk menjawab.
"Satu bulan kedepan." Jawab Harry cepat, membuat Margareth hanya bisa ternganga memandang kearah Harry, sedangkan Harry yang dipandang Margareth langsung meraih dan memeluk pinggang ramping Margareth dengan satu tangannya hingga membuat tubuh wanita itu merapat pada tubuhnya.
Perlakuan tidak terduga Harry padanya membuat wajah Margareth merona.
Dokter Randiasa yang menyaksikan semuanya itu hanya bisa tetap menyunggingkan senyum dibibirnya. Terlihat sekali tunangan Margareth itu dengan sengaja ingin menunjukan kepemilikannya. Mungkin saja wanita itu sudah menceritakan semuanya pada calon suaminya tentang masa lalu dirinya dan Margareth pikirnya.
"Kami akan keluar untuk makan siang. Apakah anda bisa ikut dengan kami dokter Randiasa untuk merayakan pertemuan kita?" Ucap Harry masih bersikap ramah.
"Terima kasih atas tawaran anda tuan Harry. Saya sedang ada janji bertemu kepala rumah sakit ini dijam sekarang. Mungkin dilain kesempatan kita bisa melakukannya." Tolak dokter Randiasa tetap bersikap ramah.
"Baiklah...... kalau demikian, kami permisi dulu. Ayo sayang......" Harry masih memeluk pinggang Margareth dan membawanya berbalik arah. Margareth hanya bisa menurut, ia pun tidak ada niat menolak ataupun memberontak.
Dokter Randiasa menatap punggung kedua pasang kekasih itu yang pergi menjauh. Dimasa lalu, dialah yang berada diposisi itu. Rasa sakit itu tiba - tiba datang menyerangnya. Napasnya terasa sesak. Ia memegang dadanya yang tidak terasa sakit.
Semakin keras ia ingin mengubur masa lalu itu, semakin kuat perasaan itu bertahan didadanya.
Dokter Randiasa akhirnya memutuskan untuk segera menemui kepala rumah sakit itu, ia tidak mau berlarut - larut terombang - ambing dalam masa lalunya yang tidak mungkin akan kembali. Dimasa sekarang, dirinya sudah memiliki seseorang yang harus ia jaga hati dan perasaannya, Lisa isterinya yang telah ia nikahi.
__ADS_1
...•••...
Margareth dan Harry, keduanya sama - sama saling membisu. Harry membelokan mobil Margareth yang ia kemudikan memasuki area salah satu restoran terdekat. Ia pernah kesana pertama kali saat mengantarkan Margareth sekitar dua bulan yang lalu.
Keduanya turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju pintu masuk restoran dengan saling menjaga jarak.
"Selamat siang tuan, nona....." Sapa pelayan restoran menghampiri meja yang ditempati Harry dan Margareth dengan senyum ramahnya.
"Selamat siang......" Balas Harry dan Margareth secara bersamaan tidak lupa dengan senyum ramah mereka.
"Silahkan membuat pesanan....." Pelayan restoran memberikan buku menu dan selembar kertas dilengkapi pulpen masing - masing kepada Margareth dan Harry.
Setelah selesai, pelayan restoran itu membawa kertas pesanan mereka pada koki didapur.
Margareth memperhatikan Harry yang sibuk dengan tabletnya. Jari tangan pria itu sesekali menggeser pada layar tabletnya, dan terkadang mengetik dengan lincah diatas layar tablet itu, dan itu berlangsung beberapa menit lamanya.
Pria itu seolah - olah mengabaikan dirinya yang duduk berhadapan dengannya. Mungkinkah Harry sedang marah padanya pikir Margareth yang mulai tidak tenang.
"Hmmm......" Harry hanya bergumam tanpa memandang kearah Margareth yang menatapnya lekat.
"Apa anda sedang marah padaku??" Tanya Margareth masih menatap lekat wajah Harry yang sibuk dengan tabletnya dihadapannya.
Jari - jemari Harry yang lincah mengetik diatas layar tabletnya langsung berhenti bergerak. Terlihat ia seperti berpikir.
"Aku? Marah padamu?" Harry balik bertanya sambil menatap kearah Margareth yang masih menatapnya lekat.
"Hmm....".Margareth menganggukan kepalanya.
"Tidak..... aku tidak marah padamu nona Margareth. Maafkan aku, mungkin kau merasa tidak nyaman pada sikapku yang sibuk sendiri dengan tabletku ini." Harry menyunggingkan sedikit senyum diujung bibirnya sambil mengangkat sedikit tablet ditangannya ke udara.
"Aku sedang membalas e-mail dari beberapa pegawaiku. Juga e-mail dari asisten kakakmu, Rudy." Lanjut Harry menjelaskan.
__ADS_1
"Aku.... ingin mengatakan sesuatu padamu tuan Harry....." Ucap Margareth nampak sedikit ragu menatap wajah Harry didepannya yang masih memandang wajahnya.
"Pesanan tuan dan nona sudah siap....." Ucap pelayan restoran yang sudah ada disisi meja mereka. Dua pelayan restoran itu langsung menyajikan pesanan Margareth dan Harry dihadapan mereka masing - masing.
Margareth dan Harry saling berpandangan keheranan melihat menu makanan mereka. Nasi putih, tumis udang pare yang sama, ikan bakar, dan jus timun yang sama pula.
"Bagaimana menunya bisa sama?" Gumam Margareth sambil melihat pada makanan dihadapan mereka masing - masing.
"Itu tandanya kita sehati dan seperasaan, dan kita berjodoh. Dalam memilih menu makanan pun, kita memiliki selera yang sama." Ucap Harry yang mendengar gumaman Margareth.
"Ayo, segera disantap selagi hangat." Ajak Harry tanpa basa - basi.
Keduanya sama - sama menikmati makan siang direstoran itu dalam diam. Hanya beberapa pelayan yang terlihat sibuk melintas didekat meja mereka mengantarkan lembaran - lembaran pesanan pada koki didapur dan pesanan - pesanan yang sudah siap kepada para pengunjung.
Sesekali Margareth melirik dengan ekor matanya kearah Harry yang makan dengan tenang dan dengan gayanya yang elegan seperti biasa.
Ketenangan yang dimiliki Harry juga ada pada Randiasa. Itulah yang membuat Margareth selalu ingat pada pria masa lalunya itu, setiap kali berdua bersama Harry. Mereka sama - sama bersahaja.
Hanya saja, Randiasa terlihat sedikit lebih tampan dari Harry, namun Harry lebih tinggi beberapa senti dari Randiasa.
"Permisi tuan Harry......." Margareth mengusap tissue pada ujung bibir Harry yang menyisakan noda jus timun yang baru saja ia habiskan.
Harry terpaku ditempat duduknya, ia membiarkan Margareth membersihkan ujung bibirnya. Ia menatap wajah Margareth yang sedang pokus pada kegiatannya membersihkan noda pada ujung bibirnya.
"Terima kasih.....Aku mencintaimu nona Margareth...."Gumam Harry, sesaat setelah usai membersihkan noda diujung bibirnya. Namun Margareth bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Wajah Margareth yang mulus dan putih bersih langsung merona dibuatnya.
"Anda sudah selesai tuan Harry?" Margareth berusaha menyembunyikan perasaannya yang tiba - tiba saja berbunga - bunga saat mendengar ucapan Harry.
"Sudah...." Sahut Harry singkat.
"Ayo kita segera kembali kerumah sakit, hari ini kepala rumah sakit akan memperkenalkanku dengan dokter saraf yang baru, yang akan menggantikan posisiku disana setelah aku pindah dari rumah sakit itu." Jelas Margareth sambil berdiri diikuti Harry yang membereskan tablet yang ia bawa ditanganya.
__ADS_1