
Pagi itu Yurina terbangun dari tidurnya. Ia merasa lebih nyaman hari ini. Rasa tubuh yang lemas dan lelah sudah tidak terasa lagi. Hari ini ia merasa sudah bertenaga dan berenegi lagi. Perutnya terasa sangat lapar. Pandangannya menyapu semua sudut ruangan, namun tidak ada siapa-siapa disana.
Terdengar gemericik air dari dalam toilet. Mata Yurina mengawasi toilet yang tidak jauh jaraknya dari pembaringannya. Tak lama pintu terbuka membuat Yurina terkejut melihat siapa yang keluar dari toilet.
"Lisa.... Bagaimana kau bisa ada disini?" Tanya Yurina
"Aku ditelpon tuan Moranno tadi malam, bahwa kau ada disini, dan suamimu juga sudah menceritakan semuanya padaku kenapa kau bisa ada disini."
"Dari mana dia bisa tahu nomor ponselmu, aku kan tidak pernah memberikannya padanya?" Kata Yurina terheran-heran.
"Tuan Moranno menelponku dari ponselmu. Awalnya aku pikir kaulah yang menelponku."
"Oh begitu rupanya. Dimana dia? Aku tak melihatnya dari tadi?" Tanya Yurina sambil memandang kesana kemari.
"Tadi saat aku tiba, ada dokter Rosalie sedang memeriksa keadaanmu, tapi kulihat kau masih tertidur sangat pulas. Setelah itu dokter Rosalie meminta tuan Moranno untuk menemuinya di ruangannya, ada sesuatu yang ingin disampaikan dokter. Jadi tuan Moranno menitipkanmu padaku." Tutur Lisa.
"Oh ya, apa kau sudah merasa lapar? Aku ada membawakan makanan kesukaanmu, sup ikan dan jus mangga. Apa kau mau makan sekarang?" Tanya Lisa dengan penuh semangat.
"Iya, aku mau. Perutku juga terasa sangat lapar dari tadi." Sahut Yurina tak kalah bersemangat.
"Tunggu sebentar ya?" Lisa lalu menuju meja yang ada disudut ruangan dimana ia meletakan makanan yang ia bawa. Aroma masakan segera tercium oleh Yurina saat Lisa menuangkannya kedalam mangkuk.
"Aromanya membuatku bertambah lapar." Ujar Yurina seolah tak sabar.
"Aku akan membantu menyuapimu."
"Tidak perlu. Aku sudah lebih bertenaga hari ini." Tolak Yurina.
"Baiklah.... Tapi kau harus hati-hati, jangan terburu-buru, supnya masih cukup panas." Kata Lisa mengingatkan sambil menyerahkan mangkuk ditangannya pada Yurina.
"Terima kasih...." Kata Yurina sambil menerima mangkuk yang disodorkan Lisa.
Yurina menyendok supnya dan memasukkan kedalam mulutnya dengan perlahan.
"Ini enak sekali Lisa..." Ujar Yurina sambil terus memasukannya suapan demi suapan kedalam mulutnya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kau masih suka. Makanlah sampai kenyang, aku membawanya banyak untukmu."
"Ayo kita makan bersama Lisa." Ajak Yurina disela-sela makannya.
"Kau makan saja Yurina. Sebelum datang kemari aku sudah lebih dulu sarapan sup ikan ini." Ujar Lisa.
"Tadi pagi-pagi sekali sebelum aku kemari, tuan Moranno memintaku mengirim photoku sesuai pakaian yang akan aku kenakan ketempat ini." Kata Lisa serius, membuat Yurina berhenti sejenak dari kegiatan makannya sambil memandang wajah sahabatnya itu.
"Photo.... Untuk apa dia memintanya?"Kata Yurina tak mengerti.
"Kata tuan Moranno untuk diperlihatkan pada pengawal yang berjaga dirumah sakit ini. Ya, aku bisa mengerti maksud tuan Moranno. Sepertinya tuan Moranno sedang melakukan pengawalan ketat untuk dirimu. Dalam dua hari terakhir ini, berita penculikanmu dirimu itu telah menjadi berita utama disetiap media masa dan televisi. Bahkan tentang pernikahanmu dengan tuan Moranno beberapa bulan lalu kembali diangkat. Kulihat, sepertinya para wartawan itu sudah mendapatkan berita tentang kebenaran yang selama ini tersembunyi. Semua yang terjadi antara kau dan tuan Moranno saat itu, hingga penculikan dirimu, semuanya mengarah dan menunjuk pada satu nama. Yaitu nona Gandis." Tutur Lisa panjang lebar.
"Tadi saat aku tiba digerbang rumah sakit, penjagaan security masih terbilang normal seperti di rumah sakit - rumah sakit pada umumnya. Tapi setelah akses menuju ketempat kau dirawat ini, ada banyak yang berjaga, dan aku diperiksa dengan teliti, dan mereka memperlihatkan photoku yang kukirimkan pada tuan Moranno tadi pagi. Salah satu penjaga yang memperlihatkan photoku itu, dialah yang mengantarkanku hingga tiba kemari. Sepanjang jalan koridor menuju kemari dipenuhi para penjaga. Ya aku sedikit risih sih, maklum aku kan orang biasa tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu. Setiap pengawal yang kulewati bersama penjaga yang mengantarku, mereka selalu memberi hormat." Kata Lisa sambil tersenyum-senyum sendiri saat mengingat pengalamannya pagi itu.
"Benarkah sampai segitunya??" Ujar Yurina hampir tak percaya bila suaminya melakukan hal seperti yang diceritakan Lisa sahabatnya itu hanya untuk menjaganya.
"Iya benar. Terlihat sekali bila tuan Moranno sangat menjagamu. Bahagia sekali rasanya bila aku menjadi dirimu Yurina." Goda Lisa dengan senyum mengembangnya.
"Ah kau ini Lisa, bisa saja membuatku tersipu." Ujar Yurina membalas godaan sahabatnya itu.
"Hai sayang.... Kau sudah makan?" Moranno yang tiba-tiba muncul didepan pintu mengagetkan keduanya.
"Berikan padaku, aku akan menyuapimu." Kata Moranno sambil mengambil mangkuk dari tangan Yurina.
Yurina hanya bisa menurut saat Moranno menyuapinya. Lisa yang berada diantara mereka merasa sedang menonton drama korea.
"Apa kau sudah makan suamiku?" Tanya Yurina disela-sela Moranno menyuapinya.
"Sudah. Tadi aku sarapan dikantin bersama dokter Rosalie."
"Apa kata dokter Rosalie tentang diriku?"
"Besok kau sudah boleh pulang. Karena keadaanmu sudah lebih baik. Hanya luka-luka gores dan luka-luka lebammu yang masih harus lebih dirawat. Tapi itu bisa dilakukan dirumah. Besok sebelum pulang kerumah, kita akan mampir kekantor polisi, karena pihak kepolisian membutuhkan keteranganmu sebagai korban penculikan. Apa kau siap sayang? Bila kau belum siap, kita bisa meminta waktu satu atau dua hari lagi sampai kau benar-benar siap." Kata Moranno sambil tetap menyuapi Yurina yang ada dihadapannya.
"Aku siap. Tubuhku juga sudah terasa lebih bertenaga hari ini, apalagi besok hari."
__ADS_1
"Baiklah. Kau memang isteri yang hebat dan calon ibu yang kuat." Kata Moranno menyunggingkan senyumnya pada Yurina.
""Ehem... Masih ada saya disini tuan Moranno dan nyonya muda." Ujar Lisa yang sedari tadi hanya menjadi penonton. Ketiganya lalu tertawa bersama-sama.
"Maafkan kami Lisa... Menikahlah cepat, kau akan tahu apa yang kami rasakan." Ujar Moranno masih tertawa.
"Ah tuan Moranno, tidak perlu menikah.... saya sudah bisa merasakannya saat saya melihat anda dan Yurina seperti ini. Ya sama seperti drama korea, kita yang menjadi penonton seolah-oleh menjadi pemerannya." Kata Lisa juga masih tertawa.
Yurina hanya bisa tertawa dan menjadi pendengar saja saat suaminya dan sahabatnya saling berkelakar.
"Apakah kau ingin menambah lagi supnya sayang?" Kata Moranno beralih pada isterinya itu yang telah menghabiskan makanan dalam mangkuknya.
"Sudah cukup suamiku. Perutku sudah terasa kenyang. Lihatlah bayi-bayi didalam sana tidak berhenti bergerak dari tadi."
Moranno menaruh mangkuk yang ia pegang diatas nakas. Ia mulai berjongkok dengan wajahnya berada didepan perut Yurina. Perlahan tangannya mengelus perut isterinya itu dengan lembut, merasakan sentuhan-sentuhan para bayi yang seolah-olah berlomba bergerak kian kemari dalam perut ibunya.
"Apa yang kau rasakan sayang?" Tanya Moranno menatap wajah Yurina yang ada diatasnya.
"Geli... Ya terasa geli saat mereka bergerak seperti ini." Kata Yurina ikut mengelus dan mengusap perutnya sendiri. Sementara para bayi terus bergerak-gerak merasakan sentuhan tangan Morano dan Yurina.
"Sayang, aku akan kekantor, ada janji dengan tuan dan nyonya Morgan untuk bertemu jam sepuluh pagi ini. Apakah kau tidak keberatan bila aku meninggalkanmu sebentar?" Tanya Moranno menatap wajah isterinya itu.
"Tidak. Pergilah. Aku baik-baik saja. Ada Lisa yang menemaniku."
"Iya tuan Moranno, saya akan menemani nyonya muda disini. Saya baru akan kembali sebelum makan siang. Karena selepas makan siang saya akan kembali berkerja."
"Terima kasih Lisa. Aku menitipkan isteriku padamu ya." Kata Moranno menatap kearah Lisa.
"Iya tuan." Sahut Lisa singkat.
Moranno kembali mengusap perut Yurina dengan perlahan. Merasakan setiap gerakan para bayi yang membuat hatinya selalu bahagia.
"Hallo para babynya daddy.... jangan nakal ya, daddy kekantor dulu, jangan buat mommy kalian lelah ya. Semoga kalian dan mommy selalu sehat. Daddy janji akan bermain lagi bersama kalian saat daddy kembali nanti." Moranno lalu mencium perut Yurina dengan lembut beberapa kali lalu bangkit dari jongkoknya.
"Sayang, aku berangkat dulu, jangan terlalh banyak bergerak supaya tubuhmu segera pulih."
__ADS_1
"Iya suamiku... Hati-hati dijalan ya."
"Iya, kau juga baik-baik disini." Moranno lalu mencium kening Yurina, setelahnya ia bergegas meninggalkan Yurina dan Lisa diruang perawatan.