JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 163 "Tante berubah...."


__ADS_3

"Hai sayang......"Moranno langsung mencium kening Yurina sesaat setelah turun dari mobil.


"Kau sudah pulang suamiku.....? Apa kau lelah......??" Sambut Yurina mengulas senyum hangatnya.


"Tidak sayang.... kita 'kan baru pulang liburan. Jadi tenagaku tidak akan mudah lelah." Moranno membalas senyum Yurina, sementara tangannya memeluk pinggang isterinya itu mesra.


"Sayang..... besok,..... mama dan papa mengajak kita menengok Gandis di LP, apa kau siap?"


"Hmm......" Angguk Yurina mengiyakan.


"Oh, yaa...... ini ada undangan untukmu sayang....." Moranno merogoh kantong bagian depan tas kerjanya, ia mengeluarkan amplop undangan berwarna perak dari sana.


Yurina langsung membukanya saat Moranno menyerahkan amplop itu padanya.


"Ini dari Lisa suamiku...... akhirnya dia menyusul juga... dia menikah diakhir pekan ini." Ucap Yurina dengan wajah yang tak henti - hentinya tersenyum sambil membaca undangan pernikahan ditangannya.


"Aku jadi merindukan Lisa....." Yurina menatap suaminya itu sambil memeluk undangan ditangannya.


"Kau bisa menelponnya sayang....."


"Iya, kau benar suamiku..... aku memang jarang sekali menghubunginya akhir - akhir ini." Yurina menatap kebawah, Willy menarik - narik ujung rok lebarnya sambil menatap dirinya dan juga Moranno.


"Kenapa sayangnya mommy..... Dicuekin yaa..... uuhh kasihan......" Yurina berjongkok, ia meraih tubuh Willy, menggendongnya dan memberikan bayi itu pada Moranno.


Moranno lalu mencium Willy dengan gemasnya, menimangnya sambil mengayunkannya kesana - kemari membuat Willy tertawa kegirangan.


Yurina masih merasakan ujung roknya ditarik. Ya, bayi Billy yang duduk dikereta juga sedang menarik ujung rok ibunya, wajahnya mulai terlihat kecut.


"Berikan Willy padaku suamiku, cepat gendong Billy sebelum ia menangis....." Yurina segera mengambil alih Willy yang masih asik bermain dalam gendongan Moranno.


"Wahh si gembul daddy..... iri yah sama adik Willy, sini daddy gendong." Moranno segera menggendong bayi itu, sambil menimang dan mengayunkannya kesana - kemari dengan tangan kokohnya, sama seperti yang ia lakukan pada Willy. Gantian bayi Billy tergelak - gelak kegirangan oleh perlakuan ayahnya itu.


Willy menatap saudara kembarnya yang sedang tertawa girang itu cukup lama, mainan pesawat yang sedang dipegangnya ia genggam erat - erat sambil menggigitnya dengan wajah marah.


Yurina yang tengah menggendong Willy melihat gelagat kurang beres dari putranya itu, dia yakin, tidak lama lagi sesuatu akan terjadi .


Lemparan mainan pesawat tiba - tiba mengenai punggung Moranno yang sedang asik mengayunkan Billy kesana - kemari, membuat pria itu terkejut dan menoleh kearah benda yang terjatuh tidak jauh dari tempat ia berdiri.

__ADS_1


Bibi Salu segera memungut mainan pesawat itu.


"Kenapa mainan pesawat itu bisa melayang mengenai tubuhku bibi?" Moranno bertanya heran.


"Itu tuan.... bayi Willy yang melemparkannya...." Jelas bibi Salu.


Moranno menatap kearah Yurina dan Willy, lalu segera mendekati mereka.


"Benar?? Willy yang melakukannya sayang? Tanya Moranno menatap Yurina dan beralih pada Willy yang menatapnya dengan tatapan kesal.


"Iyaa suamiku..... Lihat saja wajahnya... Sepertinya dia belum puas bermain dengan daddy nya." Terka Yurina sambil memperhatikan wajah Willy yang ada dalam gendongannya.


"Sayang...... berikan Willy padaku...." Moranno mengulurkan tangan kanannya, sedangkan tangan kkrinya masih menggendong Billy.


"Bagaimana kalau mereka nanti bertengkar memperebutkanmu suamiku??" Wajah Yurina nampak khawatir dengan ide suaminya itu.


"Kita coba saja......" Ucap Moranno enteng. Yurina lalu menyerahkan Willy dalam gendongan Moranno, wajah Willy langsung berbinar.


"Willy..... tidak boleh melemparkan mainanmu ke sembarang tempat ya, bagaimana kalau terlanggar orang lain, kan bahaya, tadi saja terkena daddy sayang....." Ucap Moranno menasehati bayinya itu, sambil membawa keduanya berjalan menyusuri taman.


"Daddd.... daddd.....oooo...." Bayi Willy yang belum genap satu tahun itu seolah - olah menjawab perkataan sang daddy. Yurina yang membuntuti suaminya itu terkekeh mendengar dialog antara suaminya dengan bayi kembarnya itu. Suara tidak jelas Willy begitu menggemaskan.


"Mmffff.... ooooaaa..... mffff....." Kini bayi Billy yang berceloteh. Yurina kembali terkekeh. Kedua bayi itu seolah - olah mengerti apa yang dikatakan daddy mereka.


Moranno memang memiliki kebiasaan membawa kedua bayinya itu berbicara saat sedang bersama, baik pada bayi Billy maupun pada bayi Willy.


Ini kali pertama Moranno menggendong kedua bayi kembarnya itu secara bersamaan, ternyata keduanya akur saja membuat Yurina yang terus membuntuti Moranno dan dua bayinya itu dari belakang merasa lega.


"Suamiku..... ini sudah sangat sore, berikan mereka padaku supaya kau bisa segera mandi."


"Biarkan saja aku yang menggendong mereka sampai keatas."


"Tapi mereka cukup berat suamiku...."


"Tidak mengapa, aku masih sanggup menggendong mereka berdua. Kau saja yang lebih berat dari mereka masih dapat ku gendong....." Moranno memelankan suaranya pada kalimat terakhirnya membuat Yurina mengulas senyumnya.


"Terserah kau saja suamiku......" Ucap Yurina tak ingin berdebat, masih dengan senyumnya.

__ADS_1


"Bibi....." Panggil Yurina pada dua pengasuh bayinya itu.


"Iya nyonya......"


"Tolong bawa kereta Billy dan Willy ya bi.... Billy dan Willy akan digendong daddy nya sampai keatas."


"Baik nyonya....."


Yurina segera berlari - lari kecil mengejar Moranno yang sudah lebih dulu berjalan.


...***...


Pukul sembilan pagi, Yurina ditemani oleh Moranno dan ibu mertuanya sudah tiba di LP dimana Gandis ditahan. Disana sudah menunggu tuan dan nyonya Morgan.


"Mana nenek ? Aku tidak melihatnya ma....?" Tanya Yurina sambil menoleh kekiri dan kanan.


"Nenekmu kurang enak badan, jadi hanya papa dan mama saja yang kemari." Jelas nyonya Agatsa. Sementara itu, tuan Morgan menemui para petugas lapas.


Setelah memberikan beberapa persyaratan untuk berkunjung, mereka akhirnya diantar petugas untuk masuk keruang besuk.


Tidak lama menunggu, keluar seorang wanita ditemani seorang petugas, mengenakan pakaian tahanan. Nampak sedikit lusuh tidak terawat.


Saat melihat siapa yang berkunjung, wanita itu segera menghambur dan memeluk tuan dan nyonya Morgan.


"Papa..... mama..... aku senang kalian datang. Aku sangat merindukan kalian, aku tidak mau disini...." Keluh Gandis sambil terisak.


"Sabar sayang......semuanya akan berlalu....jalani dengan ikhlas....." Ucap nyonya Morgan membelai rambut Gandis.


"Iya sayang..... kau harus mengambil hal positifnya, kau bisa banyak belajar dan mengintrospeksi diri di tempat ini....." Tambah tuan Morgan.


"Tidak pa..... tidak ma.... Gandis tidak betah disini, mereka semua berlaku jahat pada Gandis, tubuh gandis sakit tidur dilantai beralas tikar. Makannya juga menjijikkan....." Tangis Gandis tersedu pilu. Nyonya dan tuan Morgan dengan sabar terus berusaha menghibur Gandis secara bergantian.


Dari tempat duduknya, nyonya Agatsa menatap Gandis yang sedang menangis tersedu disertai beribu keluhannya pada kedua orang tuannya.


Moranno melirik sekilas wajah ibunya yang nampak tegang melihat kondisi Gandis selama beberapa bulan menjadi penghuni lapas.


Ditengah - tengah keluh kesahnya, Gandis tiba - tiba menatap kearah nyonya Agatsa, ia segera menghapus air matanya dengan kasar.

__ADS_1


"Tante..... tante.... aku senang tante datang mengunjungiku, aku tahu tante pasti merindukanku 'kan? Karena akulah wanita pilihan tante untuk menjadi isteri Moranno." Gandis memeluk nyonya Agatsa dengan erat. Namun wajah nyonya Agatsa nampak datar, ia tidak terlalu bereaksi walau Gandis sudah memeluknya erat.


"Tante berubah..... iya tante berubah..... apa karena aku seorang narapidana??" Tatapan Gandis menajam, ia tidak terima melihat perubahan sikap nyonya Agatsa yang dingin padanya.


__ADS_2