JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 63 " Memangnya teh, pake celup-celup gitu"


__ADS_3

"Aku sering mendengar tuan Moranno mengatakan para baby. Apa maksudnya ia berkata seperti itu?" Tanya Lisa saat Moranno telah pergi meninggalkan mereka berdua sendiri.


"Oh itu.... Senenarnya aku sedang mengandung bayi kembar?" Sahut Yurina. Lisa terperanjat, matanya membulat tak percaya.


"Kau serius, wah luar biasa tuan Moranno, sekali celup dapat dua." Kata Lisa tak sadar dengan ucapannya.


"Lisa, kenapa mulutmu sekarang jadi mengerikan seperti itu, hmmm? Memangnya teh, pake celup-celup gitu." Ucap Yurina menegur ucapan sahabatnya itu.


"Eh... anu... Maafkan aku Yurina, habisnya aku kaget mendengar jawabanmu. hehe...." Ucap Lisa tertawa kecil.


"Pantas saja aku melihat perutmu begitu besar, melebihi wanita hamil - wanita hamil pada umumnya. Tadinya aku berpikir kau kebanyakan makan makanya tubuhmu jadi sebesar ini." Tambah Lisa lagi.


"Iya, beginilah keadaanku. Sudah mulai sulit berjalan. Bila bangkit dari duduk harus ada orang yang membantuku berdiri, bila tidak ada orang disekitarku, aku akan berusaha sekuat tenaga meraih apapun yang ada disekitarku untuk bisa berdiri."


"Ternyata sangat sulit juga ya menjadi wanita hamil itu, dan terlihat merepotkan sekali." Kata Lisa saat mendengar ucapan Yurina.


"Mungkin terlihat sulit dan merepotkan, tapi bila dijalani dengan rasa syukur, dan dinikmati, kita bisa merasakan kebahagiaan menjadi wanita hamil, apalagi sebentar lagi kita akan menjadi seorang ibu. Bayi yang kita kandung akan membuat kita selalu deg-degan menanti kelahirannya, seperti apa rupanya, apakah mirip ibunya atau ayahnya, lalu seperti apa tingkah lakunya nanti, yah banyaklah yang kita hayalkan sebelum mereka lahir." Kata Yurina dengan senyum bahagianya sambil mengusap perutnya yang terus bergerak.


"Bolehkah aku menyentuh perutmu?" Tanya Lisa yang melihat Yurina mengusap perutnya yang bergerak-gerak.


Yurina hanya mengangguk, lalu meraih tangan Lisa dan meletakkan pada perutnya yang terus bergerak.


Saat tangan Lisa menyentuh perut sahabatnya itu, segera ditariknya lagi tangan dengan cepat, wajahnya terlihat tegang.


"Kenapa?" Tanya Yurina keheranan.


"Aku merasa aneh, perutmu bergerak-gerak seperti ada makhluk mengerikan didalamnya." Kata Lisa masih dengan wajah tegang.


"Ah, kau bisa saja Lisa. Untung saja tidak ada suamiku disini. Dia pasti marah besar bila anaknya dikatakan makhluk mengerikan." Kata Yurina sambil tertawa.

__ADS_1


Lisa langsung membekap mulutnya sendiri saat menyadari apa yang telah ia katakan.


"Aduh ini mulut, kenapa tiba-tiba bisa ceplas-ceplos seperti ini. Jangan sampaikan ke tuan Moranno ya, aku takut Yurina." Ujar Lisa khawatir.


"Tenang saja, aku tak mungkin melakukan itu Lisa." Sahut Yurina masih tertawa melihat sikap Lisa yang masih tegang.


"Sekarang letakkan tanganmu disini ya, rasakan gerakannya dtelapak tanganmu, tak usah takut, kan bayinya didalam sana." Kata Yurina sambil meraih tangan Lisa dan meletakannya kembali diperutnya.


Lisa menuruti perkataan Yurina. Ia merasakan gerakkan demi gerakan para bayi, bergerak menyodok, menendang dan menyikut kearah telapak tangannya.


"Wah, apa yang mereka lakukan didalam sana? Seperti orang yang sedang bergulat saja. Tanganku rasanya geli merasakan setiap pergerakan mereka. Apakah kau tidak merasa geli? Sepertinya kau biasa saja." Lisa terus berbicara, ia merasa kagum dan seolah tak percaya bila bayi-bayi itu mampu berinteraksi seperti itu. Ia tetap meletakan tangannya diperut Yurina yang masih terus bergerak- bergerak bergelombang.


"Yah geli juga, tapi karena sekarang mereka lebih sering bergerak didalam sana aku jadi mulai terbiasa. Terkadang bila mereka bergerak kearah dadaku secara tiba-tiba, napasku terasa sesak dibuatnya."


***


"Selamat siang tuan Moranno." Sapa Asisten Rudi saat Moranno baru keluar dari lift pribadinya.


"Iya tuan, mereka sedang menunggu diruangan tuan. Juga nyonya besar telah ada didalam."


"Selamat siang tuan Moranno." Sapa sekretaris Fhani sambil memberi hormat saat Moranno melintas didepan mejanya.


"Iya, selamat siang." Balas Moranno sambil terus berjalan menuju ruang kerjanya.


"Mommy ada didalam? Untuk apa?" Tanya Moranno saat mengetahui kedatangan ibunya dari sang asisten.


"Entahlah tuan, tak lama setelah tuan dan nyonya Morgan tiba, nyonya besar juga tiba." Sahut asisten Rudi.


Asisten Rudi membuka pintu dan mempersilahkan tuannya masuk.

__ADS_1


"Selamat siang tuan dan nyonya Morgan." Sapa Moranno saat ia telah ada didalam ruangannya dan melihat para tamunya sedang duduk menunggu disofa.


"Selamat siang tuan Moranno." Sapa tuan dan nyonya Morgan bersamaan sambil berdiri dan berjabat tangan dengan Moranno.


"Silahkan duduk kembali tuan dan nyonya Morgan." Kata Moranno mempersilahkan duduk pada kedua tamunya.


"Terima kasih." Tuan dan nyonya Morgan lalu duduk kembali disofa.


"Mommy juga datang?" Sapa Moranno pada ibunya yang juga ikut duduk disofa bersama kedua tamunya.


"Iya, mommy datang kemari ingin melihat keadaanmu putraku." Kata nyonya Agatsa.


Moranno terdiam sejenak mendengar ucapan ibunya.


"Mengapa mommy hanya mau mengetahui keadaanku saja. Tak sedikitpun ia mau menanyakan Yurina, apalagi merasa khawatir pada menantunya. Begitu tidak perdulikah mommy pada isteriku?." Batin Moranno kecewa.


"Iya,.terima kasih mommy sudah perduli padaku." Sahut Moranno lalu beralih pada kedua tamunya.


"Tuan dan nyonya Agatsa, ada keperluan apa menemui saya." Kata Moranno memandang kearah dua tamunya dan juga salah satu pemegang saham di Agatsa Properti Grup milik keluarga Agatsa.


"Tuan Moranno... Begini, saya dan isteri saya turut senang karena isteri tuan Moranno telah ditemukan dengan selamat. Harry, keponakan saya telah menceritakan secara terperinci saat isteri tuan Moranno ditemukan di bangunan tua itu." Ucap tuan Morgan memulai pembicaraannya.


"Jadi tuan Harry adalah keponakan tuan Morgan?" Kata Moranno sedikit terkejut mengetahui hal itu.


"Iya itu benar tuan, Harry adalah keponakan kami. Jadi Harry dan Gandis adalah saudara sepupu. Walau Gandis seorang lulusan kedokteran, tetapi dia tidak mau menjadi seorang dokter. Ia mau menjadi seorang pembisnis. Kami meminta pada Harry kembali ke Indonesia untuk mengembangkan bisnis neneknya sekaligus mengajari Gandis, sehingga kemana-mana Gandis selalu mengikutinya. Bila kami yang mengajarinya ia tidak terlalu serius belajar bisnis, ia terbiasa dimanjakan oleh kami sejak kecil, ya itulah kesalahan kami, terlalu menuruti segala kemauannya, sehingga ia tumbuh menjadi pribadi seperti sekarang ini." Tuan Morgan menghentikan sejenak perkataannya, ia mengambil napas dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan, terlihat ada beban berat disana.


Nyonya Morgan yang berada disisi tuan Morgan berusaha terlihat tenang disisi suaminya. Sementara Moranno dan nyonya Agatsa masih tetap memperhatikan tuan Morgan yang siap melanjutkan penuturannya.


"Atas segala yang terjadi pada nyonya muda Agatsa, yaitu isteri tuan Moranno, yang telah dilakukan putri kami Gandis, saya dan juga isteri saya sungguh-sungguh meminta maaf yang sebesar-besarnya. Insiden yang terjadi pada tuan Moranno waktu ulang tahun perusahaan, ternyata juga adalah akibat perbuatan putri kami juga. Sehingga isteri tuan menjadi korbannya, hingga nama baik keluarga Agatsa pada saat itu dioertaruhkan. Saya tidak menyangka putri kami Gandis dapat melakukan hal yang sebegitu memalukannya pada keluarga Agatsa."

__ADS_1


"Dalam hal ini kami turut bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan Gandis putri kami. Saya telah melakukan Konferensi Pers bersama putri kami kemaren sore didepan kantor polisi, untuk membersihkan nama nyonya muda Agatsa. Mungkin tuan Moranno sudah melihatnya." Tuan Agatsa kembali terdiam, terlihat ia sangat merasa malu atas segala tindakan anaknya. Sedangkan nyonya Morgan tetap terlihat tenang disisi suaminya.


__ADS_2