JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 64 " Baiklah.... Mommy tak memaksamu."


__ADS_3

Untuk beberapa saat keadaan didalam ruang kerja Morrano tampak begitu hening. Moranno dan nyonya Agatsa masih menunggu penuturan tuan Morgan. Namun Tuan Morgan seolah tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi.


"Tuan Morgan...." Moranno memberi jedah sejenak sambil menatap kearah tuan dan nyonya Morgan yang duduk berhadapan dengannya. Saat Moranno menyebut namanya, tuan Morgan pun turut menatap kearah Moranno.


"Saya berterima kasih atas semua yang telah disampaikan tuan Morgan hari ini, termasuk permintaan maaf dan juga mengenai Konferensi Pers yang telah dilakukan tuan Morgan dan nona Gandis kemarin sore. Saya telah melihatnya dari laporan asisten saya yang ia kirim keponsel saya." Moranno berhenti sejenak lalu melanjutkan apa yang perlu ia sampaikan.


"Dan saya pun sangat menghargai semua yang telah tuan dan nyonya Morgan lakukan hingga meluangkan waktunya untuk menemui saya disini. Mengenai tanggung jawab yang telah disampaikan tuan Morgan, saya rasa hanya nona Gandis saja yang harus mempertanggung jawabkan apa yang telah dia lakukan."


"Untuk insiden yang telah terjadi pada kami beberapa bulan lalu di ulang tahun perusahaan, saya bisa memakluminya, karena tidak menyangkut nyawa. Tapi penculikan yang telah diskenario oleh nona Gandis hampir merenggut nyawa isteri dan bayi yang ada dalam kandungannya, selama tiga puluh jam ia disekap, tidak diberi makan dan minum, sedangkan kita sangat mengetahui bahwa wanita yang sedang mengandung bila terlambat makan saja akan berdampak pada kesehatannya."


"Jadi untuk apa yang telah menjadi laporan saya dikantor kepolisian, itu akan tetap saya teruskan. Saya mohon maaf untuk hal ini pada tuan dan nyonya Morgan. Harapan saya, dengan adanya proses hukum ini semoga nona Gandis mendapatkan hikmah dari apa yang pernah ia lakukan pada keluarga Agatsa." Moranno menghentikan sejenak penuturannya.


"Tuan Moranno, saya mengerti dan tidak merasa keberatan atas tindakan hukum yang tuan ambil. Sekali lagi saya mohon maaf atas nama keluarga Morgan dan juga putri kami Gandis. Sebagai permintaan maaf saya, bolehkah saya mengundang anda tuan Moranno dan nyonya besar untuk makan siang bersama." Pinta tuan Morgan tulus.


"Saya sungguh mohon maaf tuan Morgan, saya harus segera kembali kerumah sakit, karena isteri saya masih ada pemeriksaan lebih lanjut mengenai kesehatannya." Tolak Moranno.


"Baiklah, jika demikian kami harap nyonya besar bisa makan siang bersama dengan kami sebagai permohonan maaf kami. Oya, bolehkah kami diijinkan untuk menengok nyonya muda, dan langsung meminta maaf padanya selepas makan siang nanti, kami mohon tuan Moranno." Ucap tuan Morgan bersungguh-sungguh. Moranno berpikir sejenak akan permintaan yang telah disampaikan tuan Morgan.


"Baiklah tuan Morgan, anda dan juga nyonya Morgan boleh datang menjenguk isteri saya di rumah sakit Agatsa Hospital." Moranno akhirnya menyetujui permintaan tuan Morgan yang terlihat tulus dan bersungguh-sungguh.


"Terima kasih tuan Moranno. Sekarang kami pamit dulu." Kata tuan Morgan lalu berdiri diikuti nyonya Morgan disebelahnya, lalu berjabat tangan dengan Moranno.


"Mommy akan menemani mereka makan siang. Apakah kau sungguh-sungguh tidak mau ikut makan siang bersama kami?" Ucap nyonya Agatsa ikut berdiri.


"Tidak mommy. Aku akan segera kembali ke rumah sakit untuk menemani isteriku." Sahut Moranno pada ibunya.


"Baiklah.... Mommy tak memaksamu. Mommy pergi dulu." Ucap nyonya Agatsa tanpa beban diwajahnya sambil berlalu begitu saja.


Moranno memandang kepergian ibunya yang menyusul tuan dan nyonya Morgan keluar dari ruangannya. Moranno hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, tak sepatah katapun keluar dari mulut ibunya untuk menanyakan ataupun bersimpati pada isterinya.


Moranno beranjak dari tempat ia berdiri menuju meja kerjanya dan meraih gagang telpon.


"Hallo sekretaris Fhani disini."


"Sekretaris Fhani, masuklah bersama asisten Rudi."


"Baik tuan."


Moranno meletakkan gagang telepon yang ia gunakan untuk memanggil kedua bawahannya dan mengembalikannya kembali ketempatnya.


Asisten Rudi dan sekretaris Fhani bergegas memasuki ruangan Moranno.


"Asisten Rudi, dan kau sekretaris Fhani, kalianlah yang akan menemui para wartawan yang datang kemari memerlukan informasi. Jawab seperlunya saja. Saya akan segera kembali kerumah sakit. Jangan beritahu dimana nyonya muda dirawat, karena ia masih perlu banyak istirahat." Perintah Moranno.


"Kirim laporan pekerjaan seperti biasa. Lusa saya baru akan kekantor seperti biasa."


"Baik tuan."


***


Nyonya Agatsa, kami akan kerumah sakit untuk menjenguk menantu nyonya, apakah nyonya sudah menjenguknya?" Tanya nyonya Morgan pada nyonya Agatsa saat mereka baru saja menyelesaikan makan siang bersama.


"Belum...." Sahut nyonya Agatsa singkat.


"Kalau begitu, bagaimana bila nyonya Agatsa sebaiknya ikut bersama kami?" Kata nyonya Morgan lagi.


"Saya... Saya...." Nyonya Agatsa bingung bagaimana harus menolak.


"Ayolah nyonya, kami mohon, temanilah kami."


"Saya sedang ada...." Nyonya Agatsa berusaha menolak.


"Ayolah nyonya, kami belum berkenalan dengan menantu anda. Bukankah keluarga kita saling bersahabat. Waktu tuan Moranno menikah, kami tidak hadir karena pernikahan tuan Moranno sangat terbatas siapa saja yang boleh menghadirinya." Kata nyonya Morgan lagi.


"Baiklah..." Akhirnya nyonya Agatsa menyetujui ajakan tuan dan nyonya Morgan.

__ADS_1


Tuan dan nyonya Morgan bersama nyonya Agatsa bergegas menuju mobil mereka masing-masing setelah keluar dari restoran.


Mobil mereka berjalan beriringan menuju rumah sakit Agatsa Hospital dimana Yurina dirawat.


Setelah tiba dirumah sakit, ketiganya menghampiri resepsionis. Seorang wanita cantik yang duduk dibelakang meja resepsionis segera berdiri dan memberi hormat saat melihat siapa yang datang.


"Selamat siang nyonya besar. Ada yang bisa saya bantu?"


"Dimana nyonya muda dirawat?" Tanya nyonya Agatsa pada sang resepsionis.


"Di ruang rawat khusus Keluarga Agatsa nyonya besar." Jelas sang resepsionis.


"Baik, terima kasih." Nyonya Agatsa lalu melangkah diikuti tuan dan nyonya Morgan menuju ruang rawat khusus keluarga Agatsa.


"Berhenti!" Cegah penjaga, saat nyonya Agatsa bersama tuan dan nyonya Morgan telah memasuki area penjagaan ketat. Terlihat para penjaga berbaris disepanjang area yang mereka tuju.


Nyonya Agatsa dan kedua tamunya menghentikan langkah mereka dan saling berpandangan saat mendengar perkataan sang penjaga.


"Apa maksudmu." Kata nyonya Agatsa dengan suara datar pada sang penjaga yang menghentikan mereka.


"Maafkan saya nyonya besar. Anda tidak boleh masuk. Hanya tuan dan nyonya Morgan yang boleh masuk." Kata sang penjaga.


Nyonya Agatsa terkejut, demikian juga tuan dan nyonya Morgan. Ketiganya saling berpandangan kembali.


"Apa kau tidak mengenalku? Aku pemilik tempat ini." Kata nyonya Agatsa masih dengan suara datarnya.


"Saya mengenal anda nyonya besar." Sahut sang penjaga.


"Kalau begitu.... Beri aku jalan, dan biarkan aku masuk." Perintah nyonya Agatsa.


"Maafkan saya nyonya besar. Hanya tuan dan nyonya Morgan yang boleh masuk untuk bertemu nyonya muda." Sahut penjaga dengan suara tegas.


"Berani-beraninya kau!.... Siapa yang memberi perintah seperti itu!" Suara nyonya Agatsa mulai meninggi.


"Tuan Moranno." Jawab sang penjaga.


"Iya, kau pasti salah penjaga. Tuan Moranno tidak mungkin memperlakukan ibunya seperti ini." Kata tuan Morgan turut berbicara.


"Maafkan saya nyonya besar. Saya hanya menjalankan perintah. Silahkan masuk tuan dan nyonya Morgan, anda telah ditunggu didalam." Ucap penjaga tak bergeming.


Nyonya Agatsa segera meraih ponsel dari tas mahalnya, dan segera menghubungi seseorang.


"Hallo mommy...." Terdengar suara dari sambungan telepon..


"Apa maksudmu Moranno dengan semuanya ini?" Suara nyonya Agatsa terdengar mulai bergetar, namun ia berusaha menahan diri.


"Maksud mommy?" Kata Moranno tidak mengerti dari ujung telepon.


"Orang-orang yang kau perintahkan menjaga akses menuju ruang rawat isterimu itu tidak mengijinkan mommy untuk masuk, hanya tuan dan nyonya Morgan saja."


"Tuan dan nyonya Morgan telah meminta ijin dariku dihadapan mommy bukan, saat kita sama-sama berada dikantor tadi. Itu sebabnya mereka boleh masuk, karena aku telah merekomendasikannya pada para penjaga."


"Jadi maksudmu untuk masuk kedalam rumah sakit milik mommy sendiri, mommy harus mendapat ijin darimu putraku??" Suara nyonya Agatsa mulai meninggi. Sementara tuan dan nyonya Morgan yang masih berdiri disisi nyonya Agatsa dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan nyonya Agatsa.


"Tidak, mommy bebas pergi kemanapun mommy ingin pergi didalam rumah sakit ini. Ini rumah sakit milik mommy. Tapi tidak untuk ketempat perawatan Yurina. Aku menunggu mommy bertanya kabar tentang Yurina, apakah dia baik-baik saja?bagaimana keadaannya? Selamatkah dia dan bayinya? Tapi semuanya itu tidak aku dengar dari mulut mommy. Mommy sungguh tidak perduli.... Bahkan sampai ia kembali dengan selamat mommy juga tidak perduli.... Apa salah Yurina mommy? Apa salah isteriku itu? Apakah ia sangat bersalah menjadi isteri dari MORANNO? Apakah ia bersalah menjadi menantu keluarga AGATSA yang dihormati." Suara Moranno terdengar bergetar saat meluapkan perasaannya.


"Bila Yurina mommy anggap sebagai menantu keluarga Agatsa. Mommy boleh datang menjenguknya. Bila tidak mommy boleh pulang.


"Aku, suaminya tidak mengijinkan siapapun menjenguknya tanpa seijinku, sudah cukup kemalangan demi kemalangan telah Yurina alami selama menjadi isteriku. Jika Yurina tidak menjadi isteriku, Gandis perempuan kebanggaan mommy itu tidak akan menculiknya dan memukuli wajahnya. Itu sebabnya aku sangat selektif memilih siapa yang boleh menjenguk Yurina dan siapa yang tidak."


Nyonya Agatsa tidak mampu mendengarkan penuturan putranya lebih lanjut.


Ponsel ditangannya ia tutup tanpa sengaja dan terjatuh begitu saja dari tangannya.


"Nyonya besar, apakah anda baik-baik saja?"Tanya nyonya dan tuan Morgan khawatir melihat reaksi nyonya Agatsa yang terlihat lemas setelah menelpon.

__ADS_1


"Penjaga tolong bawa nyonya Agatsa kedokter." Kata tuan Morgan.


"Tidak, saya tidak apa-apa." Kata nyonya Morgan saat penjaga ingin memapahnya.


"Tuan dan nyonya Morgan, mohon maaf... Saya tidak bisa menemani anda berdua. Saya baru ingat, jam sekarang ini saya ada janji. Saya permisi dulu..." Setelah berkata, nyonya Agatsa begegas meninggalkan tempat itu.


Tuan dan nyonya Morgan hanya bisa terpaku, tidak mengerti apa yang terjadi.


"Tuan dan nyonya Morgan, mari ikutlah saya." Kata penjaga. Keduanya lalu mengikuti penjaga, mereka menyusuri koridor rumah sakit yang dijaga oleh para penjaga yang dirugaskan Moranno.


Dilihat dari penjagaan yang begitu ketat, mengertilah tuan dan nyonya Morgan bahwa Moranno sangat perduli pada keselamatan isterinya itu.


"Kita sudah sampai tuan, silahkan menunggu sejenak dan duduk diruang tamu ini. Nyonya muda sedang menjalani pemeriksaan dan tuan Moranno sedang menemaninya." Kata penjaga mempersilahkan kedua tamu majikannya itu.


Tuan dan nyonya Morgan memperhatikan keadaan ruangan dimana mereka berada. Ruang rawat yang begitu mewah dilengkapi fasilitas ruang tamu, kamar perawatan khusus, toilet, kamar mandi.


Tak lama berselang, Moranno datang bersama Yurina dikursi Roda yang ia dorong sendiri. Dua perawat membantu membawakan beberapa keperluan pasien dan berkas hasil pemeriksaan.


Tuan dan nyonya Morgan segera berdiri dan memberi hormat pada Moranno dan Yurina.


"Selamat siang tuan Moranno dan nyonya muda." Sapa keduanya.


"Selamat siang..." Sahut Moranno dan Yurina bersamaan sambil memberikan senyum pada kedua tamunya.


"Maaf, membuat tuan dan nyonya lama menunggu. Kami baru selesai melakukan pemeriksaan dilaboratorium." Ujar Moranno menjelaskan.


"Tidak mengapa tuan. Kami mengerti." Sahut tuan Morgan.


"Bagaimana keadaan nyonya muda?" Tanya nyonya Morgan pada Yurina. Ia mendekati Yurina yang duduk dikursi Roda.


"Sudah lebih baik nyonya." Sahut Yurina lembut.


"Luka-luka lebam diwajah nyonya muda ini, siapa yang melakukannya? Apakah pria-pria itu yang melakukannya?" Tanya nyonya Morgan merasa geram.


Yurina menatap kearah Moranno yang masih berada disisinya sambil memegang punggungnya.


"Nona Gandis yang melakukannya." Jelas Moranno terus terang.


"Apa??" Tuan dan nyonya Agatsa sama-sama terkejut mendengar jawaban dari mulut Moranno.


"Putri kita sungguh keterlaluan pa, melakukan ini pada seorang wanita hamil." Ujar nyonya Agatsa merasa kesal.


"Iya ma... Papa tidak menyangka kalau putri kita Gandis sanggup melakukan hal ini."


"Kami sungguh-sungguh meminta maaf atas apa yang telah diperbuat putri kami pada anda nyonya muda." Kata tuan Morgan sungguh-sungguh pada Yurina.


"Iya tuan...." Sahut Yurina pelan dikursi rodannya.


"Lalu... bagaimana keadaan kandungan anda nyonya muda?" Tanya nyonya Morgan lagi.


"Kandungan saya baik. Bayi-bayi ini sehat dan mereka kuat." Kata Yurina sambil mengusap perutnya yang bergerak-gerak bergelombang kesana kemari.


"Apa maksud anda dengan bayi-bayi nyonya muda? Apakah anda sedang mengandung bayi kembar?" Tanya nonya Morgan penasaran.


"Benar nyonya, saya sedang mengandung bayi kembar." Sahut Yurina sambil melihat kearah Moranno dan beralih memandang nyonya Morgan.


"Benarkah??" Nyonya Morgan terkejut demikian pula dengan tuan Morgan. Tanpa sengaja nyonya Morgan menyentuh perut Yurina yang bergerak-gerak dengan tangannya.


"Luar biasa, mereka begitu aktif didalam sana." Ujar nyonya Morgan yang terkagum-kagum saat tangannya merasakan pergerakan-pergerakan dari para bayi. Ia tak sadar apa yang ia lakukan. Yurina hanya tersenyum saat nyonya Morgan menyentuh perutnya demikian pula Moranno.


"Ma... Apa yang kau lakukan? Kau tanpa permisi telah menyentuh perut nyonya muda." Kata tuan Morgan merasa tak enak atas apa yang dilakukan isterinya secara tiba-tiba.


Nyonya Morgan yang tersadar akan ucapan suaminya segera menarik tangannya.


"Maafkan saya nyonya muda. Saya refleks melakukannya." Ujar nyonya Morgan meminta maaf.

__ADS_1


"Tidak mengapa tuan dan nyonya. Bayi-bayi saya sepertinya senang saat nyonya Morgan menyentuh perut saya. Saya merasakan mereka semakin aktif didalam sana." Sahut Yurina supaya kedua tamunya itu tetap merasa nyaman.


Moranno pun hanya tersenyum mendengar ucapan isterinya yang menenangkan kedua tamu mereka.


__ADS_2