
Dokter Herman datang ditemani oleh bibi Nur. Ketiga pelayan masih berdiri disisi tempat tidur untuk menemani Yurina.
"Permisi nyonya, saya akan memeriksa anda sekarang." Kata dokter Herman sambil mengeluarkan peralatannya dari tempatnya.
"Baik dok, silahkan." Kata Yurina sambil berbaring ditempat tidurnya.
Dokter Herman mulai melakukan pemeriksaannya pada Yurina.
"Bagaimana dokter keadaan isteri saya?" Semua menoleh kearah datangnya suara. Bibi Nur dan beberapa pelayan wanita beserta dokter Herman memberi salam hormat dengan membungkukkan tubuh mereka saat melihat Moranno masuk kedalam kamar.
"Anda memang suami yang siaga tuan." Kata dokter Herman dengan senyumannya.
"Sepertinya nyonya muda hari ini terlambat makan, perut yang kosong bagi wanita yang sedang mengandung dapat menyebabkan mual dan muntah-muntah. Karena setahu saya nyonya muda tidak pernah mengalami morning sickness seperti ibu-ibu yang sedang mengandung pada umumnya. Sebaiknya nyonya muda harus makan-makanan yang halus untuk sementara waktu sampai lambung nyonya bisa menerima makanan yang seperti biasanya dimakan. Dan tolong diingat, usahakan tidak boleh terlambat makan lagi seperti hari ini." Tutur dokter Herman.
"Apa ada hal lainnya dok?" Tanya Moranno lagi.
"Tidak ada, hanya saja jangan biarkan nyonya terlalu lelah, usahakan supaya punya banyak waktu untuk beristirahat. Bila berolahraga, lakukan olahraga yang ringan-ringan saja, misalnya berjalan dipagi hari ditemani tuan sebagai suaminya juga dapat membantu perkembangan bayi yang ada dalam kandungan, karena perhatian suami memang sangat dibutuhkan pada wanita yang sedang mengandung."
"Apa ada resep obat yang diperlukan untuk isteri saya dokter?"
"Tidak ada tuan, kandungan nyonya muda sangat sehat, minum saja vitamin yang biasa nyonya konsumsi."
"Baik dok, terima kasih banyak. Setelah ini tolong periksakan juga kesehatan mommy, mommy ada dikamarnya. Nanti sebentat lagi saya akan menyusul kesana. Bibi Nur tolong antarkan dokter Herman kekamar mommy. Juga tolong buatkan nyonya muda buburnya dengan segera ya, lalu antarkan kekamar." Kata Moranno pada kepala pelayannya itu.
"Baik tuan, kami permisi dulu." Kata bibi Nur memberi hormat lalu keluar kamar Moranno diikuti ketiga pelayan perempuan yang telah membantu Yurina.
"Saya juga permisi tuan untuk memeriksa nyonya besar. Semoga nyonya muda segera pulih kembali." Kata dokter Herman sambil berdiri dari duduknya.
"Terima kasih dok." Kata Moranno dan Yurina secara bersamaan.
Moranno mengantarkan dokter Herman keluar kamar lalu menutup rapat pintu kamar. Ia kembali menghampiri Yurina yang masih berbaring ditempat tidur.
"Apa yang kau rasakan?" Tanya Moranno sambil mengelus rambut Yurina.
"Masih sedikit pusing." Kata Yurina sambil menyunggingkan sedikit senyumnya pada Moranno.
"Maafkanlah aku dan juga mommy yang membuatmu seperti ini?" Kata Moranno lagi sambil mencium pucuk rambut Yurina.
"Hmmm, tidak apa-apa. Dari mana kau tau aku seperti ini? Apakah ada orang yang memberitahumu?" Tanya Yurina heran.
"Tidak ada. Kata orang, bila suami-isteri memiliki ikatan kasih yang kuat pasti bisa merasakan bila terjadi sesuatu pada pasangannya." Kata Moranno seperti seorang pria bijak.
__ADS_1
"Benarkah? Apa hubungan kita seperti itu?" Tanya Yurina berusaha menemukan sesuatu dari ucapan suaminya.
"Tentu saja. Apakah kau tidak merasakannya?" Kata Moranno balik bertanya.
"Aku...." Ucapan Yurina terhenti, ia tidak tahu harus berkata apa.
"Apa kau masih bingung pada perasaanmu padaku?"
"Hmmm." Yurina hanya mengangguk pelan.
"Baiklah aku akan membantumu untuk mengetahui perasaamu agar kau tak bingung lagi."
"Katakan padaku dengan jujur, apakah akhir-akhir ini kau sering memikirkanku?"
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Yurina penasaran.
"Jawab saja iya apa tidak?"
"Iya." Jawab Yurina dengan singkat dengan wajah tersipu.
"Selain memikirkanku, apakah kau juga merindukanku dan selalu ingin dekat denganku?"
"Ah pertanyaan macam apa itu?" Yurina berusaha menyembunyikan gejolak perasaannya.
"Kalau tidak...."
"Itu jawaban yang tidak jujur, nanti bagaimana aku bisa membantu mengetahui perasaanmu yang masih kau bingungkan itu." Kata Moranno bersungguh-sungguh dengan wajah yang dibuat serius.
"Baiklah." Kata Yurina mengalah.
"Jadi jawabannya apa. Iya atau tidak?"
"Iya...." Jawab Yurina agak terlihat malu. Moranno berusaha keras menahan senyumnya supaya tujuannya tidak diketahui Yurina. Dengan wajah yang masih dibuat serius Moranno melanjutkan aksinya membuat pertanyaan baru.
"Kali ini pertanyaan terakhir. Apakah wajahku sering terbayang-bayang dipikiranmu, bahkan saat kita berdua berkirim pesan, apakah kau membacanya berulang-ulang dan nyaris menghapalnya?"
"Apa pertanyaannya memang harus seperti itu?" Yurina merasa pertanyaan suaminya itu membuat dirinya semakin merasa malu.
"Iya, jawab saja, ini pertanyaan terakhir. Jawab saja iya atau tidak?"
"Hmmm... " Yurina tampak berpikir.
__ADS_1
"Ayo jawab saja, aku ini kan suamimu juga. Ini semua juga untuk membantumu."
"Hmmm.... Iyaa....." Yurina segera menyembunyikan wajahnya didada Moranno, rasa malunya semakin besar pada Moranno. Pria itu tersenyum karena telah mendengar langsung jawaban dari isterinya. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Yurina.
"Terus apa kesimpulan yang kau dapatkan dari pertanyaan-pertanyaan itu?" Tanya Yurina ingin tahu.
"Menurut beberapa buku yang pernah kubaca, itu artinya kau sudah benar-benar jatuh cinta padaku." Kata Moranno dengan senyum sumringahnya.
"Memangnya buku apa yang kau baca, sebutkan judulnya?" Yurina terlihat tak percaya pada ucapan suaminya itu.
"Ya judulnya aku lupa, tapi yang jelas tentang cinta." Jawab Moranno asal.
"Kau kan sangat sibuk, bagaimana mungkin kau sempat membaca buku-buku seperti itu?" Tanya Yurina heran.
"Yaaa... Aku kan suka membaca buku, jadi hampir semua jenis buku aku baca." Jawab Moranno sekenanya.
"Suamiku...." Yurina menatap wajah Moranno yang sedang memeluknya.
"Hmmm... Ada yang mau kau tanyakan? Kata Moranno juga memandang wajah isterinya yang sedang menatapnya.
"Iya.... Tapi kau juga harus berjanji menjawabku dengan jujur." Kata Yurina menyodorkan jari kelingkingnya pada Moranno.
"Iya, aku janji." Kata Moranno sambil mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Yurina.
"Apakah semua pertanyaan yang kau tanyakan padaku itu juga pernah kau alami sepertiku?" Tatapan Yurina menyelidiki mata Moranno dengan tatapannya. Moranno mendekatkan wajahnya pada Yurina hingga keduanya saling merasakan sapuan napasnya masing-masing.
"Tentu saja. Semua pertanyaan yang aku tanyakan juga pengalaman pribadiku. Apa yang kutanyakan bukan dari buku yang kubaca, tapi dari hatiku. Aku mencintaimu isteriku, dan juga ibu dari anak-anakku." Moranno lalu mendaratkan ciumannya pada bibir Yurina. Yurina hanya bisa memejamkan matanya menerima ciuman suaminya. Keduanya larut dalam situasi romantis yang mereka ciptakan.
Tangan Yurina menyentuh dada Moranno dan sedikit mendorongnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Moranno yang melepaskan ciumannya.
"Mommy... Tadi kau ingin menemani dokter Herman memeriksakan kesehatan mommy bukan." Kata Yurina mengingatkan.
"Ah... Iya hampir lupa." Kata Moranno sambil menepuk jidatnya.
"Aku langsung kekamar mommy ya... berbaring saja dulu, nanti bibi akan membawakanmu makan siang."
"Iya, terima kasih suamiku."
Moranno lalu mencium pucuk rambut Yurina dengan lembut, ia bangkit dengan hati-hati dari pembaringan tempat tidur dan bergegas keluar kamar.
__ADS_1
Yurina menatap punggung suaminya yang pergi menjauh dan menghilang dibalik pintu kamar mereka. Hatinya begitu menghangat, ia tersenyum-senyum sendiri mengingat kebersamannya bersama suaminya semenjak semalam hingga siang ini. Hatinya terasa begitu bahagia. Ia serasa bermimpi, bisa memiliki cinta Moranno, pria yang nyaris sempurna itu.