
Selepas makan malam Moranno kembali berkutat dengan pekerjaan kantornya di ruang kerjanya.
Yurina menaruh teh herbal yang biasa ia buat untuk suaminya itu diatas meja samping Moranno berkerja.
"Terima kasih sayang. Duduklah disini. " Kata Moranno sambil menunjuk kursi yang telah ia siapkan sedari tadi untuk Yurina.
"Apakah aku tidak akan mengganggumu nanti?" Tanya Yurina sedikit ragu.
"Itu tergantung dirimu, bila kau merayu dan menggodaku, aku siap melayanimu? Yurina memelototkan sedikit matanya membuat Moranno terkekeh. Hatinya selalu senang melihat reaksi Yurina setiap mendengar candaannya.
"Ayo, duduklah disini, temani aku bekerja sampai kau mengantuk nanti, supaya kau tidak bosan sendirian dikamar." Ujar Moranno masih mempersilahkan Yurina duduk disampingnya.
Moranno melanjutkan pekerjaannya memeriksa laporan keuangan perusahaan yang belum ia selesaikan di kantor. Sementara Yurina memperhatikan apa yang sedang dikerjakan suaminya itu pada layar laptopnya.
Sesekali Yurina bertanya saat melihat apa yang ia kurang pahami. Moranno pun dengan senang hati memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh Yurima. Ia dapat melihat bahwa isteri yang ia nikahi itu suka belajar, sekalipun itu hal-hal baru yang bukan menyangkut dasar pendidikannya.
"Buka mulutmu." Kata Yurina sambil tangannya menyodorkan camilan yang ada ditangannya.
"Sayang, aku sudah kenyang. Kau makanlah." Kata Moranno sambil matanya tetap pokus pada laptop dihadapannya.
"Iya, sedari tadi aku sudah memakannya sendiri, sekarang aku mau menyuapimu sekali saja ya, ayo bukalah mulutmu." Kata Yurina masih menyodorkan camilan untuk suaminya itu ditangamnya.
"Baiklah..." Moranno membuka mulutnya supaya isterinya itu merasa senang. Begitulah Moranno, ia berusaha membuat Yurina merasa bahwa dirinya istimewa dihatinya, walau dalam hal-hal kecil yang dianggap sederhana.
"Bagaimana? Apa enak?" Tanya Yurina dengan wajah senangnya.
"Enak...." Katanya sambil mengunyah camilan yang telah masuk kedalam mulutnya.
"Mau lagi?" Tanya Yurina sambil menyodorkan kembali camilan kemulut Moranno.
"Cukup sayang, kau makanlah, aku sudah sangat kenyang saat kita makan malam tadi. Kau memang harus makan banyak, karena yang memerlukan asupan makanan selain dirimu masih ada dua bayi kita yang ada dalam kandunganmu. Bila diriku, siapa yang akan kubagi asupannya, yang ada tubuhku akan menjadi gendut dan berat, lalu siapa yang akan menggendongmu bila tubuhku saja sudah keberatan." Ujar Moranno dengan tawanya.
"Benar juga ucapanmu itu suamiku." Kata Yurina ikut tertawa.
Moranno kembali melanjutkan pekerjaannya dengan pokus pada layar laptop dihadapanya. Yurinapun masih memperhatikan apa yang dikerjakan Moranno pada laptopnya dengan penuh minat sambil tetap mengunyah camilan yang ada dihadapannya.
"Pekerjaanku sudah selesai, sekarang juga sudah menunjukan jam sebelas malam lewat. Ayo kita kembali kekamar, kau juga pasti sudah mengantuk sayang."
__ADS_1
"Hmmm..." Yurina hanya menganggukan kepalanya seraya berusaha bangkit dari duduknya.
"Kenapa?" Tanya Moranno yang melihat Yurina nampak kesulitan untuk berdiri.
"Rasanya tubuhku semakin berat saja." Kata Yurina dengan senyum yang terlihat sedikit meringis. Moranno hanya tersenyum saat melihat tingkah Yurina yang terlihat menggemaskan dengan tubuh yang mulai membulat bagai bola.
"Baiklah, sini ku bantu sayang." Moranno merapatkan tubuhnya pada tubuh Yurina untuk membantunya berdiri.
"Aakkkhhh.... Ternyata kau berat sekali sayang. Pantas saja kau sangat kesulitan untuk bangkit sendiri." Kata Moranno dengan mengeluarkan tenaga ekstranya mengangkat tubuh isterinya itu.
"Apa kau bilang?" Kata Yurina sedikit tak terima dan berpura-pura marah untuk mendapatkan perhatian Moranno.
"Maksudku kalian bertiga sayang." Kata Moranno meralat ucapannya sambil mencium pipi isterinya itu dengan lembut.
Yurina tersenyum senang. Mendapatkan perhatian suaminya sungguh membuatnya bahagia.
Moranno menggandeng isterinya itu menuju kekamar. Yurina nampak terlihat kesulitan berjalan karena berat badannya meningkat drastis setiap harinya.
Sayang, besok kita akan memeriksakan kembali kandungananmu pada dokter Rosalie." Kata Moranno saat membantu Yurina berbaring ditempat tidur.
"Bukankah jadwal pemeriksaannya masih beberapa hari lagi?" Jawab Yurina mengerutkan keningnya.
"Terserah kau saja, aku ikut saja, mana baiknya saja menurutmu suamiku." Yurina mengulas senyum diwajahnya memandang suaminya yang begitu perhatian padanya.
"Kau memang istri yang baik dan penurut. Aku akan membuat janji besok selepas makan siang dengan dokter Rosalie."
"Bagaimana dengan kunjunganmu ke panti bersama Lisa, aku sampai lupa menanyakannya." Tanya Moranno saat mengingat Yurina berkunjung siang harinya.
"Lisa tidak jadi datang berkunjung hanya aku saja yang kesana."
"Kenapa? Bukankah Lisa yang mengajakmu untuk berkunjung bersama katamu."
"Iya, itu benar. Tapi Bertepatan Lisa akan ke panti, bosnya meminta Lisa menggantikan temannya yang pagi tadi tidak masuk kerja karena sakit."
"Oh begitu, jadi kau sendiri saja ke panti."
"Iya, tapi tak mengapa, panti adalah rumah lamaku.
__ADS_1
Aku senang sekali bisa bertemu dengan anak-anak panti hari ini, mereka sudah kuanggap seperti adik-adikku sendiri. Juga bisa bertemu bunda Marisa, dan bunda-bunda yang lain. Terima kasih ya, karena kau telah mengijinkanku untuk datang mengunjungi mereka."
"Aku juga turut senang kalau kau merasa bahagia. Semoga saja suatu hari nanti aku bisa menemanimu berkunjung kepanti."
"Kau bersungguh-sungguh?"
"Tentu saja, apakah kau tidak mempercayai ucapan suami tampanmu ini? hmmm?"
"Bukan begitu, aku mempercayaimu, aku hanya memastikannya saja, karena setahuku kau sangat sibuk."
"Iya kau benar, tapi bila ada waktu luang kita akan kesana untuk mengunjungi mereka."
"Di Panti, aku bertemu dengan seorang pria." Kata Yurina sedikit ragu.
"Benarkah? Apa dia lebih tampan dari padaku?
"Kau ini, kenapa harus bertanya seperti itu? Tentu saja kau lebih tampan dari pria itu. Apalagi kau adalah suamiku."
Moranno terkekeh mendengar ucapan Yurina.
"Yaa... Aku takut saja kau tertarik padanya, atau dia tertarik padamu, kan aku tidak ada disana untuk menemanimu sayang?" Goda Moranno masih terkekeh.
"Tidak mungkin ada pria yang tertarik pada wanita yang sedang hamil besar sepertiku. Lihat saja tubuhku yang membulat hampir seperti bola."
"Ada.... Contohnya diriku. Aku semakin mencintaimu, dan menyukaimu saat tubuhmu semakin membesar seperti ini." Ucap Moranno sambil mendekap isterinya itu.
"Kau pasti hanya menghiburku."
"Sayang, itu benar. Kau terlihat semakin cantik, semakin seksi dan semakin menggoda dimataku." Moranno semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Yurina yang sudah tidak langsing.
"Kau sekarang semakin pandai merangkai kata-kata yang bisa membuatku senang suamiku."
"Tentu saja, aku harus bisa melakukannya, supaya kau semakin mencintaiku. Sekarang tidurlah, supaya kau tidak kelelahan." Moranno mencium kening Yurina lalu menyelimutinya dan ikut merebahkan tubuhnya di samping isterinya.
"Terima kasih... suamiku..." Ucap Yurina dengan memejamkan matanya.
"Iya sayang...." Moranno membelai rambut panjang Yurina dengan kasih sayang hingga akhirnya keduanya tanpa terasa sama-sama tertidur dengan pulas.
__ADS_1
***