JAGA HATIMU UNTUKKU

JAGA HATIMU UNTUKKU
BAB 126 "Beri saya kesempatan bicara....!"


__ADS_3

"Selamat siang nyonya muda....."Sapa ibu Sari sambil membungkuk hormat bersama Joni dibelakangnya.


Keduanya sedang membersihkan koridor lantai tujuh didepan ruang kerja Moranno.


"Selamat siang juga Ibu Sari.... Joni...." Balas Yurina sambil tersenyum.


"Anda cantik sekali nyonya muda....." Ucap Joni yang terpesona menatap wajah Yurina, tanpa sadar perkataan itu keluar dari mulutnya begitu saja.


"Joni....! Kau tidak sopan....! Nyonya muda itu majikan kita." Tegur ibu Sari memukul punggung Joni dengan kain pel. Joni menggaruk - garuk tengkuknya yang tidak gatal sambil cengar - cengir.


Yurina hanya bisa tersenyum mendengar perkataan ibu Sari dan melihat tingkah laku Joni yang menjadi salah tingkah.


"Tidak masalah ibu Sari..... Riri mana?" Tanya Yurina.


"Riri sedang membersihkan ditempat yang lain nyonya muda." Sahut ibu Sari.


"Kenapa ikau tidak bergabung dengan para pendemo itu Rudi?" Tanya Yurina pada pria tambun itu.


"Saya tidak berani nyonya muda." Sahut Rudi polos.


"Iya nyonya muda, kami hanya ingin bekerja, bagi kami orang kecil ini, yang penting dapur kami ngepul, dan dimeja makan tersedia hidangan untuk keluarga kami, itu sudah membuat kami bersyukur." Ucap Ibu Sari ikut bicara.


"Iya..... Aku melihat daftar para pendemo ini, sepertinya hanya para cleaning service saja yang tidak terdaftar disini." Ucap Yurina sambil menunjukkan berkas ditangannya.


"Baik, saya permisi dulu ibu Sari.... Joni..... Terima kasih karena masih mau bekerja dengan tulus diperusahaan ini." Ucap Yurina pada keduanya.


"Iya, sama - sama nyonya muda." Ucap ibu Sari dan Joni bersamaan sambil membungkukkan tubuh mereka memberi hormat.


"Joni......" Panggil Yurina tiba - tiba. Joni pun memandang kearah Yurina sedikit sungkan.


"Iyaa... Saya nyonya muda...." Joni nampak sedikit gugup, karena sempat menggoda sahabatnya yang kini menjadi majikannya itu.

__ADS_1


Terima kasih atas pujianmu tadi Joni....." Ucap Yurina tersenyum sambil berlalu bersama asisten Rudi dan para pengawalnya.


Joni tidak sempat menjawab, wajahnya terpaku menatap Yurina yang melangkah pergi menjauh dan memasuki lift pribadi Moranno.


Ribuan pegawai yang berdemo semakin gaduh saat melihat Yurina kembali muncul didepan mereka.


Para security yang dibantu pihak kepolisian hampir kewalahan menghadapai keramaian masa.


"Mohon ketenangannya.....!! Bukankah bapak - bapak dan ibu - ibu sekalian meninginkan salah satu owner Agatsa Grup menemui bapak - bapak dan ibu - ibu sekalian. Sekarang nyonya muda telah hadir disini untuk mendengarkan keluhan bapak - bapak dan ibu - ibu sekalian. Sekali lagi mohon ketenangannya.....!!" Terdengar suara asisten Rudi dari pengeras suara.


"Kami tidak menginginkan nyonya muda yang tidak bisa memberi keputusan. Kami ingin tuan Moranno dan nyonya Agatsa yang hadir dan datang menemui kami ! " Teriak salah satu pendemo itu.


Para pendemo lainnya bersorak memberi dukungan pada pendemo yang baru saja mengatakan hal itu dengan suara - suara mereka yang begitu riuh, membuat suasana kembali kacau.


"Mantan cleaning service, apakah kau sanggup memenuhi tuntutan kami!" Teriak seseorang lainnya lagi ditengah - tengah keriuhan para pendemo.


"Jangan tahan gaji kami hanya untuk memenuhi gaya hidupmu !" Teriak yang lainnya lagi.


Yurina hanya terdiam berdiri ditempatnya, setiap celaan yang ia dengar menyerang pribadinya dari para pendemo itu seperti belati yang menusuk hatinya.


Inikah isi hati para pegawai yang bekerja diperusahaan milik keluarga suaminya itu selama ini pada dirinya? Pikirnya didalam hati.


Jadi selama ini mereka semua sangat tidak menyukai dirinya? Pikirnya lagi.


Yurina berusaha dengan sekuat tenaga menahan hatinya, ia berusaha tegar sekalipun perasaannya sangat terluka mendengar semua perkataan - perkataan pegawai pendemo itu yang menyerangnya.


Selama ini ia tidak pernah merasa bermasalah atau pun melakukan hal - hal yang merugikan salah satu dari pegawai - pegawai diperusahaan suaminya itu. Apalagi melakukan tindakan seperti yang mereka tuduhkan padanya tanpa alasan.


Kenapa, kenapa mereka harus menyerangnya, padahal mereka berdemo pada perusahaan. Yurina berusaha menahan air matanya yang hampir - hampir saja terjatuh.


"Aku mempercayaimu....." Ucapan Moranno itu terngiang - ngiang ditelinganya.

__ADS_1


"Aku ingin lihat apakah keberanianmu sama seperti ucapanmu." Ucapan nyonya Agatsa juga terngiang - ngiang ditelinganya.


Yurina berusaha melawan perasaan yang bergejolak dalam dadanya, sambil mendengarkan setiap teriakan - teriakan para pendemo itu.


"Beri saya kesempatan bicara.....!"Suara lantang Yurina memecah kegaduhan para pendemo itu.


Kegaduhan tiba - tiba terhenti. Suasana menjadi senyap, semua mulut terkatup rapat dengan pandangan terarah pada Yurina yang berdiri diatas podium.


Yurina menyapu pandangannya kepada seluruh pendemo yang membeludak dihalaman kantor Properti Agatsa Grup hingga ke jalan raya.


"Disini.... Saya hadir mewakili nyonya besar kita, dan juga tuan Moranno. Kedua Majikan kita tidak bisa hadir karena sakit." Yurina memulai penuturannya. Suara lantangnya begitu menggema keluar dari pengeras suara.


"Selama enam bulan terakhir, kita semua tahu bahwa tuan Moranno sakit karena musibah kecelakaan yang menimpanya. Dan sekarang masih dalam penyembuhan dan pemulihan."


"Dan selama tuan Moranno sakit, nyonya Agatsa yang menggantikan beliau. Pekerjaan yang ditangani nyonya besar bukan hanya satu perusahaan induk saja, tetapi juga semua anak cabang - anak cabang yang tersebar dibeberapa kota lainnya."


"Bila terjadi keterlambatan pembayaran gaji pegawai itu bukan karena kesengajaan. Jadi kami mohon maaf dan barap dimaklumi." Para pendemo.masih terdiam dan mereka terlihat begitu memperhatikan apa yang disampaikan Yurina.


"Bukankah selama ini, semua pegawai yang berkerja di perusahaan Properti Agatsa Grup ini dan semua anak - anak cabangnya diperlakukan dengan baik oleh tuan Moranno seperti keluarga?" Para pendemo hanya bisa bungkam mendengar perkataan Yurina. Diam - diam mereka membenarkan ucapan Yurina didalam hati mereka.


"Untuk bapak - bapak dan ibu - ibu yang menjadi tulang punggung keluarga, silahkan tetap bekerja disni. Karena keluarga anda semua yang ada dirumah menjadi tanggung jawab anda semua dalam menafkahi mereka."


"Dan bila bapak - bapak dan ibu - ibu sudah mendapatkan tempat pekerjaan yang baru, kami tidak akan menahan bapak - bapak dan ibu - ibu semua yang ingin resign dari perusahaan Agatsa Grup dan semua anak - anak cabangnya."


"Karena saya tidak menghendaki keluarga bapak dan ibu sekalian menderita dirumah, karena keputusan berhenti bekerja dari perusahaan ini yang disebabkan emosi sesaat."


"Silahkan ajukan surat pengunduran diri bapak - bapak dan ibu - ibu sekalian pada saat tuan Moranno sudah kembali bekerja nanti."


"Terima kasih...." Yurina mengakhiri perkataannya. Semua pendemo itu masih terdiam, tidak ada yang berani menyanggah. Yurina lalu turun dari podium


Sementara para pendemo itu masih terdiam dan berdiri ditempatnya masing - masing. Tak ada yang bergerak, mereka hanya bisa menatap Yurina yang turun dari podium dan melangkah masuk kedalam kantor diikuti oleh asisten Rudi dan beberapa pengawalnya.

__ADS_1


__ADS_2