
Selesai makan siang Yurina lalu membereskan peralatan makan mereka, dan mengembalikannya dalam paper bag.
"Bolehkah aku mengunjungi ibu Sari? Aku merindukannya." Kata Yurina meminta ijin pada suaminya itu.
"Boleh, apa perlu aku mengantarmu ke tempat kerjanya?"
"Tidak, nanti mereka malah sungkan bila melihatmu."
"Baiklah, tapi kau harus hati-hati, jaga kandunganmu baik-baik, daddynya sangat menyayangi mereka." Kata Moranno sambil mengelus perut Yurina perlahan. Yurina sedikit merasa geli, lalu tertawa kecil. Moranno gemes melihat isterinya itu, lalu mendekatkan wajahnya ketelinga Yurina.
"Daddynya juga sangat menyayangi mommy mereka" Bisik Moranno membuat Yurina tersenyum bahagia.
"Terus mommynya para bayi gimana?" Tanya Moranno masih berbisik ditelinga Yurina.
Yurina lalu mencium pipi suaminya yang lagi berbisik, membuat Moranno terbelalak kaget.
"Ternyata kau sekarang sudah mulai berani ya melakukannya pada suamimu, hmmm?" Moranno lalu kembali memeluk isterinya itu lagi.
"Ayolah, kapan kau bekerja bila begini terus."
"Baiklah. Beri aku ciuman lagi."
"Janji tidak minta lebih lagi."
"Janji."
Yurina lalu mencium pipi Moranno yang sebelahnya lagi. Moranno lalu melepaskan pelukannya.
"Oya, ini banyak sekali isinya, apa kau tidak salah memberikannya padaku." Yurina mengambil kartu ATM dari tas tangannya dan hendak mengembalikannya pada Moranno.
"Saat kau transaksi disitu tertera nama siapa?" Tanya Moranno sambil menatap wajah Yurina.
"Ya namaku...." Jawab Yurina menatap wajah Moranno.
"Artinya itu milikmu, dan aku tak salah memberi." Kata Moranno lagi.
"Tapi ini banyak sekali..." Kata Yurina dengan mimik wajah seolah tak percaya.
"Kau gunakan dan belanjakan saja apa yang kau butuhkan, bulan depan aku akan mentransfermya lagi."
"Jangan... ini saja sudah banyak sekali." Kata Yurina dengan wajah takutnya.
" Kau itu isteriku, kewajibanku membiayaimu. Simpan saja kembali."
Yutina tak bisa berbicara lagi, ia lalu menyimpannya kembali dalam tas tangannya.
__ADS_1
"Terima kasih ya... Aku pergi dulu."Yurina tersenyum memandang suaminya sambil berlalu keluar meninggalkan tempat itu.
"Hmmm..." Moranno hanya menganggukan kepalanya dan membiarkan Yurina pergi menemui ibu Sari. Ia melihat isterinya itu hilang dibalik pintu, lalu tersenyum sendiri.
"Dia memang berbeda. Apa yang kuberikan padanya tak sebanding dengan apa yang ia berikan padaku, aklu bahkan tak akan bisa membayarnya." batin Moranno.
***
Tok... tok... tok....
"Masuklah..." Kata suara seorang wanita dari dalam.
Yurina lalu membuka pintu perlahan dan mulai masuk dengan pelan. Tampak ibu Sari tengah sibuk dimejanya mengerjakan sesuatu.
"Boleh saya duduk bu?" Kata Yurina yang berdiri di depan meja ibu Sari. Ibu Sari lalu menengadahkan wajahnya keatas kearah datangnya suara.
Ibu Sari tersentak saat melihat siapa yang datang, dengan serta-merta ia berdiri sambil memberi hormatnya.
"Nyonya, maafkan saya tidak menyadari kedatangan anda." Kata bu Sari yang merasa tak nyaman atas sikapnya pada mantan bawahannya yang kini sudah menjadi majikannya.
"Tidak apa bu Sari. Panggil saja saya seperti biasanya, lebih nyaman." Kata Yurina dengan senyum hangatnya.
"Jangan demikian nyonya, nanti tuan bisa marah pada saya." Kata bu Sari lagi.
Tok... tok... tok....
"Astagaaa.... " Dua orang cleaning service masuk dengan wajah terkejut mereka saat melihat Yurina ada diruangan itu.
"Selamat siang nyonya." Sapa keduanya dengan memberi hormat.
"Ah Riri dan Joni. Gak usah terlalu formal gitulah, biasa aja, kaya dulu aja kenapa..." Kata Yurina yang merasa sahabat-sahabatnya berubah sikap padanya.
"Jangan nyonya, nanti tuan Moranno marah pada kami gimana, dipecat bisa hancur kita, ya kan Ri?" Kata Joni minta dukungan temannya.
"Iya, bener..." Kata Riri membenarkan kata Joni.
"Iya deh terserah kalian saja, mana baiknya saja. Aku ngga keberatan, yang penting aku masih bisa berteman dengan kalian."Kata Yurina sambil merangkul bahu Riri dan Joni.
Keduanya merasa sedikit tak nyaman saat Yurina merangkul mereka. Yurina heran, keduanya tidak merespon seperti biasanya.
"Kenapa? Gak suka?" Tanya Yurina lagi.
"Bukan, kami bau habis bekerja, bau keringat. Nyonya sangat wangi." Sanggah keduanya tertawa. Yurina ikut tertawa. Ibu sari tersenyum melihat ketiga sahabat itu, hatinya senang karena Yurina yang telah menjadi majikannya itu masih baik seperti dulu.
"Nyonya perut anda sudah mulai membesar. Apakah masih terasa mual dan muntah-muntah kah sekarang? Tanya Riri yang melihat perut sahabatnya mulai membuncit.
__ADS_1
"Kalau mual kadang-kadang ada, tapi kalau muntah-muntah sama sekali nggak pernah." Kata Yurina pada kedua sahabatnya itu.
"Biasanya nih ya, kalau ibu-ibu hamil tuh, pasti bawaannya mual-mual, terus muntah-muntah, terus nggak mau makan, terus lemes, terus mudah lelah, dan bawaannya kepengen tidur aja." Kata Joni panjang lebar.
" Iya sih, emang rata-rata begitu. Kalau mudah lelah aku sering ngerasa, mual juga, tapi kalau muntah-muntah tuan Moranno yang ngalaminnya."
"Serius....?!" Riri dan Joni kompak bertanya dengan mata terbelalak.
"Iya, benar..." Jawab Yurina.
"Oh so sweet.... Udah tampan, kaya, gantiin isterinya ngalamin kaya gituan, the best deh tuan Moranno." Kata Riri sambil menempelkan kedua tangannya pada kedua belah pipinya sambil tersenyum.
"Aku juga mau kaya gitu, nanti kalau aku hamil, suamiku yang ngalamin morning sicknessnya." Kata Riri melanjutkan obrolannya.
"Huu... keenakan di elu Ri..." Kata Joni menimpali. Ketiganya lalu tertawa-tawa diikuti ibu Sari yang setia mendengarkan mereka sambil mengerjakan pekerjaannya dimeja kerjanya.
"Nyonya, anak anda kalau laki-laki pasti ganteng seperti ayahnya, dan kalau perempuan pasti cantik seperti ibunya. " Kata Riri sambil membayangkan.
"Ya iyalah... itu udah nyata Ri.... bisa dilihat dari bibitnya juga." Kata Joni nyengir.
Ibu Sari yang turut mendengarpun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum dimeja kerjanya.
"Aku kembali dulu ya, lain kali kita sambung lagi, oke? Permisi Ibu Sari, Riri, Joni...." Kata Yurina pamit.
"Baik nyonya, terima kasih telah mengunjungi kami disini." Kata ketiganya serempak. Mereka menatap Yurina yang pergi meninggalkan ruangan cleaning service.
"Beruntungnya ya, nyonya Yurina mendapatkan tuan Moranno yang sangat tampan itu, dan juga tajir melintir." Ucap Riri sambil berhalusinasi.
"Yang beruntung itu tuan Moranno, bisa mendapatkan perempuan sebaik nyonya Yurina itu, sèperti berlian yang terpendam begitu. Aku saja naksir sama nyonya waktu dia sama-sama jadi pegawai seperti kita, gak taunya udah keduluan sama tuan Morano itu. Uuhh, nyesel aku, nyesel pokoknya deh." Ujar Joni dengan wajah dibuat cemberut.
"Yeee... yang ada nyonya Yurina yang rugi kalau dapetin elu..."
"Lho apa kurangnya gue coba...." Ucap Joni tak terima.
"Banyak... kurang tampan, kurang macho, kurang keren, dan kurang kaya juga dibanding tuan." Kata Riri sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Nah... puas udah elu ya ngatain gue." Ucap Joni dengan wajah sewotnya.
"Udah-udah, tuan Moranno ya tetap tuan Moranno, Joni ya tetap Joni tidak bisa dibanding-bandingkan. Tuan Moranno dan Joni bagaikan langit dan bumi. Tuan Moranno langitnya, dan Joni buminya. Ucap ibu Sari turut menggoda Joni.
"Nah ini nih, gue dikeroyok, ya kalahlah, dua lawan satu. Ucap Joni dengan wajah sengaja dibuat cemberut.
"Nyonya Yurina nya beruntung mendapatkan tuan Moranno, tuan Moranno juga beruntung mendapatkan nyonya, kedua-duanya sama-sama beruntung, orang yang baik akan dipertemukan dengan orang yang baik pula. Dan kita juga beruntung, memiliki tuan dan nyonya yang baik pada kita sehingga kita dapat bekerja untuk menafkahi keluarga kita." Sambung ibu Sari.
"Sekarang waktunya kita lanjut bekerja lagi, cukup bincang-bincangnya, tak enak dengan teman-teman kalian yang lain." Ibu sari mengakhiri pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Siaapp komandan !" Kata kedua pegawainya itu serentak.
***