JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 50 "Itu tidak lucu"


__ADS_3

Sore itu Moranno turun dari mobilnya, ia menghampiri Yurina yang berdiri ditepi taman rumah besar mereka sambil tersenyum padanya. Sementara Pak Kasan supir pribadi Moranno membawa mobil majikannya itu masuk ke garasi.


"Apa yang kau lakukan disini sayang?" Tanya Moranno sambil meraih tangan isterinya itu.


"Sengaja untuk menyambutmu pulang." Kata Yurina membiarkan tangan Moranno memegang tangannya.


"Kau wangi sekali, apa sudah mandi?" Kata Moranno yang merasakan aroma tubuh isterinya.


"Tentu saja. Ayo kita masuk." Ujar Yurina tersenyum simpul sambil menarik tangan Moranno. Keduanya melangkah kedalam rumah.


Yurina dengan telaten membantu suaminya itu melepaskan pakaian kerjanya saat sudah dikamar.


Moranno hanya diam menatap wajah Yurina yang tengah sibuk membantunya melepaskan pakaiannya.


"Terima kasih sayang. Aku akan membersihkan tubuhku dulu dikamar mandi." Kata Moranno sambil meraih handuk yang telah disiapkan Yurina diatas tempat tidur.


"Biarkan aku mencium aroma tubuhmu dulu." Kata Yurina yang sudah memeluk Moranno dari belakang.


Moranno terkesiap, tubuhnya mematung saat isterinya itu tanpa aba-aba memeluknya. Darah kelelakiannya tentu saja meronta-ronta dalam tubuhnya, ditambah lagi perut besar Yurina yang begitu menempel dan menekan tubuh bagian belakangnya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menguasai dirinya.


"Tapi aku belum mandi sayang, nanti kau bisa mabuk mencium aroma tubuhku ini." Kata Moranno tetap menahan perasaannya yang kian bergejolak.


"Aku suka... bahkan sangat menyukai aroma tubuhmu." Kata Yurina sambil memejamkan matanya dan tetap memeluk dari belakang sambil tetap menghirup aroma tubuh suaminya itu.


"Kau wanita hamil yang sungguh aneh." Kata Moranno sambil mengelus lembut tangan Yurina yang melingkar erat dipinggangnya.


"Aneh bagaimana maksudmu?" Tanya Yurina masih memejamkan matanya menikmati aroma tubuh Moranno.


"Iya, aneh saja... Masa menyukai aroma tubuh suami yang belum mandi."


"Entahlah... Tapi aroma tubuhmu begitu menggodaku untuk memelukmu." Ujar Yurina begitu saja.


Moranno terdiam sejenak mendengar ucapan yang keluar dari mulut Yurina isterinya tanpa ia sadari, pikiran jahilnya tiba-tiba muncul dikepalanya. Moranno lalu berusaha melepaskan tangan Yurina yang mengunci pelukannya pada pinggangnya dengan perlahan.


"Jangan lepaskan tanganku, aku masih mau seperti ini suamiku." Kata Yurina dengan suara sedikit manja dan semakin mengeratkan pelukannya dan mengunci tangannya yang melingkar dipinggang Moranno.


"Aku tidak bermaksud melepaskan pelukanmu sayang, kau masih boleh memeluk suami tampanmu ini sesukamu, tapi longgarkan sedikit kuncian tanganmu, hmmm..." Kata Moranno membujuk isterinya itu.


"Kau percaya diri sekali." Kata Yurina dengan membiarkan kuncian tangannya dilepaskan Moranno dan mengikuti arahan suaminya itu, tapi matanya masih terpejam sambil tetap memeluk.


"Tentu saja, apa kau tidak menyadari kalau suami tercintamu ini begitu tampan sayang." Kata Moranno yang sudah melepaskan kuncian tangan Yurina dan menggenggam tangan Yurina sambil mengarahkan tangan isterinya itu kesuatu tempat.


"Benarkah?" Jawab Yurina sekenanya saja.


"Iya benar, coba benar-benar kau rasakan, kau pasti bisa menyadarinya sayang. Apa kau sungguh-sungguh masih belum menyadarinya, hmmm." Kata Moranno memastikan.

__ADS_1


Mata Yurina yang sedang terpejam menikmati pelukannya, tiba-tiba terbelalak, dan terbuka sempurna saat tangannya menyentuh sesuatu yang mengeras milik Moranno didepan sana.


"Apa maksudmu?" Kata Yurina berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Moranno.


"Apa kau sudah merasakannya sayang, dan sudah menyadarinya." Ucap Moranno dengan senyum.nakalnya karena ulah jahilnya berhasil.


"Itu tidak lucu." Ujar Yurina pura-pura marah dengan wajahnya yang memerah karena malu. Dilepasnya pelukannya begitu saja dari tubuh Moranno.


Moranno dengan segera meraih tubuh isterinya yang terlihat malu itu dan membawanya kembali dalam pelukannya.


"Apa kau tahu tidak, saat seorang pria itu sengaja ataupun tidak sengaja melakukan kontak pisik dengan pasangannya, hal seperti itulah yang biasanya akan terjadi."


"Sekarang apa kita bisa melanjutkannya lagi, hmmm?" Goda Moranno lagi pada isterinya itu.


"Kau saja kan belum.mandi, ayo mandilah." Kata Yurina berusaha menghindar.


"Bukankah kau sangat menyukai aroma tubuhku yang belum mandi ini? Hmmm? Kau boleh melakukannya lebih lama." Tangan Moranno mulai nakal kesana-kemari.


"Hanya aroma tubuhmu saja, bukan yang lain." Kata Yurina tertawa kecil sambil menahan tangan nakal suaminya.


"Apa ucapanmu itu serius? Tidak menyukai yang lain?"


"Iya benar. Hentikan tangan nakalmu ini." Kata Yurina masih berusaha mengatasi tangan suaminya itu.


"Bagaimana kalau suamimu ini suka yang lain itu? Hmmm? Apa kau menolaknya?" Suara Moranno yang berbisik ditelinga Yurina membuat tubuh Yurina meremang.


"Apa kau lupa suamimu ini seorang CEO. Kalau aku tidak pandai mana mungkin aku menjadi seorang CEO."


"Mengapa kau sekarang suka berdebat, dulu tidak seperti ini." Ungkap Yurina heran.


"Karena punya isteri sepertimu, membuatku ingin selalu mengungkapkan tentang rasa sukaku pada yang lain itu. Ayolah isteriku sayang." Moranno semakin mengeratkan pelukannya.


Tok...


Tok...


Tok...


"Siapa??" Kata Yurina setengah berteriak dari dalam pelukan Moranno.


"Saya nyonya, bibi Nani." Suara bibi Nani terdengar dari luar kamar.


"Sebentar bi..." Yurina memandang Moranno supaya suaminya itu melepaskan dirinya dari pelukannya.


"Baiklah..." Moranno terpaksa melepaskan pelukannya. Ia lalu mengambil handuk yang sudah tercecer dilantai lalu masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Yurina membuka pintu kamar, nampak wajah bibi Nani dibalik pintu.


"Maafkan saya nyonya muda, saya membawakan tas kerja tuan yang diberikan Pak Kasan tadi. Makan malam juga sudah siap nyonya." Kata bibi Nani yang masih berdiri didepan pintu.


"Terima kasih banyak bibi. Sebentar lagi kami akan kèmeja makan."


"Iya nyonya, saya permisi."


Sepeninggal bibi Nani, Yurina lalu membawa masuk tas kerja Moranno dan menutup rapat kembali pintu kamar mereka.


Moranno keluar kamar mandi dengan rambut basahnya. Tubuh atletisnya terekspos begitu saja. Ia mendekati Yurina yang sudah menyiapkan pakaian gantinya diatas tempat tidur.


Yurina berdiri disisi tempat tidur. Ia menatap Moranno yang terlihat begitu sempurna dihadapannya. Walau sering melihat Moranno dalam keadaan seperti itu, tetap saja hati Yurina berdebar.


"Aku pasti sangat tampan kan sampai kau melihatku seperti itu?" Kata Moranno dengan senyumnya. Yurina pura-pura tidak mendengarnya lalu mengalihkan pandangannya untuk mengambil pakaian Moranno.


Gerakan Yurina tertahan saat sepasang tangan yang kuat itu melingkar di perutnya yang semakin membesar itu.


"Ayolah suamiku, aku akan membantumu menggunakan pakaianmu, setelah itu kita makan malam." Kata Yurina dengan hatinya yang masih berdebar.


"Kau belum menjawabku."


"Pertanyaan yang mana?" Tanya Yurina pura-pura tak mengerti.


"Tadi, barusan. sebelum aku memelukmu seperti ini."


"Yang mana ya, aku sepertinya tak ingat."


"Kau sengaja ya menggodaku, aku tau apa yang harus kulakukan supaya kau mengingatnya." Moranno terlihat sangat gemas pada tingkah isterinya itu. Ia segera membalikan tubuh Yurina menghadap padanya.


Yurina terkesiap saat bibir Moranno begitu saja menciumnya. Sentuhan Moranno selalu saja bisa membuat dirinya terhanyut. Untuk beberapa detik berikutnya Moranno melepaskan ciumannya saat Yurina terlhat kehabisan napas.


Yurina yang sedikit terengah-engah segera mengambil oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru - parunya.


Moranno tersenyum lebar melihat tingkah iaterinya itu.


"Bagaimana, apa kau sudah mengingatnya sayang? Atau kau perlu shock therapy lagi?" Kata Moranno masih dengan senyum lebarnya.


"Iya... Kau suamiku yang sangat tampan. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Apa sekarang kita sudah boleh makan, aku lapar sekali."


"Terima kasih sayang. Sekarang ayo kita makan dulu, nanti kita lanjut lagi...." Moranno sengaja menggoda Yurina yang hanya bisa ternganga melihat tingkahnya.


"Gunakan dulu pakaianmu, aku tak ingin orang lain melihatnya, cukup hanya aku yang tergoda." Seloroh Yurina sambil membantu suaminya itu berpakaian.


"Kau sekarang semakin berani ya menggodaku dengan berkata seperti itu. Tapi aku menyukainya sayang."

__ADS_1


Dengan lembut Moranno menggandeng tangan Yurina keluar kamar menuju ruang makan keluarga.


***


__ADS_2