
"Gandis...... kau tidak sopan pada nyonya besar...."
Tegur tuan Morgan merasa malu pada sikap putrinya.
"Gandis.... tante memang merindukanmu.... makanya tante datang kemari untuk mengunjungimu." Ucap nyonya Agatsa meraih tangan Gandis yang sempat ngambek padanya.
Gandis menatap wajah nyonya Agatsa, iya mengulas senyumnya. Wajahnya nampak sedikit berbinar.
"Tante..... bisakah tante membantuku untuk keluar dari tempat ini.... disini sangat tidak nyaman tante..... mereka sama sekali tidak memandang siapa diriku.... aku juga lelah bila setiap hari harus melakukan pekerjaan seperri pelayan. Situasi ditempat ini sangat tidak cocok untukku tante....." Keluh Gandis sambil memegang erat tangan nyonya Agatsa. Ia berusaha mengambil simpati dari setiap keluhannya itu.
"Lihat, lihatlah aku tante.... kulitku.... kulitku kusam, aku biasanya merawat kulitku diklinik kecanitikan, juga rambutku.... rambutku tidak bisa wangi seperti dulu lagi, mereka sama sekali tidak memperbolehkanku keluar barang sebentar untuk perawatan..... tolong aku tantee......bukankah tante punya banyak pengaruh supaya aku bisa segera bebas, dan tidak perlu berlama - lama ditempat ini." Rengeknya lagi.
Nyonya Agatsa mendengar semua keluhan Gandis itu dalam diam. Ia menatap kearah tuan dan nyonya Morgan sejenak, yang dilihat tidak memberi respon apa - apa. Kembali nyonya Agatsa menatap kearah Gandis yang terus menyampaikan semua keluhannya selama menjadi penghuni lapas.
"Gandis...... bukannya tante tidak mau menolongmu.... Namun jika itu menyangkut masalah hukum seperti yang kau jalani sekarang ini, tante mohon maaf Gandis." Wajah Gandis terlihat kecewa mendengar ucapan nyonua Agatsa, orang yang selama ini selalu memberi dukungan padanya.
"Nyonya besar benar sayang. Jalan satu - satunya, kau harus menerima semuanya ini dengan ikhlas. Jalani masa - masa tahananmu ini sebagai suatu pembelajaran supaya kau lebih baik, nanti bila kau berlaku baik selama disini kau akan mendapat remisi." Nyonya Morgan berusaha memberi pemahaman pada putrinya.
Wajah Gandis nampak tidak suka dengan apa yang didengarnya. Matanya tidak sengaja melihat Yurina duduk berdampingan dengan Moranno diujung meja.
Tatapannya nyalang menatap wajah Yurina yang tengah memandang kearahnya.
"Kau.... untuk apa kau ada disini?" Tanya Gandis tidak bisa menyembunyikan ketidak sukaannya saat melihat Yurina bersama Moranno.
"Mama yang mengajaknya kemari untuk menjengukmu disini sayang......" Nyonya Morgan buru - buru menjawab sebelum Yurina sempat berucap.
Tatapan Gandis beralih pada ibunya, wajahnya terlihat marah.
"Ooohh... apa mama sengaja membawanya kemari untuk memperlihatkan betapa menyedihkannya diriku berada ditempat ini. Dan aku berada ditempat ini juga semua akibat perbuatanya??" Tangan Gandis serta - merta menunjuk kewajah Yurina.
__ADS_1
"Gandis...... mama berharap, ditempat ini kau bisa merenungkan semua apa yang telah kau lakukan, ternyata mama salah......Sedikitpun, kau ridak memperlihatkan perubahanmu. Kau tidak merasa bersalah sedikitpun, bahkan mempersalahkan orang yang telah menjadi korban perbuatanmu." Suara Nyonya Morgan terdengar sedikit meninggi.
"Perlu mama tahu..... itu bukan salahku....! Jika saja perempuan cleaning service itu tidak hadir diantara aku dan Moranno, tentu aku tidak akan menculiknya....!" Suara Gandis ikut meninggi.
"Gandis.... Yurina isteriku, sudah cukup kau mengata - ngatai drinya selama ini....." Moranno yang sedari tadi hanya berdiam diri kini ikut beucap.
"Jika saja bukan karena Yurina yang meminta pengurangan masa tahananmu, aku pastikan kau akan lebih lama mendekam dipenjara." Geram Moranno.
"Suamiku..... sudahlah..... tahan emosimu..... bukankah kita datang kemari adalah untuk berkunjung, bukan untuk bertengkar.....??." Yurina memegang lengan Moranno sambil mengusapnya lembut.
"Huuhh.... kedengarannya bijak..... tapi aku tahu kau berpura - pura, bukankah kau senang melihat semua orang yang dahulunya menyayangi dan mendukungku kini menentangku. Dasar wanita rendahan, cleaning service yang tidak jelas asal usulnya....!!" Umpat Gandis membuat Moranno mengepalkan tangannya. Yurina tetap memegang lengan suaminya itu dengan erat supaya tidak terpengaruh ucapan rusuh Gandis.
"Cukup Gandis..... Ternyata kau memang harus banyak belajar dan mengintropeksi diri ditempat ini." tuan Morgan ikut angkat bicara melihat Gandis yang sudah melebihi batasannya dalam berucap.
"Mulutmu.... tidak pantas mengucapkan kata - kata hina seperti itu, papa dan mamamu sudah mengajarkan kesopan - santunan selama ini padamu, kenapa kau tidak menerapkannya pada dirimu Gandis?" Lanjut tuan Morgan.
"Ada orang yang pantas aku hargai dengan kesopan - santunan papa.... tapi tidak dengan perempuan ini. Dia bukan siapa - siapa kita. Dia hanya orang yang tidak penting masuk dalam kehidupanku dan membuat aku harus kehilangan harapan menjadi isteri Moranno." Ucap Gandis dengan napas memburu.
Keadaan langsung hening seketika. Gandis yang nampak berapi - api dengan napas memburunya, seketika meluruhkan tubuhnya ditempat duduknya saat mendengar ucapan tuan Morgan ayahnya.
Mata Gandis terlihat sayu, logikanya tidak bisa menerima apa yang dikatakan sang ayah.
"Papa pasti berdustakan? Papa katakan itu supaya aku tidak mengata - ngatai lagi dirinya? Benarkan pa?" Gandis menatap wajah ayahnya berharap mendapatkan jawaban yang diinginkan dirinya.
"Papa tidak berdusta. Yurina putri papa dan mama yang hilang." Jelas tuan Morgan lagi.
Gandis memejamkan matanya, ia meremas rambutnya dengan kedua tangannya hingga rambutnya berantakan.
Semua yang hadir menatap kearah Gandis, menanti reaksinya selanjutnya.
__ADS_1
Gandis kembali menatap wajah tuan Morgan, tatapannya menunjukan bahwa logikanya masih belum bisa menerima apa yang telah disampaikan ayahnya itu.
"Kenapa harus Yurina papa..... dunia yang seluas ini.... ada banyak gadis - gadis seusia putri papa dan mama yang hilang itu, kenapa harus dia yang menjadi putri papa dan mama??! Aku tidak bisa menerimanya......!!" Suara Gandis nampak bergetar, tangis yang ia tahan sepertinya sebentar lagi akan meledak.
"Kami sudah membuktikannya melaui test DNA....." Terdengar suara tuan Morgan kembali menjelaskan.
"Tidak..... tidak..... aku tidak bisa menerimanya......" Tangis Gandis mulai meledak. Nyonya Morgan yang berada didekatnya segera memeluk Gandis untuk menenangkannya.
Gandis kembali meremas dan mengacak - acak rambutnya, kenyataan yang ia dengar sangat tidak bisa diterimanya, itulah yang membuatnya menangis sejadi - jadinya.
Beberapa detik kemudian, Gandis melepaskan pelukan nyonya Morgan dengan kasar, membuat nyonya Morgan hampir terjatuh. Sambil berdiri ia menatap lurus kearah yurina dengan tatapan nyalang.
"Kau..... kau.....wanita yang tanpa diundang masuk dalam.kehidupanku..... Dulu kau merebut Moranno dari hidupku. Menyebabkanku juga masuk kedalam tempat jahanam ini. Dan sekarang, kau juga masih mau merebut papa dan mama dari diriku.... apa sekarang kau sudah puas??! Atau mungkin juga kau masih belum puas dengan semuanya ini sampai kau melihatku mati, huhh?!! Aku tidak terima.... aku tidak bisa terima...!!" Teriak Gandis dengan lengkingan suaranya.
"Mohon maaf.... waktu kunjungan sudah habis tuan - tuan dan nyonya - nyonya." Seorang petugas menghampiri, membungkuk hormat dan bersiap membawa Gandis kembali kedalam ruang tahanannya.
"Pak.... saya belum selesai dengan mereka....! terutama dengan perempuan itu....!" Ucap Gandis yang berusaha melapaskan diri sambil menunjuk dengan jarinya kearah Yurina yang hanya menatapnya dingin.
Sang petugas tak merespon, ia tetep menyeret Gandis dengan paksa untuk kembali keruang tahananya.
Terdengar teriakan - teriakan rusuh Gandis yang tidak pantas didengar semakin menjauh.
Semuanya menghela napas menyaksikan semuanya itu.
"Dari awal saya sudah ingatkan, membawa Yurina dan memberitahukan siapa Yurina pada Gandis bukanlah ide yang baik. Saya kenal siapa Gandis, dia tidak akan pernah mau posisinya tergantikan, walaupun bukan itu maksud tuan dan nyonya Morgan." Ucap nyonya Agatsa.
"Anda benar nyonya besar. Kami pun tahu itu, apalagi Gandis adalah putri kami, tentu kami mengenalnya, dan sudah tahu akan seperti ini jadinya. Tapi cepat atau lambat, semuanya memang harus ia ketahui, cepat atau lambat, reaksinya juga akan sama, dan bahkan bisa lebih." Jelas nyonya Morgan.
Nyonya Agatsa mendesah, matanya masih menatap lurus kearah dimana Gandis dibawa kembali keruang tahanannya
__ADS_1
"Mungkin setelah ini, tuan dan nyonya bisa menyewa psikolog atau seorang psikiater untuk Gandis." Terang nyonya Agatsa, membuat tuan dan yonya Morgan menatap kearahnya, tidak terkecuali Moranno dan Yurina.